Sleeping Beauty (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 11 January 2015

Promnite akan dimulai satu jam lagi, aku masih duduk mematut di depan kaca dengan bertopang dagu. Memikirkan apa yang akan terjadi setelah promnite nanti. Pasalnya, aku benar-benar menyetujui ide konyol Poppy, untuk mengajak Joko.
Bayangin aja bagaimana respon teman-temanku nanti, setelah melihat aku berpartneran dengan anak berumur 14 tahun, aku bisa benar-benar dikira pedofilia. Aduh… jangan sampe deh.

“Apa aku lebih baik pergi sendiri aja ya?” Pikirku tiba-tiba. “Ya… lebih baik, aku pergi sendiri” Aku beranjak meninggalkan meja riasku dan turun ke lantai dasar, untuk menemui Joko dan Mbok Na yang sepertinya ada di kamar mereka.

TOK… TOK… TOK…
Aku mengetuk pintu kamar Mbok Na dan tak lama ada yang membuka pintu. Seorang ibu paruh baya, lebih tua beberapa tahun dari ibuku berdiri di ambang pintu.
“Mbok Na…kaya’ nya…”
“Kak Aira, kita berangkat sekarang? Joko udah siap nich” Seruan Joko, sukses membuat kata-kataku terhenti.
“Kak Aira, emang promnite itu kaya’ gimana sih? Aku udah nggak sabar ngeliat suasana disana” Tutur Joko antusias.
Melihat antusiasnya yang luar biasa, dan senyum sumringahnya yang penuh kebahagiaan, membuat nyaliku ciut untuk memberitahu “Joko kak Aira mau pergi sendiri aja. Kamu duduk manis aja di rumah, ngerjain PR” Kata-kataku tertahan di ujung lidah saat melihat betapa bersemangatnya Ia. Yang kini sudah mengenakan kemeja putih dan jas hitam, milik kak Raka. Ia tampak seperti remaja berusia 17 tahun, seusia denganku.
“Jadi, kak kita berangkat sekarang?”
“Iya” Jawabku dengan tersenyum pahit. Saking tak ingin mengecewakan anak semata wayang Mbok Na, yang sudah bekerja dengan keluargaku dari aku kecil, aku membatalkan niatku untuk tidak mengajaknya.

Short dress putih yang aku kenakan kali ini, serta highheels yang aku kenakan, membuat rasa percaya diriku menurun drastis. Aku yang terbiasa berpakaian casual dengan kaos dan jeans serta snikers atau kets, membuatku merasa tak nyaman dengan short dress dan heels pemberian kak Raka ini.
Kalau nggak mikirin ini acara prom yang mengharuskan berpakaian formal, mungkin aku sudah memakai kaos oblong, dan jeans serta snikers andalanku.

Aku sedang asyik berdiri di depan prasmanan dan mengambil beberapa kue serta minuman. Aku tak peduli dengan runtun acara prom. Yang aku tau endingnya sama saja. Ada acara dansa yang pada akhirnya akan dipilih King and Quenn Prom. Standar menurutku. Nothing special.

“Hei… Ra, mana Joko?” Tanya Poppy didampingi Indra menghampiriku.
“La…gi…k…let…” Jawabku tak jelas karena mulut yang masih penuh dengan kue yang baru mendarat di mulutku.
“Kamu tu ngomong apa sih? Aku nggak ngerti” Wajar saja kalau memang Poppy nggak ngerti, orang yang aku sebut rata-rata huruf mati semua.
“Dia lagi ke toilet” Jawabku setelah menelan brownies tadi serta disusul dengan minum orange juice.
“Ohhh…” Jawab Poppy dan Indra seadanya.
“Beib… aku juga mau ke toilet dulu ya”
“Ok” Jawab Poppy dengan melempar senyum pada kekasihnya.

Sepeninggal Indra, Poppy mengatakan 1 hal yang membuatku menyadari sesuatu.
“Ra, udah ngeliat penampilan Alfi malam ini belum?”
“Boro-boro penampilannya, batang hidungnya aja belum keliatan dari tadi”
“Siapa bilang? Kamunya aja tu yang nggak nyadar. Dia udah datang dari tadi kok”.
“Trus kalau dia udah datang, hubungannya dengan aku apa?” Tanyaku pura-pura cuek, padahal dalam hati pengen banget Alfi nyamperin kesini trus say “hai… Aira”. Itu juga udah cukup buat aku seneng.
“Samperin dia gih!”
“Ogah, ntar aku dikira pecicilan lagi sama dia. Aku nggak mau dinilai jelek sama dia” Tolakku dengan tegas. “Lagian kan udah ada Chika” Jawabku ketus.
“Itu dia, Alfi pergi sendiri. Aku dengar sih dia nolak mentah-mentah waktu Chika ngajakin dia. Dia bilang dia udah nemuin partner spesial yang bakal dia ajak, tapi aku juga nggak tau siapa”.
Pembicaraan kami terhenti saat Indra dan Joko datang bersamaan.
“Ra, aku kira Poppy bercanda waktu bilang kalau kamu bakal pergi sama Joko. Taunya serius ya?!” Tutur Indra yang terkesan meledekku.
“Itu juga kan ide pacarmu” Dengusku kesal mengundang senyum pasangan kekasih ini yang memang sahabatku dari SMP.
Sementara Joko, sibuk sendiri menyantap kue-kue yang ada tanpa mau peduli dengan pembicaraan kami.
“Makannya, Ra cari pacar donk. Biar nggak anak orang lagi yang kamu seret buat diajak ke party” Ucap Indra mulai buatku BT.
“Indra, kamu ngajakin aku berantem? Emang kamu pikir cari pacar itu gampang?!” Ucapku penuh emosi. Ingin rasanya aku berteriak “Gimana mau nyari pacar, kalau di hati dan pikiranku aku aja yang ada cuman Alfi, Alfi, dan Alfi” Tapi kata-kata itu hanya bisa aku teriakkan di dalam hati.
“Santai aja kali’ Ra. Aku tu cuman bercanda”.
“…”

“Hai semua!!” Sapaan seseorang mengagetkan kami.
“Hai…” Jawab Indra dan Poppy dengan senyum ramah. Sementara aku hanya bisa menjawab kata “hai” dengan tersendat. Karena apa? Coba tebak siapa yang kini berdiri di hadapanku? Alfi…!!.
Aku tak menyangka Alfi yang tampak jauh lebih tampan hari ini dengan balutan jas hitam dan kemeja putihnya, datang menghampiri kami dan menyapa kami ramah. Kalau nggak ingat ramai orang dan nggak ingat Alfi ada disini, sudah dari tadi aku berteriak “Hore..!!” Tapi sekali lagi itu hanya tertahan di ujung lidahku.
“Hai.. Ra..!!” Sapanya sekali lagi. Senyumannya saat menyapaku membuat jantungku deg-degan, nggak kuat ngeliat senyum manisnya. Tatapan matanya yang teduh, yang sangat khas darinya membuat jantungku kian berdegup cepat.
Poppy mendadak menyikutku, mungkin ia rasa responku terlalu lama menjawab sapaan Alfi.
“Hai… juga” Jawabku gelagapan dengan tetap berusaha tersenyum.
“Kakak ini siapa? Pacarnya kak Aira ya?” Celetuk Joko tiba-tiba dengan mulut masih mengunyah kue yang berhasil masuk ke mulutnya. Celetukan Joko yang tak wajar, membuatku memutuskan menegurnya dengan keras. Keras sekali. Tepatnya, aku menginjak kakinya. Tak kupikirkan lagi, gimana rasa sakit yang ia alami. Yang ada di pikiranku hanya satu, jangan sampai Joko ngomong ngalor ngidul lagi seperti tadi.
“Auww…!!” Rintih Joko dengan wajah meringis kesakitan.
Aku hanya berusaha tersenyum lebih ramah lagi, agar tidak mengundang kecurigaan kalau aku sudah menyiksa anak orang. Sepertinya wajah memelas Joko, sempat mengundang senyumnya. Sepertinya ia juga tau kalau aku yang membuat Joko kesakitan.
“Ra… kita mau nyamperin anak-anak yang lain dulu ya” Tukas Poppy diikuti anggukan kepala Indra.” Joko ikut ya, biar kak Poppy kenalin sama teman-teman kakak yang lain” Ajak Poppy yang membuatku bisa menebak apa maksud dari kata-katanya.
Ia ingin meninggalkanku dengan Alfi disini. Aduh, guys please don’t go anywhere. Jeritku di dalam hati. Kalau kalian pergi aku bisa mati kutu disini. Semakin nervous dan salting juga pastinya, secara harus ditinggal berdua dengan Alfi. Tapi tentu saja mereka tak mendengar jeritanku. Ketiganya beranjak meninggalkanku.
Aku mulai gelisah sendiri, pasalnya aku tak biasa bahkan tak pernah berhadapan langsung dengan orang yang aku suka dalam waktu lama apalagi orang itu Alfi. Makin panas dingin tanganku. Jantungku juga mulai berdegup tak karuan. Semakin cepat rasanya jantung ini berdetak.

“Apa kabar, Ra? Masih tetap dengan kebiasaan lama. Maksudnya kebiasaan pelormu?” Tutur Alfi memecah keheningan di antara kami. Setelah cukup lama kami terdiam.
“Aku baik-baik aja kok” Jawabku agak gugup. “Kalau soal kebiasaan itu, kaya’nya sulit buat dihilangin” Jawabku dengan malu-malu. Malu karena kebiasaan buruk itu. Tapi juga ada sedikit terselip rasa bahagia, karena tanpa diduga Alfi sedikit banyak tahu tentang aku. Tapi sayang, dia tak tahu bagaimana perasaanku.
“Eh… acara puncaknya udah dimulai tu” Ucap Alfi membuyarkan lamunanku.
“Ra, mau ikutan nggak?”
“Ikutan? Maksudnya…?”
“Acara puncak, can you dance with me?” Tanyanya sopan.
“Maksudnya… dansa…” Tanyaku agak ragu dan seolah tak mengerti.
“Iya” Jawabnya cepat dengan mengurai senyum manisnya.
Wajahku sempat memerah, karena jawabannya barusan. Seorang Alfi cowok idola di sekolah, mengajak aku yang bukan apa-apa di sekolah, dansa. Arghh… ingin rasanya aku berteriak kegirangan saat itu juga guna meluapkan kegembiraanku. Tapi aku mencoba mengendalikan diri dan hanya tersenyum riang.
Tapi tiba-tiba senyum itu hilang, saat aku ingat partner special yang di ajak Alfi.
“Ra, kenapa? Kamu nggak mau ya?” Tanyanya saat melihat perubahan ekspresi wajahku yang begitu cepat.
“Partner spesial kamu kemana? Harusnya kan kamu ngajak dia bukan aku”.
“Tapi Ra…”
“Udahlah Al… kamu samperin dia gih. Kamu nggak boleh kecewain dia”.
“Baik lah, kalau gitu aku samperin dia dulu”

Alfi kini melangkah pergi menjauh dariku. Ada sedikit rasa penyesalan dihatiku saat mengingatkannya soal partnernya. Aku juga menyesal, kenapa tadi aku tak langsung menjawab “Ya.” Dan kenapa aku harus sok-sokan menasehati dia. Tanpa kusadari ada cairan bening yang terkumpul di pelupuk mataku. “Alfi… mungkin sampai kapanpun situasinya hanya akan terus seperti ini. Aku hanya akan selalu menjadi pengagum rahasiamu. Dan soal perasaanku cukup aku dan Tuhan saja yang tahu.” Batinku menangis pilu, beriringan dengan air mataku yang mulai jatuh membasahi pipiku.

Aku tertunduk lesu berjalan keluar aula sekolah dan menuju ke taman. Aku duduk disana merenungi nasibku.
“Alfi… kenapa sih, kamu selalu aja jadi penyebab yang bikin aku nangis” Keluhku dengan masih terisak.
Saat aku terpuruk dengan nasibku sendiri. Tiba-tiba seseorang datang menghampiriku dengan mempersembahkan bunga mawar putih untukku, bunga kesukaanku. Seseorang yang tak kusangka kehadirannya, seseorang yang kalian sendiri bisa menebak siapa. Ya… dia Alfi. Alfi kini ada di hadapanku, dia berlutut di hadapanku dengan mawar putih di tangannya. Sesuatu yang sangat langka dan aneh menurutku. Langka, karena aku tak yakin seorang Alfi mau melakukan itu dengan cewek yang bukan siapa-siapa di sekolah. Aneh, karena tadi dia bilang ia ingin menemui partnernya. Tapi kenapa kini dia ada disini. Apa dia mau menyakiti hatiku secara tak langsung?

to be continue…

Cerpen Karangan: S.S Afriani
Facebook: Ifha SiChocoholic ‘ssriafriani’

Cerpen Sleeping Beauty (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ada Apa Dengan Negara Ini

Oleh:
Reno terus berlari dengan kencang 2 menit lagi gerbang sekolah akan ditutup dia berlari sambil meruntuki dirinya sendiri, motor yang dibawanya mogok di tengah jalan dia lupa membawanya ke

Sapaan Terakhir Dari Surga

Oleh:
Hidupku hanyalah sebuah petualangan tapi itu menurutku karena aku sangat suka berpetualang dan menguji Adrenalin. Aku hidup didataran rendah yang terletak di kota Sampang. Ku sangat bahagia karena aku

Indahnya Persahabatan

Oleh:
Pada suatu hari aku pergi berangkat ke sekolah, sesampai ke sekolah aku bertemu dengan sahabat baik aku namanya della, nani dan lista. Menurut aku mereka adalah sahabat terbaikku karena

Cinta Sahabat

Oleh:
“rara” panggil gadis berjilbab putih itu di koridor sekolah SMA PELITA ke gadis yang berjarak 10 meter darinya. “hmmm…” gumam gadis yang tak lain bernama rara itu sambil menoleh

Peringkat 1 (Part 1)

Oleh:
Ada satu pertanyaan yang selama ini selalu ada di benakku terus-terusan. Pertanyaanya seperti ini. Apa di usiaku yang sebentar lagi menginjak usia 18 tahun ini? Setidaknya 1 saja… Apakah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *