Sleeping Beauty (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 11 January 2015

“Alfi… kamu ngapain lagi kesini?” Tanyaku mulai emosi.
“Aku nemuin partner spesial aku” Jawabnya yang mulai membuat darahku mengalir cepat.
“Maksud kamu apa sih?” Tanyaku, tak mau berharap banyak dari kata-katanya.
Capek berlutut di hadapanku, Ia memilih duduk di sampingku.
“Aira…!!” Ucap Alfi yang sempat membuatku bahagia untuk beberapa detik karena ia menyebut namaku dengan lengkap, aku kira selama ini ia tak tahu siapa aku.
“Partner spesial aku itu, ya kamu!!” Ucapnya membuatku speechless bahkan mungkin aku tak sanggup buat tersenyum karena saking speechlessnya.
“Dan mawar putih kesukaan kamu ini juga buat kamu”
Ia meraih tanganku lembut dan menyimpan mawar tadi di telapak tanganku. Aku menggenggam erat mawar itu dan menatapnya lekat. Aku bingung harus berkata apa. Aku masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Apa ini sebuah mimpi? Ini terlalu indah untuk disebut kenyataan. Tapi jika ini mimpi, ini adalah mimpi yang paling indah yang pernah aku alami. Dan jika ini memang mimpi rasanya aku tak ingin bangun dari tidurku.
Ya.. sekali lagi itu pertanyaanku, apa ini hanya sebuah mimpi?

Alunan musik klasik yang mengalun lembut terdengar di telingaku. Apa ini nyanyian hatiku karena saking bahagianya? Oh… bukan, itu suara yang keluar dari I-Pod milik Alfi.

“Acara puncak!!” Tuturnya sembari menghaturkan tangannya kepadaku, berusaha mengingatkanku pada acara puncak promnite. “Dance with me?” Ucapnya lagi.
Aku menyambut ajakannya dengan senyum penuh kebahagiaan. Aku akui ini adalah promnite terindah dan sempurna yang pernah aku alami. Tapi aku melupakan 1 hal, aku tak bisa berdansa. Cukup mengecewakan bukan?
“Hmm… Alfi, kaya’nya acara puncaknya dibatalin aja deh”
“Lho… kok gitu?”
“Hal yang paling nggak bisa aku lakuin itu, dansa. Aku sama sekali nggak tahu caranya berdansa”
“Karena itu…?” Tanyanya dengan tersenyum lepas, senyum yang paling bisa bikin jantungku deg-degan gak karuan. “Kamu pasti bisa kalau kamu belajar. Sini aku ajarin” Ia menggenggam erat kedua jari jemariku.

Dengan perlahan ia mengajariku. Dengan sabar pula ia harus menahan rasa sakit karena kedua kakinya aku injak. Satu lagi nilai plus yang aku temukan dari Alfi. Ia mahir berdansa. Aku larut dalam suasana yang menurutku so… romantic. Tanpa kusadari aku mulai mengerti sedikit caranya berdansa. Itu karena ajaran Alfi dan karena tatapan matanya yang teduh yang seperti menghipnotisku.

Terlintas dalam benakku, apa ini saatnya aku mengungkapkan isi hatiku selama ini. Tapi apa aku punya keberanian melihat responnya nanti setelah aku mengatakannya. Oh.. God, help me please…
“Alfi… kamu tahu nggak kalau selama ini aku sering banget merhatiin kamu?” Tanyaku yang mulai mendapat keberanian, yang entah datang darimana.
“Aku tahu” Jawab Alfi dengan senyum manisnya.
“Serius?”
“Ya, tapi kamu kalah cepat dari aku”
“Ha…maksudmu?”
“Kamu sadar nggak, kalau selama ini aku juga selalu merhatiin kamu. Bahkan jauh sebelum kamu melakukan hal yang sama”
“Bohong” Jawabku tak yakin dengan kata-katanya.
“Kamu nggak percaya? Kamu pikir aku tahu darimana kebiasaan tidurmu yang berlebihan. Kalau bukan karena aku punya perhatian khusus buat kamu”
Antara percaya dan tidak percaya, aku hanya diam 1000 bahasa. Agak shock mungkin, tanpa kusadari mataku mulai berkaca-kaca. Ternyata perasaanku selama ini padanya tidak bertepuk sebelah tangan.
Ia mendekatkan wajahnya dan membisikkan sesuatu di telingaku, “I love you, My sleeping beauty” Bisiknya yang membuatku kembali speechless.
“Sleeping Beauty?” Tanyaku tak mengerti.
“Ya… itu buat kamu yang nggak bisa lepas dari kebiasaan pelormu. Tapi aku nggak mau manggil kamu si Pelor. Aku lebih suka manggil kamu sleeping beauty soalnya kamu itu kaya’ Putri tidur. Yang susah banget buat dibangunin” Tuturnya dengan tersenyum lepas sembari mencubit pipiku.
Aku pun turut tersenyum. Aku bahagia dengan apa yang aku alami malam ini. Aku harap ini bukan sebuah mimpi.
“Aira… bangun donk, aku mau ngomong sama kamu” Ucap Alfi yang membuatku bingung setengah mati.
“Alfi… kamu ngomong apa sih? Aku nggak lagi tidur, kenapa aku harus bangun?”
Alfi tak menjawab ia hanya tersenyum. Tiba-tiba Poppy datang dan menciprati air beberapa kali ke wajahku. Membuatku semakin tak mengerti. Tak mengerti Poppy nongol darimana, ia begitu saja ada di hadapanku. Dan yang membuatku semakin dan semakin tak mengerti apa maksudnya ia mencipratiku seperti itu.
“Ayolah Ra, bangun. Kamu tu susah banget sih dibangunin” Gerutu Poppy makin buatku bingung.
Tiba-tiba sosok Alfi dan Poppy menghilang perlahan dari hadapanku bagai debu tertiup angin, kini yang ada dalam pandanganku hanya sebuah ruangan yang berwarna serba putih. Seperti kamar rumah sakit. Ya, aku sedang berada di rumah sakit karena maag akut ku yang kambuh.
“Akhirnya bangun juga” Ucap Poppy yang berada di samping ranjang tempatku berbaring.
Kata-kata Poppy dan suasana sekelilingku yang berubah secara tiba-tiba membuatku sadar kalau semua yang terjadi tadi hanya sebuah mimpi, mimpi yang sangat indah, yang kecil kemungkinan menjadi nyata.
“Woii… Ra, kenapa bengong?” Tanya Poppy lagi.
Dengan keadaan tubuh yang masih belum begitu pulih, dan masih lemah. Aku berusaha bangun dari pembaringanku, dan duduk di pinggir ranjang.
“Harus ya kamu mengganggu tidurku dan membuyarkan mimpi indahku untuk yang kesekian kalinya? Dan harus ya kamu membangunkankanku dengan mencipratiku air kaya’ tadi?” Tanyaku dengan memasang wajah cemberut.
“Harus lah karena kamu tu susah banget buat dibangunin. Malu tahu, cewek kok tidurnya kaya’ kebo”
“Buat apa malu? Nggak ada siapa-siapa kan disini, cuman kamu doank kok”
“…”

“Oh… iya Bunda mana? Kok nggak ada? Anaknya sakit kok malah nggak diperhatiin?”
“Yeh… ni anak satu curigaan mulu’. Bundamu lagi di ruang administrasi. Hari ini kan kamu udah boleh check out”
“Udah berapa lama sih aku di rumah sakit?”
“Hmmm… sejak kemarin malam”
“Trus sekarang udah jam berapa?”
“Jam 4 sore. Dan kamu tahu berapa lama kamu tidur?”
“Hmmm nggak tahu”
“16 jam. Dua kali lipat dari jam tidur normal”
“Trus kenapa kamu nggak ngebangunin aku dari tadi pagi, bukannya kamu seneng ganggu tidurku?”
“Berhubung kamu lagi sakit jadinya aku nggak tega. Aku liat kamu enak banget tidurnya. Mimpi Apa’an?”
“Hmm mimpi apa ya? Mau tahu aja kamu. Hahahaha…”
“Dasar… paling juga mimpiin Alfi. Iya kan?”
“Heheheh…tahu aja kamu”
“…”

“Oh iya, anyway kemarenkan kita ada di toko buku. Trus kenapa sekarang tiba-tiba aku ada disini?”
“Aira emang kamu mau aku biarin kamu sendirian di toko buku dalam keadaan pingsan?”
“Pingsan?”
“Iya, dan kamu tahu siapa yang bantu aku bawa kamu kesini?”
“Alah palingan juga karyawan di toko buku. Iya kan?”
“Bukan. Kalau aku kasih tahu kamu siapa yang bantu aku, pasti kamu nggak percaya”
“Emang siapa?”
“Al…” Belum juga Poppy menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba ada yang masuk keruangan dan menghampiri kami. Dan orang itu tak lain adalah Alfi.
“Selamat Sore Aira” Ucapnya dengan tersenyum dan dengan tatapan matanya yang teduh. “Tenteram banget ngeliat senyum kamu Alfi” batinku bahagia.
“Yang nganterin kamu kemaren ke rumah sakit Alfi, Ra. Dia panik banget ngeliat kamu pingsan di toko buku, tanpa babibu lagi dia langsung gendong kamu ke mobilnya, dan bareng sama aku ngantar kamu ke rumah sakit” bisik Poppy menceritakan kronologi pasca aku pingsan kemarin. Pantes sebelum aku benar-benar pingsan, aku sempat mendengar suaranya dan melihat bayangnya di hadapanku. Dan kini aku juga tahu dan mengerti semuanya, Alfi ternyata peduli padaku… ehhehehhe…!!!
“Gimana keadaan kamu, Ra? Udah baikan?” Tanya Alfi lagi.
“Alhamdulillah udah kok, hari ini juga udah boleh pulang”.
“Syukurlah”
“Oh iya, Al. Terima kasih ya udah nganter aku ke rumah sakit kemaren”
“Iya… sama-sama”
Sejenak suasana hening, semua terdiam tak tahu apa sebabnya. Dalam diamku tiba-tiba aku teringat pada mimpi indah tadi saat tatapan mataku tertuju pada Alfi, yang mungkin heran kenapa aku menatapnya seperti itu. Pikirku akankah semua mimpi itu menjadi kenyataan, aku rasa tidak. Tanpa kusadari butiran-butiran bening mengalir ke pelupuk mataku dan perlahan membasahi pipiku. Aku jengkel bercampur sedih kenapa perasaan Cinta ini harus tertuju pada Alfi. Cowok yang mungkin tak akan pernah punya perasaan yang sama padaku. Dia tak akan pernah mencintaiku.

“Aira… kamu kenapa nangis? Sakitmu kambuh lagi ya?” tanya Alfi dengan wajah yang terlihat panik. Tapi aku tidak mau tertipu dengan kekhawatirannya padaku. Dia khawatir bukan karena dia sayang dan mencintaiku, aku yakin kekhawatirannya tak lebih dari rasa khawatir seorang teman.
“Nggak kok, aku baik-baik aja. Ini cuman kelilipan doank kok” tuturku sambil mengusap air mataku.
Setelah menyeka air mataku, di hadapanku aku lihat sekuntum mawar putih, persis mawar yang ada di dalam mimpiku. Dan mawar itu juga dari Alfi.
“Buat kamu” ucapnya dengan tersenyum.
“Buat aku?”. Aku ragu-ragu menerimanya, apa kali ini aku bermimpi lagi.
“Iya”
“Tapi… darimana kamu tahu kalau aku suka mawar putih?” Dengan ragu aku menerima mawar pemberian Alfi.
“Karena…”
“Oh iya, Al. Poppy kemana? Kok nggak ada?” Celetukku memotong pembicaraan Alfi, karena baru sadar kalau Poppy sudah tidak ada di dalam ruangan.
“Tadi dia keluar, mau nyusul bunda kamu katanya”.
“Oh… begitu…” Syukurlah waktu aku nangis tadi Poppy tak ada disini. Kalau aja tadi dia ada disini bisa diledekin aku sama dia selama 40 hari 40 malam. hehehhehe…
“Makannya jangan ngelamun mulu.” tutur Alfi sembari mencubit pipiku.
Sempat kaget dan merasa sedikit sakit juga dengan cubitan itu. Kaget, karena aku merasa aku dan dia seperti sudah lama dekat, padahal baru juga beberapa menit yang lalu. Nenek sambil salto pun tahu kalau aku dan Alfi tak pernah sedekat ini sebelumnya.
“Al… kamu belum mau pulang ya? Aku nggak enak sama pacar kamu kalau kamu jenguk aku disini lama-lama.”
“Kamu ngusir aku ya?” tanyanya. Dan yang aku lihat sepertinya dia agak kecewa dan jengkel dengan kata-kata ku.
“Bukannya gitu…”
“Ok… aku akan pulang tapi dengan satu syarat”
“Syarat? Apa?”
“Kamu bersedia jadi Partner ku di Promnite minggu depan”
“Apa? Kamu nggak salah mau ngajak aku?” Tanyaku kaget dan tak percaya.
“Hmmm nggak sama sekali” Jawabnya dengan penuh keyakinan.
“Tapi kan ada Chika”
“Chika?”
“Iya, gosipnya kan kamu lagi dekat sama dia”
“Dekat bukan berarti aku harus pergi sama dia kan? Lagian aku Cuma anggap dia teman nggak lebih”
“Tapi sayangnya Chika nggak berfikiran yang sama kaya’ kamu Al” Batinku mengingat usaha Chika yang dari dulu ngejar-ngejar Alfi.
“Ada orang yang lebih spesial yang bisa aku anggap lebih”
“Siapa? Pacar kamu pastinya. Iya kan?”
“Hmmm bukan”
“Trus siapa kalau bukan pacar kamu?”.
“Kamu”
Aku terdiam, shock dan kaget mendengar jawabannya. Ada rasa haru dan senang juga sih dengan jawabannya barusan. Tapi mungkin saja Alfi hanya bercanda.
“Kenapa diem, Ra? Aku buat kamu bingung ya?”
“Al kamu kalau mau bercanda jangan kelewatan kaya’ gitu” Ucapku mengingatkannya.
“Lho… yang bercanda itu siapa? Aku nggak bercanda, Ra”
“Jadi…?”
“Cewek yang paling spesial buat aku itu ya kamu, bukan Chika atau siapapun” Ungkap Alfi sembari perlahan menggenggam erat tanganku, yang tak sanggup berkata apa-apa lagi karena takjub dengan apa yang terjadi hari ini.
“Kamu itu unik, beda sama cewek-cewek yang lain yang pernah aku temuin. Kamu baik, kamu cuek, kamu lucu, apalagi kebiasaan tidurmu yang berlebihan, itu yang paling buat kamu unik” Tuturnya dengan tersenyum.

to be continued…

Cerpen Karangan: S.S Afriani
Facebook: Ifha SiChocoholic ‘ssriafriani’

Cerpen Sleeping Beauty (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tak Peka (Part 1)

Oleh:
“Ayo Neyla berangkat ngaji, udah hampir telat nih” ucap Reva dengan nada yang sedikit marah. Dengan santainya aku menjawab “Iya.. bentar lagi”. Lalu di perjalanan kami bertemu sahabat kami

Jangan Gampangan

Oleh:
Aku tak mengerti apa yang aku rasakan. Tapi aku dibuat bingung dengan temanku yang pada intinya agak terlalu mudah bagi ukuran seorang wanita. Selama ini kita sebagai kaum hawa

Hikayat Penciptaan Bintang

Oleh:
Dulu ketika peri peri hidup di bumi dan jumlah manusia masih sedikit, pada batang pohon oak berdaun rindang dalam belantara, tinggallah peri yang selalu durja. Tiap hari kerjanya hanya

You Only Live Once

Oleh:
Well, ini cerita bermula dari salah satu pengalaman pribadi percintaan nan alay gue kurang lebih 7 tahun yang lalu. First of all, Nama gue Adrianus. Lahir di Jakarta, dan

Rindu Sahabat Lama Ku

Oleh:
Iseng-iseng bongkar lemari buku, aku menemukan sebuah kotak berwarna merah dan bermotif bunga-bunga kecil di sudut kanan rak buku paling bawah. “Masih cantik nih kotak” gumamku, sambil tersenyum. Hasratku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *