Spikes Before Flowers, Rainbow After Storm

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 1 September 2016

Embun menutupi jendela kamar. Varielle terbangun dari peraduannya.
“Udah pagi?” katanya sambil menguap.
“Kak Emily, bangun. Opening Ceremony loh hari ini kak,” Varielle membangunkan Emily.
“Eh…,” Emily menggeliat dan ikut bangun lalu berjalan gontai menuju kamar mandi dan bersiap.
Varielle dan Emily sudah siap untuk acara Opening Ceremony Olympic Games 2016. Selepas ini keduanya akan mengisi perut terlebih dahulu.
“Sarapan, Rielle,” ajak Emily.
Lantas keduanya menuju restoran Hotel serta mencipi hidangan-hidangan lezat Korea Selatan sambil menikmati panorama kota Incheon dipagi hari.

Kini upacara sedang berlangsung. Tampak bendera merah putih berkibar disana. Tak lama lagi akan ada peresmian pembukaan Olympic Games 2016.
Upacara berakhir satu setengah jam setelah dimulainya acara. Para atlet berbaris berurutan ke luar dari gor lapangan Gyeyang Gymnasium.
Pukul 12.00 tadi Olympic Games 2016 resmi dibuka dan akan dilangsungkan di Gyeyang Gymnasium, Incheon, Korea Selatan. Sebuah stadion yang menjadi saksi tak hidup bahwa bulutangkis sebagai satu-satunya penyumbang medali emas Asian Games 2014 untuk Indonesia.
Serta malam ini akan diadakan Gala Dinner bagi seluruh atlet peserta dari setiap cabor. Sementara Gala Dinner untuk cabor bulutangkis akan digelar di hallroom Dongyan Hotel.

Koh Hendrik, official coach ganda campuran, memberikan aba-aba kepada tim Indoensia untuk berkumpul di indoor lapangan bulutangkis Dongyan Hotel.
“Olimpiade telah resmi dibuka kalian harus sungguh-sungguh. Ingat, bulutangkis adalah cabor yang paling ditarget menyumbang medali. Ajang ini tak datang setiap tahunnya, seperti yang kita bersama ketahui, ini adalah ajang empat tahunan jadi kalian sia-siakan kesempatan kalian disini,” Koh Hendrik mengambil nafas sejenak dan menlanjutkan.
“Teruskan perjuangan Susi Susanti dan Alan Budikusuma sebagai penyumbang medali emas pertama Olimpiade. Lanjutkanlah pretasi Hendra/Kido pada Olympic Beijing 2008. Bila diantara kalian nantinya berhadapan dengan wakil Kore Selatan, balaskan kekalahan Nova/Liliyana dari Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung di final Olympic Beijing 2008. Dan yang terakhir, jangan sampai kejadian memalukan pada Olympic London 2012 terulang kembali. Berikan yang terbaik. Kami semua memercayaimu dan semoga keberuntungan meliputi masing-masing kalian,” jelas Koh Hendrik panjang lebar dan semua mendengarkan dengan saksama.

Sejenak suasana lapangan amat hening. Bahkan suara decit pun tak terdengar. Dalam keheningan itulah Varielle bertekad untuk menjadikan medali emas sebagai oleh-oleh bagi keluarga dan masyarakat Indonesia yang jauh beratus-ratus mil disana.
Ia hampiri kedua partnernya, Shella dan David, Shella di sektor women doubles (WD), dan David di sektormixed doubles (XD).
“Nothing to Lose, kak David, ci Shella,” tukasnya mantap kepada kedua partner juga seniornya.
David dan Shella berbarengan mengangguk tanda setuju lalu memberikan senyum tipis dari kedua bibir mereka kepada Varielle.
“Guys.. dikarenakan malam nanti acara Gala Dinner akan dilangsungkan, maka jam latihan kita ubah menjadi sekarang. Latihan fisik dan mental saja cukup,” terang koh Danny membuyarkan lamunan dari kebanyakan atlet.

17.30 waktu Incheon …
Sesuai yang direncanakan sebelumnya, acara Gala Dinner malam ini telah terjadwal dimulai pukul 6 petang. Varielle yang terlihat begitu semangat dan antusias menghadirinya sudah siap setengah jam sebelum dimulainya acara. Ia bersama Emily pun berjalan santai menuju hallroom Dongyan Hotel.
“Duduk disitu saja,” pinta Varielle sembari menunjuk salah satu meja makan.
“Iya,” Emily mengiyakan.
“Kak David ci Shella masih lama nggak, ya?,” Varielle bertanya sambil memfokuskan pandangannya ke kanan dan ke kiri.
“Bentar lagi,” Emily menebak-nebak.
Benar apa kata Emily, tak lama David dan Shella pun datang.
“Kak David ci Shella, sini,” Varielle melambai pada David dan Shella sembari berteriak sedikit kencang lantas menepuk-nepukkan tangannya pada kursi sebagai isyarat untuk Shella dan David. David dan Shella hanya bisa menurut. Mereka berempat kemudian larut dalam canda dan tawa.

Acara berlangsung meriah. Para atlet-atlet elit dunia yang di lapangan terlihat seperti seekor singa kini nampak hanya sekedar seekor kelinci.
“Masih ingat denganku? (dalam bahasa Inggris),” Varielle bertanya juga menyapa Chen Yuan dan Wang Xinqiu, pemain ganda putri Tiongkok.
“Tentu. Senang bertemu kembali denganmu,” jawab Chen Yuan.
“Terakhir kita berjumpa pada Desember lalu bukan, saat semifinal Dubai Final?” tanya Xinqiu.
“Kurasa begitu,” sahut Shella yang baru saja masuk dalam pembicaraan.

Suasana malam ini benar-benar istimewa. Atlet-atlet berbeda kewarganegaraan semakin saling kenal-mengenal. Mereka saling berbagi pengalaman, tertawa bersama, berselfie ria, atau bahkan hanya sekedar saling melempar senyum seakan tak lagi ingat sehari mendatang mereka terpaksa harus saling menjadi lawan.
“Sekarang kita bisa seperti ini, tapi tidak dengan besok,” Chen Yuan mulai berspekulasi negatif.
“Kuharap tidak begitu,” ujar partner Varielle di sektor WD itu.
“Ya, semoga,” jawab Chen Yuan.
Suguhan penampilan-penampilan ‘dadakan’ dari para atlet semakin menghiasi indahnya suasana malam ini. Seolah bumi berputar alangkah tergesa-gesanya, dan waktu bergulit begitu cepatnya, momen ini dengan cepatnya berakhir.

Variele memandangi gemerlapnya kota Incheon di malam hari lewat balkon kamarnya di lantai 8. Terlihat jelas bias-bias cahaya lampu disertai jutaan bintang menggantung dalam hitam langit. Gedung-gedung dan perumahan tertata rapi. Ditambah silir-semilir angin malam yang sekali waktu memberantakkan kecil rambut Varielle.
Tiba-tiba sesosok lelaki hadir dalam pandangannnya. Sahabat yang selama ini ia anggap kakaknya, tak lain adalah David yang seringkali orang bilang mirip dengan Varielle.
“Belum tidur, kak?” tanya Varielle pada David
“Iya,” jawabnya singkat dan dingin.
“Belum-belum udah kangen Indonesia,” Varielle mengungkapkan secuil isi hatinya pada kakaknya.
“Oh,” David menanggapi.
“Hoaahmm..,” Varielle menguap.
“Buruan tidur, gih. Isi tenaga biar besok fit mainnya,” perintah David.
“Iya deh. Selamat malam, kak,” Varielle berlalu meninggalkan David.

Di dalam kamar sejenak Varielle memandangi dan mengutak-atik handphonenya. Refleks ia lempar handphone miliknya di atas kasur lalu menghembus nafas berat. Ditatapnya langit-langit kamar dan menebak-nebak misteri hari esok.

Cliing..
Handphone Varielle berbunyi. Terdapat chat masuk dari handphonenya. Ingin mengetahui sang pengirim chat dan isinya, dibukalah segera handphonenya.
“Temui aku di lobby hotel besok pagi pukul 06.00, kita akan ke luar berjalan-jalan. Akan kuperkenalkan padamu tentang kota ini,” kata Hae-Ron sang pengirim chat.
“Mianhae Eonni, bukan aku bermaksud menolak hanya saja besok aku akan bertanding,” balas Varielle sedikit tidak enak.
“Kumohon. Sebentar saja,” Hae-Ron memohon kepada sahabat jauhnya itu.
“Baiklah sebentar saja,” Varielle hanya bisa pasrah.

Varielle teringat akan janjinya pada Hae-Ron. Ia segera berganti baju dan berpamitan pada Emily, Shella, dan David saja bukan coach.
“Hae-Ron Eonni! Kau sudah lama menungguku?” Hae-Ron yang sedari tadi melamun lantas terkejut.
“Aniyo. Tidak begitu,” jawab Varielle sambil menyunggingkan senyum tipis.
“Ya sudah. Mari kita berangkat,” tidak ingin berbasa-basi, Hae-Ron segera mengajak Varielle berjalan-jalan.

Varielle dan Hae-Ron berjalan sambil berbagi pengalaman selama 3 tahun tidak bertemu. Dinginnya udara pagi merasuk kedalam tubuh Varielle. Menanggapi hal tersebut, Varielle akhirnya memasang jaket yang ia bawa.
“Coba aku tes perkembangan kemampuan bahasa koreamu selama tiga tahun ini. Aku coba dengan kata-kata sulit, bagaimana?” Hae-Ron menantang Varielle.
“Ok, tapi sambil jalan,” Varielle memberikan syarat ringan. Saat berjalan-jalan, sekali waktu Varielle bertutur kata dan mertingkah laku konyol yang membuat Hae-Ron tertawa.

Kini mereka berdua terduduk di atas sebuah kursi taman. Berapa saat dilalui tanpa suara. Varielle memperhatikan lalu lalang kendaraan dari ruas kanan dan kiri. Di hadapannya tergambar jelas penggalan-penggalan garis putih yang membentuk sepintas zebra cross.
Menepis kecanggungan, Varielle kembali memulai pembicaraan.
“Hae-Ron Eonni?” Varielle mengagetkan Hae-Ron.
“Ya?” Hae-Ron bertanya.
“Sepertinya aku harus segera kembali, kalau tidak kupikir aku akan dalam masalah,” ujarnya sedih namun Hae-Ron tak mengizinkan.
Perdebatan kecil pun terjadi. Akan tetapi betapa buruknya, ditengah perdebatan sepele mereka, suara gemuruh petir terdengar begitu keras. Langit yang sebelumnya cerah kini menghitam. Angin yang sangat kencang mengguncang pepohonan sekitar. Bahkan tas selempang hampir saja melayang. Bahkan lebih buruknya lagi, sepasang mata dari keduanya menangkap jelas angin putting beliung dari arah utara. Panik dan gelisah meliputi mereka saat ini.
Keduanya lntas berpegangan tangan erat-erat.
“Ada apa ini? Apa yang sebenernya terjadi? Aku masih ingin hidup, Eonni,” Varielle mendesah. “Kemana kita harus pergi sekarang? Sangat mustahil kita ke hotel sekarang. Jarak sini dan hotel tidak memungkinkan,” Varielle kepanikan.
“Berpikir Hae-Ron! Berpikir!” ucapnya pada dirinya sendiri sambil memukul-mukul pelan kepalanya.
“Bagaimana kalau aku akan merepotkan tim?” Varielle bertanya penuh gelisah sambil menggigit jarinya.
“Kau membawa handphone?” Hae-Ron bertanya sambil terus berpikir.
“Untuk apa? Disituasi genting seperti ini kau masih saja memikirkan berita terbaru artis Korea,” celetuk Varielle.
“Bukan. Bukan begitu. Kau perlu mengabari tim kalau kau baik-baik saja disini bersamaku,” kata Hae-Ron menjelaskan.
“Baik-baik bagaimana katamu?!” ucap Varielle dengan nada meninggi.

Sementara di seberang sana di Dongyan Hotel …
“David! Vid! Sadar, Vid! Kembaran plus adikmu Varielle lagi dimana?!” teriak Emily mengedor-gedor dan membuka paksa pintu kamar David.
“Kriekk…,” David membuka pintu kamar.
“Plislah Emily kalem dikit. Ngertiin dari tadi udah aku coba telepon doi tapi direject,” keluh David.
“Jangan-jangan…,” Emily mulai menyimpulkan sesuatu, Shella dan David hanya menggigit bibir bawah mereka.
“Jangan bilang handphonenya lowbat,” Shella menyahut dengan nada cepat.
“Terus ceritanya dia ilang? What the…!” Emily berkata sedikit emosional sambil menendang tembok.
“Aduh si bebeb,” kesal Shella.
“Lapor aja ke tim gimana? Masa bodo kita ngelanggar janji,” usul David.

Flashback On
“Kak Emily, aku mau pergi sama Hae-Ron,” ijin Varielle sok imut pada Emily.
“Kemana? Jangan aneh-aneh,” Emily melotot.
“Entah. Tapi plis dong, kak. Kasihan itu si Hae-Ron,” Varielle kini berada dalam posisi ‘sungkem’an pada Emily.
“Ok, tapi seizin coach,”
“Jangan-jangan, kak! Seizin kak Emily aja. Jangan sampe coach tahu,”
“Kalo gitu minta ijin sama kakakmu sama Shella juga! Seudahnya baru boleh pergi. Tapi inget gak boleh lama-lama,” pesan Emily.
“Yeeeyyy.. makasih kak. Muach! Janji ya kak, rahasiain dari coach” Varielle berlari keluar kamar.
Flashback Off

“Bener, Vid. Yuk, buruan sebelum badainya makin kenceng,” kata Emily
Setelah percakapan tersebut, ketiga sahabat Varielle itu berlari menuju kamar 603, kamar cocah Suyatno dan coach Rendy.

Cerpen Karangan: Talitha Shahiza

Cerpen Spikes Before Flowers, Rainbow After Storm merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pengorbanan Sahabat

Oleh:
Waktu itu tahun 2010. Waktu itu Mei duduk di kelas 6 SD. Mei adalah anak yang pintar, pendiam dan pemalu. Tapi, di kelasnya dia lah yang mengatur semua saat

Ketika Sahabat Menjadi Penghianat

Oleh:
Pagi yang cerah aku terbangun dari tidurku, setelah aku mendengar suara teriakan bunda. Ooohh iya namaku Risla Alma Gerald panggil aja Risla. Hari ini pertama kali aku masuk SMP

Cinta Sejati Sebagai Sahabat

Oleh:
Percayakah kamu akan hadirnya cinta sejati? Semua orang pasti mempunyai pendapatnya masing-masing dan alasan yang berbeda pula. Perbedaan juga biasa muncul dalam topik-topik tertentu yang nantinya akan di bahas,

Tunanetra? Aku Bisa!

Oleh:
Awalnya aku ragu dalam menghadapi hidup ini, banyak anak manusia yang memandang pertemanan hanya melalui fisik saja tanpa melihat dasar isi hati yang paling dalam. Aku ragu dalam memilah

Sahabat Scouts Selamanya (Part 1)

Oleh:
Suara adzan subuh bergema, begitu juga dengan suara alarm handphone yang berdering memecah telinga seisi tenda, sontak semua terkejut, mereka meraba ke sana ke mari mencari di mana sumber

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *