Still Have Them

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 13 May 2017

Gemuruh hujan membangunkan Lucy dari tidur yang setengahnya mimpi buruk. Gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya untuk mengusir kantuk, lalu melirik kalender yang diletakkan di atas meja di sebelah tempat tidurnya. Hari ini adalah Hari Senin, tanggal 7 Juli; hari ulang tahunnya yang ketiga belas.

Lucy menyibakkan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya dan beranjak ke wastafel. Setelah sikat gigi dan cuci muka, gadis berambut pirang lurus itu keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga dengan perlahan hingga sampai di ruang tamu rumahnya, di mana keluarga besarnya sudah menunggu kedatangannya di meja makan dengan air muka bahagia.

Tapi, Lucy tak merasa bahagia. Dengan cuek, ia mengambil tempat duduk di sebelah neneknya, lalu mencomot makanan apa saja yang ada di meja makan tanpa mengucapkan sekedar ‘selamat pagi’ atau ‘selamat makan’. Tidak sopan? Memang, tapi Lucy tak peduli.

Maria, ibu Lucy, mengembuskan napas berat ketika melihat sikap dingin putri semata wayangnya itu. Dulu, Lucy adalah anak yang ramah dan murah senyum, tapi semuanya berubah sejak kecelakaan tiga tahun yang lalu; insiden besar yang merenggut nyawa seseorang yang sangat berharga bagi Lucy.

Ironisnya, orang itu meninggal pada tanggal 7 Juli, yakni hari ulang tahun Lucy, dan orang yang menyebabkan kecelakaan itu sendiri adalah Lucy. Gadis itu syok berat. Ia terus-menerus menyalahkan dirinya atas kecelakaan itu. Bahkan ia pernah mencoba untuk bunuh diri. Maria dan suaminya pun segera membawanya ke pusat rehabilitasi, dan setelah menjalankan terapi selama setahun lebih, gadis itu pun dipulangkan ke rumahnya. Akan tetapi, sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat. Lucy yang dulunya selalu menebar senyum dan akrab dengan siapa saja, kini jadi jutek dan pendiam. Terkadang ia bisa hilang kendali jika ada yang mengingatkannya kembali tentang peristiwa itu, tapi sejauh ini semuanya masih baik-baik saja.

Sebenarnya, kecelakaan itu bukan sepenuhnya merupakan kesalahan Lucy. Ia dan sahabatnya, Jake, hanya bermain kejar-kejaran di sekitar sungai yang alirannya cukup deras, dan Lucy tak sengaja tercebur ke dalam sungai itu karena kurang hati-hati sewaktu berlari. Jake menolongnya sehingga ia selamat, tapi justru cowok itulah yang tenggelam dan kehilangan nyawanya.
Karena itu, Lucy membenci dirinya, ia membenci kelahirannya dan ia membenci hidupnya. Apalagi, orangtua Jake tak bersikap baik padanya setelah kejadian itu.

“Lucy,” Maria memanggil, membuat Lucy segera tersadar dari lamunannya. “Hari ini adalah hari ulang tahunmu, bukan? Sepertinya kau lupa. Kami sudah menyiapkan hadiah untukmu di taman belakang. Segeralah habiskan sarapanmu, kau pasti akan sangat menyukai hadiah dari kami ini.”
Lucy tidak menanggapi. Ia meneruskan sarapannya tanpa mempedulikan perkataan Maria.
Ayah Lucy, George, menatap sedih putrinya itu. “Kami sudah menyiapkan hadiah ini dari jauh-jauh hari, bahkan berbulan-bulan yang lalu, dengan harapan kami bisa melihat senyummu lagi, Nak. Karena itu–”
Lucy membanting garpunya, membuat kalimat George terputus. “Sebenarnya apa, sih, mau kalian?” serunya penuh emosi. “Kalian selalu memaksaku untuk bahagia, dan itu menyiksaku! Apa kalian tak pernah mencoba untuk memikirkan perasaanku? Kalian bahkan mengirimkanku ke pusat rehabilitasi seolah-olah aku ini orang tidak normal! Kalian selalu bertindak seenaknya saja!”
“Lucy!” tegur ayahnya.
Gadis itu melayangkan tatapan sinis kepada George. “Apa? Aku benar, bukan?”
“Tidak!” ucap Maria setengah marah setengah sedih. “Kau salah, Nak. Kami tak bermaksud memaksamu. Kami hanya tidak ingin kau terlalu lama terjebak di dalam masa lalu. Apalagi, kecelakaan itu bukan sepenuhnya kesalahanmu. Takdirlah yang membuat Jake pergi dari dunia ini, bukan kamu.”
Mata Lucy berkilat karena amarah. Ia memang sangat sensitif terhadap topik ini, apalagi hari ini adalah hari kematian sahabatnya itu. Sebelum gadis itu mengamuk dan memporak-porandakan rumah tersebut, Emily selaku bibinya berkata, “Bagaimana kalau kau terlebih dahulu pergi ke taman belakang bersama kami? Hiruplah udara segar dan nikmatilah hari ulang tahunmu, Lucy.”

Lucy menarik napas dalam-dalam. Ekspresinya kembali datar, tak ada lagi tanda-tanda emosi di wajahnya. George dan Maria tersenyum kecil, kemudian menuntun gadis itu ke taman belakang dengan diikuti oleh nenek dan kakek Lucy, juga Paman, Bibi, dan sepupu-sepupu Lucy yang sudah dewasa.

Lucy tertegun, tak mempercayai apa yang dilihatnya.
Terakhir kali ia mengunjungi taman belakang rumahnya itu adalah tiga tahun yang lalu, sebelum Jake meninggal, dan saat itu hanya ada pepohonan dan rumput liar yang memenuhi taman. Tapi sekarang, bunga berwarna-warni ada di mana-mana, dan teman-teman satu kelasnya pun juga hadir di taman tersebut dengan wajah ceria dan hangat, padahal Lucy mengira mereka sudah membencinya karena sikapnya yang tak bersahabat.

Matanya berkaca-kaca. Ia ingat sewaktu Jake datang ke rumahnya lima tahun yang lalu untuk mengerjakan tugas sekolah bersama-sama. Waktu itu Lucy sedang sedih karena baru dimarahi oleh George. Jake yang mengetahui hal itu langsung mengajaknya ke taman kota. Di sana ada banyak bunga yang indah, dan Jake memetik salah satu untuk Lucy.
“Aku suka bunga,” saat itu Jake berkata, “soalnya bunga itu cantik dan ceria. Karena itu, aku ingin memberikan bunga ini untuk dirimu, supaya kau bisa tersenyum lagi. Soalnya, bagiku, senyummu itu lebih cantik dibanding bunga mana pun yang ada di dunia ini.”
Lucy terdiam sejenak, lalu tertawa. Jake ikut tertawa, kemudian cowok itu merangkai sebuah cincin dari bunga yang dipetiknya dan disematkannya di jari kelingking Lucy. “Bagus,” Jake berujar.
Dan itu adalah hari di mana Lucy mulai menaruh rasa pada sahabatnya itu.

Tanpa sadar, Lucy menangis. “Maafkan aku,” ucapnya parau di sela-sela isakannya, “aku minta maaf…”
Maria tersenyum lembut. “Untuk apa? Kau tidak melakukan kesalahan apa pun, Nak.”
“Benar. Selamat ulang tahun, Sayang,” ujar Emily.
“Kau tambah cantik,” komentar nenek Lucy.
“Tenang saja, Nak,” ujar George. “Kehilangan Jake bukan berarti kau kehilangan segalanya. Jangan menangis, Jake pasti akan ikut menangis di sana. Tersenyumlah, sudah lama Ayah tak melihat senyummu.”
Tetap saja sulit bagi Lucy untuk tersenyum setelah selama tiga tahun ia cemberut terus. Tapi, walau rasanya agak aneh, ia berusaha untuk menaikkan kedua sudut bibirnya.

“Selamat ulang tahun, Lucy.” Chelle, teman lamanya, menghampirinya dan memeluknya. “Bagaimana hadiahnya? Kudengar, keluargamu berusaha keras memperindah taman ini selama berbulan-bulan. Apa kau menyukainya?”
Lucy mengangguk pelan. “Aku tidak menyangka kalian akan datang. Kukira kalian tidak menyukaiku.”
“Siapa bilang?” ujar Pete. “Kau itu cantik, sayangnya saja tidak pernah tersenyum. Tapi, kita semua tahu kau punya hati yang baik. Apalagi, setelah mengetahui apa yang kau alami tiga tahun yang lalu, kami sama sekali tak punya alasan untuk tidak menyukaimu.”
“Jangan menggodanya, Pete,” ujar Reina. “Lihat, Lucy merona ketika kau bilang dia cantik.”
Lucy melotot. “Aku tidak merona!”
“Tapi wajahmu merah,” ujar Lauren, salah satu sepupunya, sambil tersenyum geli.
“Seperti kepiting rebus,” timpal Vinney.
“Tanda-tanda, tuh,” kata Daniel.
“Tanda-tanda apa?” tanya Lucy polos. Air matanya sudah kering.
“Tanda-tanda Pete mulai masuk ke hatimu,” ujar Ferro berlebihan. Pete melirik Lucy yang ternyata juga sedang meliriknya. Mereka sama-sama mengalihkan pandangan dengan wajah memerah. Semua orang langsung menyoraki mereka.

Lucy baru sadar, tak ada alasan baginya untuk terus bersedih. Karena ia masih punya mereka.

Cerpen Karangan: Tricia Ofelia Wijaya
Facebook: tricia ofelia
Tricia Ofelia Wijaya, 13 tahun.

Cerpen Still Have Them merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sadness With Me

Oleh:
“Caca!!”, aku mendongak. “Kennan?” teriakku tak percaya. Kennan tertawa, lalu memelukku erat. “Kok bisa disini sih, sayang?” tanyaku penasaran. Kennan melepaskan pelukannya. “Kangen aja.. gimana? udah sembuh penyakitnya?” “lumayan

Uang Kertas

Oleh:
“Vanya… hari ini kamu jadi kan ketemuan sama sepupu aku yang dari London kan?”. “ya, jadi deh”. Nidya menggandengku menuju kelas. Inilah diriku, aku sudah terlalu sering gagal dalam

Different World (Part 1)

Oleh:
Hai namaku Netania Sabrina, biasanya dipanggil Nesa. Aku seperti anak-anak lain, tapi aku gak ngerti kenapa aku dijauhin sama teman-teman sebayaku. Bermula dari munculnya Steve di dalam hidupku. Sejak

My Beautiful Mistake

Oleh:
Aku masih duduk di bangkuku dengan mata sembab dan suara isak tangis yang sudah hampir hilang. Di sampingku ada Putri yang duduk sambil mengusap pundakku secara perlahan serta Tita

Aku Bisa

Oleh:
Kedua ibu jarinya begitu lincah menari di depan layar handphonenya. Mata masih memandang dengan begitu jeli. Hingga akhirnya konsentrasinya itu terpecah, handphone dibanting ke atas kasur, bersamaan dengan ia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *