Stupid R

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 11 April 2017

Tap… tap… tap…
Sreekk… Seseorang mengibaskan kain yang menutupi pandangan dan jalannya.
“Hehh…!!”, seseorang tersebut menghela nafas melihat keadaan di sekitarnya.
Di sebuah rumah kecil yang terletak di ujung gang ini, terlihat seseorang yang sedang berdiri di depan pintu sebuah kamar sambil menatap sedih ke arah seseorang yang sedang berbaring di kasur dengan keadaan yang sangat menyedihkan dan berantakan.
Bisa dilihat dari luar ruangan -tempatnya berdiri- bahwa kondisi ruangan ini sangat berantakan. Pakaian berada di mana-mana, tidak bisa dibedakan yang mana bersih dan yang mana kotor. Sampah-sampah sisa makanan dan lainnya dengan tidak merasa berdosanya ikut memenuhi ruangan ini. Bahkan ada bau tidak sedap yang menyebar ke mana-mana. Tampak si pemilik ruangan ini santai dan tidak merasa terganggu sama sekali dengan kondisi di sekitarnya.
Memperhatikan kondisi sekitarnya? Bahkan dirinya sendiri entah bagaimana nasibnya. Muka berantakan dengan rambut-rambut halus tumbuh di sekitar bawah hidung dan memenuhi sekitar rahangnya. Ditambah pula dengan kantung mata yang mulai menebal seiring berjalannya waktu, dan jejak-jejak sisa air mata yang dibiarkan mengering di pipinya begitu saja tanpa dibersihkannya. Pakaian yang dipakai saat ini entah sudah berapa lama dipakainya tanpa digantinya sejak hari itu.

“Hei.. bangunlah. Astaga apa ini??” tanya seseorang tersebut sambil menutup hidungnya saat memasuki ruangan ini dan berdiri di dekatnya. Pandangan mata kosong dangan ekspresi datar ditunjukkan kepada seseorang yang bertanya kepadanya barusan. Benar-benar seperti mayat hidup.
“Ada apa denganmu, hah?! Bangunlah bodoh! Ini benar-benar bukan seperti dirimu!!
“Kubilang bangun! Bersihkan tubuhmu itu. Mengerikan!!” teriak seseorang itu sambil menarik paksa dirinya untuk berdiri. Namun itu hanya sia-sia. Dirinya tidak bergerak sama sekali. Tetap menatap kosong kepada orang yang menarik paksa dirinya.
“Rico…!! Astaga!! Ada apa denganmu sebenarnya? Kau tahu kau benar-benar tampak seperti mayat hidup, kau tahu??!” marah Lorenzo –seseorang tersebut- emosi.
Lorenzo benar-benar tidak habis pikir dengan tingkah sahabat satu-satunya ini. Sahabatnya yang hangat dan riang sudah tiada digantikan dengan mayat hidup seperti apa yang dia lihat di depannya.

Federico atau lebih sering dipanggil Rico oleh orang-orang yang mengenalnya, hanya menoleh sebentar ke arah sahabat terdekatnya, Lorenzo kemudian menunduk dalam-dalam kembali meratapi nasibnya.
“Aaarrrgghh…!!” teriak Lorenzo kesal bercampur frustasi sambil mengacak-acak rambutnya gusar melihat Rico menyedihkan seperti ini. Dia kesal pada dirinya sendiri karena telah merasa gagal menjadi sahabatnya. Bagaimana mungkin dia yang notabenenya sebagai sahabat terdekatnya tidak mengetahui apa yang telah terjadi kepada sahabat satu-satunya itu. Bahkan dia langsung berlari kemari karena mendengar kabar angin yang beredar di lingkungan kampusnya. Sungguh, dia merasa kesal dan marah pada dirinya sendiri. Seandainya dia tidak pergi pada saat itu, pasti tidak akan seperti ini.

“Rico, apa yang terjadi denganmu? Kau ada masalah apa sampai membuatmu menjadi seperti ini? Hah? Jawab aku Rico, jangan diam aja dong.” sekali lagi Lorenzo bertanya kepada sahabatnya namun tetap tidak ada jawaban yang dia dapat dari Rico.
“Huuuhh…” Kembali dia menghembuskan nafasnya lelah. Kemudian dia berdiri menjauhi Rico, berjalan ke arah pintu sambil memunguti satu per satu sampah yang berserakkan di mana-mana dan mengeluarkan bau yang tidak sedap itu.
“Ya ampun.. Apa ini? Jorok sekali. Ckckck,” gerutu Lorenzo sambil tetap memunguti satu per satu sampah yang ada. Kemudian dia keluar dari kamar membuang semua sampah yang sudah terkumpul, mengambil sapu, serokan, dan kain pel yang sudah siap dengan sabun pelnya juga keranjang pakaian kotor.
Kembali dia memasuki kamar Rico, memunguti semua pakaian yang berserakkan di lantai kemudian memasukkannya ke dalam keranjang dan membawanya keluar menuju dapur, memasukkan semua pakaian tersebut ke dalam mesin cuci dan mencuci semuanya.
Setelah memastikan mesinnya mulai bekerja, dia berjalan kembali ke kamar, menyapu lantai kemudian mengepelnya sampai bersih. Terakhir dia menarik gorden dan membuka jendela kamar sehingga angin segar dari luar dapat masuk dan berganti dengan udara yang ada di ruangan pengap ini.

“Haahh… Akhirnya selesai semua. Udah bersih semua, gini kan enak lihatnya.” ucap Lorenzo sambil menarik kursi untuk duduk di sebelah Rico yang masih berbaring seperti mayat hidup yang bahkan tidak merasa terganggu sama sekali dengan semua kegiatan yang dilakukan oleh Lorenzo barusan.

Rico kembali mengingat kejadian hari itu yang membuatnya menjadi seperti ini, seperti tidak bernyawa. Tiba-tiba dia kembali merasakan sesak di dadanya. Sakit, sakit sekali sampai-sampai dia merasa oksigen di sekitarnya perlahan menipis kemudian menghilang.
“Rico.. Rico, kenapa? Ada apa?” tanya Lorenzo panik saat melihat Rico tiba-tiba memegang dadanya sambil mengatur napasnya agar normal kembali.
Selalu seperti ini saat Rico mengingat kembali kejadian yang menyebabkan dia menjadi seperti ini. Sakit, perih dan sesak bercampur menjadi satu. Rasanya ia ingin mati saja tapi dia gak bisa melakukannya. Entah karena apa namun yang pasti dia tidak akan mati semudah itu.

“Are you really okay, man? What’s actually happen to you? Kenapa kau jadi seperti ini? Kau sakit? Apa parah? Apa perlu kita ke rumah sakit sekarang?” tanya Lorenzo bertubi-tubi tidak sabaran dengan sikap Rico yang hanya diam saja sambil masih memegang dadanya mencoba mengatur napasnya.
“Heh.. gak usah.” ucap Rico lirih setelah rasa sesak di dadanya berangsur-angsur hilang. Ini kata pertama yang keluar dari mulut Rico semenjak kejadian hari itu.
“Serius gak papa? Ha? Tapi tadi.” kata Lorenzo terpotong dengan ucapan Rico.
“Aku gak papa Ren, mending pulang aja sana. Thanks udah bersihin kamar ini.” kata Rico sambil mengusir Lorenzo agar ia segera pulang.
“Rico…” panggil Lorenzo lirih. Dia sudah lelah menghadapi diamnya Rico. Dia sudah penasaran setengah mati alasan kenapa Rico jadi seperti ini.
“Mandi dulu deh mending, habis tuh baru cerita semuanya ke aku kenapa kamu jadi gini. Tau gak sih aku tuh udah penasaran banget dari tadi kamu diam gitu aja. Malah tuh tampang menyedihkan banget lagi. Ada apa sih? Susah banget ya buat cerita? Ya udah gak apa kalo gitu berarti kamu udah gak anggap aku sebagai sahabat kamu lagi? Gini ya sifat aslimu, hah?!” ucap Lorenzo panjang lebar dengan sedikit emosi karena hanya dianggap angin lalu sama Rico.
Jikalau ada orang lain yang melihat hal ini pasti orang tersebut bakal tertawa dan merasa ilfeel mendengar apa yang barusan diucapkan oleh Lorenzo. Seorang cowok yang super dingin bisa mengucapkan kalimat sepanjang itu dengan ekspresi yang berubah-ubah.

“Dia pergi Ren. Dia tinggalin aku.” ucap Rico lirih bahkan sangat lirih sampai Lorenzo harus menajamkan pendengarannya untuk mendengar jelas apa yang diucapkan Rico barusan. Tapi berhubung karena hanya mereka berdua di ruangan yang sunyi ini, dia dapat mendengar dengan jelas bahkan sangat jelas.
“Hah?” tanya Lorenzo setelah beberapa menit hening. Dia mengernyitkan keningnya bingung dengan kalimat yang barusan diucapkan sahabatnya ini. Apa dia tidak salah dengar? Dia? Siapa yang dimaksud dengan dia?
Seketika tubuh Lorenzo menegang dan matanya membulat setelah dia menyadari siapa yang dimaksud oleh Rico. Hening kembali melanda keduanya. Kedua orang itu sibuk berkutat dengan pikiran masing-masing.
Lorenzo memaksa otaknya untuk berpikir keras alasan kenapa dia meninggalkan Rico, padahal sebelumnya mereka masih baik-baik saja. Semuanya masih berjalan lancar, bahkan dia masih ingat terakhir kalinya mereka pergi jalan bersama untuk melepas penat dan stress dengan bahagia dan tertawa bersama.

Tanpa disadari Lorenzo ternyata Rico sudah menangis dari tadi. Dia menangis dalam diam mengingat semua kejadian yang telah berlalu. Lorenzo menoleh kemudian terkejut melihat Rico menangis seperti merasa sangat kesakitan. Lorenzo mengulurkan tangannya ke bahu Rico kemudian menepuknya pelan menenangkannya.
“Sudahlah… Sorry aku gak tau. Aku tau ini berat tapi hidup masih panjang man. Udahlah lupain aja dia, berarti dia bukan yang terbaik untukmu dia bukan jodohmu.” ucap Lorenzo sambil mengelus lembut punggung Rico menenangkannya. Bukannya tenang, yang ada Rico semakin terisak lalu menepis kasar tangan Lorenzo dari bahunya.
“Gak!! Kamu tuh gak tau apa-apa. Gak usah ikut campur. Ini tidak semudah dengan yang kau bayangkan!!” emosi Rico sembari menatap tajam ke arah Lorenzo yang kini menatap tak percaya dengan apa yang dilakukan Rico barusan terhadapnya.
Jelas saja dia kaget, Rico itu bukan tipe orang yang kasar. Bahkan semua orang tahu akan hal itu. Rico yang sebenarnya adalah sosok yang ramah, murah senyum, sopan, menjaga perasaan orang lain, dan tegas juga keras disaat-saat tertentu. Dia juga tipe orang yang paling realistis yang pernah dikenalnya. Kaget dan tidak percaya tentu saja, tapi yang buat Lorenzo lebih shock adalah Rico masih memikirkan orang itu, dia seharusnya tidak seperti ini.
Lorenzo tidak habis pikir bagaimana mungkin Rico bisa menjadi serapuh ini. Ke mana Rico yang dikenalnya selama ini.

Hari itu, di mana merupakan hari terakhir Rico hidup seperti layaknya manusia normal lainya. Merasakan bahagia, senang, sedih, sakit, tertawa, bercanda, mencintai dan dicintai, namun sekarang tidak lagi. Yang dirasakannya kini hanya kesedihan, sakit, dan perih. Semuanya sudah hilang semenjak hari itu, hari di mana kekasih yang dicintainya pergi meninggalkannya setelah mengkhianatinya di depan mata kepalanya sendiri. Dia sudah berusaha untuk memaafkan kekasihnya, mereka juga sudah sepakat untuk memulai kembali dari awal. Tapi ternyata hanya bertahan beberapa hari kemudian kekasihnya memutuskan hungungan mereka lagi. Bodoh memang, bahkan sangat bodoh. Mana ada manusia yang akan memaafkan dan masih mengharapkan hubungan mereka baik-baik saja setelah ada noda di dalam hubungan mereka. Hanya manusia berhati malaikat seperti Rico yang masih sanggup melakukannya walaupun sudah disakiti. Kekasihnya memutuskannya karena kekasihnya merasa menjadi perempuan terjahat karena sudah menyakiti hati dan perasaan laki-laki sebaik Rico.

“Dia pergi tinggalin aku, dia bilang kita udah gak cocok. Dia bilang dia gak mau kita terluka semakin dalam. Dia.” ucap Rico sambil menangis terpotong dengan ucapan bernada tinggi dari Lorenzo.
“Bodoh!! Dasar bodoh!! Orang kayak gitu masih diharapin, hah??! Woi, sadar! Bangun! Udah jelas-jelas dia yang salah akhirnya sadar juga dia kan? Lupakan aja dia, napa?! Macam gak ada perempuan lain aja?!” emosi Lorenzo benar-benar sudah di ubun-ubun.
“Huuuhh!! Gak habis pikir aku kok ada orang sebodoh dan setolol kau, Rico. Astaga dosa apa yang aku punya sampai aku punya sahabat kayak dia.” masih dengan emosi tinggi Lorenzo kembali mengucapkan kata-kata yang menyakitkan. Kemudian dia menghembus napas perlahan untuk meredam emosinya.
“Iya aku emang bodoh terus kenapa?! Apa itu masalah banget buatmu, hah?! Kenapa?! Nyesel? Malu punya sahabat kayak aku? Yaudah sana pergi aja! Siapa juga yang butuh orang yang sok tau trus pengen tau semuanya juga kalo ngomong kayak gak punya otak sama sekali” bentak Rico emosi sambil menatap tajam Lorenzo.
Emosi Lorenzo yang sebelumnya sudah reda kembali tersulut karena ucapan Rico barusan.
“Apa?! Apa kau bilang barusan? Gak punya otak?! Hah! Sekarang aku tanya siapa di sini yang gak punya otak? Aku atau kau yang masih berharap kembali orang yang pernah berbuat hal jahat padamu? Ha?! Jawab BODOH!”
“KALO GAK TAU APA-APA GAK USAH IKUT CAMPUR BISA GAK SIH?!”

BUUGHH..
Satu pukulan dilayangkan oleh Lorenzo ke pipi Rico. Alhasil pipi Rico sekarang membiru keunguan. Rico memegang pipinya yang terasa keram itu sambil tetap menatap Lorenzo tajam.
BUUGHH..
Sekali lagi pukulan ditujukan ke Rico. Kali ini ke arah perut Rico. Seketika Rico jatuh terduduk lemas karena tidak makan berhari-hari ditambah lagi dengan pukulan dari Lorenzo
“RASAKAN ITU BODOH! DASAR MANUSIA GAK TAU DIRI! GAK WARAS GAK PUNYA OTAK!! TERSERAHMU AJALAH! KAU MAU HIDUP MENDERITA GINI ATAU MATI MENGENASKAN PUN AKU GAK PEDULI LAGI. TAPI AKU BERHARAP SIH LEBIH BAIK MATI AJA DARIPADA HIDUP TAPI MENYUSAHKAN ORANG AJA!” emosi Lorenzo semakin meluap-luap bahkan dia tidak ada merasa bersalah sama sekali setelah memukul sahabatnya itu. Dia sudah benar-benar kebakar sama emosinya sendiri. Rico hanya tersenyum sinis sambil berusaha berdiri.
“OKEE KALO GITU BUNUH AJA AKU SEKARANG!! BIAR AKU MATI SEKARANG DI SINI!!”
BUUGHH.. DUAGH..
Lorenzo semakin membabi buta memukuli Rico. Sampai dirasanya sudah cukup puas, dia menarik diri dari Rico yang sudah tergeletak lemas sambil berusaha mengatur napasnya.

“Hosh.. Hosh… Kenapa berhenti?! Bukannya tadi kau mau membunuhku?”
“Hosh.. Hosh… KAU PIKIR AKU SEBODOH ITU!! AKU GAK AKAN MEMBUNUHMU DENGAN TANGANKU SENDIRI WALAUPUN SEBENARNYA AKU MAU. PALING TIDAK AKU MASIH BISA BERPIKIR KAU ADALAH SAHABATKU, AKU TIDAK AKAN MUNGKIN MEMBUNUH SAHABATKU SENDIRI, BODOH!!”

Setelah berhasil mengatur napasnya kembali normal, Rico bangkit dan berjalan sambil tertatih-tatih menahan sakit di sekujur tubuhnya menghampiri Lorenzo yang juga sedang mengatur napasnya dan berusaha untuk menjernihkan pikiran dan meredam emosinya.
“Thanks. Kau benar. Aku salah. Aku bodoh, sangat bodoh. Sekarang aku sadar kalo aku harus bangkit dari keterpurukanku bukan begitu? Maafkan aku” ucap Rico pelan sembari tersenyum tipis menahan rasa perih di wajahnya.
Lorenzo membelalakkan matanya menatap tidak percaya ke arah Rico. Seakan baru menyadari kesalahannya, dia menunduk sambil memejamkan matanya menghembuskan napas secara kasar.
“Astaga!! Apa yang udah aku lakuin? Sorry bro, tadi aku kebawa emosi. Sorry sorry banget.” ucap Lorenzo pelan sambil menatap merasa bersalah ke Rico.
“Lumayan sakit juga ternyata pukulanmu. Hahahaha… Aduh duh.” ucap Rico sambil tertawa kemudian meringis karena sakit di sekitar wajahnya akibat pukulan Lorenzo tadi.
“Dasar!! Rasain tuh emangnya enak? Ledek aja terus. Mampus tuh rasain tuh sakitnya enak kan?”
Lorenzo tertawa melihat muka kesakitannya Rico. Rico hanya mendengus kesal sambil menatap tajam ke arah Lorenzo. Tiba-tiba Lorenzo berhenti tertawa dan menatap serius ke Rico.
“Tapi Ric, beneran deh kau tuh bodoh banget. Ya udahlah kenapa masih ngarepin perempuan sialan itu lagi sih. Lupain dia, kau tuh harus keluar dari garis itu sekarang. Hidup masih panjang bro, kita harus nikmatin hidup ini dengan baik bukannya malah menyia-nyiakan hidup ini untuk hal gak berguna kayak gini, tau gak?” ucap Lorenzo serius.
“Iya tau aku. Tenang aja aku bakal keluar dari garis itu. Benar katamu hidup ini untuk dinikmati bukannya untuk hal bodoh gak penting kayak gini. Haha.”
“Sana mandi, bau tau gak sih? Sumpah ya jorok banget sih jadi manusia. Udah gak mandi berapa tahun tuh?”
“Sialan kau. Baru juga seminggu aku gak mandi.” jawab Rico santai sambil duduk di pinggiran kasur tempat tidurnya.
“WHAT??!! Parah banget sumpah! Pantesan dari tadi cium bau busuk banget. Ya ampun kok bisa aku punya temen kayak gini?” Lorenzo membulatkan matanya shock mendengar ucapan Rico. Langsung dia menarik Rico, memaksanya masuk ke kamar mandi dan menyuruhnya segera mandi. Benar-benar tidak habis pikir dia bisa berteman dengan manusia paling jorok sedunia.
“Aduhduh.. Sakit bodoh!!”
“Biarin!! Sana mandi!! Buruan! Aku mau pulang dulu. Bye.”
Setelah mengatakan itu, Lorenzo benar-benar pergi meninggalkan rumah Rico. Inilah salah satu sifat jeleknya Lorenzo suka datang tiba-tiba lalu pergi gitu aja sesuka hatinya.

“Ren.. Ren…” panggil Rico berulang kali namun tidak ada jawaban.
“Huh.. dasar kebiasaan. Awas aja besok.” geram Rico.

Hidup itu memang terkandung banyak hal di dalamnya. Hidup itu seperti roda yang berputar. Ada saatnya kita di atas, ada saatnya kita di bawah. Kita harus pandai dalam menanggapi segala masalah yang datang menghampiri. Jangan mau kalah pada masalah yang datang, tapi jadikan itu sebagai pelajaran baru untuk modal tambahan dalam menjalani hidup ke depannya menjadi lebih baik. Hidup bukan untuk disia-siakan, tapi untuk dinikmati dan diresapi makna hidup itu. Percayalah jikalau kita menikmati hidup kita dan mensyukurinya dijamin pasti hidup ini akan lebih mudah dan ringan untuk dijalani.
“Just enjoy your life and make yourself be happy.”

Cerpen Karangan: Sintia Paramita
Facebook: Sintia paramita gotama

Cerpen Stupid R merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ngap-Ngap

Oleh:
Kalau udah bicara masalah pertandingan bola, sudah pasti bicara masalah score trus club kebanggaan trus pemain idola masing-masing. Nah, rata-rata yang bakal heboh tuh cowok-cowok, pertandingan belum apa-apa mereka

Korban Keegoisan

Oleh:
“Hei, Ris! Apa lo nggak dengerin gue?” Aku menoleh dengan wajah merengut ke arah Shila. “Apa, sih? Ganggu gue aja deh!” Bentakku. Shila mendengus kesal. “Lo liatin apa sih

My Brother

Oleh:
Ada satu hal yang membuat Nadine iri pada Lydia dan Zeera. Pertama, Lydia dan Zeera sama-sama punya kakak laki-laki yang menurut Nadine itu keren, cool, ramah and perhatian. Gak

Goodbye Aura

Oleh:
Hai namaku Salicha Azzhara. Aku bersekolah di SDIT BINA INSANI. Aku memiliki 2 orang sahabat, yaitu Elvyra dan Aura. Suatu hari yang indah.. “Hai, Ichaa!” sapa Elvyra ceria. “Hai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *