Sunset in Love

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 7 February 2017

Pagi yang cerah di kota sidney saat itu menemani Zidane dan Seika yang sedang sarapan di cafe dekat apartement mereka. Sarapan di luar sudah menjadi kegiatan rutin bagi kedua sahabat ini yang sedang menuntut ilmu di negeri orang. Mereka duduk santai sambil bercerita ringan dan terkadang mengeluarkan tawa kecil. “Kita jadi pergi kan nanti sore Ane?”, tanya Seika. *read: (Ane dibaca an)
“Tentu Ei.”, gumam Zidane sambil meminum kopi yang sudah ada di dekat mulutnya. Seika tersenyum gembira, “Oke. I love you very much.”

Tiba-tiba saja ponsel Zidane bergetar dan berbunyi cukup keras. Tanda ada panggilan masuk. Zidane mencoba mengambil dari saku celananya. “Oh God, apa lagi ini?”, gerutu Zidane saat melihat nama yang ada di layar ponselnya. Seika yang saat itu melihat perubahan ekspresi Zidane merasa bahwa akan ada pertanda buruk.

“Professor meneleponku dan menyuruhku untuk datang ke kampus sekarang”, gumam Zidane yang sudah siap menelepon tadi. “Di hari weekend begini?”, tanya Seika bingung. “Entahlah aku pun tak tahu bagaimana jalan pikir professor itu”, jawab Zidane.
Seika menghela napas. Ia merasa bahwa jalan-jalan di weekend ini akan gagal. Zidane yang seolah-olah mengerti pikiran Seika ia tersenyum, “Aku tak janji akan pergi bersamamu nanti, tapi akan kuusahakan”, gumam Zidane. “Baiklah”, Seika tersenyum manis. “Aku harus pergi, ayo kita pulang. Akan kuantarkan kau ke apartement”, ajak Zidane seraya berdiri dari bangku tempat ia duduk. Seika hanya mengangguk dan berdiri mengikuti langkah Zidane.

Seika terbangun dari tidur siangnya. Ia memandang ponselnya. Tak ada panggilan dari Zidane. Dia mencoba menghubungi Zidane, namun ponsel Zidane tidak dapat dihubungi. Ia menghela napas, “Beginilah kalau berjanji dengan orang sibuk”, ucap Seika yang memandang ponselnya tadi.

Ia sangat bosan jika ia harus menghabiskan weekendnya hanya di dalam kamar apartementnya dan hanya memandang dari jendela saja. Seika pun memutuskan untuk pergi menghabiskan weekendnya dengan kesendirian. Ia tak tahu harus kemana, yang ada di lintas pikirannya hanya ke taman opera house. Begitu banyak tempat yang telah ia kunjungi bersama Zidane namun yang ia hapal dan ingat jalan menujunya hanyalah opera house. Sangat miris. Namun setidaknya dapat menghilangkan rasa bosannya di apartement.

Seika duduk di bangku taman sambil membawa makanan cemilan. Melihat lalu lalang orang dan melihat matahari yang mulai menurun. Seika tidak suka dengan matahari, ia merasa bahwa sinar matahari terlalu panas dan menyengat membuatnya menjadi mudah lelah dan dehidrasi. Namun, entah kenapa saat ini merasakan kehangatan di tubuhnya saat melihat dan merasakan matahari.

“Kau suka matahari?”, tanya seseorang yang mengagetkan Seika. “Apa?”, jawab Seika terkejut. “Oh tidak, justru aku tidak menyukainya”, sambung Seika. “Oh ya? Kulihat kau menikmati kehangatan matahari itu”, gumam pria itu. Seika tak menjawab, ia juga tak mengerti mengapa kali ini ia menyukainya. “Aku James”, ucap pria itu sambil mengulurkan tangannya ke arah Seika. Seika melihat ke arah pria itu. Pria dengan mata biru dan kulit putih serta rambut pirang. “Oh aku Seika”, jawab Seika membalas uluran tangan pria itu. “Kau dari Indonesia?”, tanya pria itu kembali. Seika mengangguk dan ia meneguk minuman yang ada di tangannya.
“Kau tahu darimana?”, tanya Seika setelah selesai minum. “Terlihat dari wajahmu dan namamu”, jawab James. Seika tak menjawab, sampai detik itu ia heran mengapa pria bule dengan kamera disandang di bahunya tiba-tiba datang menghampirinya.
“Kenapa kau tidak suka matahari?”, tanya pria itu. “Sangat panas dan menyengat”, jawab Seika enteng. James tertawa ringan mendengar jawaban Seika. “Bukankah di Indonesia matahari sangat bagus? Kau tahu aku suka dengan view matahari di Indonesia”, gumam James. “Kau pernah ke Indonesia?”, tanya Seika. “Tentu”, jawab James singkat. Seika terpaku melihat pria yang ada di hadapnnya ini, ia orang Indonesia saja tidak pernah tahu bagaimana view matahari di Indonesia.
“Matahari bukan sekedar panas dan menyengat seperti yang kau bilang Seika, ia sangat indah. Cahayanya jika bersinar akan menghasilkan sesuatu yang indah dilihat. Terasa hangat jika kau rasakan lebih dalam dan matahari juga akan memberikan sebuah magic hour yang indah disaat senja”, jelas James sambil menerawang ke arah matahari. Seika tersenyum. “Kau lihat, saatnya sudah sunset. Cantik bukan?”, tanya James sambil menunjuk ke arah matahari yang mulai turun. James benar, matahari sangat indah dan memberikan kehangatann. Sejak saat itu ia mulai menyukai matahari. Terutama disaat sunset tiba.

Hari demi hari terus dilewati Seika dan James. Mereka semakin akrab dan sangat dekat bahkan untuk sekarang Seika lebih sering jalan dengan James dibanding Zidane. Sehabis kuliah mereka selalu menyaksikan sunset di taman itu. Zidane juga sudah mempercayai James untuk menjaga Seika disaat ia tak bisa menemani Seika untuk jalan-jalan. Seika saat ini mungkin merasa jatuh hati pada pria bule itu. Pria yang membuatnya menjadi menyukai sunset sejak saat itu.

“Kau mau kemana? Tidak biasanya kau seccantik ini”, tukas Zidane yang melihat Seika berbeda penampilan. “Aku akan ke tempat biasa bersama James, Ane”, jawab Seika. “Aku boleh ikut?”, tanya Zidane. “Tidak”, sela Seika. “James akan memberikanku hadiah di sana, dan kau tak boleh menganggu kencanku dengannya”, sambung Seika. “Kencan? Emang kau dengannya sudah berpacaran?”, tanya Zidane dengan tawa ringan. “Sudahlah. Aku mau pergi. Bye Ane, aku mencintaimu”, gumam Seika yang pergi meninggalkan Zidane sendiri. Zidane tertawa melihat tingkah sahabatnya yang sedang jatuh cinta itu.

Seika menunggu James di tempat biasa. Biasanya James lah yang menunggunya namun kali ini Seika lah yang menunggu James. Beberapa hari ini James tidak menjemputnya ke kampus bahkan tidak memberi kabar kepadanya sama sekali. Ponselnya juga terkadang tak aktif dan terkadang tak dijawab olehnya. Seika mulai menggerutu saat orang yang ditunggunya tak kunjung datang. Perasaannya antara kesal dan resah. Ia mencoba untuk tetap menunggu pria itu.

“Maaf kau Seika?”, tanya sosok wanita yang tiba-tiba menghampirinya. “Iya, anda siapa ya?”, tanya Seika sopan. “Saya Alexa. Kakak James”, jawab wanita itu denggan mengulurkan tangannya. “Kakak James?”, tanya Seika yang membalas uluran tangannya namun matanya tidak berfokus pada wanita itu. Ya, ia mencari James. Apakah ini salah satu rencananya?
“Boleh aku duduk?”, tanya wanita itu. “Oh silahkan”, jawab Seika. Wanita itu duduk di sampingnya. “Ini dari James untukmu Seika”, ucap Alexa sambil memberikan sekotak hadiah pada Seika. Seika bingung, kenapa bukan James yang memberikan langsung padanya? Mengapa harus kakaknya? Seika pun penasaran dengan isi kotak itu, “Boleh kubuka?”, tanya Seika. “Tentu.”

Seika membuka kotak itu, dan ia melihat kamera James yang selalu dibawanya dan sepucuk surat dalam amplop. Seika mengangkat alis, “Apa ini?”, tanya Seika. “James menyuruhku untuk memberikan padamu”, jawab Alexa. “James mana?”, tanya Seika lagi. Alexa menunduk dan menghela napasnya panjang-panjang. Alexa menerawang ke depan dan ia harus berkata jujur dengan wanita yang ada di sampinya ini, “James passed away”, jawab Alexa dengan suara berat. “Apa?”, tanya Seika. “Kau bercanda? Ini tidak lucu Alexa”, ucap Seika terkejut dan membuat badannya bergematar.
“Aku tidak bercanda. Beberapa hari ini dia tidak menjemputmu atau mengabarimu bukan?”, tanya Alexa. Seika terdiam. Seika mulai berkaca-kaca. “Dia sehat bukan?”, tanya Seika. “Dia selalu tampak sehat di hadapan semua orang, sampai semua orang tak menyadari bahwa ternyata ia mempunya kanker di otaknya”, gumam Alexa dengan nada yang sedih dan mata yang berkaca kaca.
Seika terdiam. Selama ini ia tak menyadari bahwa pria yang selalu membuatnya tertawa itu ternyata mempunyai penyakit yang keras. Seika merasa bersalah, ia sama sekali tak peka dengan keadaann James. “Dia sangat mencintaimu Seika”, ucap Alexa. Seika masih terdiam. “Dia tak ingin kau tahu tentang penyakitnya”, sambung Alexa.
“Beberapa hari yang lalu ia koma dan baru kemarin ia sadar dari komanya. Saat itu ia ingin melihat ponselnya dan membalas semua pesan darimu. Tapi ia tak sanggup dan akhirnya ia hanya membalas bahwa ia ingin menemuimu di sini”, gumam Alexa menerawang ke arah matahari di depannya. “Ia bahkan ingin menemuimu dan memberikan kotak itu langsung padamu Seika, namun Tuhan berkata lain”, sambung Alexa dan kali ini ia mulai menitikkan air matanya. Air mata sudah membanjiri mata Seika sejak tadi. Ia tak dapat berkata apa-apa saat ini, mengapa disaat ia mulai mencintai seseorang justru orang itu pergi jauh darinya.
“Aku harus pergi. Maaf jika kau menunggu lama Seika”, sambung Alexa sambiil berdiri dari bangku tempat ia duduk. “Alexa”, panggil Seika. “Ya Seika?”, ucap Alexa. “Apakah aku boleh mengetahuui di mana tempat terakhir James?”, tanya Seika. “Akan kuberitahu jika kita bertemu lagi Seika”, jawab Alexa. “Katakan padanya, aku sangat mencintainya”, ucap Seika dengan air mata yang jatuh ke pipinya.
Alexa tersenyum dan mengangguk, ia pergi meninggalkan Seika sendiri di tempat indah itu.

Seika saat ini masih terpaku menerawang matahari yang mulai turun. Seika terisak dan air mata kali ini benar-benar membanjiri pelupuk matanya.
“Ei?”, panggil Zidane yang tiba-tiba datang. Seika mengalihkan pandangannya ke arah suara yang memanggilnya. “Ane….”, Seika langsung memeluk Zidane yang saat ini berada di dekatnya. “Aku turut berduka, Ei”, bisik Zidane pada Seika yang berada di pelukannya. Seika terkejut. Bagaiamana Zidane bisa mengetahuinya, sementara ia belum bercerita. “Aku tadi berfirasat tidak enak dan aku mencoba mengikutimu dan aku mendengarsemuanya Ei”, sambung Zidane.
“Ane kenapa disaat aku mulai mencintai seseorang aku…”, Seika terisak dan tak dapat menyambung ucapannya. “Tenangkan dirimu dulu Ei”, gumam Zidane dan mengajak Seika untuk duduk. “Aku mencintainya Ane”, lirih Seika yang saat ini berada di rangkulan Zidane. “Aku tahu Ei, bukankah dia juga mencintaimu? Cinta tak harus saling memiliki bukan? Belajarlah ikhlas Ei, semua adalah rencana Tuhan yang ditakdirkan untukmu. Disana dia juga mencintaimu dari yang kau tahu”, hibur Zidane.
Seika hanya diam dan tak membalas Zidane. Dia hanya terus mendekap pada Zidane. Ia tahu bahwa semua ini rencana Tuhan yang ditakdirkan untuknya. Tuhan mempertemukan dengan orang yang membuatnya jatuh hati tapi suatu saat ia pasti akan berpisah dengan orang itu. Dan saat ini orang yang telah memberikan kenangan diteriknya dan hangatnya matahari telah pergi jauh darinya. Matahari sesuatu yang awalnya ia benci kini ia menyukainya saat melihat magic hour sunset di langit Sidney dan saat itu ia bersama dengan pria bule bermata biru bernama James. Sunset itu membawa dan memberikan cinta untuknya.

Di sore yang perih untuknya itu ada sunset yang menemaninya bersama sahabat yang selama ini ada untuknya, Zidane. Dalam pelukan Zidane ia merasa James hadir untuknya saat itu.

Cerpen Karangan: Fadhillah Nur Pratiwi
Blog / Facebook: fadhillahnp.blogspot.com / Fadhillah Nur Pratiwi

Cerpen Sunset in Love merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dua Detik Terakhir

Oleh:
Ahad 16 maret 2013.. Hp ku berbunyi aneh dari dalam kamar.. Tiritt.. Tiritt.. Tiritt.. Itu nada apa ya..? Nada sms bukan, nada alarm bukan, nada telpon juga bukan.. Aku

Cinta Tak Harus Dipaksakan

Oleh:
“Laff you.” Ucapnya. “Laff you too, sayang.” Jawabku. Itulah saat terakhir aku bercakap via telepon dengannya. Setelah itu, dia tak ada kabar lagi. Aku selalu mencari-cari kabarnya, mencari tau

Bertemu Idola

Oleh:
Ada seorang anak bernama Gilang. Ia sangat suka dan pandai bermain sepak bola. Ia sering bermain sepak bola bersama dua sahabatnya yang bernama Ardi dan Alex. Suatu hari Gilang,

Terlalu Mencintai

Oleh:
“Masih berapa lama lagi Qi?” aku menoleh dan ternyata ia adalah Taufik sahabat yang paling dekat denganku. “Masih berapa lama lagi kamu mikirin dia Sauqi?” Lanjutnya. Aku hanya melirik

Love Story

Oleh:
Perlahan aku membuka sebuah diary usang, aku yakin umur diary ini sudah lebih tua dari umurku. Tentu saja, diary usang ini milik Ibuku, bungkusnya masih tampak rapi, tulisan di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *