Tak Sempat Memiliki

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Pengorbanan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 17 May 2015

Betapa hancur hati ini saat mengetahui bahwa aku dan temanku mencintai satu cowok. Bagai diiris-iris dengan pisau yang tajam, hatiku perih sekali ingin menangis tapi aku hanya bisa menahan tangisku dalam hati, aku tak mau dia tau kalau kita mencintai satu cowok, aku tak mau melukai hatinya.

Saat itu temanku Novie menemuiku di dalam kelas.
“Ti, ikut aku yuk,!” kata Novie
“kemana vie?” tanya ku
“taman”. Jawabnya sambil menarik tanganku, aku pun ikut ke taman dan duduk berdua di bawah pohon salobin, tempat biasa kita ngumpul saat istirahat.
“ti, aku mau ngomong sama kamu”.
“Apa? Ngomong aja ”.
“ti, aku…”.
“Napa kok nggak diterusin?” tanya ku
“Akhir-akhir ini aku bingung, banyak masalah sama temen-temen sekelas aku”.
“siapa sih” tanya ku
“Nia, aku bingung dia tuh mengira aku suka sama cowoknya karena ya… gitu deh ucapan ira”.
“Tapi kamu suka sama siapa?”.
“Entar pulang sekolah aku ikut ke rumahmu”.

Novie pun ikut pulang ke rumahku, sesampainya di rumahku Novie pun bercerita panjang lebar tentang cowok itu yang suka berdiri di pintu terkadang berdiri di jendala.
“Dia tuh item, bukan Cuma orangnya motornya pun item”.
“Siapa sih namanya?” tanya ku
“HH”.
“Heru Hermawan?” tanya ku.
“Nggak lah!!! Tuh kan pacarnya Nia”.
“Oh… iya ya, Heru kan pacarnya Nia”.
Dalam hati aku sudah menebak-nebak “HH” itu pasti Hafidz Hasyim, aku yakin ciri-ciri cowok yang dikatakan Novie “HH” itu pasti Hafidz, seketika saja hatiku bagaikan diiris-iris dengan pisau yang tajam, perih sekali rasanya. Aku tak bisa berkata-kata, ingin menangis tapi, ada Noviei di depanku. Mulut ini berat sekali rasanya saat aku bertanya pada Novie.
“Vie… HH ITU Hafidz Hasyim ya?”
Novie malah tersenyum, aku pun membalas dengan senyuman di atas jeritan hati yang merintih kesakitan.

Tak tahan hati ini walaupun semua yang ku rasakan ini sudah ku tumpahkan dalam coretan-coretan di diaryku, aku masih merasa…, akhirnya aku pun menceritakan unek-unek aku ke teman sebangku ku, saat itu kita lagi olahraga.
“Sa, gimana perasaanmu saat kamu suka sama cowok terus ada cewek lain yang suka sama cowok itu?”.
“Kamu kan tau sendiri, sampai aku bela-belain berantem ama cewek bego’ kaya gitu”. Jawab Lisa
Aku pun hanya tersenyum dan Lisa bertanya padaku
“Emang napa kamu kok tanya gitu?”.
“Em… em…” belum sempat ngomong udah disahut aja sama Lisa
“Aku tahu! Ayo ngomong, ngaku aja deh”.
“Sa…, kamu juga pernah merasakan hal yang sama ama aku, aku tuh udah suka sama cowok itu dari kelas 1 dan sekarang ada cewek lain yang suka sama cowok itu”.
“Emangnya siapa sih cowok itu?”.
Tanpa tedeng aling-aling aku langsung ngejawab.
“Hafidz”. Jawabku singkat sambil ku tarik tangan Lisa agar masuk ke ruang olahraga.
“Apa Hafidz?”. Tanya Lisa sambil tersenyum.
“Udah jangan keras-keras ntar ketahuan anak-anak dan awas jangan bilang-bilang kalau aku suka sama Hafidz”. Kataku
“Tapi bilang dulu siapa ceweknya yang suka sama dia ”. Kata Lisa sambil nunjuk ke arah Hafidz yang ada di luar kelasnya.
“Tiara, kok diem?”. Kalau nggak jawab ntar aku panggil Hafidz. Kata Lisa sambil memegang tangan aku, sudah ku coba tu melepasnya tapi sangat kuat pegangannya.
“Ayo bilang kalau enggak, ha…”.
“Iya… iya”. Kataku
“Gitu dong”. Kata Lisa sambil tersenyum
“Novie”.
“Apa? Novie. Aku kira dia nggak bisa jatuh cinta tapi ternyata…”
“Tapi awas, kamu udah janji sama aku, nggak bilang ke anak-anak ”.
Setelah ngomong ama Lisa sepertinya hati ini sudah agak legaan tapi… Lisa apa bisa dipercaya, dia kan mulutnya ember… ya udah, udah terlanjur gimana lagi kalau aku nggak curhat sama Lisa aku bisa stress mikirnya.

Akhir-akhir ini banyak sekali masalah dengan Novie, dari permasalahan yang pertama kita. Novie yang nggak lagi mikirin perasaan aku sebagai temannya, sekarang dia sering banget kesana kesini, ngomong ini itu dengan sahabat barunya, aku nggak habis fikir mengapa dia bisa begitu saja ninggain aku begitu aja.
Di depan kelas aku dan dia ngobrol berduan sama Ira dalam kelas, bayangkan gimana rasanya jadi patung hidup, tapi semua itu aku terima karena aku sudah menganggap dia sebagai sahabat walaupun dia hanya menganggap aku tak lebih dari teman, tapi, kalau sebatas teman mengapa dia curhat ke aku. Sampai sejauh ini, curhat tentang cowok yang ia sukai. Emang sih dia pernah ngasih surat ke aku isinya: “Gimana perasaanmu ke aku, kau anggap aku teman atau sahabat?”. Ya… begitulah alat komunikasi antara aku dan Novie, secarik kertas plus coret-coretan pertanyaan, kalau udah selesai dibaca sobek buang, terus dijawab dengan kertas baru. Semua itu kita lakuin karena kita beda kelas, mengenai pertanyaan itu aku hanya bisa menjawab “pertemanan bagaikan madu yang manis dan tidak menyakitkan, malah bisa ngobatin. Tapi kalau coklat emang sih… manis tapi bisa nyakitin, bikin sakit gigi”.
Itu tadi masalah pertama, masalah kedua yaitu… tentang cowok, dan cowok yang udah aku sukai lama… banget.
“Ti…” panggilan itu membuyarka semua yang menggerumuti kepalaku.
“Novie!?!” aku terkejut tiba-tiba Novie di sampingku
“Ada apa Nov?” tanyaku pada Novie, tapi dia hanya diam dan memberikan secarik kertas.
“Tiara, aku nggak bisa lagi memendam perasaan ini, aku pengen banget ngutarain isi hatiku pada Hafidz”.
“Terus kamu mau nembak Hafidz?” tanyaku, tapi Novie hanya tersenyum
“Kata Ira, memang selama ini yang dicari Hafidz tuh cewk kamu (Novie). Gitu kata Ira”.
“Eh… Vie, Ira tuh kayaknya tau bener semua tentang Hafidz?”
“Ira tuh mantan pacar Hafidz waktu SMP!”
Pantas saja Ira dukung banget Novie jadi cewknya Hafidz, mungkin emang cocok sama Hafidz.
“Ti, ke kelasku yuk…!!!” kata Novie, membuyarkan pikiranku, aku pun bersamanya pergi ke kelas Novie. Waktu kembali dari kelas Novie di perjalanan menuju ke kelasku tiba-tiba…
“Tiara”.
Aku pun menengok ke belakang ternyata yang memanggilku adalah Hafidz, aku pun mempercepat langkahku.
“Tiara…”. Teriak Hafidz
Bukannya tak kedengaran tapi aku hanya pura-pura tak mendengarnya, mendengar suaranya saja hati ini seperti teriris-iris, bukan hanya mendengar suaranya, melihat dan mendengar suara motornya saja hatiku sakit rasanya. Tapi aku harus rela demi sahabat, aku tak mungkin menyakitinya.

“Tiara… udah ngerjain tugas ekonomi belum?” tanya Lisa
“Apa? Tugas ekonomi, aduh… lupa Lis, gimana nih…? belum piket lagi”.
“Adu… Tiara, entar jam ke-5!!!”
“Gila kamu Lis, masih entar. Jadi gugup aku, ya udah entar waktu istirahat kita ke perpustakaan”.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, bel istirahat berbunyi aku dan Lisa bergegas ke perpustakaan. Kita pun mencari berbagai buku referensi tentang ekonomi untuk nyelesain tugas.
“Huh… Akhirnya selesai juga ”.
“Capek deh gue”. sahut Lisa
“Aku balikin buku dulu”. Kataku sambil berjalan menuju rak buku.
“Tiara…”.
Suara itu begitu aku kenal dan hati ini…, Hafidz. Aku membalikkan badanku ke arah suara itu dan memang benar Hafidz.
“Tiara, aku mohon jangan pergi”. Kata Hafidz sambil memegang tanganku.
“Tiara, mangapa kamu akhir-akhir ini menghindar dariku?”
Aku tak bisa berkata apa-apa perih hati ini mendengar ucapan Hafidz.
“Kamu nggak seperti biasanya, ngobrol bareng…” belum sempat nerusin ucapannya aku udah nyaut gitu aja.
“Lepasin tanganku!!!”
“Ti…”.
“Lepas ku bilang!!! ” jawabku dengan volume suara yang keras. Aku pun berlari menuju ke kelasku, ya Allah sakit hati ini, selama ini…
“Tiara, ngapain kamu obrak-abrik buku-bukumu. Tadi kamu juga ninggalin aku di perpustakaan, terus disini kamu nangis?”.
“Udah deh Lis diem… aku nggak mau diganggu aku mau sendiri dulu”.
“Iya, aku keluar deh…”. Kata Lisa sambil ngerapiin buku-buku aku, lalu dia keluar.
“Lisa, Tiara mana?”. Tanya Hafidz
“Di dalam, ada apa?”
“Em…”. Kata Hafidz (nyelonong masuk kelas).
“Hafidz” kata Lisa sambil menarik Hafidz keluar.
“Eh…, kamu tuh ya, main nyelonong aja, keluar-keluar!!!”.
Tatapan Hafidz begitu tajam saat menatapku, sebenarnya aku pengen bilang sama kamu tapi aku… aku tak bisa. Aku tega melihat sahabatku Novie sakit, apa lagi Novie punya penyakit asma, belum lagi sejak… ya… mikirin Hafidz (tapi itu kata temen-temenku) Novie sering pingsan.

Pagi ini begitu cerah mog aja secerah hari-hariku, aku berangkat sekolah dengan penuh semangat dan berharap tak ada masalah hari ini. Entah mengapa walaupun kemaren aku habis bertengkar dengan Hafidz, hari ini kurasa beda. Sesampainya di sekolah, aku sudah disambut Lisa dengan senyuman yang… bisa dibilang aneh deh, senyam-senyum, cengir-cengir.
“Gila kamu, cengar-cengir ”. kataku Eh… malah Lisa tersenyum
“Ada apa, ada yang aneh?”.
“Kamu beda deh, lebih segar dari pada kemarin”. celoteh Lisa
“Memang kemaren…?” tanyaku sambil tersenyum
“Pake nanya lagi, senyum-senyum pula. Napa tiba-tiba nangis, marah, kesambet loe?”.
“Eh, Ti, kemarin aku dari rumah Ira”. Sambung Lisa
“Sama siapa kesana?”
“Ama Ira dan Novie ”. Jawab Lisa
“Kok bisa?”.
“Waktu itu habis pulang sekolah, Ira ke rumahku sambil bocengin Novie, terus aku di ajak ke rumah Ira nemenin Novie”.
“Terus disana gimana?” tanyaku
“Bagai patung hidup yang bisanya merem melek aja”.
“Maksud loe…?”
“Kamu kaya’ nggak tahu aja sih, aku dianggurin. Mereka ngomong aja berdua, ya… udah aku tinggal tidur”. Ungkap Lisa padaku panjang lebar
“Kasihan… deh loe!!!” Sahutku
“Eh… Ti, pas aku bangun aku denger Ira ngomong gini ama Novie. “Cepetan tembak enar kedahuluan Tiaa“ gitu dia bilang” jelasnya
Aku hanya diam, terserah mereka ngomong apa, yang jelas aku nggak ngerebut Hafidz darinya.

Hari ini aku mulai latihan
“Hai, Tiara” sapa Nuna
“Hai, Nun ”. balasku
“Dua minggu libur sekolah kamu kok makin cantik ”
“Sorry banget Nun, nggak ada recehan!!!”
“Kamu nggak bareng Lisa?”
“Aku udah ketinggalan, dia udah berangkat duluan”.
“Entar jangan lupa les jam 16.30”. Jelasnya
“Ok, deh bos!”
“Kalau gitu aku ke kelas dulu”.
Aku pun juga pergi ke kelasku, dan ngobrol ini itu ama temen-temenku nyeritain tentang liburan, dan tanpa terasa kita cuap-cuap sampai waktu istirahat.
“Bosen aku, dari tadi nggak ada gurunya!!!”. Ujar Hilda
“Pulang yuk!!!”. Ajak Nina
”ngawur kamu, entar dimarahin sama kepsek lho.” ujarku
“ya… sih, nina nih pengenya pulang ajah dari tadi.” ujar eka
“emang aku tadi udah males berangkat sekolah, habis pastinya belum ada pelajaran.” ungkap nina
“lha ngapain masih masuk?” tanyaku tapi nina Cuma ngebales dengan cengiran, tiba-tiba Fitria masuk kela sambil teriak-teriak.
“Hai… pulang yuk pulang…!!!”.
“Benar Fit?” tanya’ Nina dengan penuh semangatnya yang udah pengen pulang dari tadi.
“Lihat aja anak-anak kelas XII, udah pulang semua”.
“Ayo pulang- ayo pulang. Yuk Lis pulang bareng.” ajakku
Kita pun pulang bersama. Sesampainya di pintu gerbang kita pisah.
“Eh… Ti, entar jemput aku!”
“Entar jemput aku?” kataku sambil menirukan perkataan Lisa
“Kok gitu sih kamu…?”
“Nanti aku jemput kamu, terus kamu ntar dah pergi duluan.”
“nggak de…h!!!” kata lisa sambil masuk ke rumah dan aku… ya… gitu deh nerusin perjalanan pulang sendirian. Tiba-tiba ku dengar “Grung… grung-grung…” suara motor Hafidz, perasaanku mulai nggak enak aku pun mempercepat langkahku biar nggak sampai ketahuan Hafidz.

Mendengar suara adzan aku bergegas mandi, sholat lalu siap-siap berangkat ke sekolahan.
“Aduh… kurang 5 menit nih!!!” kataku sambil terburu-buru. Belum lagi ke rumah Lisa, aku pun pergi sambil berlari. Sesampainya di rumah Lisa, aku kena semprot…
“Tiara lama banget, aku udah nunggu dari tadi!!!”
“Sory banget, aku ketiduran”. bohong deh.

Sesampainya aku di sekolah, aku ngumpul sama anak-anak. Tiba-tiba Novie nyamperin aku.
“Tiara, aku pengen ngomong sama kamu”
“Ngomong apaan? sini ngomong aja!”
“Nggak disini, disana aja!” kata Novie sambil menunjuk ke arah pohon di taman sekolah. Aku dan Novie pun berjalan ke arah pohon dan duduk di bawahnya.
“Ada apa Nov…?”
“Aku mau cerita sama kamu”.
“Apaan? serius banget ya?”
“Ya… Em… Tiara aku udah nembak Hafidz”.
“Beneran kamu?”
“Beneran !!!”
“Tapi Nov, kan kamu cewk masa’ nembak duluan?”
“Iya… sih awalnya aku juga ngerasa begitu, tapi mereka mendukungku banget. Dan ngasih semangat aku tuk cepat-cepat nyatain perasaanku ke Hafidz”.
Dalam hati aku bertanya-tanya, kok Novie bisa senekat ini. Padahal kelihatan banget anaknya alim, tapi kok sampai segitu beraninya nembak Hafidz, teru siapa yang mensupport Novie sampai begitu yakinnya, kalau Ira sih jelas banget, tapi mereka? siapa lagi yah…
“Eh…, Nov. Kamu ngomong langsung ke Hafidz?”
“Nggak, aku lewat sms!!!”
“sms? Terus dia nya jawab apa?”
“Dia bales gini, “sapa ini jangan bercanda, emang kamu siapa?”. terus aku jawab, semua ciri-ciri aku”.
“Terus setelah Hafidz tau siapa kamu, gimana?”
“Entah lah… sampai saat ini nggak ada balesan dari dia, bingung aku jadinya”.
“Ya, sabar dulu mungkin dia lagi mikir”.

“Tiara…!!!”
“Hafidz sambil memegang”.
“Aku pengen ngomong ama kamu, aku harap kamu nggak menghindar dariku!!!” kata Hafidz sambil memegang erat tangan ku
“Apa-apaan sih kamu…?”
“Tolong dengerin aku!!!”
“Ya, tapi lepaskan tangan aku!!!”
Hafidz pun melepaskan tanganku dan meneruskan pembicaraannya.
“Tiara, aku dah pernah bilang sama kamu kalau aku tuh suka sama kamu, dan kali ini aku mau bilang sama kamu. Maukah kamu jadi pacarku?”
“Eh, Fidz, tega banget ya kamu, kamu gantungin Novie. Malah sekarang kamu nyatain perasaanmu ke aku.
“Tapi aku nggak suka sama Novie, aku sukanya sama kamu. Aku cintanya cuma sama kamu, Tiara!!!”.
“Stop… jujur aku juga suka sama kamu, aku cinta sama kamu. Tapi, cinta ta harus memiliki. Dan aku nggak mau nyakitin hati temen aku, karna aku dah menganggap dia seperti sahabatku walaupun dia nggak pernah menganggap ku”.
“Tuh dia saja tak menganggap kamu, ngapain masih mikirin perasaannya?”
“Aku seorang wanita dia juga seorang wanita, kamu nggak bisa ngerasain gimana hati seorang wanita?”
“Jadi kamu nggak mau jadi pacar aku, hanya karena si Novie yang nggak pernah menganggap kamu itu. ha…?”
“Perlu kamu ketahui saat ini kamu saat ini Novie sedang di rawat di ICU, dan semua itu karena sikap kamu, kelakuan kamu, keegoisan kamu!!!”
“Apa ke egoisanku? egois apa coba, ha… !?! apa… apa…?”
“Karena kamu telah mementingkan perasaanmu, dari pada perasaan orang lain”.
“Tiara, aku tanya terakhir. Apa hati kamu tak sakit, kamu mementingkan perasaan Novie ketimbang perasaanmu, gimana yang kamu rasakan?”
Aku pun hanya bisa terdiam, menundukan wajahku. sakit sakit banget yang kurasakan, perih hati ini. Mungkin saat ini aku tak sempat memilikimu Hafidz tapi di kehidupan yang akan datang aku yakin kita bisa bersatu.
“Kenapa kamu diam…?”
“Udah fidz, sekarang aku pengen kamu nemuin Novie di rumah sakit, bilang ke dia kalo kamu juga suka sama dia!!!”
“Kalo aku nggak mau gimana?”
“Ini semua demi nyawa Novie, fidz. Aku mohon banget sama kamu!!!”
“Emang harus aku mikirin Novie?, emang kenapa sih Novie itu?”
“Dia punya penyakit asma akut, kemarin dia curhat sama aku tentang kamu saat les vokal. Dia bilang bingung mikirin sikap kamu awalnya perhatian, tiba-tiba acuh dan gantungin perasaannya, tiba-tiba saja dia sesak nafas, kejang-kejang dan pingsan sampai sekarang. Entah kenapa bisa gitu?, dan Cuma nama kamu yang terus-terus dipanggil”.
“Terus apa urusannya ama aku?”
“Pake nanya lagi, ya Cuma kamu yang bisa nolong dia. tau…?”
Hafidz pun hanya bisa terdiam membisu.
“Kaya patung sih kamu, ayo… ikut aku. Dan bilang ama Novie kalo kamu juga suka ama Novie!!!”
“Kenapa harus begini, aku cintanya Cuma ke kamu. Kenapa bisa melakukan seperti ini? padahal kamu juga suka sama aku?”
“Kenapa? karena Novie tak punya kesempatan lagi, hanya kali ini saja nyawanya bisa di selamatkan!”. Jawab sambil berjalan dan menyeret tangan Hafidz.
Entah mengapa rasa ini begitu kuat untuk membawanya ke rumah sakit. Saat ini yang ada dalam hatiku, dalam pikiranku bagaimana caranya supaya Novie bisa terselamatkan aku nggak mau lagi melukai temanku, aku sudah pernah merasa merasa bersalah banget ama Novie. Sebagai teman yang sudah ku anggap sahabat, aku hampir saja membunuhnya, waktu itu hujan gerimis tak henti-henti hingga taman sekolah becek tergenang air dan menjadi licin, saat itu kita bercanda sama temen-temen, tanpa sadar aku ngedorong temanku terus temanku tak sengaja menarik Novie hingga terjatuh dan menggelinding. Seketika saja aku menjerit dan aku berlari ke arah Novie, tubuhnya sangat lemas dan dingin sekali.

Kita bergegas membawanya ke ruang UKS, setibanya di UKS Novie kejang-kejang. Saat itu aku merasa bersalah banget ama Novie karena aku, dia hampir kehilangan nyawanya, dan sekarang aku tak mau kehilangannya.
“Tiara, mana kamar rawat Novie?”
“Disana, No 8 kamar mawar”.
“Oh… ini, Tiara apakah aku harus ngomong gitu?”.
“Udah deh fidz !!! dari tadi nanya terus, tadi kamu bilang pertanyaan terakhir, tapi masih nanya terus beberapa kali. Ayo… masuk!!!”
Aku pun bergegas membuka pintu, ternyata Novie udah sadar, syukur deh…
“Nov, gimana keadaan kamu?”
“Alhamdulillah, udah mendingan”.
“Nov, Hafidz mau ngomong ama kamu”.
“Hafidz?”.
“Ya… mana tuh anak, Hafidz ngapain kamu di balik korden? Sini cepet !!!”
Hafidz pun menampakkan dirinya dan mendekat ke Novie.
“Aku keluar dulu ya… mau beli minum”.
“Tiara…,” Kata Hafidz sambil memegang tanganku, berusaha menahanku aku pun melepaskan genggamannya.
“Hafidz, mau ngomong apa?”
“Novie aku mau bilang, kalo.. kalo… emmm…, kalo aku juga suka sama kamu. Sorry mungkin karena aku kamu jadi begini?”
“Nggak apa-apa, tapi kenapa baru sekarang jawabnya?”
“Aku bingung jawabnya, dan baru sekarang aku ngerasa. Maafkan aku Nov!!!”.

Hafidz… entah rasa apa yang kurasakan saat ini, merasa takut kehilangan kamu, tapi mengapa begitu? Padahal akunya juga nggak pernah merasa memiliki, tapi ku rasa harus begini jalannya. Bukan aku tak bisa memilikimu tapi aku hanya tak sempat memiliki dirimu walaupun begitu, aku masih bisa bahagia pernah mencintaimu karena cinta tak harus memiliki.

END

Cerpen Karangan: Yuliati Sholihah
Facebook: Ela Laila Mahmudah

Cerpen Tak Sempat Memiliki merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabatku

Oleh:
Pada kenyataannya Tini sudah tidak lagi mencampuri urusan Cici. Tapi Tini juga tidak bisa meninggalkan Cici begitu saja. Apalagi Tini sudah terlanjur sayang kepada Cici. Tini sudah menganggap Cici

Cinta Rasa Ice Cream

Oleh:
“Datanglah kemari, aku menunggumu disini” Samar-samar kuintip layar handphone yang semalaman kutimbun dalam bantal, kurogoh dalam penat, dalam kantuk yang masih menyisakan mimpi dan kecewa semalam. Kubaca pesanmu sekali

Hidupku Adalah Warnanya (Part 1)

Oleh:
Orang bilang aku aneh, ya memang Aku akui pendapat mereka, karena aku memang aneh, Aku memiliki dua bola mata yang berbeda warna, kiri coklat, sedangkan yang kanan hitam, itu

Dua Sahabat

Oleh:
Jam 12 siang,Andi dan Tri ingin pergi ke rumah temannya yaitu si Putra,diBogor mereka berdua adalah sahabat sejati ,mereka kemana-mana berdua ,ketika mereka ingin ke rumah temannya Tri berangkat

Bunga Merah Muda

Oleh:
Burung-burung berjajar rapi membentuk barisan yang abstrak. Bertengger di atas pohon yang merdu apabila sedang melambai. Suara siulannya bagai melodi yang indah. Mereka berjajar di taman menunggu si awan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *