Tak Terduga (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 5 December 2015

Pandanganku tertuju pada air danau yang tenang. Ku sandarkan bebanku pada pohon yang rindang. Berada di pinggir danau membuat kenyamanan tersendiri bagiku. Ya.. Di sinilah aku menenangkan semua beban di hati ini. Dengan perubahan yang terjadi pada Miko. Seminggu ini dia semakin dekat denganku. Ketika kami hanya berdua dia selalu menyapaku. Mengajakku mengobrol dan bercanda. Tapi saat berada di keramaian dan saat ada Dea seketika itu juga sifat es-nya kembali.

Aku tak pernah mengerti apa maksud dari Miko. Dengan kata-kata seminggu yang lalu aku dengar. “Aku suka kamu” Entahlah, aku tak menemukan arti dari kata itu. Helaian rambut ikalku menari-nari oleh angin. Ku pegang erat kalung persahabatanku dengan Dea. Kalung yang bergantung huruf RD itu kalung yang selama 5 tahun ini ku simpan dengan baik.

“Benar kan tebakanku kamu pasti ada di sini” Ada seseorang berbicara di belakangku. Dan aku kenal suara itu. Miko.
“Bagaimana kamu tahu?”
“Aku kan sudah bilang, aku tahu semua tentangmu Rara. Termasuk tempat ini”
“Lalu ada apa kamu mencariku?”
“Aku ingin memperjelas kata-kataku seminggu yang lalu”

Aku hanya diam. Jantungku seakan memompa lebih cepat. Dia cowok misterius yang mampu membuat aku seorang Rara jatuh cinta padanya.
“Kamu tahu Ra, kamu mempunyai aura yang unik. Kamu mampu merubah sifat seseorang saat bersamamu. Ya sifat dinginku seakan berubah hangat saat berdampingan dengan sifat ceriamu.”
Aku hanya terdiam. “Mungkin itu tidak terjadi padaku saja. Dea juga mengalaminya. Cewek pemalu dan pendiam sepertinya menjadi cerewet saat bersamamu. Haha kamu hebat Ra” Aku masih terdiam.

“Sebab itu aku suka padamu Ra. Aku nyaman saat bersamamu, Ra”
Miko memegang tanganku. “Lihat aku” ucapnya. Ku tatap matanya yang tajam dengan bola hitam besar hampir memenuhi penuh matanya.
“I Love You” Kata-kata Miko hampir membuat jantungku ke luar. Miko aku juga menyukaimu tapi…

BRUK!!

Ada sesuatu terjatuh. Ku lihat sebuah kotak nasi berada di tanah. Dan berdiri seorang cewek yang berparas anggun dengan ramput panjang, hitam lurus. Itu Dea, seketika itu ku tarik cepat tanganku dari genggaman Miko.
“Dea..” ucapku lirih.
“Kamu Jahat Rara!!” Dea menarik kalung di lehernya dan melemparkannya ke Danau. Kalung persahabatan kami. Dea pun pergi dengan tangisan tanpa suara.
“Dea tungguuu!! aku bisa jelasin!” aku berteriak. Aku pun mengejar Dea tanpa mempedulikan Miko yang tercengang oleh kehadiran Dea.

Lariku lebih cepat dari Dea. Sehingga dapat ku raih tangannya.
“De aku minta maaf. Aku bisa jelasin semuanya”
“Aku ke sini mau ngantar makan siang buat kamu Ra. Tapi apa? Kamu!! Kamu duduk berdua dengan koko. Kamu tahu kan Ra selama ini aku suka sama dia”
“Aku tahu De. Tapi…”
“Sudahlah Ra mulai sekarang jangan anggap aku sebagai sahabatmu lagi!” Dea pun pergi meninggalkanku yang terpaku dengan kata-kata yang tak pernah ingin ku dengar.

Ku hapus air mata di pipiku. Aku pun kembali ke tempat aku duduk bersama Miko tadi. Dan Miko pun masih di sana tapi aku tak mempedulikannya. Tanpa ragu aku masuk ke dalam Danau. Tanganku mencoba meraih ke dasar Danau. Mencari dan terus mencari. Tapi semua sia-sia saja tak ku dapatkan. Tanpa ku sadar Miko pun melakukan hal yang sama. Mengapa Miko membantuku?

“Ini kan yang kamu cari?” Miko memberikan kalung itu padaku.
“Terima kasih” ucapku lirih aku pun langsung pergi meninggalkannya.

Di Sekolah. Pagi ini berbeda dengan pagi-pagi yang lalu. Aku hanya terdiam duduk di kelas. Segitu bencikah Dea padaku? Seperti halnya aku menunggunya di taman depan sekolah. Tapi apa? dia hanya melewatiku dan berlalu begitu saja. Dan sekarang dia sedang bersama Tiara teman sekelas Dea. Aku tahu Dea tidak mudah bergaul dengan seseorang karena sifat pemalunya. Tapi hari ini semua terbalik. Kenyataannya terbalik, tidak ada lagi Dea yang pendiam dan pemalu. Yang ada hanyalah Dea yang ceria dan bergaul pada siapa saja. Ku lemparkan pandanganku ke arah jendela. Dan seseorang menghalangi pandanganku.

“Kamu bukan Rara yang aku kenal” ucap Miko.
Aku hanya terdiam. “Mana Rara yang selalu ceria?”
“Bisakah kamu membantuku?”
“Membantu apa Ra?”
“Menerima cinta Dea”

Miko tak menjawab. Dia pergi begitu saja. Dia berdiri di pintu kelas. Dan samar ku lihat ada cewek menarik tangannya. Dea benar itu Dea. Entah magnet dari mana kakiku berjalan begitu saja mengikuti mereka. Ternyata Dea mengajak Miko ke taman belakang. Jarak sekitar 5 meter dari tempat mereka duduk, aku bersembunyi di balik pohon.

“Koko” Ucap Dea. Miko hanya diam.
“Aku ingin berbicara sesuatu padamu” Dea menebarkan senyum manisnya.
Miko tetap diam. Dia hanya memberikan pandangan kosong pada dedaunan di depannya.
“Aku udah lama suka sama kamu. Koko mau gak jadi pacarku?” Pipi Dea memerah. Sedetik semenit tak ada jawaban dari Miko. Dia bagaikan patung. Raut wajah Dea berubah. Mungkin Dea mulai kesal dengan perlakuan Miko.

“Koko kenapa sih kamu bersikap dingin padaku? Tapi dengan Rara kamu begitu hangat dan romantis? Koko Rara itu tidak bisa merubah sikap seseorang!! Kamu salah jika beranggapan seperti itu! Buktinya aku, aku bisa bersikap ceria tanpa Rara” Miko menoleh ke arah Dea dengan pandangan menakutkan. Baru kali ini aku melihat mata kebencian dari cowok berambut silver ini.
“Koko jangan melihatku dengan pandangan seperti itu” Suara Dea melemah.
“Bisa kamu tutup mulutmu itu. Kata-katamu sungguh memuakkan” Miko berbicara dengan nada datar. Aku tak heran, ini sifat asli Miko. Seketika air mata Dea jatuh. Miko tak mempedulikannya, tapi aku bagaimana pun aku tetap peduli pada Dea.

Aku ke luar dari persembunyianku, dan menghampiri mereka.
“Ngapain kamu di sini?” Suara Dea meninggi.
“Ini tempat umum” sahut Miko.
“Tuuh kan Koko selalu ngebelain dia. Apa sih bagusnya dia daripada aku Ko?” Aku merasakan puncak emosi Dea.
“Sudah, sudah. Dea aku bisa jelasin semua” aku mencoba menenangkan masalah ini.
“Tidak usah. Biar aku saja yang ngejelasin” Ucap Miko.

“Dea kamu denger baik-baik karena aku tidak akan mengulanginya” lanjut Miko.
“Aku lebih memilih Rara daripada kamu itu karena hati Rara lebih baik dari kamu. Dea aku bukan Rara yang mudah kamu bodohi dengan topengmu!” Aku tak mengerti dari kata-kata Miko.
“Maksudnya?” Tanyaku.
“Rara harusnya kamu sadar dong! Kamu sudah kenal dia 5 tahun tapi kamu belum sadar juga? Dia tidak ingin bersahabat denganmu tapi dia ingin bersahabat dengan uangmu!”
Deg!! kata-kata Miko seakan menyadarkanku. Memang selama aku bersahabat dengan Dea ketika kami jalan, makan dan belanja semua aku yang membayari. Bahkan saat membeli novel di toko buku aku juga yang membayarkan. Tapi aku melakukannya dengan ikhlas. Aku tahu keluarga Dea kurang mampu. Dan aku tak pernah berpikir jika Dea seperti ini padaku.

“Dea walaupun kamu berhasil merubah sifat pendiam dan pemalu kamu itu! Tapi ku rasa kamu tidak akan pernah bisa merubah sifat licikmu dalam berteman” kata-kata Miko begitu tegas.
“Bener De apa yang dikatakan Miko tadi? Dea aku gak percaya. Lalu apa arti persahabatan kita selama ini” tanpa sadar butir-butir air mataku mengalir.
“Benar. Memang benar. Aku tidak mempedulikannya. Yang aku pedulikan sekarang jawaban cintaku pada Koko” Kata-kata Dea sungguh menyayatku.

Aku tak dapat menahan emosiku lagi. Ku ambil 2 kalung di sakuku. Ku putuskan di depan wajah Dea dan ku buang entah ke mana. Dea hanya menanggapinya dengan senyum sinis.
“Aku juga tidak peduli dengan perasaanmu padaku” Ucap Miko dengan tatapan kebencian pada Dea. Dan.. Dea hanya terdiam bibirnya seakan terkunci. Dia pun meninggalkan kami dan berlari ke arah gedung bercat putih itu.

“Terima kasih Miko telah menyadarkanku”
Miko hanya tersenyum. “Tapi bagaimana kamu tahu tentang ini?”
“2 bulan lalu aku menemukan buku diary Dea di atas mejaku. Ku rasa dia sengaja meletakkannya di sana untuk memberi kode, agar aku tahu tentang perasaannya padaku. Karena di awal lembaran hingga pertengahan semua tertulis tentangku. Tapi dia mungkin lupa di akhir lembaran tertulis tentangmu tentang kejahatannya”

“Sekarang aku tahu semuanya. Sekali lagi terima kasih”
“Dan Rara bagaimana jawaban atas pertanyaanku di danau kemarin?”
Ternyata Miko masih dengan rasa yang sama. Tanpa ragu aku menjawab.
“I Love You Too”
“Jadi kamu menerimaku?”

Aku tersenyum dan mengangguk. Miko memelukku dengan hangat. Dan membisikkan sesuatu di telingaku.
“Aku memang es yang dingin. Tapi kamu adalah sinar yang panas dan mengubahku menjadi cair dan hangat.” Miko pun mempererat pelukannya.

TAMAT

Cerpen Karangan: Nilot Dewi Gayatri
Facebook: Nilott Dewii Gayatrii
Nama lengkap: Nilot Dewi Gayatri
TTL: Demak, 02 April 1999
Sekolah: SMA Negeri 1 Sukamara
Kelas: XI IPA 1

Cerpen Tak Terduga (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kado Terakhir

Oleh:
Waktu itu, setetes hujan membasahi rambutku hawa dingin menyelimuti tubuhku, saat itu aku telat datang ke pesta ulang tahun sahabatku, Mona. Aku terburu-buru ke sana tapi, tiba-tiba penglihatanku kabur,

Best Friend

Oleh:
Aku Ashton, siswa SMP Indonesia yang saat ini duduk di bangku kelas 8G adalah Ashton Halmahendra, aku memiliki seorang sahabat, yaitu Dedy. Dedy adalah sahabatku sejak kecil, ia memakai

Sahabat Sejati

Oleh:
Reyna, Olivia, Rey, dan Alen adalah sahabat sejati. Tapi belakangan ini Reyna dan Oliv lagi marahan, ada yang ingin persahabatan mereka hancur. Yaitu si Kiran. Kiran anak orang kaya,

Cinta Tulus Shelly Untuk Rashky

Oleh:
Ketulusan cinta kadang membuat hati yang mudah terluka menjadi sekeras baja. Meski disakiti berulang kali, namun cinta itu selalu tumbuh berkembang menjadi kasih sayang. Pengorbanan demi pengorbanan dilakukan untuk

Jessica

Oleh:
“Mamaaaaaaaaa!! Baju Rachel mana? Sweater? Piyama? Jaket? boneka? sepatu? makanan? handphone? Ipad? Charger? Tissue? Mamaaa!” teriakku pada mamaku. Aku memang sedang kewalahan karena aku akan menginap di rumah sahabatku,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *