Takdir Membelakangi Harapan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Patah Hati, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 11 September 2013

Matahari menyinari dengan perlahan seakan-akan malu untuk muncul. Burung-burung bersiul menyambut pagi yang indah. Kini hari baru telah dimulai. Dan hari ini adalah hari senin, hari dimana waktunya sekolah telah dimulai lagi. Rena seorang siswi kelas 2 SMA sudah bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Mengantuk, malas, dan lelah. Itulah yang dia rasakan.

“RENAA, TUNGGU AKUU.” teriak seseorang yang sudah ia duga.
Shafa. Ya, namanya Shafa. Sahabat Rena sejak dari SD sekaligus teman sekelasnya, bahkan rumah mereka bersebelahan.
“untuk apa kamu berteriak sedangkan jarak kita lebih dekat dari 1 meter?” kata rena.
“mungkin saja kamu tidak dengar, hehe.” Jawab shafa sambil tertawa jahil.
“kamu kira aku tuli, dasar.” Katanya sambil tertawa pelan.

Rumah mereka tidak begitu jauh dari sekolah, makanya mereka lebih memilih untuk berjalan kaki. Apalagi pemandangan hijau dan sejuknya udara semakin membuat mereka semangat. Dan tanpa terasa mereka sudah sampai di kelasnya.

Rena dan shafa duduk di tempatnya masing-masing. Dan seperti biasa, Rena menunggu sesosok pria yang selama ini dia pendamkan rasa. Dan akhirnya seseorang yang ditunggu telah menunjukkan batang hidungnya. Ah, rasa rindunya akhirnya menghilang. Senyum yang muncul seketika saat melihat wajahnya serta jantung yang berdetak lebih kencang seakan-akan menyambut kedatangannya. Nama seseorang itu adalah Arga.

“KRIING!!” bel istirahat telah berdering.
semuanya berbondong-bondong menuju keluar kelas setelah menikmati penat di kepala saat jam pelajaran tadi. Namun Rena telah memutuskan untuk berdiam diri di kelas dan membiarkan shafa si tukang makan pergi ke kantin sendiri. Diam-diam rena memperhatikan Arga yang sedang membaca buku, ya.. Arga memang selalu sendirian ketika waktu istirahat tiba. Rasanya Rena ingin menghampiri Arga dan memulai percakapan dengannya. Tapi dia terlalu malu, mendengar suaranya saja tidak pernah. Cinta yang Rena rasakan adalah cinta bertepuk sebelah tangan. Seperti harapan yang hanya mengambang yang tak bertemu tepi untuk berlabuh, tapi Rena tak pernah lelah untuk mewujudkan harapannya. Karena arga adalah cinta pertamanya, pada pandangan pertama sejak dari awal masuk ke sekolah ini.
‘seandainya saja aku punya keberanian untuk mengakui perasaan ini ke kamu, ga.’ Kata rena berbicara di dalam hati.

Akhirnya Rena sudah sampai di rumah dari pulang sekolah. Tak terasa waktu begitu cepat. Rena langsung membentangkan tubuhnya di kasur empuk.. Namun tiba-tiba hape Rena bergetar tanda ada SMS masuk. Dan tentunya, pasti dari Shafa.
“Rena, kamu tahu tidak? Laki-laki itu mengajak aku ketemuan loh! Sore ini juga!” kata shafa.
“aduh Shafa, kenapa sih dari setahun yang lalu sampai sekarang kamu gak mau ngasih tahu aku siapa laki-laki itu? laki-laki yang pedekatenya lama banget itu?” jawab Rena.
“kan sudah aku bilang, aku bakal kasih tahu kamu sampai dia jadian sama aku. Biar kejutan gitu. Tapi dia lama banget pedekatenya, kagak nembak-nembak juga.” Jawab shafa lagi.
“yah semoga saja dia ngajak kamu ketemuan buat nembak kamu, biar aku bisa tahu siapa dia. Memangnya kamu suka sama dia?” jawab Rena.
“banget dong! Gak boleh ada yang suka sama dia selain aku! Hahaha.” Kata Shafa.
Rena tersenyum kecil melihat tingkah sahabatnya itu. Tapi satu harapannya, jangan sampai itu Arga. Jangan sampai.

Hari sudah berganti, Rena pun sudah siap pergi ke sekolah. Dia tak sabar untuk mengetahui siapa lelaki yang dimaksud shafa itu. tapi hari ini Shafa tidak berangkat sekolah bersama dengan Rena, entahlah kenapa. Dan akhirnya Rena sudah sampai ke kelasnya, dan langsung bergegas duduk di bangkunya sambil menunggu Shafa. Tapi tiba-tiba Arga masuk kelas dengan mulutnya berkomat kamit seperti sedang berbicara dengan seseorang, dan ternyata..
“S-Shafa, kamu.. dia..” kata Rena kaget.
“halo renaa, iya sekarang aku pacaran sama Arga, hehe. Kejutan!!”
Rena terkejut ketika melihat Arga masuk ke kelas dengan menggenggam tangan Shafa. Ini memang kejutan, kejutan yang sangat menghancurkan hati Rena. Mata Rena berlinang air mata. Bibirnya pucat seketika. Rasanya dia ingin terjatuh saking lemasnya.
“Rena, kamu kenapa? Rena!! Kok kamu nangis?” kata Shafa sambil langsung menggenggam Rena.
“DIAM!! Tolong diam, aku mau waktu sendiri. Jangan dekati aku.” Kata Rena sambil berlari keluar kelas dan menghempaskan genggaman shafa.

Dia berlari menuju kamar mandi dengan berpontang panting. Tubuhnya begitu lemas. Kecewa, kesal, sedih, semua kepedihan dia rasakan saat ini. Kenapa? Kenapa harus Arga? Kenapa harus sahabatnya? Kenapa.. kenapa harus cinta? Rasanya dia ingin mengulang waktu dan memilih untuk tidak mengetahui kebenaran. Karena rasanya sakit sekali. Dia betanya-tanya, cinta yang begitu besar yang dimilikinya apa hanya akan menjadi sia-sia? Apa benar harapan ini akan selalu jadi harapan?.

Bel masuk sudah berdering tapi Rena tetap memutuskan untuk tetap di kamar mandi sebentar. Sudah berkali-kali dia mengusap air matanya, namun air mata ini tetap saja belomba-lomba membasahi pipinya.
“Arga.. apa sikapku ini masih belum bisa membuktikan kepadamu kalau aku mencintaimu? Apa aku hanya bisa memandangmu dari kejauhan saja?” kata Rena berharap Arga menjawab.
“Ren.. Rena, kamu dimana?” kata shafa sambil mencari Rena.
Orang itu, orang yang sedang mencarinya itu. adalah orang yang sangat dia irikan. Dia bisa dicintai oleh seseorang yang selama ini Rena dambakan. Rena begitu cemburu dengan sahabatnya sendiri. Bukankah itu lucu?
“Rena, rupanya kamu disitu. Kamu kok pergi gitu aja sih?” kata shafa sambil langsung memeluknya.
Ketika shafa memeluk Rena, terasa ada yang basah di bahunya. Dan ternyata Shafa menangis. Dia begitu khawatir dengan Rena. Rena sadar, dia tidak berhak menyalahkan sahabatnya itu. lagipula ini salah Rena sendiri yang tidak mau mengakui perasaannya kepada Arga.
“aku gapapa, shaf. Selamat ya atas hubungan yang baru kamu jalin sama Arga. Aku turut bahagia.”
“Aku tau ada yang kamu sembunyiin, ren. Tapi apapun itu aku akan selalu bersama kamu.”
‘kamu beruntung, ga.. kamu bisa memiliki seorang malaikat yang baik hati yang sedang memelukku saat ini.’ benak rena.

Hari ini hari minggu, Rena biasanya pergi ke taman bersama Shafa. Namun hari ini dia sendirian. Hari ini cerah, namun hati Rena sedang bercuaca hujan. Hatinya masih sakit ketika waktu itu. sakit sekali.

Ketika sedang berjalan-jalan di taman, Rena melihat Shafa sedang duduk berdua di kursi taman dengan Arga. Dengan seketika air matanya terjatuh lagi untuk kesekian kalinya. Namun kali ini tangisan itu dia iringi dengan senyuman.
‘kamu itu seperti bintang, ga. Yang enggak bakal pernah teraih olehku. Namun alasan yang paling penting bagiku untuk melupakanmu adalah.. karena ada bintang dengan cahaya yang indah berkelap kelip di sampingmu. Tepat disampingmu’

Cerpen Karangan: Dinda Khairani
Blog: Http://puisibydinda.blogspot.com/

Cerpen Takdir Membelakangi Harapan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tak Kunjung Datang

Oleh:
Cinta yang tlah lalu membuat ku terusik kembali. Terngiang-ngiang di telinga ku saat ia mengucapkan janjinya padaku itu. Dulu saat masih bersama. “aku janji, meskipun kita pisah tapi kita

Dia Atau Aku

Oleh:
Gumpalan awan putih terlihat berarak menutupi sebagian wajah langit yang begitu cerah hari ini. Di bawahnya terhampar luasnya laut bening berwarna hijau tosca. Namun sayangnya hatiku tidak secerah langit

Mengejar Pelangi (Bidadari Dalam Mimpi)

Oleh:
Kisah ini gue ambil dari perjalanan hidup seorang pria remaja yang ingin mengejar mimpinya. Sebut saja namanya Guntur, iya Guntur, seorang pria remaja yang baru menyelesaikan sekolah di SMK

Friend and Boyfriend (Part 3)

Oleh:
Kevin akhirnya mengantar Hani pulang sampai di depan rumahnya. “Maafkan aku, lingkungan di sini memang padat dan jalannya agak sempit. Tapi di sini lumayan bersih kok. Makasi kak sudah

Secarik Surat Untuk Billy

Oleh:
“Billy sahabatku teman terbaikku. Aku ingin minta maaf padamu, atas semua kesalahanku dulu kepadamu. Aku tahu kau pasti sakit hati atas semua itu. Billy aku yang sekarang bukan aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *