Taplak Meja Persahabatan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 April 2016

“Mulai Senin depan, tepatnya tanggal 21 maret sampai dengan tanggal 26 maret kalian akan melaksanakan Ujian Praktik, persiapkan dengan benar-benar sehingga mendapatkan hasil yang maksimal,” tutur Mr. Smith selaku wali kelas Nine-Red pada murid-muridnya sembari membagikan jadwal ujian praktik. Junior High School of Rainbow memiliki tujuh kelas setiap tingkatan kelasnya, seperti Nine-Red, Nine-Orange, Nine-Yellow, Nine-Green, Nine-Blue, Nine-Purple, dan Nine-Brown. Begitu juga dengan kelas tujuh dan kelas delapan.

“Pada Skill lesson kalian akan dibagi menjadi beberapa kelompok untuk membuat taplak meja, sedangkan lesson lain seperti sang lesson tetap individu,” lanjut Mr. Smith menjelaskan.
“Mr, bagaimana kelompoknya? Apa kita memilih sendiri?” tanya Dayton sang Class leaders.
“Tidak, Mr sudah membagi kelompok. Kalian dapat lihat di papan depan, pikirkan bagaimana model taplak meja kalian, baiklah sekian dari Mr. Selamat siang.” ucap Mr. Smith sebagai akhir kata hari ini. “Siang Mr.” jawab murid-murid Nine-Red dengan serempak. Setelah Mr. Smith ke luar kelas, segeralah siswa-siswa lain berlarian menuju papan depan untuk melihat diri mereka dan siapa teman satu kelompoknya.

“Emily kita satu kelompok! Yeaay!” seru Gytha.
“Oh ya? Wah pasti seru nih, jadi siapa saja yang satu kelompok dengan kita?” tanya Emily penasaran.
“Kita, Avena, Alfred, Ballard, dan Gary.” jawab Gytha dan memulai untuk mengumpulkan teman-teman satu kelompoknya untuk mengajak berdiskusi.
“Oke, mending hari ini kita bikin design taplak mejanya dulu aja.” ucap Alfred membuka pembicaraan. Kemudian diikuti anggukan setuju yang lainnya. Mereka memulai membuat design yang bertemakan flora. Tidak sampai satu jam design tersebut telah jadi.

“Wow kereen!” ucap kagum Ballard.
“Siapa dulu dong?” ucap sombong Gary, karena design tersebut hasil dari Gary.
“Well, kita sampai di sini dulu, besok kan libur kita lanjut aja kelompoknya,” ujar Emily mengajukan persetujuan.
“Oke!” jawab serempak.
“By the way, kita mau kelompokan di mana?” tanya Avena.
Semua bingung, “Gimana kalau di rumah Alfred?” ajuan Agytha, tapi Alfred menolak karena ada sesuatu yang mungkin terbilang penting.
“Di rumah gue aja,” ucap Ballard mengajukan diri.
“Setuju!” ucap serempak.

Keesokan harinya, Gary, Emily, Gythya, dan Avena telah tiba di rumah Ballard, hanya Alfred yang belum tiba.
“Ih Alfred lama banget datengnya, udah designnya dibawa dia datengnya paling lama juga,” omel Avena tak sabar menunggu.
“Sambil nunggu, kita main di halaman belakang yuk, ada kucing loh,” ucap Ballard menghibur kekecewaan yang ada.
“Waah kucing? ayo ayo.” ucap Emily bersemangat ketika mendengar kucing, ya dia sangat menyukai hewan manja ini.

Setelah menunggu beberapa menit akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. “Sorry lama, tadi kesasar,” ucap simple Alfred dan langsung merebut kucing yang sedang dipegang Emily. “Hei, asal rebut aja.” oceh Emily pada Alfred yang ternyata sama-sama menyukai kucing.

“Ayo mulai ngerjain, tunggu benang warna kuningnya kok gak ada?” tanya Gytha mengecek semua alat dan bahan yang dibutuhkan. Akhirnya mereka menunggu lagi, ya menunggu sang Alfred membeli bahan-bahan yang kurang.
“Huaaa lama banget, banyak waktu yang terbuang ini,” celoteh Avena lagi.
“Sabar Ven.” kata Emily menenangkan.

Tak lama, akhirnya semua sudah siap untuk memulai menjahit dan menyulam pola design.
“Ah, ternyata susah,” eluhan Emily.
“Kita coba dulu aja lagi, yok cepetan biar cepet kelar,” ucap Alfred santai.
“Apaan, kalau mau cepet kelar jangan cuma main games aja. Bantuin ini.” celetuk Emily pada Alfred yang sedari tadi hanya bermain games di hpnya. Karena kesal Emily merebut hp Alfred, dan terjadilah kejar-kejaran di antara mereka.

“Hem ada yang berduaan sibuk kejar-kejaran nih, kelihatan cocok deh,” sindir Gary.
“What! please deh dia ngeselin banget jadi orang, gak kerja,” omel Emily.
“Enak aja, gue kerja ya siapa coba yang beli bahan-bahannya? Loyang ngeselin main rebut hp orang.” omel Alfred tak mau kalah. Ballard pun melerai keributan yang terjadi, dan mencoba menenangkan mereka berdua. Satu jam telah berlalu dengan hasil yang lumayan tetapi belum mencapai setengahnya.

Keesokannya, di sekolah tepatnya di kelas Nine-Red semua kelompok melanjutkan pembuatan taplak meja.
“Gimana cara ngejahitnya? Ajarin dong!” pinta Ballard pada Avena. Dengan senang hati pun Avena mengajari Ballard menjahit yang benar.
“Ekhem kelihatan serasi, gak kayak mereka berdua nih ribut aja,” sindir Gary lagi pada Emily dan Alfred. Alfred mengacuhkannya dan terus menjahit sedangkan Emily melototi Gary yang terus saja meledekinya.

“Okay students, sudah waktunya pulang ke rumah. Kalian bisa melanjutkan di rumah tapi tanggal 26 maret harus sudah dikumpulkan dengan laporannya juga. Understand?” ucap Miss Lucy selaku guru yang mengawasi pada semua murid Nine-Red. “Yes Miss.” jawab murid murid serempak.

24 Maret, “Guys, gimana nasib taplak meja kita? Kita harus nyelesein secepatnya,” tutur Gytha pada kawan-kawan satu kelompoknya. “Besok kan libur, kita kelompokan lagi aja,” kata Alfred mengajukan.
“Iya bener, besok kelompokan di rumah gue jam 9 ya,” ucap Gary diikuti anggukan setuju yang lainnya.
25 maret, semua sudah berkumpul di rumah Gary dan melanjutkan penyelesaian taplak meja. “Gue pulang duluan ya,” ucap Alfred. “Eh, ya gak bisa gitu dong. Ini belum kelar Al,” bantah Emily yang tidak terima jika Alfred pulang terlebih dahulu. Dan terjadilah perdebatan lagi dan lagi. Seperti biasa Ballard melerai dan menenangkannya. Hari kian sore, pulanglah mereka ke rumah masing-masing walau kurang sedikit lagi taplak meja itu jadi.

26 Maret, “Students bagi kelompok yang belum selesai bisa dilanjutkan tapi harus hari ini dikumpulkan. Remember it!” Ujar Miss Lucy. Gytha dan kawan-kawan melanjutkan kembali.
“Omg Gary! Kenapa pakenya benang warna hijau?” Tanya Gytha terlihat shock.
“Bagusan juga Hijau Gyt,” elak Gary.
“Astaga Gary, gue kan tadi udah bilang!” ucap Gytha yang sudah terlihat marah.
“Ya udah sih gampang bisa didedel ini benangnya.” ucap Gary menahan marah.

“Mau didedel gimna? Ini udah banyak banget yang lo jahit. Aargh! kalau ada orang ngomong didengerin makanya,” ucap Gytha sewot. “Santai kali gak usah nyolot gitu!” ucap Gary dengan nada tinggi.
“Ekhem cocok-cocok tapi ribut terus,” sela Emily bermaksud membalas ledekan Gary selama ini.
“Apa lo gak usah ikut campur!” ucap Gary dengan keras sambil memukul meja yang ada di depannya dan membuat Emily sangat kaget hingga hampir saja Emily meneteskan air matanya. Emily memang orang yang tidak suka dibentak.

“Gak usah teriak bisa kan!” Ucap Emily, air matanya kini telah jatuh menetes.
“Arrgh salahin terus gue!” ucap Gary dengan lantang.
“Bro udah dong santai,” ucap Ballard menenangkan seraya menepuk bahu Gary, tetapi Gary mengelak tangan Ballard.
“Udah Gary, aku gak ingin kita semua jadi berantem gini.” ucap Emily tersedu-sedu tangisannya semakin kencang. Tiba-tiba..

“Happy Birthday Emily.. Happy Birthday Emily.. Happy Birthday Happy Birthday, Happy Birthday Emily.. ” nyanyian seluruh teman-teman Nine-Red dengan salah satu seorang memegang kue ulang tahun yang disertai lilin yang menyala. Alfred. “Tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga, sekarang jugaaa, sekarang jugaa..” seru Alfred mendekat Emily yang kemudian diikuti teman-teman yang lain. Emily benar-benar kaget, tangisannya kini berubah menjadi tangisan bahagia.

“Thanks God, thanks my friend,” ucap Emily terharu.
“Ekhem cocok-cocok udah gak ribut lagi nih?” Ucap Gary tiba-tiba. Emily masih kaget melihat Gary.
“Haha santai Emily, yang tadi itu Just Kidding Surprise buat kamu, ya kan Gary?” ujar Gytha meyakinkan.
“Omg its so sweet but make me very shocked guys!” kata Emily.
“Ide siapa dong ini, gue..” ucap Alfred dengan bangganya.
“Tuh kan, ih elo tuh nyebelin banget sumpah ya Alfred!”
“Bwahahaha sukses bikin Emily tangis, dasar cengeng,” ejek Alfred.
“Yang di sini jangan dilupain dong,” sindir Ballard dan Gary.
Kelas Nine-Rid dipenuhi oleh kebahagiaan dan kegembiraan bersama-sama.

“Guys seneng-senengnya jangan lama-lama, ini taplak meja belum kelar juga loh,” ucap Avena mengingatkan. Akhirnya mereka melanjutkan kembali hingga akhirnya taplak tersebut jadi. “Aku seneng deh, akhirnya taplak mejanya jadi dengan kekompakan kita. Ya.. walaupun ada yang rewel.” ucap Emily.
“Setelah kita besar nanti jangan lupain kenangan ini ya.” ucap Alfred mengakhiri percakapan dengan perasaan yang terpendam.

Cerpen Karangan: Hasna Asjad Allamah
Facebook: Hasna Asjad
Twitter: @HasnaAsjad1
Ig: hsn.aa
Want to be success.

Cerpen Taplak Meja Persahabatan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Dan Rahasia

Oleh:
Dinda mulai memetik senar gitar…. “Terakhir kutatap mata indahmu Di bawah bintang-bintang Terbelah hatiku antara Cinta dan Rahasia Ku cinta padamu namun, Kau milik sahabatku Dilema hatiku, andai ku

Cintaku Bertepuk Sebelah Tangan

Oleh:
Namaku ririn aku baru kelas 9 smp aku mencintai seorang pria yang mungkin gak cinta sama aku namanya rio, cintaku dimulai disni. Suatu hari di sekolah ada anak baru

Korban Keegoisan

Oleh:
“Hei, Ris! Apa lo nggak dengerin gue?” Aku menoleh dengan wajah merengut ke arah Shila. “Apa, sih? Ganggu gue aja deh!” Bentakku. Shila mendengus kesal. “Lo liatin apa sih

Hilang

Oleh:
Pagi-pagi sekali mama sudah sibuk menyiapkan sarapan, tak lupa juga mama selalu menyanyi dengan suaranya yang cempreng dan bernyanyi dengan nada-nada yang kurang pas. Bukannya mengolok, tapi hanya memberi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *