Tara

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 21 February 2015

Setahun yang lalu…
Hari pertama masuk sekolah setelah MOS di SMAN 21…
Pelajaran fisika. Seorang guru muda masuk ke sebuah kelas.
“Selamat pagi anak-anak. Baiklah sebelum kita mulai pelajaran pertama kita, ada baiknya kalian memperkenalkan diri terlebih dahulu. Siapa tahu kan, nanti ada nama yang nyangkut ke kepala ibu. Terus nilainya jadi lancar deh!” Rentetan kalimat awal yang disampaikannya dengan penuh canda langsung disambut dengan senyuman geli dan sorakan di sepenjuru kelas X A.
“Hhuuu!!!”
”Sudah. Sudah. Ayo kita mulai saja perkenalannya. Yak kamu, perkenalkan diri.” Kata guru muda itu sambil menunjuk ke seorang anak laki-laki yang berada di pojok. Anak laki-laki itu langsung menghadap ke arah guru muda dan menunjuk mukanya sendiri yang masih segar layaknya murid baru lain. “Iya, kamu. Yang di pojok depan kanan. Berdiri! Sebutkan nama, sekolah asal, hobi, dan motto hidup.” Anak itu pun berdiri dengan mantab dan mulai menyebutkan apa yang disuruh.
“Nama saya Doni Dirgantara, bisa dipanggil Tara. Sekolah asal SMPN 73. Hobi saya kalau saya kasih tahu nanti Ibu Guru marah. Motto hidup saya ‘Hidup gue ya hidup gue, masalah buat lo?’.” ucapan anak itu langsung diiringi tepukan gemuruh dari anak laki-laki, wajah tidak suka dari anak perempuan, dan senyum kecut dari si guru muda.
“Oke, di sini ada yang tau hobi Tara sampai-sampai hobinya bisa membuat Ibu marah?” tanya guru muda. Seorang anak laki-laki mengacungkan tangan. Seluruh penghuni kelas mengarahkan pandangan pada anak itu, termasuk Tara.
“Ya kamu.” Tunjuk si guru muda.
“Berantem Bu!”

Sekarang….
“Tara, awas di belakang lo!” teriakan teman seperjuangan Tara sontak membuat ia melihat ke belakang. Sebuah tinju sedang meluncur dengan sekuat tenaga mengincar kepalanya. Refleks, Tara menangkap tinju itu dan mendorongnya hingga sang pemilik tinju terjatuh. Setelah memastikan yang menyerangnya tidak bisa bangkit lagi, Tara berbalik untuk berterimakasih pada teman yang memperingatkannya tadi. Yahh, walaupun sekarang memang sedang situasi yang tidak tepat, tawuran, setidaknya ia ingin berterimakasih atas peringatan itu karena jika bogem mentah itu tepat sasaran setidaknya dia bisa pingsan di tempat, dan itu akan sangat merugikannya.
Saat Tara berbalik ke belakang, didapatinya temannya tadi telah dikepung oleh tiga orang lawannya yang masing-masing membawa balok kayu, tongkat baseball dan sapu lidi, eh? Dengan geram Tara menghampiri dan menghajar tiga orang yang mengepung temannya hingga semaput. Lalu dihampirinya temannya tadi untuk tujuan awal.
“Makasih!” ucapnya sambil berlalu. Namun, bukannya kata ‘sama-sama’ yang dia dapat melainkan serentet kalimat yang langsung menohok dirinya.
“Hari ini baru hari Selasa, lo udah tiga kali berantem, dua kali berantem ‘biasa’ sama satu kali tawuran. Nggak kebayang gue, seberapa nggak tenangnya masa SMA lo Tar!” anak laki-laki itu menekankankan kata ‘biasa’ dalam kalimatnya, karena kata berantem apabila bertemu dengan kata biasa dalam kehidupan Tara merupakan bentuk berantem yang tidak biasa di mata orang lain, sehingga cara bacanya harus lebih ditekankan.
Tara mengulum senyum, ia tau maksud dari perkataan temannya ini. Memang, setiap kali dia berantem, tidak pernah ada lawan yang berani melawannya satu lawan satu. Yang ada, dia sendiri melawan segerombolan orang yang terkadang juga membawa senjata. Yah, untungnya selama ini senjata yag dipakai lawan-lawannya belum ada yang setingkat peralatan dapur dan peralatan memburu. Jika iya, Tara yakin, sudah sejak SMP hidupnya terhenti di dunia. Maka dari itu ia bersyukur lawannya tidak terlalu pengecut berani untuk membawa senjata semacam itu dan lagi ia juga bersyukur memiliki teman yang seringkali menjadi tambahan mata baginya setiap kali bertempur. Teman yang sekaligus juga berperan sebagai alarmnya setiap ia hampir melewati batas.

Senyum Tara berubah kecut. Karena ia sadar ia telah berbohong pada temannya ini. Tiga kali berantem yang dikatakan temannya hanyalah yang dia lihat, sedangkan sebenarnya sudah lebih dari itu. Tara menghela nafas.
“Kenapa Tar? Lo berantem minggu ini udah lebih dari yang gue bilang tadi? Santai aja, ngurangin hobi lo itu emang butuh waktu kok!” suara santai Putra, temannya ini, membuat Tara sontak menghadap ke arahnya dengan wajah terkejut dan memancarkan kata-kata, “Kok Lo tau?” dengan jelas.
Sedetik kemudian Tara menggeleng-gelengkan kepalanya. Wajar saja Putra tau tentang ini. Bahkan Putra sudah tau tentang hobi berantemnya ini sejak pertama kali bertemu (Tara yakin sebelum ini mereka belum pernah bertemu) dan berhasil membuat guru muda yang masuk di hari pertama belajar efektif saat kelas sepuluh dulu, mengembangkan sikap waspada terhadapnya, begitu juga guru-guru lain.
Tara tidak marah pada Putra, karena Putra semenjak itu seakan menjelma menjadi mata tambahan dan menjadi alarm Tara di setiap harinya, tanpa diminta. Berbeda dengan temannya yang lain yang serta merta membuat dua kubu yaitu menolak mentah-mentah perbuatan Tara atau mengikuti tindakan Tara mentah-mentah, Putra yang menjadi mata tambahannya tetap menolak hobi Tara dan berusaha mengeluarkannya dari diri Tara. Walaupun Tara tidak tau apa tujuan Putra, ia tidak keberatan sama sekali, karena dia tau cepat atau lambat dia memang harus keluar dari kehidupannya yang tidak aman ini. Dan mungkin sekarang saatnya untuk mewujudkan itu.
Untuk itu, untuk membalas perbuatan Putra, ia akan berusaha melindungi temannya ini, yang tidak boleh terluka kerena dirinya.

“Kalian berdua! Keluar! Sudah ada yang menebus kalian!” seorang Polisi masuk ke dalam sel dan menggiring dua orang penghuninya keluar.
Tara dan Putra.
Nampaknya mereka sedang tidak hoki di tawuran kali ini. Disaat Putra akhirnya berhasil membujuk Tara keluar dari tawuran, polisi datang. Yah…, alhasil mereka mendekam di balik sel untuk sementara, 5 jam, karena orangtua Putra akhirnya datang dan menebus uang jaminan.

Mereka berjalan beriringan. Mata Tara terus menatap ke arah kakinya tanpa melihat ke depan, apalagi ke arah orangtuanya Putra. Kenapa? Karena saat inilah saat yang paling dibenci Tara. Bukan saat dia ditahan di balik sel, melainkan saat di mana ia bertemu dengan orangtua Putra yang entah kenapa selalu melihatnya dengan mata sendu seakan-akan mereka telah berbuat dosa besar padanya. Dan itu sangat membuat dia risih. Kalau disuruh memilih, sebenarnya dia lebih memilih tetap berada di sel dibandingkan jika dia harus bertatapan dengan mata sendu milik orangtua Putra ini.

“Tar, lo bareng gue?” tanya Putra saat sudah keluar dari gedung kepolisian. Tara sontak langsung menggeleng, karena dia sudah bisa membayangkan bagaimana sengsaranya dia nanti di dalam mobil keluarga Putra.
“Nggak, makasih. Rumah gue deket, lo tau kan?” ucap Tara. Putra menatap Tara sebentar lalu menghela napas.
“Oke, gue balik dulu. Lo hati-hati ya! Maaf nggak bisa nemenin.” Putra berbalik dan pergi.
Sekarang, Tara yang menghela napas. Kakinya mulai mengambil langkah pertama untuk kembali ke rumah malam ini. Di otaknya sekarang ini, tiba-tiba muncul beribu tanya mengenai apa yang sudah diperbuat Putra dan keluarganya untuknya selama ini.

Kejadian ditangkap polisi saat tawuran ini bukan yang pertama kali, sudah sering ini terjadi dan entah kenapa keluarga Putra tidak ada yang marah padanya, bahkan saat pertama kali kejadian ini terjadi. Tara masih ingat saat pertama kali ia ditanggkap polisi dengan Putra bersamanya. Padahal Tara sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi amukan orangtua Putra karena mengajak anaknya tawuran (nggak diajak sih, Putra sendiri yang mengikut sertakan diri), tapi yang didapatinya bukan amukan, melainkan mata sendu yang sampai sekarang masih bisa dilihatnya dari orangtua Putra, dan hal itulah yang sekarang sangat dibencinya. Ibunya saja walaupun sudah pasrah dengan perilakunya, tetap akan marah jika tau dia membawa orang seperti Putra untuk tawuran. Sedangkan ayahnya.., yah…, tidak usah membahas dia untuk selamanya!

Tara kembali menghela napas, sedetik kemudian dia merasakan ada yang aneh, dia merasa sedang diikuti, oleh beberapa orang. Tara berbalik.
Ada tiga orang anak SMA yang masih mengenakan seragam langsung berhenti saat melihat Tara berbalik. Salah seorang yang paling besar dari mereka menatap sengak ke arah Tara. “Lo Tara kan?” tanyanya.
Tara menatap wajah itu tak kalah sengaknya, nampaknya dia pernah lihat wajah ini. “Mau apa lo?” tanyanya balik.
Anak tadi agak gentar juga melihat gaya Tara. Ahhh! Tara ingat orang ini yang pernah melawannya dulu, saat masih di SMP. Saat Tara dulu masih bersama Orang yang kini membuat keluarganya tidak beraturan.
“Santai.., gue ke sini nggak ngajak berantem. Gue Cuma mau memastikan sesuatu.”
Alis Tara berkerut, “Apa?”
“Lo, anak buah Roni kan?” perkataan anak itu layaknya sambaran kilat bagi Tara, karena orang yang disebutkan anak tadi merupakan anak yang sedang dipikirkannya barusan.
“Nggak!” bentak Tara ketus. Ucapan anak itu tanpa sadar membangunkan sisi gelap Tara yang sudah lama terpendam semenjak kedatangan Putra. Roni, adalah orang yang menciptakan sisi gelap Tara itu, yang membuat Tara jadi seperti ini, menjadi Tara yang suka mengisi masa-masa sekolah dengan berkelahi, dan menjadi Tara yang telah menhancurkan keluarganya.

Anak itu langsung berinisiatif untuk meninggalkan Tara sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkannya. Tapi, sebelum itu dia memberikan informasi yang menjawab segala pertanyaan Tara mengenai Putra.
“Yah.., terserah lo mau bilang apa. Tu anak juga udah mati kok sekarang! Gue Cuma mau mastiin aja, anak letoy yang biasanya bareng lo itu adeknya Roni kan?”
Mata Tara terbelalak, “Siapa?”
“Itu, anak letoy yang.., siapa namanya?” tanya anak itu pada teman yang di sebelahnya, “Ini bos, kalau nggak salah huruf awalnya P, Pu.., Pu…,” “Putri?” tanya temannya yang satu lagi. Anak yang dipanggil Bos itu langsung menjitak kepala anak itu, “Dia itu cowok! Tolol!”. “…, Putra Bos!” anak tadi membetulkan ucapannya.
“Nah, iya, Putra! Itu adek Roni kan? Gue kira lo dendam sama Roni gara-gara masalah adek lo! Ternyata lo malah temenan sama adeknya si Roni ya?”
Tara mengepalkan tinjunya.
BHUG!! Anak itu terkapar di jalan.

Hari ini libur nasional, Putra kini sudah siap menjalankan apa yang diamanatkan kakaknya sebelum meninggal sekitar saru tahun yang lalu.
Roni, kakaknya, merupakan biang onar sejak SMP, dimanapun dia berada. Ulahnya ini disebabkan oleh orangtuanya yang selalu membandingkan prestasi Putra dengan dia. Hal itu menyebabkan dia frustasi. Dampak dari keonaran Roni adalah banyaknya musuh yang tersebar di seluruh kota, hingga puncaknya saat tawuran besar-besaran antara sekolah Roni dengan sekolah lain menyebabkan Roni mengalami luka parah dan kehilangan banyak darah. Hal itu lah yang menyebabkan Roni meninggal. Sebelum akhir hayatnya, bibir Roni selalu mengulang kata-kata yang sama dengan suara yang selembut angin. Putra yang menyadari hal itu segera mendekatkan telinganya ke mulut Roni dan mendengar. “Se.., la…, mat.., kan…, Di…,dir…, ga.., ghan…, ttara…” secara berulang ulang dan terputus-putus. Putra yang seakan mengerti berkata “Iya kak, aku bantu kakak selamatkan dia.” Lalu membimbing Roni mengucapkan 2 kalimat syahadat dan akhirnya Roni meninggal.

Sebelumnya Putra masih tidak tau apa yang dimaksud kakaknya. Dia tidak tahu siapa itu Dirgantara, dan kenapa kakaknya meminta itu di akhir hayatnya. Tapi demi memenuhi janji kepada kakaknya yang selalu menjadi korban psikologis dari orangtua mereka, Putra mencari tahu siapa itu Tara, mencoba untuk menyelamatkannya dengan caranya, walaupun ia belum tau kenapa ia harus menyelamatkan Tara. Tapi dia tau, Tara ini beda dari teman-teman kakaknya yang lain.
“Kamu jadi pergi Putra?” terdengar suara ibu di ujung tangga. Putra segera beranjak dari kamarnya dan turun ke bawah.
“Iya.” Jawabnya. Setelah sampai di bawah.
“Kamu cobalah tanya apa masalahnya si Tara sama kakakmu itu. Secara tidak langsung saja.” Ujar Ibunya. Ibunya memang tahu masalah ini. Bahkan di awal perjalanan misi ini ibu tidak menyetujuinnya karena Putra rela melepaskan beasiswa di sekolah ternama demi mengejar Tara di SMAN 37. Tapi di sisi lain dia juga merasa bersalah karena sudah menyebabkan anaknya, Roni, masuk ke dunia yang gelap itu, maka akhirnya dia mendukung usaha Putra menjalankan amanat Roni, yang sampai sekarang pun Tara tidak tahu kalau Putra sedang menjalankan amanat Kakaknya untuk menyelamatkannya.
“Iya Bu.” Kata Putra sambil beranjak ke luar rumah. Tiba-tiba dia teringat sesuatu. “Oh iya Bu, tolong jangan suka melihat Tara dengan tatapan sendu itu Bu, nampaknya dia tidak suka.” Ujarnya. “Assalamualaikum.” Putra keluar rumah.

Putra naik angkot menuju kota, biasanya Tara berada di game center di sekitar sana. Benar saja, sesampainya di sana dilihatnya Tara sedang duduk termenung di depan game center. Jarang-jarang, biasanya dia selalu berada di dalam.
Tiba-tiba Tara melihat ke arah Putra, dia berdiri lalu berlari menjauhi Putra. Putra terkejut dan langsung mengejarnya.
“Tara!!” teriakannya tidak dihiraukan. Tara terus berlari dan Putra terus mengejar hingga mereka sampai ke jalan buntu yang sepi. Tara lalu berhenti. Putra memperlambat larinya, nafasnya sudah hampir habis, didekatinya Tara dengan berjalan. ”Tar..,” Putra memegang pundak Tara.
BHUGG!!!
Kejadiannya begitu cepat, tiba-tiba Tara berbalik dan menghantam wajah Putra dengan tinjunya. Putra lantas tersungkur dan merasakan darah yang mengalir di sudut bibirnya.
“Tara..,” entah kenapa Putra tidak kaget dengan perbuatan Tara, yang dia kaget adalah wajah Tara yang terlihat memendam amarah yang amat sangat.
“Kembaliin adek gue!” ucap Tara dengan suara lirih, Putra menatap Tara bingung.
“Maksud lo apa?” tanyanya. Tara menarik kerah baju Putra hingga berdiri.
“SOK NGGAK TAU LO YA! JANGAN SOK MENEBUS DOSA KAKAK LO DEH!” teriak Tara tepat di depan muka Putra dan diiringi pukulan ke wajah Putra. Putra kembali tersungkur. Dia tertegun.
“Dosa kakak gue?”
“IYA! KAKAK KEPARAT LO YANG MENODAI ADEK GUE, MEMBUNUH ADEK GUE DAN MENGHANCURKAN KELUARGA GUE!” Putra terdiam, kakaknya melakukan apa? Tidak sempat berfikir, putra sudah ditarik berdiri oleh Tara.
“Asal lo tau ya! Gue awalnya cuma pengen diperhatikan ORTU GUE! Dan kakak lo yang sok jadi pemberi jalan malah mengambil semua yang ada di GUE!” ditinjunya perut Putra hingga dia terbatuk-batuk. Walaupun seluruh badannya sakit karena serangan Tara, Putra terus berfikir dan menghubung-hubungkan informasi kakaknya yang dia dapatkan dari Tara. Dan mendapatkan suatu hipotesis.
Roni dan Tara dulu satu SMP, karena tidak diperhatikan orangtuanya Tara memutuskan untuk menjadi anak buah kakaknya yang sudah terkenal badung di seentero kota. Namun bukannya perhatian yang dia dapat melainkan kepedihan mendalam yang disebabkan oleh Roni karena dia ’merusak’ adiknya dan memecah keluarga Tara secara tidak langsung.
Putra tertegun dengan analisisnya. Kakaknya begitu kelam.., jahat.., hal itu karena dia. Dan lagi dia tau satu hal, dia tahu kalau Roni menyesal..
“Kakak, gue menyesal…, lo mungkin satu-satunya orang yang bisa dia percaya. Jadi dia berusaha agar orang yang bisa dipercaya bisa selalu berada di sisinya. Tapi tindakannnya salah, lo malah pergi.” ucap Putra lirih. Tara tertegun seketika. Tak pernah terpikir olehnya bahwa Roni akan menyesali perbuatannya. Tidak pernah!
“Nggak mungkin!” ucapnya ketus. Putra menghela napas.
“Yang ngutus gue buat ngeluarin lo dari kehidupan lo yang sekarang tuh kakak gue Tar.., gue nggak pernah tau masalah kalian. Gue baru tau masalahnya dari mulut lo barusan.” Kata-kata Putra sontak menghentikan amarah Tara yang awalnya meletup-letup menjadi menguap bersama hembusan angin. Mereka berdua terdiam, sibuk dengan pikirannya masing-masing hingga Putra buka suara.
“Dia menyesal Tar. Kalau lo masih mau balas dendam…, bunuh aja gue!” Tara tersentak, tak disangkanya kata-kata itu keluar dari mulut Putra.
BHUGG! Tara memukul wajah Putra lagi. Hal ini menyebabkan Putra tersungkur untuk kesekian kali karena menerima pukulan yang sama sekali tak disangkanya. Matanya langsung beralih dari tanah ke arah Tara. Putra terkejut kerena yang dilihatnya bukanlah wajah kemarahan lagi, tapi wajah terimakasih.
“Lo mesti gue sadarin dulu! Lo nggak boleh ngikutin jalan pikiran gue!” Tara mengulurkan tangannya untuk membantu Putra berdiri.
Putra menghela napas lega. “Barusan gue kira lo bener-bener mau bunuh gue!” kata-kata Putra membuat Tara tertawa terbahak-bahak.
“Lo kira gue bodoh? Masa orang yang mau menyelamatkan hidup gue, gue biarin mati?” ucap Tara dengan senyum mengembang.
Putra ikut tersenyum. “Tar, tapi gue punya syarat buat lo! Lo mesti ajarin gue cara berantem, soalnya feeling gue kehidupan gue bakalan nggak se-flat dulu lagi.”
Tara terdiam, seakan-akan berfikir, “Oke, tapi gue nggak bisa menerima pengkhianatan kedua.” Ucapnya sambil merangkul pundak Putra.
“Lo bisa percaya gue.”

THE END

Cerpen Karangan: Nadia Fikrunnisa
Facebook: Nadia FIkrunAnis

Cerpen Tara merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Maaf

Oleh:
Kupandang sosok lelaki yang tengah berjalan menuju kantin bersama teman-temannya, kualihkan perhatian temanku saat hampir ketahuan memandang seseorang dan itu memerlukan waktu lama. Dia anak kelas IX B, sosok

Tersesat di Sebuah Labirin

Oleh:
Di dalam sebuah labirin yang sangat luas terlihat begitu rumit untuk menemukan jalan keluar, keempat anak itu. ya mereka adalah doni, dean, rina dan andriyan. Sebenarnya mereka berempat itu

Love Yourself (Part 3)

Oleh:
“Dia mau ke bandara?! Dia mau bener bener pergi dari aku?!” gumam Ridho kesal setengah khawatir berlari menuju mobil merahnya setelah melihat pesan balasan dari Ega. Ia memasuki mobil

Pengagum Rahasia

Oleh:
“Pagi anak-anak” sapa Pak Udin dengan suara lantang. “Pagi, Pakkkk…!!!” “Sebelum pelajaran dimulai, hari ini di kelas kita kedatangan murid baru. Silahkan masuk nak.” Perintah Pak Udin. “Silahkan perkenalkan

Kenangan Bersama Kuntring

Oleh:
Aku termenung menatap foto sahabatku di laptop. Hari ini adalah hari paling bersejarah dalam hidupnya. Hari dimana dia diwisuda sebagai seorang istri. Iis Setiawati namanya. Lahir pada tanggal 17

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *