Teman

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Galau, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 7 October 2017

“Kita kan berteman, Lisa.”
Itu adalah kalimat andalan Bayu. Dan entah kenapa kalimat itu selalu membuat hati aku sakit. Kata ‘teman’, yang seharusnya aku syukuri terdengar sangat menusuk di telinga.

Pertama kali aku kenal sama Bayu saat kita kelas satu SMA. Tepatnya 4 tahun yang lalu. Saat rasa yang aku rasain belum berubah seperti sekarang. Saat aku dan Bayu sudah punya pasangan masing-masing. Tapi kita selalu menghabiskan waktu berdua.
Ya, berdua. Aku heran, kenapa orang-orang selalu mengasumsikan kedekatan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan itu berarti menjalin hubungan? Padahal tidak semuanya seperti itu. Mungkin mereka hanya terbawa perasaan. Tapi menurutku, punya teman dekat pria itu ada keuntungannya. Kita bisa saling bertukar pikiran karena cara berpikir laki-laki dan perempuan itu berbeda. Aku selalu senang bercerita dengan Bayu, dia orang yang paling bisa aku andalkan.

Sampai pada saatnya aku menemukan kerugian berteman dengan orang yang sudah memiliki kekasih. Cemburu buta.
Sejak saat itu, hubunganku dengan Bayu mulai renggang. Kita tidak bebas bercerita seperti dulu. Dan aku mulai merasa kehilangan. Ya, memang aku sudah punya kekasih. Tapi hatiku hampa kehilangan Bayu. Apa mungkin aku suka sama Bayu? Ah rasanya tidak mungkin.

Hati dan pikiranku mulai kacau. Aku sudah punya seseorang tapi aku memikirkan orang lain. Daripada aku menyakiti hati orang lain, aku memutuskan untuk berpisah. Dan lama kelamaan rasaku untuk Bayu pun perlahan mulai hilang. Aku jarang melihat Bayu di sekolah. Kalaupun bertemu hanya bertegur sapa. Aku mulai berpikir, mungkin ini rasa yang numpang lewat saja.

Aku tidak pernah bertemu Bayu lagi semenjak kelulusan SMA. Dia kuliah di Jogja dan aku kuliah di Bandung. Dia masih dengan kekasih lamanya dan aku sendiri. Karena teknologi yang sudah canggih, kita hanya berbincang sedikit di media sosial. Sesekali membicarakan hobi kita yang kebetulan sama dan membicarakan hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting.

Sampai suatu hari, Bayu membuat jantungku berdebar lagi. Tiba-tiba ada chat dari Bayu.
“Lis, besok ada pameran seni ya di Bandung?”
“Iya, Bay. Aku mau ke sana besok sama Sandra. Kenapa, Bay?”
“Kabar-kabari ya besok, kali aja bisa ketemu.”
“Lho? Kamu di Bandung?”
“Iya, nih. Kabarin lho ya.”
Tiba-tiba ada yang aneh. Perasaan aku aneh. Ah cuma ketemu biasa kok, pikirku.

Hari itu hujan. Tempat pameran itu crowded bukan main. Kayaknya sih ga mungkin bakal ketemu sama Bayu, ucapku dalam hati. Tapi aku tetap kasih kabar ke Bayu. Aku pergi sama Sandra. Dia sahabat aku dari SMA. Dia juga tahu tentang perasaan aku ke Bayu.

“Mana Bayu, Lis? Jadi ketemu ga?”
“Belum dibalas. Ga ketemu juga ga apa-apa sih.”
“Masa? Tapi kok mukanya harap-harap cemas gitu?”
“Apa sih, Sandra. Biasa aja kok.”
Satu notifikasi masuk, dari Bayu. “Di mana?” Kenapa jantung aku jadi berdebar lagi? Kenapa perasaan aneh ini muncul lagi? Kenapa aku berharap bisa lihat dia lagi?

Akhirnya aku ketemu dia lagi. Setelah sekian lama, aku bisa lihat wajah itu lagi. Masih sama kayak dulu, ga berubah.
“Tumben nih ngajak ketemu…” kataku basa-basi.
Mata kita bertemu. Tuhan, kenapa tiba-tiba ada yang mengganjal. Aku gak percaya pada cinta pada pandangan pertama, tapi dari mata turun ke hati sepertinya ada. Dan itu yang aku rasakan sekarang.
“Silahturahmi dong, sebagai teman. Nanti dikiranya sombong.”
Ya, teman. Aku harus menggaris-bawahi kata itu. Dari dulu dia selalu menganggap aku teman dan ga lebih. Walaupun dia orang yang selalu ada waktu itu, tapi dia cuma menganggap aku teman. Aku berusaha meyakinkan hati aku. Tapi tetap saja masih ragu.

Semenjak pertemuan itu, hatiku mulai kacau. Kenapa? Apa aku benar suka sama dia? Aku tersadar dari lamunan karena ada telepon masuk. Bayu?
“Halo, Bay.”
“Halo, Lis. Sibuk ga?”
“Engga, kenapa emangnya?”
“Ya ga apa-apa, mau ganggu aja. Ngobrol gitu.”
Selama telepon itu berlangsung, senyumku terus merekah. Pembicaraan yang sebenarnya tidak penting. Tapi tidak juga membuat kita bosan. Tapi tidak ada juga pembahasan tentang perasaan. Tapi yang aku tahu, dia juga lagi sendiri. Secercah harapan muncul, walaupun aku masih ragu.

Kegiatan telepon itu masih terus berlanjut. Sampai akhirnya aku cerita pada Sandra.
“Tapi kalian tuh cocok lho. Udah lama ga ketemu, tapi masih asik aja ngobrolnya. Aku doain kalian jodoh deh.”
“Tapi kok aku ga yakin ya?”
“Ngapain juga dia nelepon hampir setiap minggu?” tanya Sandra menyelidik.
“Ya, ga ada kerjaan kali.”
“Ga ada kerjaan tapi ngapain pakai minta main ke rumah segala. Ga ada kerjaan tapi ngapain sampai main piano via telepon segala. Ajaib banget.”
Iya, ajaib. Aku sendiripun bingung sama sikap dia. Aku pun ragu dia menaruh perasaan yang sama kayak apa yang aku rasain. Karena dari awal dia selalu bilang, aku temannya. Sampai pada suatu waktu, dia memperjelas segalanya.

“Eh, Lis. Aku nelepon gini cuma pengen ngobrol ya, sharing, bukan buat baper-baperan. Takutnya kamu salah paham.”
Iya. Aku tahu. Memang dari awal, aku hanya teman buat dia. Tapi kenapa kata teman begitu menyakitkan? Kenapa seperti ada harapan tapi bukan? Harusnya aku tidak bertemu dia di pameran itu. Kalau waktu itu aku tidak bertemu dia, mungkin rasanya akan beda. Mungkin perasaan ini tidak akan kembali muncul. Tapi takdir berkata lain.

Kegiatan telepon itu masih berlangsung. Tapi semakin hari, aku malah semakin tersiksa. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus jujur? Tapi apa pendapatnya nanti? Bagaimana kalau dia malah menjauh? Di satu sisi aku ingin perasaanku lega, tapi di sisi lain aku takut kehilangan dia. Tidak, aku harus menyatakan ini. Aku tahu dia orang yang terbuka dalam segala hal. Dan aku harap dia mengerti.

Niatku sudah bulat untuk menyatakan. Bagaimana pendapatnya nanti, aku pasrah. Aku tidak bisa menyimpan ini sendirian. Aku ingin terbebas dari bayangan Bayu. Tapi mengumpulkan nyali itu tidak mudah. Sempat terpikir dalam benakku, untuk apa aku menyatakan? Aku sudah tahu kejelasannya. Tapi rasanya seakan percuma. Dia harus tahu apa yang aku rasakan.

“Bayu, sibuk?”
“Engga, kenapa? Kesepian ya?”
“Engga juga kok. Eh, Bay, aku mau nanya sesuatu deh.”
“Nanya apa?” jawab Bayu.
“Menurut kamu, kalau perempuan menyatakan cinta duluan gimana sih?”
“Bagus, sih. Keren.”
“Beneran?”
“Iya. Nih, umur kan ga ada yang tahu. Kalau sekarang bisa, kenapa ga bilang aja. Ga rugi kok.” Mendengar jawaban positif Bayu, aku jadi mantap untuk berteus terang.

“Aku mau cerita nih. Sebenarnya aku lagi suka sama orang. Tapi orang itu cuma anggap aku sebagai teman aja. Aku ga berharap perasaan aku bakal dibalas sama dia, tapi aku ingin bilang sama dia supaya hati aku lega.”
“Siapa, Lis? Kenapa kamu masih suka sama orang itu kalau cuma dianggap teman?”
“Aku juga bingung. Suka itu tidak beralasan kan? Ada yang menarik aja dari dia.”
“Suka itu hak setiap orang kok. Bilang aja, Lis. Aku dukung kok.”

Dan akhirnya saat itu tiba.
“Bay, kalau yang dari tadi aku omongin itu orangnya kamu, gimana?”
Sunyi, untuk beberapa saat. Bayu tidak langsung menjawab. Dan aku yakin dia pasti kaget. Jantungku berdebar begitu keras sampai terdengar ke telinga.

“Dari kapan, Lis? Apa karena aku nelepon ganggu kamu?”
“Bukan, Bay. Aku juga baru sadar, aku suka sama kamu sudah dari dulu. Aku ragu sama perasaan ini, mungkin dengan bilang langsung hati aku bakal lega.”
“Aku minta maaf, Lis. Kalau aku kayak kasih harapan buat kamu. Sekarang kita jaga perasaan kita masing-masing ya.”

Dan kegiatan telepon itu masih terus berlanjut.

Cerpen Karangan: Diarti K. Sutanto
Facebook: www.facebook.com/diartikusumadewi

Cerpen Teman merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Tak Sampai

Oleh:
“Woy! Lagi ngapain lo?” aku terkejut dengan kedatangan Sari di belakang dengan mengagetkanku. Aku sontak langsung teriak, karena hal itu sudah terbiasa jika ada suara yang sedikit keras aku

Antara Cinta dan Persahabatan

Oleh:
Namaku Dellia Salshabilla Putri, aku kerap disapa Shalsa. Aku duduk di bangku kelas 3 SMP. Aku mempunyai sahabat, dia bernama Aldina Larasari yang kerap disapa Laras. Kami sudah bersahabat

Gara Gara Never Diet

Oleh:
Kutatap seorang pria yang baru kemarin bangkunya bersebelahan dengan bangkuku. Namun ia sama sekali tidak merespon dengan menatapku balik. “Rey… kamu tuh ya.. kapan dietnya? Makan nasi aja bisa

Diary Ku (Part 1)

Oleh:
Aku adalah sebagian orang yang menginginkan dan mengharapkan bisa mendapatkan cinta sejati. Dari segelintir orang yang mencari cinta mereka, berusaha mendapatkan cinta sejati, tetapi aku hanya membiarkan semua itu

Fatah Kafah Cinta

Oleh:
Terdengar suara engsel pintu saat seseorang memasukinya. Ruangan yang banyak mengenang akan sebuah perjuangan yang tak berarti bagi mereka. Yah.. kemenangan yang selalu datang hanya teranggap sebagai sebuah debu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *