Teman Bejatku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Penyesalan, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 6 July 2015

Sebenarnya aku muak melihat ulah mereka. Merok*k, pacaran, berkata kotor, hingga balap liar. Namun tanpa mereka, aku sepertinya tidak punya teman lagi. Aku memang bukan orang baru di daerah ini. Sudah banyak juga orang-orang sebayaku yang aku kenal. Tapi entah kenapa aku masih saja dekat dengan teman-teman bejatku.

Namaku Rio, dan sekarang Aku kelas 3 SMP. Mungkin normalnya anak seusiaku harusnya fokus ke Ujian Nasional. Namun 4 teman bejatku ini tak memerdulikan hal itu. Tak ada masa depan di dalam pikiran mereka. Mereka bukan dari keluarga Broken Home. Mungkin cuma karena kurang mendapat kasih sayang dari orangtuanya. Pantas saja, karena di antara mereka hanya akulah yang anak tunggal.
“Uhuk… uhuk… Woy, kalo ngrok*k jangan diadepin dong!” bentaku pada Resa yang asyik menyemburkan asap hitam dari hidungnya. Sambil memegang sebatang rok*k Djarum dia menatapku dengan tajam.
“Yaelah, laki-laki kok gak ngrok*k. Banci bro.” Begitulah ejeknya. Aku memang bukan perok*k. Meskipun kumpulanku perok*k, tapi aku tak berani menyentuh batang racun itu. Ayahku saja tidak merok*k, kenapa Aku harus merok*k?
Di warung ini Aku bisa nongkrong bareng Resa, Anton, Tian dan Adi. Tak seperti biasanya, hari ini Adi tidak ada disini. Sudah Aku SMS berkali-kali, namun tanpa balasan. Mungkin dia tidak punya pulsa. Mau gimana lagi? Setiap hari uangnya dia habiskan untuk membeli 3 batang rok*k. Pantas saja HPnya sering hampa pulsa.
“Adi kemana bro? Kok belum nongol?” Celetuk Anton sambil menghisap rok*k yang sama dengan Resa.
“Palingan masih ngebo, ini kan masih jam 8. Biasanya dia kesini jam setengah 9 kan.” Jawab Tian sambil otak-atik motornya. Tian memang paling hobi sama motor. Meskipun dia agak gendut, tapi dia joki balap liar yang sudah banyak dikenal joki di kota ini. Dia sering menang taruhan. Masuk kamar tahan hingga masuk kamar besuk pernah dia alami. Namun tak ada yang membuatnya kapok.
Lama kami berdebat, tak terasa sudah jam 11 siang. Karena ini hari Jum’at, aku segera pulang untuk mandi dan ke masjid untuk menunaikan ibadah sholat Jum’at. Tapi seperti biasa, teman-teman masih nongkrong di warung itu. Namun hingga saat ini si Adi belum nongol juga. Ah.. Sudahlah! kenapa aku harus memikirkan hal ini? Lebih baik ku sempurnakan ibadahku dulu pada Allah.

Liburan semester ini cuma aku habiskan dengan kumpul bareng teman-teman bejatku itu. Kalau mereka pada beli rok*k, aku hanya membeli jajanan, gorengan, dan es plastik saja. Tapi sudah 5 hari ini Adi tidak ikut nongkrong bareng kami. Ternyata selama ini Adi dirawat di puskesmas desa kami. Kata Resa si Adi terkena penyakit liver. Entah apa penyakit liver itu, aku kurang tahu. Resa, Anton, dan Tian juga tak tahu. Kabar ini berhembus dari tetangga si Adi. Setahuku liver ini sejenis penyakit hati. Tapi Resa bilang itu penyakit jantung. Kami tidak tahu pasti. Yang jelas nanti sore kami berencana untuk menjenguk Adi.

Gelap dan terang. Ini pertama kalinya aku masuk rumah sakit. Sepertinya tempat ini kurang penerangan. Bukan kurang, tapi lampu-lampu disini kurang tertata rapi, sehingga tempat ini terkesan remang-remang. Anton tidak bisa ikut kali ini katanya ada pertandingan futsal hari ini. Akhirnya bersama Resa dan Tian kutelusuri lorong-lorong puskesmas ini. Mungkin ini puskesmas. Tetapi tempat ini cukup besar untuk menampung kurang lebih 500 spesies jenis Tian.

Akhirnya kutemukan ruang Cempaka Putih. Kami mulai beranjak masuk ke dalam dan langsung disuguhi pemandangan bale yang kosong. Memang di setiap kamar terdapat 2 buah bale atau ranjang. Dan ternyata Adi berada di bale di sebelah yang tertutup tirai.
“Assalamu’alaikum,” Tian mengucapkan salam terlebih dahulu. Dalam pikiranku aku agak kagum. Ternyata dia bisa mengucapkan salam juga. Aku kira dia hanya bisa berkata kotor saja.
“wa’alaikumussalam… Wah, Rio, Resa, Tian. Itu lho teman-temanmu datang.” Begitulah sambut Ibu Adi ketika kami datang. Alangkah bahagianya Ibunya Adi ketika kami datang. Kami memang tak memberi dengan kata lain kami datang hanya sekedar untuk menjenguk dan mendo’akannya agar lekas sembuh.
Sungguh mataku terbelalak melihat kondisi Adi yang lemah dan ada infus di tangannya. Antara tak tega dan benci melihatnya. Aku merasa iba melihatnya. Seperti tulang terbungkus kulit. Benar-benar kurus seperti mayat yang bisa tersenyum ke arah kami. Rambutnya yang gondrong dan mukanya yang kotor. Kami pun duduk di bawah ranjang Adi bersama ibunya. Ibunya mulai menceritakan keadaannya kepada kami.
Katanya Jum’at pagi setelah bangun tidur Adi mengeluh dadanya sakit. Karena waktu itu ayahnya di sawah, terpaksa ibunya memboncengkan Adi ke puskesmas. Ibunya bercerita sambil menangis. Ibu mana yang tega melihat anaknya sakit. Seburuk-buruknya anak, pasti Ibunya tetap menyayanginya.

Ibunya melanjutkan ceritanya. Kata dokter Adi mengidap penyakit liver. Hatinya terkena penyakit karena terlalu banyak menghisap batang racun. Bayangkan saja, tiga batang perhari. Berarti satu bulan dia menghabiskan 90 batang rok*k yang mengandung racun. Betapa bodohnya Adi yang merusak masa depannya sendiri.
Setelah Ibunya bercerita banyak, kami pun berdiri menghampiri Adi. Kami mendekati Adi dengan wajah santai, kemudian Resa memulai pembicaraan.
“Bagaimana kabarmu, Di?”
“Yah… yang seperti Ibuku bilang tadi.” Adi menjawab lemas tetapi tetap tersenyum.
“Ayo cepat sembuh Bro, terus kita balapan lagi.” Lalu kami menjitak kepala Tian. Tian memang kurang ajar. Mungkin dia memang mencoba menghibur. Tapi itu keterlaluan menurutku. Aku saja yang membenci Adi tidak seterus terang itu.
“Bro…” Ujar Adi mencegah kegaduhan kami, kami pun terhentak melihat ke arahnya.
“Maafin semua salahku ya.” Lanjut Adi sambil tersenyum manis. Benar-benar itu senyum termanis yang pernah dilemparkannya kepadaku. Sampai-sampai mataku berkaca-kaca. Namun ini bukan saat terakhir aku melihatnya. Aku yakin, dia masih kelihatan segar bugar. Kami hanya bisa mengucapkan “Ya” dan “Tidak apa-apa”, kemudian Adi melanjutkan perkataannya.
“Selamat untuk kalian teman-temanku. Kalian masih diberi kesehatan dan umur panjang. Tidak sepertiku.”
“Jangan berkata seperti itu Di, kamu pasti sembuh kok,” Ujar Resa seraya tersenyum. Matanya juga berkaca-kaca sama sepertiku. Sesekali dia mengalihkan pandangan ke Ibunya Adi. Ternyata Ibu Adi sudah tidak ada di ruangan tempat Adi dirawat. Mungkin ke kamar mandi.
“Kalau saja aku dapat mengulang waktu, aku tak akan berani menyentuh rok*k. Seperti Rio. Aku kagum denganmu yo.” Aku kaget dan juga tersenyum. Ternyata Adi kagum denganku. Aku tak menyangka. Ternyata dalam penyesalannya karena rok*k, dia memikirkan betapa beruntungnya aku. “Subanallah” “Alhamdulillah” aku benar-benar bersyukur. Ternyata inilah hikmah dibalik hinaan sebagai banci yang tidak berani merok*k. Kini aku merasa beruntung di antara teman-temanku.
“Kalau aku jadi kalian, aku pasti berubah. Aku tak akan maksiat, tak akan merok*k, rajin sholat. Tapi apa daya sekarang.” Lanjut Adi dengan serius.

Beberapa menit berlalu, aku pulang bersama teman-temanku. Tak kusangka ternyata Tian memberikan amplop kepada Ibunya Adi. Anehnya dia bilang itu dari kami. Aku bertanya kepadanya,
“Hey, dari mana kamu dapat uang itu?”
“Semalam menang lagi bro,” Jawabnya tanpa dosa.
“Astaghfirullah. Hey, itu uang haram. Sama saja kau membunuh Adi. Dasar bodoh!”
“Bajingan! Dari pada kau tak memberi apapun!” bantah Tian kepadaku.
“Terserah apa katamu! Aku muak melihatmu!” Teriaku marah pada Tian. Resa hanya diam saja. Kemudian aku pergi meninggalkan mereka berdua. Dan aku pun pulang ke rumah.

Dingin masih kurasakan. Mataku masih terpejam. Namun ragaku sudah mulai sadar. Aku terbangun karena mendengar suara dari speaker masjid. Memang tak jelas kedengarannya karena aku masih setengah sadar hanya mendengar sayup-sayup tak jelas. Tiba-tiba Ibuku menghampiriku.
“Nak, itu lho Adi meninggal dunia.”
“Haa? Innalillahi Wainna Illaihi Roji’un.” Ucapku terkejut mendengar apa yang di katakan Ibuku.
Aku kembali bersandar di ranjang tempat tidurku mendapati tak kepercayaanku bahwa Adi telah tiada di dunia ini. Aku menutupi wajahku dengan bantal. Termenung aku saat itu. Tak ku sangka kemarin adalah hari terakhir aku berjumpa dengannya.
Aku tak kuasa menahan air mata, meratapi kenyataan bahwa Adi telah tiada. Ia yang biasanya hidup, tapi kini ia telah mati. Sungguh menyesal pasti dirinya. Sungguh aku adalah orang yang beruntung karena jauh dari rok*k.

Cerpen Karangan: M N Sholachuddin
Facebook: facebook.com/www.colah.co.cc
Twitter: @ColahKamila

Cerpen Teman Bejatku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


For Your Best, My Bestfriend

Oleh:
Gue Dio. Gue punya sahabat namanya Ryan. Dia sebenarnya baik, cuma kadang bikin gue kesel. Dia emosional, pemarah, dan egois. Kalo gak sesuai sama yang dimaksud, dia bakal marah.

Kamu

Oleh:
“Kenapa sih?! Cari ribut mulu deh!” Teriakku pada sesosok pria yang ada di depanku. “Kok saya yang disalahin? Kan kamu duluan yang nuduh saya!” Timpalnya tak mau kalah. “Kamu

Sahabat Kecilku

Oleh:
Matahari siang ini sangat terik. Keringat bercucuran bagaikan hujan yang turun dengan begitu derasnya. Tepat pukul 2 siang, aku pulang sekolah. Aktivitasku usai sekolah adalah ganti baju lalu bergegas

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *