Teman Sejati Takkan Terganti

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 28 July 2013

Namaku Setya, aku sekolah di salah satu SMK negeri di kota Malang Jatim, sama seperti teman-temanku yang lain. Aku berumur 16 tahun. Tentnya aku juga memiliki teman, sahabat, dan juga pernah merasakan indahnya cinta. Namun, dulu kehidupanku tidaklah begini. Ketika aku masih SD termasuk kedalam anak yang sangat ceria. Namun keceriaanku saat itu hanyalah sebatas kesenangan yang kulakukan hari ini, dan takkan pernah tahu apa yang akan terjadi / kulakukan esok hari. Keceriaan yang tak mengenal apa arti pertemanan sebenarnya. Keceriaan yang tak mengenal apa arti dari persahabatan. Bahkan, keceriaan itu juga tak mengenal apa arti cinta.

Menurutku, teman saat itu hanyalah orang lain yang berada di sekitar kita yang ditakdirkan oleh Tuhan bermain dan belajar bersama kita. Kata persahabatan pun sangat mudah terucap pada teman sepermainanku. Dan lucunya lagi, yang kutahu tentang cinta saat itu adalah teman lawan jenis yang cantik dan termasuk teman dekatku. Hanya itu yang kutahu.

Namun itu ceritaku saat SD, kehidupan di SMP jelaslah sudah lain lagi ceritanya. Bisa dibilang saat itu adalah masa-masa kenakalanku yang sedang memuncak. Berbagai kenakalan aku lakukan, mulai dari ketagihan game online, pulang larut malam, bahkan sering berbohong kepada orang tua. Namun sifat burukku itu bukannya tanpa sebab, itu disebabkan karena ketika aku kelas 1 SMP. Aku dimusuhi oleh teman-temanku yang lain. Ya, bisa dibilang agak berandalan sih mereka. Tapi sudah lama kumaafkan mereka.

Hari demi hari kemarahan teman-temanku kepadaku belum juga surut. Sedikit demi sedikit, aku mulai tersingkir dan dikucilkan dari kelas. Keadaan itulah yang membuatku untuk mencari teman lain. Untunglah, saat itu Ryan, Zabbar, Dimas masih mau berteman denganku. Mereka juga cukup pendiam seperti aku, namun nasib mereka lebih beruntung karena keberadaan mereka di kelas masih cukup bersinar. Oh iya, mereka ini juga seorang gamer dan penggila gadget. Mulai dari android, BB (BlackBerry), iphone, serta komputer adalah pegangan mereka sehari-hari. Sementara game adalah tontonan wajib untuk mereka.

Apalagi temanku yang bernama Dimas, yang kukenal dia adalah gamer hebat. Semua game dari yang offline dan online mampu dia kuasai dengan baik. Ia juga baik dan berkecukupan (berduit). Itu juga merupakan salah satu faktor kenapa aku berteman dengan mereka. Ya, bisa dibilang aku termasuk matre. Dan tanpa terasa, perlahan namun pasti aku juga terpengaruh dengan kehidupan mereka. Aku mulai mencintai gadget dan ketagihan game terutama game online.
Kegiatan harianku setiap pulang sekolah adalah pergi bermain ke warnet untuk bermain game online, ataupun bermain ke rumah temanku hingga larut malam. Tanpa memperdulikan tugas-tugas ataupun belajar untuk ulangan. Aku hanya mengulang hal-hal tidak berguna setiap harinya. Yang ada dipikiranku hanyalah cara untuk mempertahankan pertemananku dengan mereka hingga ikut tenggelam dalam dunia modernisasi. Hingga pertemanan yang tak tuluspun harus berpisah, kami berempat telah lulus dari sekolah SMP dan melanjutkan dengan tujuan yang berbeda-beda.

Dimas dan Zabbar memilih untuk masuk ke SMKN 6 Malang dan mengambil jurusan RPL dan bangunan. Dan Ryan lebih memilih untuk masuk SMAN 9 Malang dan mengambil jurusan IPA. Sementara aku sendiri, aku memilih untuk melangkahkan kaki ke SMKN 5 Malang dan mengambil jurusan yang sama dengan Dimas. Dan akhirnya aku terpilih untuk masuk ke kelas favorit yaitu X RPL 1. Namun aku tidak terlalu memperdulikan hal itu, karena dipikiranku belum tentu kelas favorit memiliki murid yang baik. Dan yang terpenting bagiku saat itulah, aku dibelikan laptop baru karena syarat masuk jurusan RPL adalah memiliki laptop.

Di hari pertama masuk sekolah, aku sangat cuek. Selain karena belum mengenal teman untuk diajak bicara, aku juga masih sangat asyik dengan laptop baruku. Hari-hari kulewati tanpa terlalu memperdulikan teman baruku. Awalnya aku anggap biasa. Namun kelamaan, aku bosan dengan game yang selama ini telah kumainkan. Mulai saat itu, aku mulai peduli dengan teman baruku. Awalnya aku akrab dengan mereka bukan karena aku ingin menjadi temannya. Tapi tujuanku mendekati mereka tidak lain adalah untuk meminta game yang mereka mainkan.
Untuk mendekati mereka pun tidak susah, karena kebiasaan mereka yang sudah bisa ditebak. Yaitu mereka selalu berkumpul di area wifi sebelah koperasi sebelah sekolah. Disitulah biasanya para gamer dari penjuru sekolah berkumpul. Jadi agak alay nih bahasanya hehe, gakpapa dah lanjut aja. Hari demi hari aku mulai mendapat game baru. Semakin banyak game kudapat, semakin banyak pula aku mengenal para gamer dengan watak dan berbagai macam latar belakang.
Setelah game-game yang kuinginkan telah kudapat, komunikasiku dengan mereka sudah mulai berkurang. Bahkan kini aku jarang untuk bermain di area wifi, aku lebih memilih untuk langsung pulang dan memainkan game-game yang seru. Namun suatu hari, ada suatu hal yang memaksaku untuk tidak pulang terlalu cepat. Saat itu hubunganku dengan orangtua sedang kurang baik. Jadi aku memutuskan untuk menenangkan pikiran dengan bermain game di area wifi terlebih dahulu.

Segera kubuka laptop dan menyambungkan koneksi internet lalu membuka game online kesayanganku. Namun ada satu quest (misi yang harus dilakukan oleh gamer untuk bisa naik ke level selanjutnya) yang tidak dapat kuselesaikan. Berkali-kali kucoba, namun tetap saja gagal. Rasanya rambut di kepala ini sudah mulai membotak gara-gara tak henti-hentinya kugaruk. Lalu sebuah suara mengagetkanku.

“Ngapain Set? Sulit ya?” tanya suara yang tidak asing bagiku. Dan ternyata suara itu datang dari teman sekelasku, Michael namanya.
“Iya nih Kel, dari tadi gua nyoba gak bisa-bisa” jawabku agak kesal.
“Itu caranya gampang kok, lo lawan bosnya aja langsung. Anak buahnya biarin aja” jawab Michael menjelaskan.
“Owh gitu ya, bentar deh gua coba dulu”
Setelah kucoba trick dari Michael, akupun berhasil. Senang juga rasanya.
“Tuhkan? Apa aku bilang? Michael gitu loh. Apa yang gak bisa?” katanya mencoba menyombongkan diri.
“Kamu hanya beruntung saja, kamu lebih dulu memainkan game ini!” kataku membela diri.
“Haha, santai aja kali. Cuma bercanda kok. Tapi ngomong-ngomong kamu hebat juga ya. Mau gabung ke guildku?” katanya menawariku.
Oh iya, bagi yang belum tahu apa itu guild, guild adalah kumpulan pemain dalam game yang bekerja sama dan biasanya memiliki 1 leader / ketua dan banyak member / anggota.
Tawarannya memang sangat menggiurkan, betapa tidak. Aku yang masih anak baru di dunia game, sudah ditawari untuk masuk guild yang cukup disegani.
“Bolehlah” Jawabku sambil tersenyum sumringah.

Semenjak hari itu, hari-hariku mulai berubah. Michael sangat peduli kepadaku, seringkali ia mentraktirku ketika uang jajanku sedang surut. Ia pun memulai mengenalkanku pada kawan-kawanku sekelas yang lain, yang sebelumnya tak pernah kusapa sedikitpun. Dia juga mengajariku ketika ada quest yang tidak bisa. Ia juga sangat baik padaku. Dan karena sifatnya itu, aku mulai merasakan kesenangan, kebahagiaan, dan juga kegembiraan yang tidak kuperoleh dari teman-temanku yang dulu.

Mungkin karena dulu aku berteman dengan mereka hanya karena tertarik dengan gadget dan uang mereka. Namun kini aku merasakan dan mengerti yang namanya kebaikan seorang teman sejati. Aku merasakan masa remajaku menjadi lebih berwarna, lebih menyenangkan, lebih menggembirakan. Dan itu semua berkat temanku yang selama ini mau menjadi teman terbaikku. Terima kasih kawan-kawanku kelas X RPL 1, terutama Michael yang sudah kuanggap sahabat. Berkat kalian semua aku dapat merasakan senang, susah, sedih bersama-sama. Dan untuk teman lamaku Ryan yang kini bersekolah di SMAN 9 Malang, dan juga Zabbar dan Dimas yang di SMKN 6 Malang, aku minta maaf karena dulu aku setiap hari ke rumah kalian, bermain dengan kalian hanya karena gadget dan kekayaan kalian. Namun aku berjanji, suatu saat nanti aku akan menyempatkan diri untuk main ke rumah kalian bukan lagi karena kekayaan, namun karena teman sejati.

— END —

Cerpen Karangan: Sugeng Dwi
Blog: awanirukoite.blogspot.com
Facebook: Frank kiberline

Nama : Sugeng Dwi Setiawan
Facebook : Frank Kiberline
TTL : Kediri 05 Oktober 1997
Cerpen ini saya angkat dari sebuah film pendek dari youtube. Jadi mungkin jika sudah ada yang post. Maafkan saya. Dan berhubung saya masih pemula, ini hanya iseng. Dan jika ada kekurangan mohon bantuannya lewat facebook. Terima Kasih.

Cerpen Teman Sejati Takkan Terganti merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tengkleng Solo

Oleh:
“Yakin tidak ada yang tertinggal,” Tanya Bang Rey ketika aku memasukkan satu buku kecil ke dalam saku tas. Aku menggeleng, mengangkat tas rangsel dan menggendongnya di punggung. Penerbangan masih

Salah Paham

Oleh:
Hari ke dua MOS smp aku datang terlambat tapi untungnya aku tidak dimarahi oleh kakak mosnya. Karena aku tidak tau aku masuk ke kelompok apa aku langsung bergabung dengan

Kokohnya Persahabatan

Oleh:
Santi dan Diska adalah teman sejak duduk di kelas 10 SMA. Mereka berdua selalu bersama-sama, bahkan hobi mereka pun sama, dan akhirnya bersahabat. Saking akrabnya persahabatan mereka, ada salah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *