Tempat Pulang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 19 December 2015

Chesta telah sampai di cafe yang dahulu menjadi tempat favoritnya dan Abhy. 5 tahun berpisah dengan Abhy, membuat Chesta ingin sekali meluapkan rasa rindunya dengan Abhy.
“Greentea Late ya, mas” Ucap Chesta pada barista yang menghampirinya. Lagi. Lagi dan Lagi kecanduannya pada greentea tidak pernah hilang.
“Atas nama siapa, mbak?” Tanya barista dengan senyum ramahnya.
“CheChe mas” Sahut seseorang, yang tak lain adalah, Abhy. Barista itu pergi meninggalkan mereka berdua.

“Jakarta masih macet, Ab?” Tanya Chesta kepada Abhy, ya. Abhy telat 5 menit menemui Chesta.
“Bukannya, New york lebih macet ya. Haha” Tawa Abhy mengegelegar di cafe yang sedang sepi ini.
“Gue kangen lo dan Jakarta” Chesta menopang dagu dengan kedua tangannya, matanya tak henti-hentinya memandangi Abhy. Pulangnya Chesta dari New york memang karena kuliahnya yang telah usai, tapi, Abhy adalah salah satu alasan ia begitu merindukan Jakarta.
“Gue juga kangen New york.” Setelah Abhy mengucapkan itu, ada jeda yang begitu panjang. Sampai akhirnya Chesta menyadarinya.

“Sialan lo, bukannya bilang ‘Gue juga kangen lo’ ini malah bilang gitu” Chesta menampakkan wajah kesalnya, membuat Abhy tertawa.
“Greentea Late-nya mbak” Suara barista itu menghentikan tawa Abhy.
“Terima kasih, mas” Balas Chesta ramah sekali. Ia meneguk greentea nya.
“Che” Panggil Abhy dengan lembut.
“Apa?” Balas Chesta, kini pandangannya hanya fokus pada wajah Abhy yang berubah menjadi murung.
“Lusa gue bakalan tunangan, dilanjut dengan pernikahan, seminggu setelah tunangan” Jelas Abhy tuntas, Chesta yang mendengar itu sontak kaget, ia tidak percaya sama sekali.

Pernyataan yang dilontarkan Abhy, membangunkan Chesta dari semua mimpi-mimpinya, ia harus menerima, jika, pria yang di hadapannya kini tidak-akan-pernah-dapat ia miliki. Chesta menyampingkan ego-nya, bagaimanapun kebahagian Abhy akan tetap segala-galanya bagi Chesta, meskipun bukan karenanya.
“Oh… A very good news” Respon Chesta yang menyugguhkan senyumnya, Abhy pun membalas senyumnya.
“Lo mau pesen apa? Biar gue panggilin baristanya” Chesta berusaha mencairkan suasana agar tidak menjadi canggung.
“Capucinno sama red velvet ya, mas. Atas nama CheChe” Ucap Chesta kepada barista sambil tersenyum.

Hujan kembali mengguyur Ibukota, buliran air hujan terasa begitu menyesakkan bagi Chesta. Membenamkan luka hatinya dengan air mata yang diam-diam semakin membuat luka itu terasa, pedih, panas. “Che, let’s talks about you. Gimana lo sama pasangan lo?” Abhy mengutarakan pertanyaannya dengan sedikit ragu.
“Yap, Gue punya pacar tapi sekarang udah enggak” Chesta menampakkan air muka sedihnya, Abhy yang melihat itu langsung menggenggam tangan Chesta.

“Lo pasti sedih banget ya, Che? Don’t worry. I’m with you, kok” Ucap Abhy.
Perkataan yang dilontarkan Abhy membuat luka di hatinya semakin terkuak, bagaimana bisa Abhy bersama Chesta jika saat ini saja Abhy bersama orang lain, bukan dengannya.
“Ya, gue sama dia emang gak akan pernah cocok, buat apa disedihin Ab?” Chesta menarik tangannya dari genggaman Abhy. Seandainya Abhy tahu, Chesta memang tak akan pernah cocok dengan pria manapun karena hatinya selalu untuk Abhy, Pria mana yang mau mencintai wanita yang mencintai pria lain?

“Lo emang gak pernah berubah, Che. Gue suka itu” Abhy tersenyum, manis sekali, namun membuat hati Chesta sakit.
Tak ada yang berubah dari gue, gak ada yang berubah dari lo, yang berubah adalah kita. Tanpa gue mau, waktu dengan jahatnya menunjukkan bahwa lo emang bukan milik gue, batin Chesta.
“Ab, gue kayaknya harus balik nih Nyokap neleponin terus. Kali ini biar gue yang bayar ya, pokoknya lo gak boleh nolak.” Ucap Chesta sambil mengambil uang 50 ribu dua lembar dari dompetnya lalu menaruhnya ke bill cafe itu.
“Okay, hati-hati, darl” Ucap Abhy tersenyum.

Chesta bangkit dari duduknya dan berjalan ke luar cafe ini. Abhy melihat punggung gadis itu semakin jauh dari pandangannya, ia mengacak rambutnya, mengusap wajahnya dengan kasar. Apa perkataan yang ia lontarkan, salah? Pikir Abhy. Hujan semakin deras, pertemuan yang ia nantikan harus berakhir membuat Abhy menjadi sedih. Tak bisakah waktu berjalan dengan lambat? Pikirnya. Abhy terus memenuhi pikirannya dengan pertanyaan-pertanyaan tentang Chesta.

“Loh, tapi bukannya lo mau kerja di Indonesia aja?”
“Gue berubah pikiran, Na. Kayaknya gue lebih betah di New york”
“Jadi sesuatu yang lo kejar di Indonesia, gimana?”
“Dia mau nikah sama yang lain, Anna. Gue harus apa kalau udah kayak gini?”
“Seriously? Oh my god…. Chesta. Gue bilang apa, penantian yang lo jalani malah mengkhianati lo”
“Anna, please. Gue lagi ngomongin kerjaan bukan yang lainnya.”
“Okay, okay miss Chesta. Dua bulan lagi lo balik ke New york dan langsung kerja di perusahaan di sini ya”
“Oke, terima kasih banyak ya”

Chesta mengakhiri pembicaraannya di telepon dengan air mata, dia sudah memutuskan dengan mantap untuk bekerja di New york, meskipun berat setidaknya itu keputusan yang terbaik. Malam semakin larut, yang entah mengapa semakin membuat Chesta mengingat kenangan-kenangannya saat SMA bersama Abhy, mereka begitu dekat layaknya nadi namun akhirnya Chesta pergi ke New york. Pria itu mampu membuat diri Chesta sangat menggilainya. Chesta memandangi langit-langit kamarnya, ia menggambarkan wajah Abhy di sana. Kembali, cairan bening ke luar dari mata bulatnya.

Hari yang tidak pernah ditunggu pun akhirnya datang, yaitu. Pertunangan Abhy dengan Raina.
“Gue pikir lo bakalan sama Chesta, Ab. Eh ternyata jodohnya malah sama Raina” Suara Gara memecahkan lamunan Abhy yang sedari tadi memandang Chesta dari kejauhan. Ia dapat melihat gurat wajah Chesta menampakkan kesedihannya, apa ia menyakitinya?

“Siapa yang tahu takdir bakal ngebawa kita ke kenyataan yang mana, Gar” Sejujurnya, Abhy bukan tidak mencintai Raina, namun. Abhy merasa berbeda, ia merasa tak utuh bersama Raina, seperti yang Abhy bilang tadi, sekeras apapun dia memperjuangkan Chesta, namun jika takdir tetap memandunya ke pelukan Raina. Abhy tak bisa berbuat apa-apa. Abhy menatap mata Chesta saat pandangan mereka bertemu, Abhy melihat ada luka di sana.

“Okay bro, gue harap ini yang terbaik ya” Gara menepuk bahu Abhy seraya pergi meninggalkan Abhy.
Chesta menarik tangan Abhy ke luar dari gedung ini, genggamannya begitu kuat, seakan tak ingin melepaskan pria yang ada di hadapannya kini bersama dengan wanita lain.
“Besok gue bakal balik ke New york, jadi, gue gak bisa dateng ke acara nikahan lo, Ab. Sorry ya, gue temen yang jahat” Ucap Chesta yang masih mengenggam tangan Abhy.

“Gue pikir, lo bakal netap di sini. Tapi, ternyata Jakarta cuma tempat singgahan lo doang” Genggaman Chesta mengendur ketika mendengarkan kalimat Abhy. Berpisah dengan Abhy untuk yang kedua kalinya memang tak mudah, dan tak akan pernah menjadi mudah.
“Okay, Ab. Gue rasa gue harus pergi, buat packing besok. Doa gue, semoga lo selalu bahagia ya” Ucap Chesta, Abhy menarik tubuh Chesta ke dalam pelukannya.
“Let this be a long farewell party, please” Abhy mempererat pelukannya, tangannya mengusap rambut panjang Chesta, sejujurnya Abhy tak ingin kehilangan Chesta untuk kedua kalinya, namun, Abhy mengkhianati semua penantian Chesta. Tak terasa tetes demi setetes air mata Chesta membahasi jas Abhy.

Empat tahun kemudian..
“Abhy?” Sapa Chesta yang melihat Abhy sedang duduk dengan santai sambil mengerjakan pekerjaannya yang menumpuk di salah satu cafe di Bandung.
“Ng… Chesta” Jawab Abhy yang tak percaya melihat wanita di hadapannya kini, Chesta duduk di depan Abhy. Pandangan mereka bertemu.
“Kapan balik dari New york?” Belum sempat Chesta menjawab, Abhy melontarkan pertanyaaannya terus-menerus.

“Denger-denger lo bakalan nikah sama bule di sana ya?” Tanya Abhy, Chesta hanya tersenyum. Lagi dan lagi bagaimana bisa ia mencintai pria yang bukan Abhy.
“Mana istri lo?” Ucap Chesta tanpa peduli dengan perkataan Abhy sebelumnya.
“Istri? Siapa yang nikah? Gue dan Raina memutuskan untuk mengakhiri pertunangan karena gue sama dia gak pernah cinta beneran.” Chesta puas mendengar jawaban Abhy, ia bernapas lega. Setidaknya masih ada celah untuk dirinya.

“Gue juga gak pernah mau nikah, kalau bukan sama lo” Tukas Chesta tanpa ragu. Abhy tersenyum manis sekali.
“Selama ini, kita dipermainkan takdir ya, Che. Siapa sangka, gue dan lo udah mencoba buat berhubungan dengan orang lain, tapi gak pernah bisa. Gravitasi antara gue dan lo yang terlalu kuat, membawa gue ke pelukan lo, lagi” Jelas Abhy, perlahan sekali ia mendaratkan ciumannya ke kening gadisnya.

Cerpen Karangan: Adetia Seftiany
Facebook: www.facebook.com/Adetiaseftiany
A girl with her glasses. Buat yang penasaran sama cerita Chesta dan Abhy waktu SMA, bagi yang punya wattpad, bisa lihat pekerjaan gue di wattpad usernya adtsfny, yang insya Allah bakalan gue publish cerita ChestAbhy. Bagi yang gak punya wattpad bisa add facebook gue usernya Adetia Seftiany. Yang nantinya cerita yang gue publish di wattpad bakalan gue share ke facebook. Salam.

Cerpen Tempat Pulang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Karena Kita Sahabat

Oleh:
“Tya?” Aku menolehkan kepalaku ke arah orang yang memanggilku. Oh, itu Ibuku. “Ada apa, Bu?” Aku menghampirinya, membantunya mencuci piring bekas makan siang kami. “Besok Disa dan Werli kesini.”

Jangan Pernah Merasa Gagal

Oleh:
Aku adalah Leona, seorang yang selalu merasa gagal dalam hal apapun. Aku selalu menatap diriku di depan cermin dan selalu berkata “aku tidak bisa melakukannya”. Hari itu adalah lomba

From First Time

Oleh:
Tak ada matahari untuk siang itu, walaupun masih pukul setengah satu siang cuacanya sangatlah mendung, awan awan hitam yang menutupinya dan mungkin beberapa saat lagi akan menjatuhkan butiran butiran

Sayap Sayap Bento

Oleh:
“Sepertinya aku tidak kuat lagi, Ian.” Tubuhnya yang lunglai jatuh ke tanah. Peluhnya mengalir deras, terik matahari telah membakarnya habis habisan. Berjam jam ia berlari mengitari desa, memacu kakinya

Julita

Oleh:
Dipagi hari, aku ditemani oleh secangkir kopi mocacino. Pandanganku terpaku pada sudut jendela kamarku yang terlihat oleh cahaya matahari pagi, dan diselimuti hawa dingin yang terasa sampai dalam hati.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *