Tengah Semester Delapan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 29 November 2012

Aku sangat mengingat sahabat-sahabatku yang sangat membenciku Cuma karena mantan pujaan hati sahabatku ida memilih untuk meminangku. Apa salah jika aku menjalin hubungan istimewa dengan hendrik, yang dulunya adalah kekasih hati ida, sahabat baikku, toh bahkan hendrik datang padaku setelah satu tahun mereka putus.
“dari awal kita bertemu bahkan sebelum aku mengenal ida, aku sudah sangat suka padamu resi”, ucap hendrik padaku saat pertama kali dia mengutarakan isi hatinya padaku dulu.
“tapi aku gak punya celah untuk masuk ke hati kamu, karena kamu ada yang memiliki waktu itu resi, aku sengaja coba terima tawaranmu mengenal lebih dekat sahabatmu, agar aku bisa mengisi kekosongan hati ini dan berharap agar perasaanku nantinya akan lebih dari apa yang kurasakan padamu”, sambung hendrik waktu itu.
Aku tau hendrik suka padaku dari awal kita kenal, waktu itu adalah awal dimulai mata kuliah pertama saat kami berada pada satu jurusan di universitas dulu. Tapi gak mungkin aku membuka peluang buat hendrik karena aku sangat menyayangi pacarku.
Tiga tahun sudah hendrik tetap menantiku, berharap ada celah untuknya di hatiku, tapi nyatanya penantiannya sia-sia walaupun aku putus sama cowokku, tapi aku lebih memilih jadian sama cowok lain, karena saat itu hendrik masih sama ida, dan ternyata ida sangat menyayangi hendrik, dan berharap hendrik adalah pacar terakhir yang nantinya akan dibawa ke jenjang pernikahan.
Selama tiga tahun itu juga aku menjalani suka dan duka bersama sahabat-sahabatku tya, dilla dan ida tentunya. Kami mengambil jurusan yang sama kecuali ida mengambil jurusan berbeda sendiri, menurut orang-orang kami adalah sahabat yang tak terpisahkan, kemanapun kami selalu bersama, dari mengerjakan tugas, pergi bermain, makan, nginap bareng, piknik bersama, terkadang bahkan kami ngedate pun bersamaan.
Usai perkuliahan kami selalu kumpul dulu di taman kampus, bertegur sapa, beramah-tamah dan bersenda gurau dengan teman-teman lainnya supaya kami tidak dianggap sahabat yang tertutup. Selanjutnya kami mendiskusikan kemana acara selanjutnya, ada waktunya kami jalan-jalan ke mall mencari-cari barang bagus dengan harga terjangkau, atau makan ke sebuah kafe sambil bersenda gurau atau hanya duduk-duduk di taman kota lengkap dengan perbekalan snack beserta minumannya.
Hari-hari selalu kami lalui bersama, bahkan untuk hari libur pun kami menghabiskan waktu bersama, herannya kami gak ada merasa jenuh dengan keadaan yang harus bertemu setiap saat.
Semuanya itu akan tetap kukenang sampai kapanpun karena kenangan gak akan bisa terhapus, yah walaupun aku merasa kesal, kecewa bahkan marah akan sikap sahabat-sahabatku setelah aku dan hendrik jadian.
Dan tepat di liburan semester kemaren ida putus dengan hendrik, aku gak tau pasti kejadiannya karena liburan semester kemaren aku memilih berliburan keluar kota tempat sodaraku, jadi aku gak sempat menghibur ida saat dia lagi sedih, aku yakin ida pasti merasakan sakit yang sangat perih. Dari yang aku dengar katanya belakangan ida dan hendrik lebih sering berantem, hendrik juga jarang berkomunikasi dengan ida, inilah yang membuat ida bosan, jenuh dengan keadaan, sehingga memaksa ida untuk mengucapkan kata putus pada hendrik.
Tepat di semester tujuh aku memilih untuk stop berpacaran dulu karena aku akan fokus pada proposal skripsi ku nantinya, aku memang merencanakan wisuda sarjanaku tahun ini, aku lebih awal dalam pengurusan proposal dibanding para sahabatku yang belum bisa merencanakan proposal mereka karena ada beberapa mata kuliah yang harus mereka ulang kembali akibat nilai yang didapat tidak memuaskan.
Walaupun aku sibuk dengan penelitian-penelitianku untuk proposal nantinya, aku masih selalu menyempatkan diri berkumpul dengan sahabatku, walau sekarang volume aku kumpul berkurang dari biasanya karena kesibukkanku.
Sekarang hendrik dan aku memiliki waktu yang banyak untuk selalu bersamaan, karena hendrik maupun aku harus sering-sering berkunjung ke perpustakaan, selain itu tempat penelitian aku berada tidak jauh dari rumah hendrik, mau tidak mau hendrik harus antar jemput aku.
Hendrik memanfaatkan kondisi ini, dia memberikan perhatian lebih padaku, membuatku merasakan sosok yang beda pada hendrik, yang lama kelamaan menumbuhkan benih-benih suka dalam diriku.
Ujian semester berakhir begitu juga dengan penelitianku, pasti aku akan melewati liburan panjangku tanpa kekasih, tapi aku masih punya sahabatku yang pastinya akan siap mengisi hari-hari liburan kami penuh dengan berbagai kegiatan untuk bersenang-senang.
Tidak seperti yang aku bayangkan liburan kali ini aku disibukkan dengan pengaturan jadwal pertemuanku dengan para sahabat dan jadwal bertemu dengan hendrik, karena ida tidak mau kalau kita kumpul ada hendrik, setiap kali kami ingin berkumpul ida selalu bertanya “kalian ajak hendrik gak”, ucapnya, setiap kali kami mengajak hendrik ida selalu mencari alasan untuk tidak ikut bersama kami, jadi mulai saat ini kami memilih berkumpul tanpa hendrik, sedangkan hendrik tetap ingin selalu bersamaku, jadi aku harus atur jadwal pertemuanku. Ada saatnya aku menolak pertemuanku bersama para sahabat untuk ikut bersama hendrik. Tapi hendrik sendiri lebih memilih jadwal kosongku tanpa sahabat-sahabatku.
Setelah memasuki semester berikutnya sudah semakin sedikit jadwal aku untuk kumpul sama sahabat-sahabatku, karena disemester ini selain ada beberapa mata kuliah yang aku ambil, aku juga disibukkan dengan persiapan skripsiku nantinya. Tapi sahabatku malah beranggapan lain, mereka mengira ada yang aneh dengan hubungan aku dan hendrik, mereka mengira waktuku lebih banyak dihabiskan untuk bersama hendrik, memang aku lebih banyak untuk bersama hendrik, kenapa tidak aku harus sering berkunjung ke perpustakaan begitu juga hendrik, bukannya akan lebih jika barengan kalau seandainya nanti ada yang patut didiskusikan daripada sendiri, lagipula hendrik suka mengantarku ketempat penelitian untuk mengambil data-data yang aku butuhkan.
Makin lama aku yang malah merasa sahabat-sahabatku aneh, karena sepertinya mereka selalu tidak mengikutsertakanku lagi dalam acara-acara yang mereka lakukan dengan beralasankan takut menggangu kesibukkanku. Aku pikir bener juga sih.
Pertengahan semester delapan ini aku lebih disibukkan dengan persiapan skripsiku, aku harus menemui setiap saat pembimbing skripsiku untuk berkonsultasi, bahkan harus berkunjung ke luar kota pada saat mereka berada di luar kota, aku lakukan supaya skripsiku cepat kelar.
Ditengah kesibukkan ini hendrik mengutarakan isi hatinya padaku, yang membuat bertambahnya beban pikiranku lagi. Aku harus mempertimbangkan perasaan sahabatku yang tersakiti, tapi juga harus memahami perasaan hendrik yang sudah lama menungguku dengan setia.
“plis resi, apa kamu gak mau membuka sedikit ruang untukku, sungguh aku gak bisa menggantikan kamu dengan yang lain dihati ini, aku telah menunggu terlalu lama, beri aku kesempatan”, ucap hendrik saat itu
Setelah berpikir selama satu minggu dan menimbang dengan apa yang akan terjadi aku mengatakan ‘ya’ untuk hendrik dengan syarat backstreet dari sahabat-sahabatku, mengingat perasaan ida sahabatku.
Tak berapa lama seperti orang-orang bilang yang namanya bangkai kalau disimpan pasti akan kecium juga baunya, maksudnya ternyata sahabatku tau hubungan baruku bersama hendrik, tya dengan sengaja membuka isi pesan singkat dalam ponselku. Tya dan dilla minta aku menjelaskan semua ini pada ida, mereka juga minta aku memutuskan hubunganku dengan hendrik untuk tetap menjaga hubungan persahabatan kami.
Aku berdiskusi dengan hendrik tentang apa yang telah terjadi antara aku dan para sahabatku itu.
“aku mohon kamu berpikir dengan bijak resi, aku sangat menyayangimu lebih dari apapun, lagian hubungan aku sama ida sudah lama berakhir dan itupun ida yang menginginkannya”,hendrik meminta gar aku tidak meninggalkannya begitu saja
Ditengah kesibukkanku dengan skripsiku aku harus menghadapi masalah bersama sahabat-sahabatku karena aku memilih bertahan dengan hendrik, sahabat-sahabatku memusuhiku, bahkan mereka tidak segan-segan mengataiku didepan orang ramai, mereka mengumpatku, mereka menyebar fitnah kepada teman-teman kampus untuk mengambil simpati, dan agar mereka menjauhiku. Namun, sebaliknya yag terjadi orang-orang kampus malah menaruh simpati terhadapku. Sehingga membuat sahabatku makin marah dan jengkel, sahabatku sangat membenciku, mereka mau hubungan aku dan hendrik berakhir. Sahabatku menerorku hampir setiap hari, mereka memakiku didepan orang ramai, mengirimiku pesan singkat dengan kata-kata kasar. Sangat perih yang kurasa saat itu. Sahabat-sahabatku yang dulunya begitu care terhadapku, berubah drastis sekarang.
Yah syukurnya penyelesaian skripsiku berjalan dengan lancar, keinginanku tercapai untuk meraih title sarjana tahun ini. Namun aku kehilangan sahabatku ditahun itu. Suka dan duka yang kuraih tahun itu. Kenangan bersama kalian akan selalu ada dalam lubuk hatiku.

Cerpen Karangan: Yossi Febriani
Facebook: cie yossi febriany

Cerpen Tengah Semester Delapan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Maafkan Aku Teman

Oleh:
“hey! Ayuk mau berangkat sekolah ga?” Terdengar suara halus seorang gadis yang menghampiri ku. Gadis itu adalah sahabatku ia bernama tyas. “eh elu udah siap? Yauda ayuk!” Aku pun

Sepotong Roti

Oleh:
Langit cerah matahari merangkak naik semakin tinggi. Burung pipit hinggap di pepohonan bersiul menghangatkan hari. Udara segar ku hirup dalam dalam hingga terasanyaman di hati. Apalagi temanku membawa secangkir

Bahagia Hidup Pesantren

Oleh:
(Bel Berbunyi) Pagi menjelang subuh aku telah dibangunkan oleh suara bel yang sangat keras. Bergegas aku menuju kamar mandi untuk cuci muka dan wudhu, setelah itu aku dan kawan-kawanku

Selamat Tinggal Komposer Cilik

Oleh:
Suara alunan musik piano itu membuat Mulan serasa seperti berayun di atas not-not balok yang bertebangan ke udara. Yap, siapa lagi kalau bukan Bitha yang memainkan piano dengan suara

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *