Terima Kasih Karel

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Galau, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 24 January 2014

“Luna udah jadian sama Karel, Nes!” Berulangkali kata-kata itu terus terngiang dalam otakku. Aku masih belum bisa mencerna sepenuhnya kata-kata itu. Semuanya terjadi begitu indah, tiba-tiba saja semua itu berubah 180 derajat menjadi mimpi buruk. Baru seminggu lalu aku merasa begitu dekat dengan Karel, bahkan aku merasa bahwa aku telah berhasil melunakkan kekakuan hati Karel. Karel menjadi jauh lebih ramah dan ia mulai menunjukkan tanda kedekatannya denganku.

Karel berhasil membangkitkan rasa yang selama ini telah aku simpan rapat, ia memberikanku harapan untuk bangkit lagi. Senyumnya, wajahnya, tindak lakunya, kata-katanya dan yang paling aku suka ketika aku menatap matanya. Aku melihat kehangatan terpancar jelas dari tatapan dalamnya itu. Tatapan yang selalu berhasil membuat hati ini bergetar. Tapi untuk saat ini aku melihat kehangatan itu telah sirna dalam tatapan mata Karel, tatapan itu kini telah berubah dengan tatapan yang menusuk. Cahayanya itu telah redup, begitu juga dengan hati dan rasaku ini.

Berulangkali aku harus merasakan apa itu namanya sakit hati. Namun baru kali ini aku benar-benar merasa kehilangan. Entah apa sebabnya, tapi aku merasa Karel begitu berharga, ia sangat pantas untuk diperjuangkan, dan sangat berat untuk dilepas apalagi dilupakan. Walau aku tau saat ini dalam hati Karel telah terisi dengan Luna, namun aku yakin bahwa sempat terselip namaku dalam hatinya. Aku yakin bahwa perhatian yang Karel berikan padaku selama ini bukanlah perhatian terhadap teman, perhatian itu lebih dari teman.

“Nes, ngelamun aja. Awas kesambet lo!” Suara cempreng Fraya membuyarkan lamunanku.
“Eh eh, apaan sih elo itu Fray. Ganggu ketenangan gue aja!” Protesku.
“Udahlah Nes, cowok di bumi ini bukan cuma Karel. Putus satu, tumbuh seribu.” Sahut Tere menyemangatiku.
“Tenang aja Ter, gue udah ikhlas kok. Gue kan strong.” Jawabku yakin.
“Nah itu baru sahabat gue. Udah bel tuh, masuk kelas yuk!” Ajak Fraya.

Pagi ini aku berangkat sekolah dengan suasana hati yang jauh lebih baik daripada kemarin. Namun keceriaanku seketika musnah, ketika aku memasuki gerbang sekolah tanpa sengaja melihat Luna turun dari boncengan motor Karel. Hatiku sakit sekali, tapi aku tau aku tidak punya hak untuk sakit hati. Toh belum tentu Karel peduli denganku.

Aku berjalan gontai menuju kelas, rasanya tenagaku terkuras habis hanya untuk menahan sakit hatiku saat melihat Luna dan Karel begitu mesra. Memang awalnya begitu sakit, tapi aku yakin kalau aku pasti bisa melewati masa-masa sulit ini. Di ujung koridor kedua sahabatku telah menunggu dengan senyum terukir di wajah mereka. Aku tahu mereka mencoba menghiburku setelah mereka tahu aku baru saja melihat Karel dan Luna berangkat sekolah bersama.

“Nes, elo nggak apa-apa kan?” Tanya Fraya cemas.
“Nggak apa-apa kok, cuma sedikit unmood aja.” Jawabku.
“Tapi elo kelihatan pucet banget Nes.” Sahut Tere seraya memegang dahiku.
“Enggak kok, beneran. Udah ah, kalian nggak usah khawatir gitu.” Ucapku berusaha meyakinkan mereka.
“Ya udah deh, tapi kalau ada apa-apa bilang ya Nes.” Tegas Tere.
“Siap bu bos.” Jawabku seraya memberi hormat ke arah Tere.

Dan setelah itu pun kami tertawa bersama, tawa yang menurutku begitu lepas semenjak aku berubah menjadi murung akibat Karel dan Luna berpacaran. Inilah yang membuatku merasa orang paling beruntung karena memiliki sahabat seperti mereka. Mereka selalu mampu merubah suasana hatiku yang tadinya begitu buram menjadi jauh lebih baik lagi.

Dinginnya udara malam terasa begitu menusuk tulang-tulangku. Aroma tanah selepas diguyur hujan seperti ini adalah aroma yang sangat aku suka. Entah karena memiliki banyak kenangan untukku, atau karena sebab yang lain. Tiba-tiba ponselku bergetar tanda adanya pesan masuk membuyarkan lamunanku. Aku melihat nama Karel muncul di layar ponsel. Ada rasa kaget bercampur senang muncul dalam benakku, karena terakhir kali aku menerima pesan dari Karel adalah tepat seminggu yang lalu. Aku sudah tidak sabar untuk melihat pesan singkat apa yang Karel kirim untukku. Apakah Karel ingin meminta maaf karena telah membuatku kecewa? Entahlah, Karel memang selalu sulit untuk ditebak.

“Nes, besok plg sekolah ikut aku ke café langganan kita. Ada yg mau aku omongin, penting.”
“Oke. Besok aku tunggu di gerbang selatan.”
“Y.”

Balasan Karel itu pun mengakhiri percakapan singkat kami, memang terlihat sangat angkuh dan seperti baru saja mengenal. Bahkan aku pun merasa heran, tadinya aku dan Karel sangatlah dekat, tapi memang akhir-akhir ini hubungan kami sangat renggang, bahkan bisa dikatakan hampir bermusuhan. Sementara aku juga tidak tahu sebab pasti akan renggangnya hubungan kami.

Sepanjang perjalanan dari sekolah sampai setiba kami di café tidak ada satu kata pun terlontar dari mulut kami berdua, suasananya terasa begitu hening. Begitu memasuki café, Karel memilih tempat duduk yang berada di pojok belakang dekat jendela. Tanpa basa-basi Karel langsung memesan dua moccafloat untuk kami berdua. Untuk beberapa saat keadaan masih sangatlah hening, sampai akhirnya Karel membuka percakapan.

“Udah lama ya kita nggak main kesini.” Katanya sambil menerawang.
“Baru juga sekitar seminggu yang lalu, gue juga kemarin baru aja dari sini sama Tere.” Sahutku dengan nada yang sedikit sinis.
“Kok gak ngajak-ngajak? Biasanya kan kita main kesini bareng.” Protes Karel.
“Lo-nya aja yang sibuk sama pacar baru lo itu. Sampai nggak tau gue sama yang lain habis dari sini.” Jawabku ketus.
“Hei hei woles bro, kenapa lo jadi nyolot gitu? Gue ngerasa lo sekarang berubah banget, lo bukan Nesya yang gue kenal.” Jawab Karel.
“Hah gue yang berubah? Bukannya lo sekarang yang berubah? Lo udah nggak asik kayak dulu lagi. Sekarang lo lebih sibuk ngurusin pacar baru lo itu. Lo udah kayak nggak butuh temen lagi. Kayak orang hebat yang bisa hidup sendiri!” Jawabku dengan muka merah padam dengan nada yang semakin tinggi.
“Nes, lo kesambet setan apa si kok jadi marah-marah gini? Gini deh sekarang lo cerita masalahnya apa. Biar gue juga tahu apa salah gue sampai-sampai lo marah gini.” Ucap Karel berusaha menenangkanku.
“Salah lo adalah kenapa lo harus pacaran sama Luna? Padahal ada cewek lain yang jauh lebih tulus sayang sama lo, dan cewek ini udah nunggu lo dari dulu. Tapi dengan gampangnya lo ninggalin cewek ini dan jadian sama Luna. Apa lo nggak mikir gimana perasaan cewek ini tadi hah?” Jawabku dengan emosi semakin meluap-luap.
“Hah emang siapa cewek yang sayang sama gue selain Luna itu? Gue bener-bener nggak ngerti maksud lo Nes.” Ucap Karel bingung.

Sebelum aku menjawab pertanyaan Karel itu, aku mengambil nafas yang sangat panjang. Dan dengan segenap keberanianku, aku berusaha untuk mengungkapkannya saat itu juga.
“Rel, apa lo nggak sadar kalau cewek itu gue? Gue adalah cewek yang sayang sama lo. Gue adalah cewek yang udah nunggu lo dari dulu. Dan gue sakit hati banget waktu tahu lo jadian sama Luna.” Jelasku dengan air mata yang mulai mengalir deras di pipiku.
“Hah? Nes gue bener-bener minta maaf, gue nggak pernah tahu kalau lo sayang sama gue lebih dari temen. Tapi jujur, gue juga sayang banget sama lo sebagai temen dan gue nggak pingin lihat lo nangis gini.” Jelas Karel kemudian menghapus air mata yang mengalir deras di pipiku.
“Huft, sekarang gue lega banget udah bilang ini sama lo Rel, gue berharap kejujuran gue ini nggak akan ngerusak pertemanan kita.” Jawabku lemas.
“Iya Nes, sekali lagi gue minta maaf sama lo. Gue sayang banget sama lo dan Luna. Gue sama-sama nggak mau kehilangan kalian berdua. Maaf kalau gue cuma bisa jadi temen terbaik lo, nggak lebih.” Dalam nada bicara Karel, terlihat bahwa Karel merasa sangat bersalah atas apa yang terjadi padaku.
“Iya Rel, lo nggak salah. Cinta kan emang nggak bisa dipaksa, memang takdirnya udah begini ya kita mau gimana lagi. Yang penting sekarang lo udah tau gimana perasaan gue yang sebenernya sama lo.” Jelasku.

Tiba-tiba Karel berdiri lalu memelukku erat. Aku merasakan damai dan nyaman dalam pelukan Karel ini. Ya, aku dan Karel memang saling menyayangi walaupun rasa sayang itu berbeda. Tapi perbedaan itulah yang justru saling melengkapi rasa sayang yang kami miliki saat ini.

Mulai hari itu hubunganku dengan Karel kembali membaik seperti dulu, bahkan aku sekarang menjadi lebih akrab dengan Luna. Walau terkadang masih ada rasa sakit yang menyelip ketika aku melihat Karel dan Luna bersama, tapi aku sudah bertekad untuk mengubur dalam-dalam rasaku ini. Karena aku tidak ingin merusak kebahagiaan yang sedang Karel nikmati saat ini. Semoga aku bisa menemukan sosok pengganti Karel yang pasti harus jauh lebih baik.

TAMAT

Cerpen Karangan: Nedya Putri Perdana K
Facebook: Nedya Putri
Twitter: @Nedyaaa
ig: nedyappk
line: Nedyaaa
Path: Nedya Putri
Blog: nedyaperdana.blogspot.com

Cerpen Terima Kasih Karel merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sebentuk Hati

Oleh:
Jumat, 01 Februari 2013. Cinta… kehadiranmu bagai bintang di hatiku. Meski hanya sesaat dapat kumiliki, kekuatanmu mampu mengajarkanku arti sebuah pengorbanan yang tulus dan kepedihan yang tak selayaknya dibalas

Habis Galau Terbitlah Move On

Oleh:
“Rara… BANGUN…, udah siang ini weh lu kagak bangun ape?, lu mau gantian ama Mami jaga warung hah?” Mami teriak-teriak nggak jelas di kamar gue. “Berisik! 10 menit lagi

Our Friendship (Part 3)

Oleh:
Bel istirahat pun tiba. Diva dan Rieta berjalan menuju kantin. Alvin lagi berlatih basket dengan teman temannya sedang Rey lagi dipanggil sama Mrs. Mira ke ruangannya. Sesampainya di kantin,

Firra dan Gerimisnya

Oleh:
“Firaaaa…!” saat kuteriaki wanita itu, dia hanya menoleh tak berkata sedikitpun, ia hanya melihatku dengan wajah yang aku lihat di matanya banyak beribu cerita yang sulit kujelaskan, matanya yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *