Terlupakan, Gak Mungkin (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 4 December 2015

“Dian… Opa!!” teriakku memanggil mereka berdua.
“Ya ampun Els kamu dari mana kami sangat khawatir dengan kamu Els,” ucap opa.
“Iya loh. Ehm ngomong-ngomong dia siapa?” ucap Dian. Sebenarnya aku sedikit curiga dengan mereka Dian karena pada saat aku memanggil Dian, Dian ke luar dengan wajah yang sangat sinis dan berusaha menutupinya dengan membalas sapaanku. Dan mengenai Dian penasaran dengan Sembara aku sedikit curiga bahwa Dian pernah mengenal Sembara jauh sebelum ada pesta.

“Oh, ini namanya Sembara dia orang yang sudah nolongin aku, waktu aku hanyut di sungai,” ucapku sambil melirik Sembara.
“Terima kasih ya, kamu sudah baik mau nolongin Els,” ucap opa.
“Sama-sama, lain kali hati-hati saat melintas di sungai, karena di sana batu-batunya sangatlah licin. Ya sudah saya pulang dulu,” ucap Sembara sambil mencium tangan opa.
“Wih ternyata anaknya baik, sopan, dan ya,” ucap opa memuji Sembara.
“Biasa aja Opa. Apaan sih namanya aja udah Sembara kuno kampung lagi!” ucapku sambil berjalan menuju kamar. Tak disangka aku berjalan dengan senyuman yang membuat aku bingung.

“Nama kuno tapi kok kamu senyam-senyum sendiri sih..” ucap Dian yang berlari mengejarku saat aku berjalan di lorong menuju kamar.
“Cieeeee yang ditolongin sama cowok aneh,” sahut Dian sesampai di kamar.
“Apaan sih lo, biasa aja kali,” ucapku yang tersipu malu.
“Ellah gak usah bohongin diri lo sendiri deh.. lo suka sama dia yang lo anggep aneh itu?” ucap Dian yang semakin yakin dan mantap.
“Ih apaan sih! Eh ngomong-ngomong menurut lo dia orangnya gimana?” ucapku yang meminta pendapat dengan Dian karena aku bingung. Apakah benar tentang apa yang Dian ungkapkan barusan?

“Dia? Dia siapa?” ucap Dian yang membuatku semakin terpojok.
“Oke Sembara gimana menurut kamu?” ucapku sembari aku tersenyum.
“Emm ..” ucapnya yang terpenggal dan membuatku semakin penasaran.
“Dia baik meskipun ya, kamu tahu sendirilah dia itu culun,” ucap Dian yang sepertinya meniru gaya ceramah saya.
“Kenapa lo bisa yakin kalau dia baik?” ucapku yang bertanya-tanya.

Tak terasa kami telah bebincang-bincang sangat lama hingga waktu menunjukkan tengah malam. Burung hantu telah mengeluarkan suaranya yang membuat malam hari semakin mencekam. Tapi itu tidak membuatku takut. Ku membuka tirai jendela perlahan-lahan dan menatap indahnya langit yang dihiasi gemerlap cahaya bintang. Rasanya bintang tersebut ingin mengatakan sesuatu kepadaku. “Sungguh indah,” ucapku dalam hati. Aku ingin menjadi bintang yang selalu menerangi dalam kegelapan walaupun terkadang manusia tak menyadari itu semua.

Aku ingin menjadi bintang walaupun nampak kecil tapi memiliki sejuta keindahan yang tersimpan di dalamnya. Suasana pun sangat hening, hanya ada suara jangkrik dan katak. Sungguh, kampung ini sangatlah nyaman tanpa ada pencemaran udara dan suara. Di sini sangat berbeda jauh dengan keadaan di kota. Pada saat itu aku melamun dan, membayangkan apabila aku menetap di desa ini. Tiba-tiba saja aku teringat kejadian itu “ah tidak, ayolah lupakan, lupakan, dan lupakan.”
“Ah aku tidur dulu… ngantuk cape pula. Hati-hati pokoknya nanti kalau kamu ngelamun itu berarti … Hati-hati hantu di sini banyak tahu…” ucap Dian sambil tersenyum menakut-nakutiku.
Cklik! Bunyi lampu telah dimatikan. Walaupun lampu telah dimatikan tak menyurutkan semangatku untuk terus menatap indahnya bintang di langit yang gelap.

“Uh kenapa aku ini? Ada apa dengan aku? Bintang tolong katakan apa yang ku rasakan saat ini! Ish sudahlah Els lupakan, lupakan, lupakan,” ucapku dalam hati. Akhirnya pun aku memutuskan untuk tidur, karena waktu menujukkan pukul dini hari dan para bintang telah berpindah tempat mencari sebuah kebahagiaan dan ketenangan. Saat aku tertidur, aku bermimpi di sebuah kebun yang sangat indah dan sejuk, aku melihat opa dan Dian merencanakan sesuatu sesaat setelah aku hanyut di sungai.

Keesokan harinya. Tak terasa fajar telah menampakkan dirinya. Ayam-ayam pun mulai mendendangkan suara merdunya. Angin berhembus menyapu udara kotor, hidungku siap menghirup udara yang segar ini. Sesaat setelah aku terbangun, aku melamun dan memikirkan apa arti mimpiku tadi malam. Suara Dian membangunkan lamunanku.
“Ehm!” suara Dian yang membangunkanku dari lamunan pendekku.
“Hoam… Hai Dian kamu rajin banget sih bangun mesti pagi-pagi,” ucapku dengan nada memuji dan dengan suaraku yang memecah keheningan.
“Ya iyalah gue gitu,” ucap Dian yang menyombongkan dirinya. Namun, aku hanya membalasnya dengan senyuman manisku. Dan melanjutkan lamunanku.
“Oh ya, gue boleh pinjem uang sama hp lo gak?” ucap Dian.

Sebenarnya aku merasa ada yang janggal dengan ucapan Dian barusan.
“Hah? Loh? Hp gue sama dompet gue mana?” ucapku dengan kaget.
“Atau mungkin ketinggalan di rumah … Siapa nama pemuda yang kemarin?” Ucap Dian.
Setelah mendengarkan ucapan Dian barusan aku mulai bertanya-tanya apakah ini arti mimpiku tadi malam? Ya walaupun tak terlalu sama.
“Maksud kamu Sembara? gak mungkinlah kalau yang mencuri itu dia,” ucapku yang tidak yakin dan hampir tidak percaya. Dan aku yakin bahwa Sembara bukan orang yang melakukan semua ini.
“Tapi apa salahnya jika kita mencoba ke sana?” saran Dian yang sedikit membentakku.

Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke rumah Sembara. Dan ternyata benar semuanya ada di rumahnya. Namun, ada yang janggal kenapa uangnya gak ada semua padahalkan belum dipakai sama sekali. Hatiku terus bertanya-tanya sambil menunggu Sembara pulang. Dan akhirnya pun dia pulang.
“Sembara, apa maksud kamu dengan semua ini? Aku sudah memberi yang lebih untuk kamu. Tapi, mengapa kamu tega melakukan semua ini? Jika memang kamu membutuhkan uang, gak usah kayak gini gimana?” ucapku sambil menangis karena aku kecewa dengan Sembara.

“Ada apa? Saya tidak tahu ada apa ini? Terus uang apa?” ucap Sembara yang tak tahu apa yang ku maksud.
“Uang yang ada di dompetku pasti kamu yang mengambil?” ucapku dengan nada tinggi.
“Udah, ngaku aja lo,” ucap Dian yang membuatku semakin marah.
“Oke maaf meskipun saya orang kampung tapi saya juga memiliki harga diri. Jadi gak mungkin saya mengambil apa yang bukan menjadi hak saya. Baik saya akan membuktikan kalau saya memang benar-benar bukan orang yang mencuri uang mbak,” ucap Sembara yang membela dirinya.
“Baik jika memang anda yang benar maka, saya akan memberikan semua uang yang ada di dompet saya. Apabila anda yang salah maka anda akan saya jebloskan ke penjara,” ucapku dengan tegas. Dan dia telah menyetujui.

Aku pun kembali ke vila. Sepanjang perjalanan, aku berpikir mengapa aku tadi harus ke rumah Sembara jika pada akhirnya aku kecewa akan tindakanku dan tindakannya? Tapi, jika aku hanya bisa menerka-nerka bahwa Sembara itu baik namun ternyata semua salah bagaimana? Tapi aku lebih memilih aku dapat mengetahui yang sebenarnya walaupun itu sangat pahit rasanya. Akhirnya pertanyaan Dian menyadarkanku. “Els kenapa ya Sembara kok bisa ngelakuin semua itu? Padahal kamu udah baik banget loh sama dia?” ucap Dian yang semakin memanas-manasiku.
“Udah gak usah bahas itu lagi. Jika memang Sembara yang salah maka, hubungan pertemanan aku dan Sembara sudah cukup. Aku tak lagi mau mengenal seorang penjahat apalagi penipu. Dan apabila semua itu bukan salah Sembara aku akan meminta maaf padanya. Aku akan mencari tahu siapa yang sudah tega memfitnah Sembara,” jelasku dengan sejelas-jelasnya.

Hari demi hari telah Sembara lewati, ia terus mencari siapa pelaku yang telah tega membuat dirinya dan Els bertengkar. Sampai-sampai ia pergi ke sebuah gubuk dekat hutan di mana seorang nenek tua yang memberitahu Sembara bahwa Els terdampar di tepi sungai. Namun, hasilnya nihil. Saat itu Sembara sudah mulai putus asa. Dia berjalan terus tanpa arah dan tujuan. Tak jarang kakinya tersandung oleh batu. Hingga ia tiba di sebuah vila dan vila tersebut ternyata adalah vila Opa Very, dia tak sengaja mendengar pembicaraan antara Opa Very dan Dian.

“Dian, opa sebenernya berat mengatakan ini. Tapi, opa kasihan jika harus menyembunyikan ini semua dari kamu…” ucap opa dengan nada yang sangat serius.
“Opa sebenernya ada apa sih.. to the point aja kenapa?” ucap Dian dengan 1001 tanda tanya.
“Begini Mama dan Papa kamu sudah bangkrut saat kita berada di sini. Bahkan aset yang dimiliki semua telah disita bank termasuk vila yang kita tempati saat ini… Nah! Kamu kan ke sini gak membawa uang sama sekali mungkin kamu hanya membawa kartu kredit aja, dan katu kredit kamu juga telah diblokir,” ucap opa yang serius.

“Hah? pantas saja aku kemarin gak bisa belanja barang-barang mewah. Huft untungnya saja aku kemarin sempat mengambil dompet dan hp sahabat dekatku yang bodoh itu, hemm.. dan uangnya aku gunakan untuk membeli jam tangan terbaru untuk Sembara dan aku telah memberikannya kepada Sembara dan meletakkan dompetnya di rumah Sembara, jadi aku aman dan satu lagi aku bisa menipu Els yang telah mengambil semua yang aku suka termasuk Sembara,” ucap Dian yang sedang menangis namun juga tertawa sinis.
“Dian.. Dian kamu gak kasihan dengan sahabatmu itu?” ucap opa. Namun, Dian tak menghiraukannya. Dian terus berlari dan meninggalkan opanya.

Sembara telah mengetahui ternyata pelakunya adalah teman terdekat Els sendiri. Sembara pun langsung berlari menuju vila dan dia menjelaskan kepada Els bahwa pelakunya adalah teman terdekatnya. Pada waktu itu Els memang tidak menyangka bahwa pelakunya adalah temannya. Namun, bukti terlalu banyak berbicara. Usaha keluarganya gulung tikar saat mereka berada di vila. Dan pada saat itu Dian tidak mengetahuinya.

“Sembara? Apa benar semua ini tanpa rekayasa? jelaskan padaku!” ucapku yang tak percaya.
Dan Sembara menjelaskan semua kepadaku panjang sekali dari awal sampai akhir. Setelah aku mendengarkan penjelasan dari Sembara, aku semakin yakin bahwa benar, semua ini sama persis seperti apa yang ada di mimpiku malam itu.
“Bener apa yang kamu bicarakan semua itu?” ucapku untuk lebih meyakinkan diriku sendiri.
“Benar, awalnya aku memang tidak menyangka akan semua itu, jika dia yang melakukan. Aku sebenarnya juga gak enak ngomong sama kamu. Nanti dikiranya aku yang mengadu domba kalian,” ucapnya yang merasa bersalah jika memang dia yang mengadu domba mereka berdua.

“Ya aku sekarang percaya dengan kamu,” ucapku.
“Els kamu mau kan maafin aku?” ucap Sembara yang mulai berani untuk tidak memanggil dengan sebutan mbak.
“Iya aku maafin kamu toh kan bukan kamu yang salah.. aku juga minta maaf kalau aku terlalu cepat untuk menuduhmu sekali lagi aku minta maaf ya…” ucapku meminta maaf.
“Iya sama-sama, jadi kita tetap jadi sahabat kan?” senyum khasnya mulai muncul saat ia berkata seperti itu.
“Iya kita akan menjadi sahabat tetapi kita harus saling mempercayai satu sama lain. Jangan sampai kejadian yang menimpaku ini terjadi sama kamu,” ucapku menyetujuinya.

Tiba-tiba datang Opa Very dan Dian yang meminta maaf kepada kami berdua.
“Els, dan Sembara maafkan Dian ya yang udah keterlaluan sama kalian,” ucap Opa Very yang merasa bersalah.
“Iya aku juga maaf ya…” ucap Dian merasa bersalah dan mengakui bahwa dia bersalah.
“Iya kami sudah memaafkan Dian,” ucap Els dengan senyuman.

Aku pun menasihati Dian layaknya seorang ustadzah bahwa semua yang Dian lakukan itu salah dan sebaiknya Dian jujur dengan keadaannya toh aku juga akan membantu. Akhirnya mereka pun menjalin hubungan silaturrahmi tanpa ada kebohongan atau bahkan pencurian. Dan mengenai Sembara, sejak peristiwa itu aku bersahabat baik dengannya. Pada saat aku dan Sembara berbincang-bincang di jalan, aku dan Sembara bertemu seorang kepala adat. Dia bertanya kepada Sembara tentang siapa aku. Sembara menjawab bahwa aku adalah temannya yang berasal dari kota. Kepala adat tersebut, meminta agar aku dapat menjadi MC di pesta kedua kampung tersebut. Kami menyetujuinya dan kepala adat meminta agar bahasa yang digunakan menggunakan bahasa daerah tersebut.

“Menggunakan bahasa daerah sini? Mana aku tahu,” ucapku dalam hati. Tiba-tiba saja Sembara menjawab akan mengajariku. Sepertinya Sembara mengetahui kata hatiku. Sehari setelah pemberitahuan, sepertinya kami masih agak canggung dalam berbagi ilmu. Tapi, setelah 3 hari menjelang acara…
“Sumangga kita haturaken puji lan syukur marang Gusti Allah,” ucapku pada saat itu kami sedang latihan.
“Kamu kalau bilang sumangga bacanya sumonggo,” ucapnya yang mengajariku dengan sabar karena aku sudah mengulanginya beberapa kali dan semunya itu salah.
“Oh iya su-mo-ng-go,” ucapku yang sedikit kayak anak mengeja bacaan.
“Benar, tapi jangan terlalu dipaksakan,” ucapnya dengan nada yang sangat halus.

Sejak saat itu, aku mulai berlatih berbicara menggunakan Bahasa Jawa. Hingga kini tiba saatnya acara.
“Eh aku nanti kalau ada yang salah benerin ya…” ucapnya ketika kami sedang berlatih.
“Iya, tapi sepertinya kamu gak mungkin salah deh, karena kamu sudah terbiasa dengan kadaan dan bahasa di sini,” ucapku. Akhirnya pada saat itu aku bisa mengucapkan sumonggo dengan betul dan membuat Sembara bangga terhadap aku. Dan waktu menunjukkan pukul 19.00 kini tiba saatnya kami mulai pesta tersebut. Namun, sayangnya aku salah dalam mengucapkan sumonggo.

“Pengucapanmu benar waktu latihan..” ucapnya yang sepertinya sedikit menyesali karena aku salah mengucapkan.
“Iya tak apa nasi sudah mejadi bubur,” ucapku yang mengakui kesalahanku dan aku anggap semua ini jadi pembelajaranku untuk selanjutnya.
“Ikuti aku sumonggo,” ucapnya yang terus mengajariku tanpa rasa lelah.
“Sumonggo,” ucapku menirukannya. Hal tersebut berulang sampai beberapa kali. Hingga akhirnya aku mengucapkannya dengan benar. Sembara berpesan kalau kita bicara sebaiknya gak usah dipaksakan.
“Eh gaya bicaraku yang bagian ini bagus gak?” ucapnya bertanya kepadaku tentang gaya bicara saat dia membaca. Aku pun hanya menganggukkan kepalaku.
“Makasih,” ucapnya dengan sopan.

Saat di panggung Sembara melakukan sedikit kesalahan dan dia mengeluh kepadaku. Namun, aku mencoba menenangkannya dengan memberitahu bahwa semuanya yang telah terjadi adalah hal terbaik yang telah kamu lakukan dan janganlah kamu sesali meskipun itu gagal. Sebaiknya kita memikirkan yang selanjutnya dan membenahi yang salah supaya benar dan tak ada kata-kata gagal. Syukurlah Sembara sudah mulai tenang. Akhirnya acara tersebut berjalan dengan meriah dan untuk kedepannya semoga tetap meriah. Tanpa ku sadari, hari ini adalah hari terakhirku di kampung ini, dan besok aku harus kembali ke kota. Pengalamanku saat berada di sini tak akan pernah aku lupakan, karena semua yang terjadi di sini sangatlah indah dan disertai ilmu dalam menjalani kehidupan. Aku pun mulai membuka buku harianku, dan aku mulai menulis semua apa yang aku alami.

Cerpen Karangan: Ari Monnik
Facebook: Ari Monnik

Cerpen Terlupakan, Gak Mungkin (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat Terbaik

Oleh:
Cerita ini berawal saat aku kuliah di Yogyakarta. Aku bersyukur bisa mengenal seorang sahabat seperti kamu bahkan tak cuma mengenal tapi kita sahabatan. Betapa bahagianya aku punya sahabat seperti

Rival Baruku

Oleh:
Aku adalah salah seorang Atlet Tae kwon do di kotaku. Aku selalu mewakili kotaku di kelas berat badan 55 kg. Aku selalu bisa membawa pulang medali emas tatkala tantangan

Misteri

Oleh:
Aku adalah seorang siswa SMA kelas satu. Tidak, lebih tepatnya bukan siswi. Hanya seorang penggila ilmu pengetahuan. Aku selalu tertarik dengan segalanya yang berkaitan tentang fenomena dunia ini. Aneh,

Kesabaran Yang Indah

Oleh:
“Aaaaaaa..” Sebuah teriakan memecahkan keheningan pagi di kelasku. Tak lain dan tak bukan adalah Sudar, seorang siswa yang selalu dijahili oleh siswa yang lain. Mungkin karena dia begitu patuh

Perjuangan Hidupku

Oleh:
Hari berganti bulan, dan bulan berganti tahun hidupku sama seperti yang selalu kujalani. Namun aku menginginkan perubahan dalam hidupku ini. Tidak hanya sekolah, pulang, makan dan belajar. Namun aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *