The Flower of War (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 13 May 2017

Senin, 10 Oktober 2017
Hari pertama di minggu ini diawali Rena dengan berantakan. Betapa tidak, bangun kesiangan, belum mengerjakan PR, setrika baju, menjadwal mapel hari ini, dan segudang kegiatan pagi hari lainnya yang tak terselesaikan. Akhirnya, dia telat berangkat ke sekolah dan mendapat hukuman berupa menyapu lapangan depan yang baru saja di pakai upacara bendera. Rena kesal. Sangat kesal jika harus disuruh menyapu halaman yang luas tersebut. Jika dipikir-pikir, ini memang kesalahannya. Dia begadang karena melihat drama korea yang terbaru, sampai jam 2 pagi. Sungguh hebat sekali. Jika ia melihat buku pelajaran 5 menit saja sudah tidur. Prestasi yang aneh.

“Makanya, utamakan dulu sekolah. Baru rumah. Jangan kebalikannya. Apalagi mementingkan drama. Aduhay Renaku.” Ucap Anya, sahabat karib Rena, pada saat jam istirahat. “Drama itu sangat bagus. Karena sangat bagus, aku harus melihatnya. Bahkan sampai episode terakhir. Pasti kamu akan menyukainya.” Jawab Rena dengan santai sambil menyantap siomay-nya. “Renata, meskipun bagus, sekolahmu harus tetap berjalan. Jangan sampai berantakan. Tadi kamu dimarahi sama Bu Yani karena tidak mengerjakan PR Kimia. Dimarahi Pak Ma’ruf Karena tidak menyelesaikan essai Biologi. Kamu itu niat sekolah nggak sih? Kalo nggak…”
“Udahlah, ya. Aku udah 17 tahun. Aku bisa ngatur hidupku sendiri. Apa yang penting dan apa yang nggak. Bukan hanya aku yang bikin masalahnya. Mind You Own Business.” Potong Rena dengan sengit juga. Mendengar hal ini, Anya hanya menghela nafas, karena ia sudah tahu sifat Rena yang sangat ngeyelan dan pendirian teguh. Tapi di balik semua itu, Rena adalah teman yang sangat baik, pengertian, dan tak segan berkorban untuk temannya. Sayangnya, sifat apiknya itu tertutupi sifat Rena yang galak, judes, cuek, ngeyelan, nggak mau kalah dan suka cemberut. Hanya Anya lah yang tahu tentang sifat apiknya Rena dan mengabaikan semua sifat jeleknya itu.

Sepulang dari kantin, saat ia sedang bercanda dengan Anya, Rena berpapasan dengan Ichang, teman sekelasnya yang tak menyukainya. Bahkan bisa disebut musuh bagi Rena. Icang menatapnya dengan tajam, sedangkan Rena memalingkan wajahnya. Tatapan itu terjadi selama 5 detik dan setelah itu, Rena menghela nafasnya dan Anya menepuki pundaknya.
By the way, Anya dan Rena itu bukan teman sekelas, jadi setelah dari kejadian maut tadi, mereka cepika-cepiki dan berjalan menuju arah kelas masing-masing. Sesampainya di kelas, ada sekondan-sekondan Ichang yang sama-sama musuh Rena. Kenapa musuh? Karena Ichang dan sekondan-sekondannya suka menuduh Rena tanpa sebab dan menjahili Rena sampai membuat luka tubuh Rena. Misalnya saja hari ini..

“Ini dia. Ratu Penjiplak Tugas Nomor Wahid sekelas. Renaaaa..” ucap Alvonso, salah satu sekondan Ichang yang membuat satu kelas menoleh pada Rena yang sedang menutup pintu. Lalu, seluruh penghuni kelas tertawa dengan wara-wara Alvonso. “Memangnya kamu nggak sering ngejiplak tugas orang lain gitu? Jangan ngerasa paling hebat deh.” balas Rena. “Kalo gue ya boleh-boleh aja karena gue anak horang kayah. Lah elu, Cuma dianggap telur cicak yang nggak netes. Kalo pun netes, paling jadinya anak yang nggak bermutu.” Pembalasan Alvonso lebih sengit, dan membuat sekelas tertawa lagi. Lebih keras malahan. Tangan Rena menggempal, tanda ia ingin marah dan menghajar Alvonso. Tapi, ia tahu di sini bukan tempat yang tepat, ia hendak pergi ke luar kelas. Tiba-tiba, pintu terbuka dengan keras yang tepat mengenai hidungnya hingga berdarah. Ternyata yang mendorong pintu itu Ichang dan sontak membuat sekelas tambah tertawa. Merasa malu, Rena mendorong tubuh Ichang dan keluar dari kelas sambil menuju ke toilet perempuan. Di dalam toilet, ada gerombolan perempuan yang sedang berdandan dan bergosip.

“Hei, lihat! Ada si bau yang masuk toilet. Berarti toiletnya tambah bau dong?” ucap salah satu gerombolan tersebut. “Benar sekali. Rasanya aku ingin muntah. Apalagi dengan mukanya yang penuh darah, euhhh!” sahut lainnya yang membuat mereka tertawa terbahak-bahak. Merasa tambah malu, ia langsung masuk ke dalam salah satu kamar mandi dan langsung membersihkan lukanya sambil menahan tangis. Gerombolan perempuan itu masih juga tertawa terbahak-bahak. “Eh, malah kabur. Dasar nggak sopan. Apa dia nggak punya urat malu?”. “Ya nggaklah. Dia kan anak yang nggak diajar sama ortunya tentang sopan santun. Tapi diajarin caranya ngebikin orang lain menjauh darinya.” Celetukan perempuan itu disambut dengan “uuuuu” panjang. Rena mengepalkan tangannya dan berusaha menegarkan dirinya. Hah, kalian pecundang kelas teri. Kalian belum pernah melihat diriku yang sebenar-benarnya, kan? Jika kalian tahu, jangan harap aku akan memaafkan aku karena telah menghinaku dan ortuku. Let we see later, ucap Rena dalam hati dengan sungguh-sungguh.

Selasa, 18 Oktober 2017
Jam mengarah pada pukul 06.40, ini menandakan bahwa semua siswa SMA Garuda harus masuk ke kelas dan berdo’a. Semua awalnya terlihat biasa saja, sampai terdengar kabar bahwa Rena kecelakaan. Tentu saja, kabar ini membuat Anya gelisah, bingung, sedih, campur aduk. Bagaimana tidak? Tadi pagi mereka sempat bercengkrama lewat telepon dan sekarang Rena kecelakaan. Sangat parah. Kemudian, Anya mencari seseorang yang mengatakan bahwa Rena kecelakaan. Anya menemukannya di ruang piket berbincang-bincang dengan wali kelas Rena. Wajah keduanya tampak serius, dan juga sedih. Anya menghampirinya.

“Permisi. Apa kau yang mengatakan bahwa Rena kecelakaan sangat parah? Bagaimana kau tahu? Kau siapanya?” cerucus Anya pada orang asing itu. Seingatnya, Rena hanya mempunyai seorang kakak perempuan yang sedang ada di luar kota, sedangkan bapak ibunya sudah meninggal 5 tahun yang lalu. “Iya, saya orang itu. Saya saksi atas kecelakaan itu. Begini nak, dek Rena tadi kecelakaan antara motor dan truk. Ia terluka sangat parah dan langsung dilarikan ke rumah sakit. Tapi, dia kehilangan sangat banyak darah dan… nyawanya tak tertolong.” Balas orang itu. “Wajah dan tubuhnya banyak yang sudah tak utuh lagi. Hancur.” Orang itu menimpali lagi dan raut mukanya berubah sedih. “Saya berduka cita atas meninggalnya teman adek.” Seketika, air mata Anya jatuh, matanya berkunang-kunang dan dunia menjadi gelap seketika. Dia pingsan.

Hari ini, sekolah pulang pagi. Tentu saja, semua murid bahagia. Tidak dengan Anya yang sedih hati, bahkan mungkin hancur, kehilangan sahabat seperti Rena. Tapi Anya tak sama sekali menampakkan kesedihannya. Karena jika ia menampakkan kesedihannya, takkan ada yang peduli. Beberapa anak mengatakan turut berduka cita atas kematian Rena, entah itu ikhlas atau palsu. Kalian harus percaya, bahwa satu-satunya orang yang peduli pada Rena hanyalah Anya. Hanya Anya, tak ada yang lain. Mungkin jika ada yang lainnya, tidak akan mengaku secara terang-terangan karena takut dibully seperti Rena. Dasar cupu! Kalian tidak seberani Anya.

Kemudian, Anya pergi ke pusara Rena. Sendiri. Tak ada yang menemani Anya pergi ke pusara Rena. Karena Anya datang terlambat, semua orang sudah bubar dan ia sendirian di sana dan menangis sejadi-jadinya. Di sela-sela tangisnya, ia berkata, “Rena, tidak mungkin kau meninggal secepat ini. Katanya kau ingin menjadi seorang jaksa yang akan menuntut orang-orang bersalah. Menemukan keadilan yang tersembunyi. Tapi apa yang kudapat? Kau meninggalkanku. Kau pernah memberitahuku kau bukanlah seorang pahlawan. Di saat orang lain menganggapmu bukan manusia dan hanya butiran atom, tapi izinkan aku memberi tahumu, kamu, ummm, manusia yang paling hebat yang pernah kutemui. Karena hebat, kepergianmu sangat menyisakan goresan luka yang sangat dalam, Re. Hanya kau yang paling mengerti perasaanku, bahkan hidupku. Jika kau pergi, kepada siapa lagi aku akan berbagi rahasiaku? Tak ada siapapun. Kakak dan teman-temanku takkan mendengarnya, apalagi dengan orangtuaku. Kumohon, jika keajaiban itu ada, aku minta kau kembali hidup. Iya, kembali hidup lagi. Setidaknya, tuk mengucapkan selamat tinggal. Atau tak usah mengucapkan selamat tinggal dan hidup bersamaku lagi. Kumohon, Re.”

Setelahnya tangisnya reda, Anya pergi dari pusara Rena. Langkah kakinya terhenti. Terasa sangat berat. Ingin dia tinggal di sana, tapi ia tak bisa. Kau yang paling tahu Re, kalau aku tak suka perpisahan seperti ini, ucap Anya dalam hati. Akhirnya, langkah kaki itu bergerak kembali sambil menyanyikan lagu kesukaan mereka. Kesukaan Anya dan Rena

It started out as a feeling
Which then grew into a hope
Which then turned into a quiet thought
Which then turned into a quiet word
And then that word grew louder and louder
‘Til it was a battle cry
I’ll come back
When you call me
No need to say goodbye
Just because everything’s changing
Doesn’t mean it’s never been this way before
All you can do is try to know who your friends are
As you head off to the war
Pick a star on the dark horizon
And follow the light
You’ll come back when it’s over
No need to say goodbye

Setelah Anya pergi dari pusara Rena, datanglah seseorang. Ia muncul dari balik sebuah pohon kamboja yang bunganya sedang berguguran. Saat itu juga, hujan mengguyur bumi dengan deras. Ia mengenakan jubah hitam, mengenakan sepatu boot usang, tingginya sekitar 155 cm, dan tubuhnya tegap. Kepalanya ditutupi tudung dan ia mengenakan masker. Hanya matanya saja yang terlihat, dan itu menyiratkan sebuah kesedihan yang tak dapat dijelaskan. Setelah 5 menit, orang itu pergi meninggalkan pusara Rena. Kemudian, tatapan matanya berubah, menjadi tatapan orang yang ingin melakukan pembalasan. Sebuah pembalasan yang sudah lama ingin ia hantamkan.

Cerpen Karangan: Aulia Mar’atina

Cerpen The Flower of War (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Just Give Me A Reason

Oleh:
Teringat masa SMP. Masa dimana aku tak pernah punya sahabat. Teman memang banyak, namun tak ada satupun dari mereka yang bisa disebut sahabat. Aku kadang penasaran bagaimana rasanya mempunyai

Peri Kecil

Oleh:
Sawah–sawah nan hijau menari–nari dengan tersenyum hangat menyambut hari baru dan burung-burung berterbangan di angkasa dengan kicauan membentuk pola yang memikat hati seorang anak kecil dengan wajah imut yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *