The Flower of War (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 13 May 2017

Rabu, 21 November 2018
Anya bangun dari tidurnya dengan malas. Kesiangan pula. Membuat Mamanya marah-marah. “Anyaaaa! Kenapa bangun siang lagi? Kasihan Papamu setiap hari harus telat karena kamu. Udah kelas 12 masih malas. Nanti kalau kuliah, terus nge-kos, sifat malasmu masih seperti itu, kamu bakal dimusuhi sama teman 1 kosmu. Ayo, bangun! Anak gadis jangan malas!”. Mendengar omelan Mamanya, membuat Anya semakin malas. Dengan langkah gontai, ia menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya. Lalu, ia memakai seragam sekolah dan berdandan. Jika wanita berdandan terlihat cantik, Anya tidak. Ia berdandan malah kelihatan “jelek”, karena memakai bedak yang tak rata, ditambah lagi dengan kantung matanya yang besar dan agak hitam, wajah yang terlihat seperti orang yang ingin mengajak berkelahi, rambut yang agak acak-acakan dan jarang keramas, dan bibirnya yang kering. Sukseslah Anya membuat semua laki-laki menyingkir darinya.
Setelah itu, ia turun dan sarapan. Jika kebanyakan orang sarapan dengan sepotong dua potong roti dan susu atau nasi, Anya sarapan dengan air putih dan pil obat anti stresnya. Ya, sejak kematian “mendadak” Rena, Anya mengalami stres parah dan sering ke psikiater. Ia juga mendapat resep untuk mengkonsumsi obat anti stres.

“Sampai kapan kamu bakal stres terus? Sudah 1 tahun ini lo, kamu itu kayak orang gila. Minum obat anti stres terus, saban malam nangis terus. Mama kasihan sama kamu, nak. Orang 1 pergi saja, kau meratapinya sampai sekarang. Nanti jika mama papamu ini meninggal, apa kamu akan seperti ini?” Curhat Mamanya pada Anya. Anya hanya diam saja, tak peduli dengan ocehan mamanya. Tau apa kau ma. Yang kau tahu hanyalah perkerjaan rumah. Tak tahu rasanya kehilangan sobat karib. Dan jikalau kalian berdua meninggal, akan kujual rumah ini dan pergi ke gunung Himalaya untuk meditasi, gerutu Anya dalam hati. Setelah itu, Papanya datang dan mereka berangkat.
“Hati-hati ya, nak. Belajar yang pinter.” Ucap Papanya di depan pintu gerbang. “Iya iya, Pa. Anya udah gede, mau masuk PTN.” Balas Anya dengan muka dan nada yang datar. Setelah itu, Papanya melaju ke kantornya dan Anya menuju ke kelas melewati lapangan. Di situ ada seorang tukang yang sedang menyapu halaman dan ia terlihat lesu. Dulu kau sering terlambat, Re, dan setiap hukumanmu itu selalu membersihkan lapangan depan. Ah, entahlah Re. Aku masih tak terima dengan kepergianmu, ucap Anya dalam hati. Lalu ia menggelengkan kepalanya dan bergegas masuk ke kelas.

Panah jam mendarat di angka 09.00. Pada jam mendekati istirahat ini, para guru sedang mengadakan rapat. Tentu saja, ini merupakan kesempatan emas bagi murid-murid. Karena apa? Murid-murid bisa bersenang-senang. Di kelas Anya contohnya, hampir semua murid mengantuk dan bahkan ada yang sudah tidur dan “menggambar pulau” di mejanya. Tidak ada kegiatan bersenag-senang di kelas ini. Sedangkan di (bekas) kelas Anya, uuuh, semua murid tentu bergembira dan sibuk dengan kesenangan mereka masing-masing. Ada yang melihat film atau drama korea yang lagi nge-hitz, bermain Uno, sibuk dengan game andoridnya, dan juga ada yang sibuk berpacaran di pokok kelas.

Tiba-tiba, terdengar suara yang sangat keras dan membuat seisi kelas bergetar. Sontak membuat semua penghuni sekolah, terutama kelas, kaget. Terutama kelas Anya dan (bekas) kelas Rena. Semua murid yang hampir tertidur dan sudah tertidur di kelas Anya, terbangun dan mencari asal suara tersebut. Di (bekas) kelas Rena, semua murid menghentikan semua kegiatannya sebentar dan melanjutkan aktifitasnya dengan cuek. Tak mau tahu tentang yang tadi terjadi.
Di kelas Anya, saat semua murid akan keluar dari kelas mencari asal suara tersebut, terdengar suara mobil es krim dari speaker. Bukan suara seperti kebanyakan mobil es krim, tapi yang ini terdengar lebih horror dan menyakitkan di telinga. Tiba-tiba, terdengar suara tembakan bersahut-sahutan. Sontak saja, semua penghuni kelas menjerit.

Di (bekas) kelas Rena, keadaan lebih rumit lagi. Menjerit-jerit dan menangis. Ada juga yang sibuk sumpah menyumpah atas apa yang telah terjadi. Lalu, kelas mereka didobrak dan masuklah 5 orang memakai pakaian serba hitam, memakai masker bergambar tengkorak dan memegang senjata. “SEMUANYA DUDUK DI LANTAI! JANGAN ADA YANG BERSUARA!” ucap salah satu orang tersebut. Tangisan dan jeritan berhenti dan menuruti. Tetapi, Alvonso malah melawan mereka. “Elo siapa? Beraninya masuk ke kelas gue tanpa permisi. Mau..” belum selesai ia berbicara, sebuah peluru dilepaskan dan menembus perut Alvonso. Dan saat itu juga, ia mati.

Di kelas Anya situasinya sama dengan (bekas) kelas Rena. Bedanya, di sini tak ada korban jiwa. Semua menuruti perkataan beberapa orang jahat tersebut. Lalu, tangan mereka diikat dengan tali dengan kencang. Setelah diikat, 3 orang berjaga di belakang, lainnya berjaga di samping pintu dan di depan kelas. Yang di depan kelas, sang ketua kelompok, mondar mandir tak jelas sambil menatap anak-anak satu per satu. Bisakah Anda tebak apa yang sedang terjadi? Yap, betul. Ini adalah sebuah penyanderaan besar oleh teroris. Suara yang sempat menggetarkan sekolah tadi adalah sebuah bom yang digunakan untuk mengahancurkan bangunan di depan sekolah. Dan kelas Anya dan Rena yang paling dekat dengan lokasi pemboman.

Kejadian penyanderaan ini telah terjadi selama 2 jam. Para penjaga masih berjaga di tempatnya. Tak seinchi pun mereka berpindah. Tentu para murid dan guru yang disandera harap-harap cemas. Sudah 2 jam, tapi tak ada tanda-tanda penyelamatan dari pihak kepolisian atau tentara. Mereka takut apabila ada konflik diam-diam yang terjadi antara salah satu warga sekolah dengan para pihak teroris, dan masalah itu ganjarannya harus berupa nyawa. Tapi, sejauh ini hanya ada 1 nyawa yang hilang dan itu pun karena ulahnya sendiri.

Penjaga di kelas Anya mulai berbicara. “Pasti kalian bertanya-tanya, kenapa kami di sini dan menyandera kalian? Jawabannya klise. Kami teroris. Kami butuh uang untuk sepak terjang kami selama 5 bulan ke depan dan itu tidaklah kecil. Maka dari itu, kami menyandera kalian dan semua warga sekolah ini, untuk dapat dana. Kami minta pada pemerintah sebanyak 5 milyar. Lalu, kami mengancam akan membom sekolah ini jika menghubungi polisi atau tentara. Hahaha, meskipun kelompok kami sepertinya kecil, tapi “cabang” kami ada di seluruh dunia. Kalian..” perkataannya terputus saat speaker sekolah berbunyi. Sebuah lagu barat yang bergenre rock menggema di seluruh sekolah.
Lalu, terdengar suara ribut di luar kelas. Suara tembak bersahut-sahutan. Semua murid menjerit-jerit. Tiba-tiba, seorang masuk ke kelas Anya lewat jendela. Ia langsung menembak para penjaga. Ketua kelompok yang semula santai, dengan cepat dan sigap menuju bawah meja untuk melindungi diri dan menembaki orang tadi. Orang tadi berjalan cepat menuju ketua kelompok dan menendang meja yang digunakan ketua kelompok. Ia terjungkir dan langsung berkelahi dengan orang tadi. Tapi, setiap hantaman ketua kelompok berhasil dihindari. Saat ketua kelompok lengah, orang tadi langsung menonjok mukanya dan perutnya. Lalu memelintir tangannya dan langsung membantingnya. Ketua kelompok bangkit dan orang tadi memukul pundak dan lutut ketua dengan keras menggunakan senjatanya. Lalu ia jatuh dan orang tadi menendang dadanya dengan keras. Ketua kelompok tersebut pingsan. Karena Anya yang paling dekat dengan orang tadi, ia samar-samar mendengar ucapannya, “Dasar lemah! Katanya kelompok teroris hebat. Dihajar begini saja sudah pingsan. Mati kali.”. Anya merasa tak asing dengan suara, logat, dan bahasanya. Ingin Anya bertanya, tapi ia takut jika jawaban pertanyaannya itu.

Setelah itu, orang tadi melepaskan ikatan murid satu per satu dengan cepat. Bagaimana penampilannya? Penampilannya serba hitam. Mulai dari jaket, celana, sepatu boots lusuhnya, topi dan maskernya.
Selesai melepaskan ikatan, ia menatap murid kelas Anya satu per satu. Alfred, salah satu teman Anya, berdiri. “Kau siapa? Sepertinya kau bukan polisi atau tentara. Tapi kau hebat sekali dalam bertarung. Siapa kau? Buka maskermu!” Tanya dan perintah Alfred ini disahuti oleh teman-temannya. Orang tadi menggeleng lemah dan langsung keluar kelas. Anya mengikutinya dan kaget dengan keadaan luar kelas. Banyak mayat bergelimpangan dan darah di mana-mana. Juga banyak orang bersenjata di sana. Disusul semua murid keluar dan juga kaget dengan keadaan luar. Lalu, salah satu mendekati orang tadi dan membuka maskernya. Sepertinya orang tadi adalah ketua penyelamat.
“Semua sudah mati. Kami sudah menangkap mata-matanya dan mengamankannya di truk. Tak kusangka, penangkapannya akan sulit seperti ini.” Kata orang yang membuka maskernya tadi. “Hah, sulit apa? Salah satu ketua kelompoknya saja lemah sekali. Baru dihajar beberapa kali saja, sudah KO. Dasar sombong! Sudahlah, mari kita langsung ke truk dan kembali.” Jawab ketua penyelamat. Orang tadi mengangguk dan langsung memberi aba-aba untuk kembali ke truk.

Anya kaget dengan wajah orang yang membuka maskernya tadi. Bukankah ia yang memberitahu bahwa Rena mati karena kecelakaan? Batin Anya dalam hati. Langsung saja Anya menghampirinya dan orang tadi terkejut melihat Anya. “Kau, bukankah kau yang memberitahuku bahwa Rena sudah mati? Kenapa kau ada di sini? Kau siapa berani berkata Rena mati? Jawab pertanyaanku!” perintah Anya ini disambut dengan todongan senjata dari anak buah ketua penyelamat. Anya tak takut. Orang tadi menoleh pada ketua penyelamat dan ia mengangguk pelan. Lalu, ketua penyelamat membuka maskernya dan terkejutlah Anya dan murid-murid di sana. Ternyata, ketua penyelamat itu adalah Rena. Anya jatuh dan meneteskan air matanya. Rena menghampiri Anya pelan dan menyuruh pasukan senjata yang menodong Anya mundur. Wajah Rena yang semula keras berubah lembut. Ia mengusap rambut Anya dan memeluknya. “Maafkan aku yang sudah membohongimu. Aku terpaksa melakukannya.” Kata Rena dengan lembut. Tangis Anya semakin menjadi-jadi. Lalu Rena berdiri dan berbicara dengan lantang.
“Untuk kalian semua yang sudah meremehkanku! Inilah diriku sebenarnya. Aku adalah seorang anggota mata-mata rahasia dunia. Aku direkrut saat umurku 14 tahun, sebulan setelah kematian orangtuaku. Aku sekolah di sini bukan suatu kebetulan, tapi karena sebuah misi. Seorang mata-mata Rusia menyamar sebagai murid di sini. Mungkin ada yang belum tahu siapa murid tersebut. Ia adalah Ichang.” Perkataan Rena mengejutkan semua orang di situ. Tapi, ia tak peduli. “Itulah kenapa Ichang dan saya selalu bertengkar. Dan saya selalu mengalah untuknya karena saya tahu, jika saya melawannya, saya melanggar misi saya untuk menyelidikinya dan saya akan dibunuh. Tapi, kisah persahabatan saya dengan Anya, adalah sebuah fakta. Dialah yang selalu melindungi saya saat saya dikerjai oleh kalian, orang yang buruk. Dan sekarang, giliran saya untuk membalas kasih sayang Anya pada saya.” Semua orang menunduk, menyadari semua perbuatan mereka pada Rena. Anya sesenggukan dan berdiri. “TAPI KENAPA KAU MENINGGALKANKU DAN KEMBALI SEPERTI INI?” teriak Anya pada Rena.
“Karena identitasku sudah terbongkar. Karena sudah terbongkar, aku harus memalsukan kematianku agar orang-orang yang dekat denganku tidak dibunuh. Dan satu-satunya orang yang dekat denganku adalah kau, Anya. Aku tak mau kau dibunuh mengerikan di tangan orang-orang jahat. Aku tak rela. Lebih baik aku mati tapi kau selamat, daripada kau mati sengsara dan aku hidup dengan beban berat.” Tangisan Anya pecah lagi dan Rena berusaha keras menahannya. Rena berjalan menuju Anya.

“Sekarang, aku harus pergi. Kukira, kita takkan pernah bertemu lagi. Entah kapanpun itu. Mungkin saat kita berdua sudah mati, kita akan bertemu lagi. Maafkan semua kesalahanku padamu. Maaf karena membuatmu sedih 1 tahun ini. Sekarang, karena sudah melihatku hidup, jangan bersedih lagi. Jangan sia-siakan hidupmu hanya untukku. Dunia terlalu indah jika kau melewatkannya, kawan. Aku akan selalu mengingatmu sebagai pahlawan dalam hidupku. Aku akan selalu merindukanmu, kawan.” Ucapan perpisahan ini berat untuk Rena ucapkan, sebenarnya. Tapi, jika tidak mengatakannya, ia takut Anya akan selalu mengabaikan hidupnya dan selalu mengejarnya.
“Janganlah kau ucapkan selamat tinggal, Ren. Kau bukan Tuhan. Kau tak tahu apa yang selanjutnya terjadi dalam hidup ini. Juga maafkan kesalahanku padamu, dan juga takkan kusia-siakan hidupku lagi. Karena kau, Rena, sebagai bunga dalam hidupku. Aku juga akan selalu merindukanmu, sahabat terbaikku.” Jawaban Anya dijawab senyuman di wajah Rena. Rena berbalik dan memberi aba-aba untuk kembali ke truk. Saat melangkah, Rena berhenti sejenak dan melambaikan tangannya pada Anya, untuk terakhir. Anya membalas lambaiannya dan tersenyum haru.

SELESAI

Cerpen Karangan: Aulia Mar’atina

Cerpen The Flower of War (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


4 Sahabat Takkan Pernah Berpisah

Oleh:
Pada hari sabtu, Layla, Syahara, Zhakira dan Zaynab berkumpul di rumah Syahara “teman-teman, kita kan sudah lama bersahabat, aku ingin membuatkan group untuk kita bersama. Nama groupnya adalah si

Tragedi Di Wayward Mansion

Oleh:
Nina menghentakkan kakinya kesal ke arah aspal. Sudah ada satu setengah jam ia berdiri di tepi jalan untuk menunggu mobil lewat, namun tidak juga datang. Sebenarnya ia membawa mobil

Dear Friend

Oleh:
“Teman… bolehkah kau ku panggil Sahabat? Meski sikapku padamu dulu tak bersahabat!” Aku menuliskan kata itu di sebuah mading sekolah sebagai tanda isi hati sekaligus penyesalanku pada sosok teman

Sahabat Yang Sebenarnya

Oleh:
Tessa adalah anak yang terlahir dari sebuah keluarga miskin. Ia ada kesalahan tulang di kakinya dan tidak bisa berlari. Tidak ada yang mau berteman dengan Tessa. Ia mendapatkan beasiswa

Perjalanan Cinta Alena (Part 1)

Oleh:
Dan lagi, air mata Alena mengalir deras di malam ini. Kembali otaknya memutar apa saja hal yang sudah dia lakukan dan semua itu terbuang sia-sia. “Hentikan. Aku harus bisa.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *