The Meeting

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 14 March 2017

Hmm… Kota Malang. Kota dingin yang menyajikan sejuta keindahan. Kota pelajar yang tak jarang mengundang romantisme para insan manusia di dalamnya, tak terkecuali diriku. Ya, Malang memang menjadi saksi manis getirnya perjalanan hidupku yang berharga dan pastinya terlalu sayang untuk dilupakan. Ini kisahku..

Sore itu, kota Malang diguyur hujan gerimis hingga malam hari. Cuaca yang biasanya dingin menjadi semakin dingin menusuk hingga tulang. Waktu menunjukkan pukul 19.15. Aku hanya berbaring di atas kasur kamar sambil mendengarkan musik dari playlist HP. Rasanya teramat malas untuk berpisah dengan kenyamanan yang kurasakan malam itu. Disela-sela kenyamanan yang kurasakan, tiba-tiba handphoneku berbunyi memecah ketentraman kamarku. Tririririt.. Dony, sahabatku menelpon. “Ngapain ni anak” pikirku dalam hati.

“Halo.” Kataku sembari mengangkat handphone.
“Hoi kampret! Kemana aja lu? Anak-anak udah pada ngumpul nih!” Timpal Dony. “Jangan bilang lo lupa?” sambungnya.
Kata-kata Dony langsung mengingatkanku bahwa aku ada janji malam itu. Teman-teman satu geng waktu kuliah dulu sudah sepakat untuk berkumpul malam ini. Kebetulan Temanku, Adrian baru saja membuka kafe di daerah Jalan Bandung, Klojen. Ada sedikit rasa penyesalan terlintas di benakku.
“Iye, ini udah OTW. Jalanan lagi macet. Jadi agak lama.” Jawabku.
“Awas lo ya sampe gak dateng. Gua bakar kost-kostan lo. Hahaha.” Sambung Dony.
“Iye-iye. Bawel banget ni bocah. Gua tutup dulu. Jalanan rame.” Sahutku sembari menutup telepon.

Segera, kusambar handukku dan bergegas menuju kamar mandi. Aku tak ingin menjadi bulan-bulanan kalau sampai datang paling telat. Namaku Ivan Raditya, umurku 24 tahun. Aku hanya seorang pria biasa yang baru saja lulus sarjana dan sedang sibuk mencari pekerjaan. Saat ini memang susah mencari pekerjaan, walaupun mempunyai modal IPK yang lumayan sepertiku.

Jam tangan sudah menunjukkan pukul 19.35. Setelah berpakaian dan merapikan rambut, aku siap untuk berangkat. Sejurus kemudian, kukeluarkan vivi dari kandangnya. Vivi adalah nama dari vespa butut warna orange kesayanganku. “walau jelek tapi disayang” itulah kata-kata dari stiker yang sengaja kutempel di body belakang si Vivi. Stiker itu menunjukkan seberapa besar rasa sayangku pada Vivi.
“Ayo Vi. Waktunya mengguncang jalanan Kota Malang.” Gumamku.

Jalanan Kota malang malam itu memang sangat padat, walaupun diguyur hujan dari sore. Waktu itu kebetulan memang malam minggu. Banyak pasangan muda-mudi mengumbar kemesraan baik di teras-teras kafe maupun di dalam mobil yang berlalu lalang di jalanan Kota Malang.
“Buset dah. Ini orang gak ada bosen-bosennya sih. Pacaran mulu tiap malam minggu. Bikin macet aja.” Gerutuku dalam hati dengan sedikit rasa iri. Saat itu aku memang sedang menjomblo, sehingga agak sedikit terganggu saat melihat pasangan yang sedang bermesraan.

Tak lama kemudian, aku sudah sampai di depan kafe milik Adrian. “First milk and Yogurt” itulah tulisan yang terpampang jelas di sisi depan kafe. Aku pun masuk ke dalam kafe tersebut. Desain ruangan terbuka ditambah poster bergambar karikatur menghiasi dinding kafe . Model meja dan kursi yang kebanyakan terbuat dari kayu menambah kesan simple namun elegan kafe ini. Udara dingin menyeruak di kafe ini, karena desain kafe yang terbuka ditambah gerimis yang tak kunjung reda. Suasana kafe sepi saat itu, hanya dua meja yang terisi. Tidak heran, karena ini memang kafe baru.

“Woi kampret! Sini.” Terdengar suara yang sudah tak asing.
Ternyata Dony yang berdiri sambil memanggilku. Terlihat Ada dua orang lain lagi yang sedang duduk di samping Dony. Tanpa pikir panjang aku pun menghampiri mereka.
“Hoi lama gak ketemu, makin ganteng aja lu Van. Habis operasi plastik lu?” Sapa seseorang yang duduk di samping Dony. Orang itu ternyata Fuad, anggota geng yang sudah sekitar tiga bulan tidak bertemu karena sudah diterima bekerja di suatu perusahaan di Kota Surabaya.
“Eh elu, ad. Gua juga pangling sama elu. Lama gak ketemu jadi makin mirip g*y aja lu. Hahaha.” Sahutku sambil duduk di kursi yang masih kosong.
“Hahaha. Lu berdua tuh pasangan g*y. Udah lama gak ketemu cipika-cipiki sana.” Timpal Dimas, anggota geng lain yang juga sudah lama tidak terlihat batang hidungnya karena memutuskan berkarier di kota asalnya, Solo.
“Anjrit. Bawel lu pada. Hahaha.” Sahut Fuad sambil tertawa.
“Heh, gerombolan g*y. Berisik banget. Buruan mau pesan apa?” terdengar suara seseorang yang datang ke meja kami. Adrian, sang juragan kafe datang dari dapur menghampiri kami.
“Halo pak Bos! Gimana bisnisnya? Kapan rencana mau bangkrut?” sapaku dengan nada bercanda.
“Hahaha. Kampret bener lu. Doain aja bangkrutnya entar pas mau kiamat.” Sahut Adrian.
“Si Ivan gak bakalan pesan, Yan. Dia kan sukanya susu formula buat bayi. Dia bakal gumoh kalau minum yang beginian.” Sela Dony.
“Hahaha. Asem lu. Nah elu pesen apa tu Don? Lu kan gak bisa minum selain susu emak lu?” Timpalku diiringi tawa dari semua anggota geng.

Suasana hangat malam itu seakan mengobati dinginya kota Malang yang sedang diguyur hujan. Adrianpun ikut bergabung bersama kami. Obrolan-obrolan kami seakan membawa kami kembali ke kenangan-kenangan konyol semasa kuliah dulu. Dari kenangan sewaktu titip absen sesama anggota geng, ribetnya mengerjakan tugas kelompok, sampai kenangan membolos bersama saat malas mengikuti kuliah dari dosen yang super menyebalkan, dan malah nongkrong di kantin Fakultas Ekonomi atau pun Fakultas Hukum untuk mencuci mata menikmati keindahan mahasiswi-mahasiswinya yang terkenal cantik dan seksi.

“Eh yan, loe ada lowongan nggak? Bete nih gua nungguin panggilan kerja.” Tanyaku pada Adrian.
“Ooh, loe masih nganggur, Van? Kebetulan nih gua juga lagi nyari waiter sama kasir. Kalau mau, besok senin lu ke sini aja.” Jawab Adrian.
“Bener nih? Asik.. Oke dah, besok senin gua ke sini, pak Bos. Hehehe.” Sahutku kegirangan.
“Tapi gajinya nggak sebesar pegawai kantoran lho ya? Entar lu minta puluhan juta.”
“Tenang aja pak Bos. Entar kalau kekurangan modal, kita jual aja motor antikmu ke tukang rosok. Hehehe.” Jawabku. Ternyata kedatanganku malam ini ada hikmahnya. Sesaat, aku dapat melupakan kenyamanan kasur kostku tadi.

“Eh, ada cewek cakep tuh!” bisik Fuad sambil memberikan kode ke arah pintu masuk.
Kami pun secara otomatis menoleh ke arah pintu masuk. Terlihat ada tiga orang gadis memasuki kafe. Kami seakan terhipnotis akan keindahan yang tersaji di hadapan kami. Pandanganku tertuju pada seorang gadis berbaju biru tua dan memakai hijab warna orange, warna yang mirip dengan warna Vivi. Tersenyum manis dan dengan anggun berjalan menuju meja yang masih kosong. Sepertinya aku pernah melihat gadis ini, tapi lupa entah di mana.

“Itu yang pake hijab kaya anggota girlband Chibi itu deh.” Gumam Dony.
Lagi-lagi ucapan Dony merefresh pikiranku. Benar, itu Ellen. Gadis yang baru saja keluar dari Girlband Chibi. Pantas saja aku seperti pernah melihat wajahnya. Tak kusangka ternyata dia sangat cantik ketika memakai hijab.
“Eh, gua ambil orderan dulu ya.” Kata Adrian sambil pergi menghampiri tiga gadis tadi.
“Kita taruhan ada yang berani nggak?” Suara Dimas menghamburkan lamunanku.
“Taruhan apaan?” sahut Fuad.
“Siapa yang dapat nomor HP dari cewek itu bakal ditraktir makan. Gimana?” jawab Dimas antusias.
“Jiah, gak berani gue. Takut digampar.” Jawab Fuad dengan nada lemah.
“Iya, gue juga.” Kata Dony, mengamini perkataan Fuad.
“Cemen banget sih lu berdua. Lu gimana Van?” Tanya dimas padaku.
“Huuft.. gue lagi gak minat ngomong sama cewek.” Jawabku menghindar.
“Cemen banget lu semua. Gini aja, kita undi pake botol. Siapa yang ditunjuk sama kepala botol ini musti minta no HP cewek berhijab di sebelah.” Ucap dimas sambil mutar botol kosong minuman soda yang sedari tadi ada di atas meja kami tanpa meminta persetujuan dariku maupun yang lainnya.

Suasana seketika menjadi tegang. Semua mata tertuju pada botol yang diputar oleh Dimas, dan berharap tidak menjadi “lelaki beruntung” yang ditunjuk oleh botol tadi. Aku yang sebelumnya cuek menjadi ikut deg-degan. Putaran botol semakin melambat. Dan mampus, itulah kata yang terlintas di kepalaku. Botol itu mengarah tepat ke arahku.
“Yes!!!” Teriak Trio kutu kupret itu bersamaan. Suasana seketika pecah.
“Sono Van. Beraksi. Tunjukin kalau elo emang cowok! Hahaha.” Seru Fuad kegirangan.
“Iya. Tadi kan kita udah sepakat. Hahaha.” Sahut Dony dengan raut muka yang jauh lebih girang.
“Heh bentar! Tadi kan Dimas muter botolnya tanpa tanya kita dulu. Gimana bisa disebut kesepakatan?” Jawabku tak terima.
“Udah sono berangkat. Atau lu mau nraktir kita semua makan. Hahaha.” Balas Fuad.

Ucapan Fuad membuatku diam. Mentraktir mereka bertiga makan sama saja dengan bunuh diri, karena jatah bulananku akan raib seketika. Aku merasa seperti dicegat tiga perampok di tengah jalan. Tidak bisa lari, hanya bisa berharap belas kasihan dari mereka. Aku menoleh ke arah Dimas dengan muka memelas. Akan tetapi dia hanya tertawa kegelian. Hal yang paling membuatku kesal adalah tingkah Fuad dan Dony yang sebelumnya menentang ide Dimas, kini berbalik 180 derajat ketika tahu jika aku adalah “lelaki beruntung” itu. Benar-benar sial.

Aku butuh waktu beberapa menit untuk menenangkan diri. Kususun kata-kata yang nanti mungkin bakal kuucapkan, serta skenario melarikan diri jika nanti hasil tak sesuai dengan rencanaku.
“Oke!” Aku bangkit dari tempat duduk.
Dengan perasaan kesal karena ulah ketiga temanku, kuberanikan untuk melangkah. Langkah demi langkah terasa sangat berat. Degup jantungku juga tak kalah heboh. Seakan ada orkes dangdut di dalam dadaku. Akhirnya, aku sampai di samping meja ketiga gadis tadi.

“Hai.” Sapaku hangat dengan nada sedikit bergetar. Terlihat raut wajah agak terkejut dari ketiga gadis itu.
“Oh iya, kenalin. Aku Ivan.” Tambahku sambil mengulurkan tangan.
“Ratna.” “Dian.” “Ellen.” Dengan senyum ramah dan hangat, mereka menyambut uluran tanganku dan secara bergantian menyalamiku. Mataku langsung tertuju kepada Ellen. “Anjrit, cakep banget.” pikirku dalam hati.
“Eh, kamu Ellen Chibi itu bukan?” kataku membuka pembicaraan.
“Iya. Itu dulu tapi, kok kamu tahu sih? Hehe.” Jawab Ellen dengan tertawa kecil.
“Soalnya tadi aku perhatiin kayak pernah lihat. Eh, ternyata benar itu kamu, Ellen Chibi yang di TV itu. Oh iya, kalian dalam rangka apa nih ngumpul-ngumpul di sini?” Tanyaku.
“Nggak dalam rangka apa-apa sih. Cuma ngumpul-ngumpul aja sekalian nyobain kafe baru.” Jawab Ellen sambil tersenyum.
Senyuman Ellen benar-benar membuat orkes di jantungku semakin menggila. Ingin rasanya aku lari dari situasi ini.
“Mmm… kayaknya Aku harus balik ke teman-temanku deh.” Kataku.
“Lho kenapa? Kok buru-buru banget.” Sahut Ellen keheranan.
“Nggak apa-apa sih. Cuman temenku kasihan nungguin. Oh iya, boleh minta nomor HP kamu nggak, Len?” pintaku kepada Ellen.
Raut wajah Ellen seketika berubah. Wajahnya terlihat kebingungan dan kurang nyaman. Mungkin karena permintaanku yang sedikit kurang ajar. Melihat raut wajah Ellen, pikiran negatif langsung merasuki kepalaku. “Heh dodol buruan kabur, sebelum lu dilempar kursi” Pikiranku seakan memprovokasi untuk membatalkan misi ini. Suasana menjadi hening dan canggung beberapa detik.
“Eee… Tapi kita kan baru kenal.” Jawab Ellen.
“Mmm.. atau nggak usah aja deh. Mungkin lain kali aja.” Sambungku untuk mencairkan suasana.
“Ya udah, aku pergi dulu ya. Bye..” Kataku kepada Ellen dan teman-temannya seraya bersiap kembali ke tempat dudukku.
“Oh iya.” Jawab Ellen singkat.
Tanpa memperhatikan wajah Ellen, Aku membalik badan dan bergegas kembali ke meja “gerombolan perampok” tadi. Terlihat Adrian sudah ikut bergabung bersama mereka. Dia terlihat menahan tawa. Mungkin dia sudah faham situasi yang baru saja terjadi.

Aku duduk di kursi samping Dony. Kakiku terasa lemas. Mungkin karena gugup yang baru saja menderaku. Diiringi suara cekikian teman-temanku, aku ambil nafas panjang untuk menormalkan detak jantungku yang tak beraturan.
“Gimana? Dapat kagak?” Tanya Fuad penasaran.
“Nggak. Suasananya mencekam. Jadi gua kabur aja.” Sahutku sambil mengatur nafas.
“Hahaha.” Mereka kompak tertawa.
“Ya udah, nih. Minum susu emak gue dulu gi.” Timpal Dony sambil menyodorkan minumannya.
“Hash! Gue suplex juga lu!” sahutku dengan nada kesal.

Mereka seketika tertawa melihat ekspresi kekesalanku. Terlihat perasaan puas terukir pada wajah teman-temanku. Mereka seakan gembira melihat keadaan malu yang sedang kurasakan. Wajahku serasa seperti diparut. Sekilas kulirik Ellen. Terlihat dia cekikikan bersama teman-temanya. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Tiba-tiba Ellen melihat ke arahku. Pandangan mata kami tak sengaja saling bertemu. Secepat kilat langsung kubuang pandanganku dan bersembunyi di balik pundak Dony. Ohh.. aku kembali merindukan kasur kostku.

Cerpen Karangan: Aditya Wahyu Aji
Facebook: aditya_wahyu35[-at-]yahoo.com

Cerpen The Meeting merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Semburat Senyum

Oleh:
Di pagi hari yang cerah, aku bangun dari tidur malamku. Aku bangun dan menghela nafas berat. Hari ini sebenarnya adalah hari spesial, namun aku hendak melupakannya. Hari dimana aku

Hingga Akhir Waktu (Part 2)

Oleh:
“Kasihan Naaa Kak Ramly, aku melihat sendiri mukanya babbak belur dan darah mengucur deras di mulutnya.” “Liiin, sudah jangan menangis lagi. Mulai sekarang aku tak akan mengungkitnya di hadapanmu.

Cinta Bersegi

Oleh:
Dari kejauhan terdengar bunyi bel sekolah yang menandakan jam pelajaran akan segera dimulai, para siswa berlari agar tidak terlambat melewati gerbang, begitu juga aku dan rendi, kami berlari sekencang

Tival dan Sahabatnya

Oleh:
Masa SMP adalah masa-masa dimana seorang anak berusaha menemukan jati dirinya. Biasanya juga mencari teman. Kebanyakan dari mereka di bahkan salah mencari teman. Yang paling parah hingga terjerumus dunia

Sahabat 16

Oleh:
Aku tak pernah tahu mengapa dia masih sama seperti dulu. Terkadang aku hanya berfikir dia hanya mengagumi diriku ataupun senang bercanda denganku. Adel, sapaan itu yang dimiliki aku. aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *