The Night Will Be Over Soon (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penyesalan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 9 February 2022

Hari itu, hujan turun begitu derasnya sepanjang hari. Sejak pagi, langit terlihat gelap dan berawan, dingin dan riuh oleh ribuan rintik air. Banyak orang lebih memilih untuk bergelung di dalam selimut tebal yang hangat dengan secangkir cokelat panas dan TV yang menayangkan drama-drama favorit, lalu bermalas-malasan seharian tanpa mempedulikan cuaca di luar rumah mereka yang nyaman.

Itulah yang dilakukan Ares, siswa kelas 3 SMA paling berandal di seantero negeri. Rekor terbaiknya adalah meledakkan mobil APV putih kebanggaan kepala sekolah dengan sekilo petasan. Absensinya tak pernah lengkap, minimal 10 hari setiap bulan, maksimal… tidak ada. Menurut wakil kepala sekolah bagian kesiswaan, seorang Ares Marshall adalah perwujudan asli Satan lantaran perilakunya sudah diluar nalar manusia.

Ia giat sekali melanggar setiap peraturan sekolah. Tak ada satupun peraturan yang tidak ia langgar dengan sengaja, seperti memakai kaos oblong dan celana jeans sobek-sobek ke sekolah untuk “belajar” atau memarkirkan motornya di parkiran mobil khusus guru.

Di kost-kostannya, Ares hanya berbaring di kasur yang sudah tidak berbentuk sambil bermain game di ponselnya. Hari ini sekolah tidak libur, tapi cuaca dingin di luar semakin menguatkan tekadnya untuk bolos selama 3 hari ke depan. Bulan ini absensinya terlalu banyak, jadi ia harus menebusnya hingga mencapai lebih dari jumlah minimal yang ia tetapkan.

Ares tetap tak bergeming ketika seorang cowok bertubuh mungil berseragam lengkap yang mukanya terlalu muda untuk anak SMA menyelonong masuk dan menaruh kantong kresek di atas meja berkaki rendah di tengah-tengah kamarnya.

“Gue beli nasi padang komplit. Matiin hape lo dan makan,” perintahnya dengan wajah datar.
“Sabar, Ma, dikit lagi gue menang nih,” balas Ares yang membuat dahi cowok itu berkerut kesal.
“Untung gue bukan mama lo. Gue bisa mati cepet kalo punya anak model begini.”

Ares tertawa dan mematikan ponselnya, lalu menyeret tubuhnya ke seberang cowok itu. “Ya gitulah, makanya gue dibuang dan cuma dikasi duit segepok tiap bulan,” balasnya acuh-tak acuh dengan nada ringan. Keduanya tidak mengatakan apapun lagi setelah itu.

Ia memakan nasi padangnya dengan rakus menggunakan tangannya tanpa menghiraukan nasi yang masih mengepul lantaran baru matang ketika dibungkus. Lidahnya memang sangat tahan panas melebihi termos-termos kecil yang kemahalan di toko. “Jadi kenapa anak teladan unyu macem elo ikutan bolos sama gue di sini?” tanyanya setelah menghabiskan porsi kuli itu dalam kurun waktu 3 menit.

Cowok itu—Marvel Harrison namanya—menyodorkan bungkusan nasi lain ke hadapan Ares dan membuka sendiri bungkusan nasi bagiannya. “Gue yakin lo berencana bolos berhari-hari ke depan, dan mulainya pasti hari ini,” katanya sambil memakan nasinya dengan cara yang beradab: menggunakan sendok dan garpu.

“Aww… lo ngerti gue banget deh,” Ares melemparkan ciuman kepada Marvel dengan ekspresi genit yang membuat Marvel bergidik. “Nanti kalo lo udah lulus jangan kuliah ya, nikah muda aja sama gue.”
“Stop plis, jiji banget tau ga?”
“Gue juga ngerasa jiji kok, tenang aja,” Ares melambai-lambaikan tangannya seolah sedang mengusir nyamuk. “Eh, Vie, gue bosen maen game doang. Nanti ke sekolah aja yuk. Gue mau neror anak-anak basket. Biar popularitas gue di angkatan kelas sepuluh meningkat juga, jadi sekali tepok seribu nyamuk punah.”
“Sebentar. Tadi lo manggil gue apa?” kening Marvel kembali mengernyit.
“Vie. Marvie. Panggilan sayang dari gue buat elo,” cengir Ares. Ia menepuk-nepuk tangannya begitu porsi nasi padang keduanya habis, namun sadar itu tidak cukup untuk menghilangkan rasa lengket jadi ia beranjak untuk mencuci tangannya. “Cepetan abisin makanan lo. Kalo elo kekurusan ntar gue dituduh jadiin lo budak buat kerja rodi bersihin sampah di laut.”

Di sekolah, Ares memarkirkan motornya di area yang sebenarnya dikhususkan untuk mobil kepala sekolah yang tentunya kosong lantaran masih mengendap di bengkel. Ia mengacuhkan omelan Marvel soal dirinya buta huruf (ini menyinggung tulisan “Khusus Kepala Sekolah” yang tertera di palang) dan melepaskan helmnya sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan heboh untuk mengeringkan rambutnya. Ia menyerahkan 1 set jas hujannya untuk dipakai Marvel agar sahabatnya itu tidak terkena flu, jadi dia benar-benar basah kuyup.

“Sekarang gue ke lapangan. Lo balik ke kelas,” ia ganti memerintah.

Marvel sudah akan memprotes, namun Ares sudah kembali menerjang hujan menuju lapangan basket yang terletak di samping gedung sekolah. Pasrah, ia segera berlari menuju kelasnya di lantai 2.

Keesokan harinya, Ares tentu saja tidak muncul sama sekali. Begitu juga besoknya, besoknya, dan besoknya lagi. Setelah menelepon 30 kali tanpa diangkat sekalipun, Marvel menghela nafas. “Oke, gue samperin lagi itu anak,” gumamnya.

Di kost-kostannya, Ares sedang berbaring seperti biasa. Namun kali ini, ia tertidur lelap sekali. Marvel mengernyit heran. Ia tahu betul sahabatnya bukan tipe orang yang senang tidur siang, apalagi ini sudah hampir melewati jam makan siang. Ares makan 5 kali sehari, jadi tidak mungkin dia lebih memilih tidur daripada makan.

“Res…” Marvel mengguncang tubuh temannya itu. “Woi, Res, bangun. Lo belum makan kan? Ares!” Tak sengaja, tangannya menyentuh pipi Ares yang memerah dan terasa panas. Marvel mendengus. “Tuh kan, lo demam. Udah gue bilang waktu itu lo aja yang pake jas ujannya,” omelnya seraya melepaskan jaketnya. Walau kesal, ia tetap mencari handuk dan baskom, mengisinya dengan air, lalu mengompres jidat Ares yang panas sekali.

“…lo jadi istri gue aja ya…” cetus Ares serak. Ia tersenyum jahil seperti biasa, kemudian terbatuk-batuk. “Gue inget… dulu waktu gue sakit… Vela yang rawat gue…” Ares terbatuk-batuk lagi, kali ini lebih keras dan berdahak.
Marvel menatap kakinya sendiri. “Gue yang ribet anter dia ke sana kemari, entah beliin bubur atau obat buat elo.”
“Vela mana, Vie…? Kok dia ga ke sini? Kan sekarang gue sakit lagi…”
Temannya hanya terdiam. “Lo udah sakit dari kapan? Sejak lo ke sekolah terakhir kali?” Ares hanya mengangguk. “Ya udah, gue anter lo ke RS. Demam lo kelamaan.”
“Gue ga perlu dokter, Vie… gue perlu Vela…” ceracau Ares yang semakin serak.

Tanpa menghiraukan kata-kata Ares, Marvel mengangkat tubuh temannya yang lebih besar dan lebih tinggi darinya dengan sepenuh tenaga. Dipapahnya Ares menuju mobilnya dan segera mengebut menuju rumah sakit.

Sebenarnya, saat ini Marvel benar-benar khawatir. Suhu tubuh Ares pasti mencapai 40 derajat atau lebih, dan ia sudah seperti itu selama 3 hari. Marvel tahu dia pasti demam tinggi, namun ia pura-pura tidak pernah mengetahuinya. Saat Ares sakit, ia akan meracau soal Marvela, adik kembarnya yang juga merupakan pacar Ares. Itulah yang Marvel hindari. Kenapa?
Karena Marvela sudah tiada dan dialah yang membunuhnya.

Di rumah sakit, Marvel langsung menuju ke UGD dan menyalak kepada salah satu perawat untuk menyediakan sebuah tempat untuk temannya. Dia berlari lagi menuju mobilnya bersama seorang dokter dan 4 perawat yang membawa sebuah tempat tidur. Sayangnya alih-alih bekerjasama dan segera naik ke kasur itu, Ares malah mengamuk pada Marvel.

“Udah gue bilang gue ga perlu dokter! Gue cuma perlu Vela!” Ares terhenti oleh batuknya yang terdengar jauh lebih parah.
“Plis, Res, lo harus nurut, sekali aja,” bujuk Marvel sembari menarik tangannya.
“PERGI LO, BRENGSEK! GUE CUMA PERLU VELA!” bentaknya. Kakinya berusaha menendang Marvel menjauh, namun ia berhenti setelah merasa kepalanya berdenyut keras. “Mana Vela, Marvie? Suruh dia ke sini dan gue bakal masuk.”
Marvel terdiam sejenak. “Ayolah, Res, lo bukan anak kecil lagi. Ayo cepet turun—”
“Jangan banyak bacot dan cepet telepon dia!” salak Ares hingga urat-urat di pelipis dan lehernya menonjol.

“VELA UDAH GA ADA, RES!” akhirnya cowok imut itu ikut membentak. Dia mengacak rambutnya frustasi sebelum mengulang dengan pelan, “Vela udah ga ada, Ares. Lo ada di sana waktu pemakamannya dua taun yang lalu! Jadi plis, stop tingkah anak kecil lo ini dan naik ke sana sekarang juga!”

Kali ini, Ares seolah tertampar realita yang selalu dihindarinya. Ia hanya diam ketika Marvel dan para perawat membopongnya ke atas kasur itu dan membawanya masuk ke tempat yang selalu dibencinya itu.
Baginya, tempat itu hanyalah rumah singgah sebelum seseorang mati dan dokternyalah yang menjadi penentu siapa yang sembuh, siapa yang mati. Mereka hanya berusaha keras menolong nyawa manusia demi uang dari keluarga pasien. Jika mereka gagal atau uangnya kurang, cukup katakan “Kami sudah berusaha sebaik mungkin” dan pergi untuk memeras keluarga pasien selanjutnya. Dia benci ketika ada seseorang berkata “Ga semuanya begitu kok”. Ibu kantin itu contohnya. Ares tersenyum, menggebrak meja, berkata “Terus kenapa harus dokter sejenis itu yang harus rawat Vela?”, dan pergi.

Bayangan yang menjadi mimpi buruknya selama berbulan-bulan terakhir mulai memenuhi kepalanya:

“Dok, dokter, saya bisa bayar berapapun harganya, jadi tolong selamatin pacar saya…”
“Maaf, Mas, pihak kami perlu persetujuan wali sahnya untuk operasi.”
“Tapi ini darurat, Dok! Gue tau lo ga buta! Pacar gue kehilangan banyak darah dan lo harusnya cepetan tangani dia sebelum terlambat!”
“Saya tau, Mas, tapi ini prosedur yang harus saya jalani sebagai dokter…”
“Gue bisa sediain berapapun yang lo mau! Cepet kerjain tugas elo sekarang juga!”

Dokter itu memasuki ruang UGD dengan wajah memucat dan keluar beberapa saat kemudian dengan beberapa perawat yang mendorong kasur Vela menuju ruang operasi. Ares segera mengikuti di sampingnya, memegang tangan Vela yang berbasuh darahnya sendiri erat-erat.

“Ares… j-jangan… na-ngis… ya..?”
“Vel, jangan tinggalin gue, paham? Gue belom ajak lo ke tukang arum manis yang lo pengen itu, jadi yang kuat ya? Keluar dari sana hidup-hidup, ngerti?”
Vela meremas pelan tangan Ares untuk menjawab “ya”, namun pada akhirnya, gadis manis yang seperti boneka itu berakhir di ruang mayat.

Cerpen Karangan: Charissa. E
IG: choco_de_ville
Haloo, I’m back 😀
Semoga cerita kali ini juga bisa memuaskan kalian ya, mohon ditunggu cerita-cerita selanjutnya (kalau lagi free ya, hehe ^-^)
*P.S. Buat yang mau request cerpen juga, silahkan DM saja ya, karena aku jarang cek komen-komen dan ga ada notif juga XD Thanks for reading my stories!

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 9 Februari 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen The Night Will Be Over Soon (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Put Koong Wibolaikath

Oleh:
Suara gemuruh kendaraan silih bergantian melewati depan rumahnya, malam itu terasa sangat ramai seolah keramaian itu ikut senang mengetahui keberhasilannya, kesenangan ini adalah hasil dari arti bahwa ia orang

Sahabat Pertama

Oleh:
Ini adalah kisahku, kisah yang selalu kukenang, disaat sedang berada di sekolah pertamaku yaitu pada masa TK. Haii.. this me yang menulis cerita ini dengan senang hati. Di sekolah

Tak Terbayangkan

Oleh:
Siang ini, aku berjalan bersama Wanda, sahabatku. Sejak keluar dari gerbang sekolah, Wanda terus saja mengomel soal pacarnya yang tiba-tiba minta putus dengannya. Aku hanya mendengarkannya sambil menahan kantuk.

Love Really Hurts (Part 2)

Oleh:
Untuk yang kesekian kalinya aku melirik jam tanganku. Sudah jam delapan malam. Fallen menyuruhku untuk datang jam tujuh tepat. Tapi sudah satu jam aku menunggu, tak muncul batang hidungnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *