Totally Whatever (Part 1)

Judul Cerpen Totally Whatever (Part 1)
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Gokil, Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 3 January 2017

Dia..
Apa?
Siapa?
Buih kan tetap menyapa butiran pasir di pantai bukan?

Langit yang begitu cerah dengan ribuan manusia menikmati perjalanan hidupnya di jalan-jalan kota, tak ada satu pun yang ‘kan menyadari kehadirannya. Bersembunyi di balik semak yang tak terawat di sela-sela pepohonan jalanan. Menarik nafas panjang dan kemudian menyentuhkan punggung lebarnya di rerumputan hijau yang lembut tumbuh di tanah. Dia menerawang, menembus dedaunan pohon yang menutup pandangannya dari langit.
1…
2…
3…
Dia menutup mata dan tertidur.

Hah, aku tersenyum kecut melihat aktifitasnya yang seakan memang takkan ada orang yang menyadarinya, di depan monitor laptop yang sengaja kuaktifkan, dan di sudut kafe yang sengaja kudatangi, hanya untuk melihatnya.
Dua minggu yang lalu, dengan perasaan yang bercampur aduk

1. setelah dipecat dari pekerjaanku hanya karena sebuah kopi (baiklah, aku memang ‘alay’, kopi itu tumpah di sederetan dokumen penting tepat di hadapan bos, dan saat panik-mode-ku aktif, aku menyenggol laptop bos dan terjatuh hingga rusak yang saat itu, seluruh dokumen sangat dibutuhkan secepatnya dan belum diback-up. Alhasil, aku tak tahu bagaimana perjalanan selanjutnya),

2. juga di hari pacarku ketahuan selingkuh (sebenarnya saat itu aku cuma mau curhat jadi tak mengiriminya SMS atau meneleponnya. Aku langsung menuju rumahnya dengan timing yang sangat bagus saat dia memegang tangan wanita lain dengan wajah yang sangat serius dan membuat wanita itu tersenyum bersemu),

3. adalah hari tepat dimana aku juga hampir ditabrak truk (mungkin karena ke-depresi-anku, aku sungguh tak melihat kulit pisang di pinggir jalan saat aku akan menyeberang jalan (hari geneee gitu loh, kulit pisang?) dan tiba-tiba saja sebuah truk sampah mendekati tempatku, untungnya aku cukup lihai sehingga dalam keadaan terduduk langsung mundur ke belakang. Ya, sayangnya ini bukan film korea atau drama-drama romantis sehingga yang terjadi adalah orang-orang yang memperhatikanku hanya menunjukkan wajah shock dan beberapa menyerapahiku, selebihnya tidak peduli).

Dan semua itulah sama dengan hari dimana aku melihatnya, “sesuatu” yang menurutku menunjukkan hal yang disebut, “terserah” saat melalui jalan ke rumah mungilku. Nyata. Di dunia ini. Hah, aku kembali tertawa dengan nada tertekan.
Awalnya aku tak percaya, dengan bajuku yang penuh debu, wajahku yang sangat dekil, rambutku yang acak-acakan (kesannya mungkin lebih mirip pengemis ya?), dia berjalan lurus di depanku, menembus semak-semak dan berlanjut seperti yang tadi kusebutkan. Dan aku? Dengan mulut menganga lebar memperhatikan keadaannya hingga ada seseorang yang lebih memperhatikanku dibandingkan “sesuatu” itu menempelkan uang seribu di tanganku dengan wajah yang sangat kasihan dan berlalu.
“Heii!!! Aku bukan Pengemis Tau’!!!” teriakku pada orang itu dan berjalan dengan marah, kasihan sekali bumi harus menerima pijakan kasarku hanya karena orang lain yang membuatku marah. Aku lupa kalau tadi aku tengah memperhatikan “sesuatu”.

Ya, begitulah hari itu aku melihatnya untuk pertama kali. Aku tetap mengatakan bahwa “dia” adalah “sesuatu” karena aku 100% ragu dengan keberadaan yang “totally whatever” seperti itu di zaman yang semua orang selayaknya “look only at me” begitu.

Dari penampilannya, aku tahu bahwa dia bukanlah orang yang kekurangan dari segi harta karena pakaiannya yang sangat rapih dengan jas di tangannya, walau tanpa tas, jam tangan Rado yang dikenakannya, juga sepatu merk Johnston & Murphy yang cukup ‘memakan’ jika bukan orang berkelas. Se-sembrono-nya aku, aku cukup lumayan jika masalah mode walaupun tidak tampak pada penampilanku.

Aku tetap memperhatikannya (walaupun tidak terlihat karena tertutup oleh semak) dan menunggunya untuk meninggalkan tempat itu. Dan hari ini adalah hari ke-5. Semua ini terima kasih kepada “ke-pengangguran-anku” dan “ke-jomblo-anku” sehingga aku lebih mirip stalker.

Aku tidak mempunyai perasaan apa-apa pada orang itu seperti di drama korea yang biasa kutonton atau di manga yang biasa kubaca, yang selalu menampakkan bahwa saat-saat seperti ini aku pasti akan jatuh hati, memulai pembicaraan atau bergerak dan terus menarik perhatiannya sehingga dia jatuh hati padaku lalu dimulailah kisah romantis. Sekali lagi TIDAK. Aku hanya ingin tahu, apa yang menyebabkannya “totally whatever”, karena aku pun ingin menikmati kehidupanku. Hanya itu.

Itulah sebabnya aku hanya memperhatikannya dari jauh dan tidak memulai percakapan dengannya. Sekali lagi, hari ini berlalu dan aku tak memperoleh pekerjaan dan pelajaran darinya. Aku menghela nafas panjang dan membuka pintu rumahku, menyalakan lampu, dan terduduk di sudut rumah (baiklah ini lebih mirip kamar daripada rumah karena kemungilannya yang super, hanya 4×6 seperti ukuran foto tapi dalam skala meter). Aku menerawang dan tertidur.

Baiklah hari ini hari ke-6! Aku harus…
Ups!
“Apa yang kau lakukan?” suara dari belakangku menyadarkanku bahwa aku tengah berada di depan pintu kafe dengan posisi kedua tanganku terangkat ke atas dan wajah yang penuh obsesi sementara semua orang menatapku aneh.
“Hehe, stretching, Pak! 1.. 2.. 1.. 2..” jawabku malu sambil melanjutkan “stretching” dengan kemeja rapi dan rok panjang serta tas selempang yang seakan penuh karena terisi dengan berbagai dokumen lamaran pekerjaan. Baiklah, takkan ada yang percaya aku sedang stretching.

“Akhirnya hari ini aku tidak bisa masuk ke kafe itu, saking malunya.” bisikku pada diri sendiri dengan wajah tertunduk. Tiba-tiba aku menyadari keberadaan seseorang di depanku yang kurasa akan berjalan melaluiku sehingga aku mundur selangkah dan kembali melanjutkan perjalananku.
*Ting! Sebuah ide cemerlang langsung memenuhi kepalaku dan tanpa sadar aku berbalik ke belakang dan..
Bruk…
“Ah, ma..af..” ucapanku terpotong saat aku menyadari lelaki yang berdiri di hadapanku adalah “sesuatu” dengan wajah tanpa senyum menatap lurus kepadaku.
“Kau mau apa?” tanyanya lurus.
“Hah?” Aku keheranan. Apa maksudnya? Mau apa?
1.. 2… 3… 4… 5… ! 5 menit aku terdiam keheranan dan kami hanya saling bertatapan. Dia tak mengatakan apa pun setelah itu! Jika aku tak berbicara maka kediaman ini akan terus berlangsung hingga esok. Geez. Baru saja aku berpikiran untuk mengintipnya dari tempat lain dan melihat kehidupan lainnya, tiba-tiba saja dia datang di hadapanku dan bertanya mauku apa?

“Ehm…” aku mencoba memulai pembicaraan.
“Apa?” Dia bertanya dingin.
“Kau, bagaimana kau bisa “totally whatever” seperti itu?” Tanyaku dengan nada sedikit tinggi sambil menunjuknya.
“Apa? Apa itu totally whatever? Dan berhenti melihatku di kafe itu!” Dia juga mulai meninggikan suaranya. Aku merasakan orang di sekelilingku berbisik-bisik.
“Ap..Apa?! Aku tak melihatmu! Berhenti sok PD!” aku meledak, walaupun yang dia katakan benar.
“Hmph. Kau… kau pasti idiot, kan?” katanya datar.
“Apa?!!!” Aku tak tahu mengapa perkataannya memang sangat “whatever”.
“Sudahlah, sangat lelah melihat orang sepertimu!” Potongnya dan berlalu di sampingku. Aku terdiam. Hellooo? Dia BAHKAN tidak mengenalku! Dan berbicara seakan kami sudah mengenal ribuan tahun lamanya??
APA KAU, HAH?!!!
“Hufff… huff… huffff…” aku menahan kekesalanku dari si “sesuatu”. Mukaku padam, pipiku menggelembung karena menahan udara yang ada di mulutku yang monyong sambil berjalan menuju taman yang ada di kota. Harus nyari bahan pelampiasan, nih! Pikirku.
“Nah itu dia!” aku mengambil botol yang tergeletak tak beraturan di bawah pagar taman dan berjalan masuk ke arah taman. Aku menaruh botol tertutup itu di tanah dan berencana akan menginjaknya.
Ciuuunggg… bukannya penyet, botolnya malah melayang 5 meter ke kanan tepat mendarat di kepala botak seorang bertubuh kekar.
Iaakkk!!! Mataku terbelalak dan segera mencari tempat sembunyi sebelum si botak menangkap bayanganku. Kenapa juga bunyinya ciuuunggg? Aku menjongkok di balik porselen air mancur setinggi 60 cm dan mengintip si botak yang mulai mencari-cari sumber pelempar botol. Fiuuuhhh… nice timing! Aku menyelonjorkan kaki dan bersandar pada porselen pembatas air mancur, menatap ke langit yang begitu cerah.
“Kenapa apes banget ya… hidup oh.. hidup…” bisikku pelan yang tanpa sadar tertidur sambil ngorok. Bayangin aja apa yang orang-orang pikir saat lalu-lalang melintasiku? Dasar perempuan tercela, tidur di tempat ginian…

“Mba… mba…” seseorang membangunkanku dari tidurku yang beriler-iler.
“Maaf, mba, tolong jangan nambah sampah yang harus saya bersihkan” kata bapak yang ternyata tukang sapu itu kalem. Jadi maksudnya aku ini sampah ya? Hiks.
“Ah.. iya, Pak, maaf.. maaf..” jawabku yang langsung berdiri sambil mengucek-ngucek mata. Langit telah bermandikan semburat jingga yang bertaut dengan kemuning senja. Langkahku gontai menuju kos.
Grrrrooookkk… bunyi perutku saja yang menemani langkahku yang terseret-seret.

Sesampainya di kos, aku mengeluarkan seluruh isi tasku, hm… untungnya nggak ada yang hilang. Hohoho. Apa juga yang mau diambil pencuri dari tasku? Isinya cuman dokumen lamaran kerja, HP pun cuman HP jadul zaman buyutku, dompet juga isinya tinggal serebu. Eh, kok malah ada recehannya. Kepalaku tertunduk, bahkan yang tadinya mau mencuri pun malah iba dengan diriku. Tapi, setidaknya aku nggak membawa laptop hari ini jadi laptopku aman di rumah. Hmm… cek tas udah.

Aku membaringkan badanku di atas matras yang selama ini menjadi pembaringanku dan menatap langit-langit yang sudah lumutan (sepertinya akan ada sesuatu yang keluar dari sana), tiba-tiba telingaku geli. Ah, udah biasa.
“Apa urung aja kali ya niatku mata-matain dia?” tuturku pada diri sendiri.
“Ah! Nggak Cathy! Masa’ gitu aja kamu nyerah! Hanya karena dia sangat nyebelin kamu nyerah? Ingat ingat! Kamu mata-matain dia supaya tau kenapa dia nggak pedulian banget dengan sekitarnya!!!” aku terduduk dan menggenggamkan kedua tangan di depan dada pertanda akan berjuang lagi.
“Yosh!!!” aku mengangkat tangan dan mencium bau yang nggak enak. Hehe, belum mandi.

Esoknya, aku benar-benar nggak kapok. Tapi, karena sedang bokek seperti yang kukatakan kemarin, aku akan mencari tempat lain memata-matainya. Mungkin dari balik semak-semak atau pohon di samping kafe?
Aku berjalan dengan semangat menuju tempat tujuanku! (Nah, lho, jadi nggak melamar kerja… ya, nantilah!) mengintip sedikit dari balik pohon di samping kafe melihat tempat nongkrong biasa si “sesuatu”.
“Eh..? Nggak ada??” aku mengamati seluruh pesisir sungai dari utara ke selatan, selatan barat daya, barat-barat laut, utara timur laut (eh, kok jadi anak pramuka?)

“Nyari siapa?” suara berat di belakangku mengagetkanku.
“Ampun, pak Polisi!! Saya orang baik-baik!” karena kaget aku langsung mengangkat tangan dan membungkukkan badan sambil menutup mata.
“Eh?” kata orang yang mengagetkanku. Eh? Aku membuka mata dan semua orang tengah menatapku jijik, bahkan lalu lintas pun sempat berhenti hanya untuk menatapku jijik. Kalo dalam film tuh seperti di-pause. Bukan pause temennya Willy ya!
Aku kemudian kembali melihat orang yang mengagetkanku, ternyata dia adalah si…
“Sesuatu!!!” teriakku sambil menunjuknya.
“Sesuatu??” tanyanya heran.
“Kamu itu bego apa kelewat jenius sih?” tanyanya dengan wajah yang sinis.
“Ya, kelewat jeniuslah!”
“Sudah kuduga, ke-lewat-an jauh jadi singgahnya di idiot” jawabnya santai.
“Heh, orang asing! Sok kenal banget sih kamu!” balasku.
“Ceileeh… sekali lihat juga tahu! Kamu cathy ‘kan?” katanya. Eh, dia kenal aku? Apa tiba-tiba aku jadi artis gitu? Batinku.
“Jangan ngimpi!” tiba-tiba dia nyeletuk.
“Eh… kamu.. baca pikiranku ya?” tanyaku sedikit menunjukkan ekspresi takut.
“Oy… muka kamu tuh jijay banget! Sok artis ‘kan? Kita kan se-SMP dulu!” katanya dengan nada naik turun seperti lagu naik-naik ke puncak gunung. (Eh, kalo di lagu itu malah naik-naik ya?)
“Temen SMP?” tanyaku heran. Hah??? Aku punya teman SMP se-keren-gila dia?
“Siapa?” lanjutku.
“Semprul” jawabnya datar.
“Apaaa???!!! Heh! Aku tuh nanya baik-baik!!” jawabku.
“Aku juga jawabnya baik-baik, Semprul!” sekarang intonasi balasannya jadi naik.
Aku menendang kakinya, dia menjambak rambutku, dan saling piting pun terjadi. Orang-orang sekitar pun akhirnya menyoraki kami. Hampir saja terjadi perang dunia ketiga.

“Dasar makhluk aneh! Aku kan nanya baik-baik!” kataku sambil menjitak kepalanya.
“Aku juga jawab baik-baik, namaku tuh semprul!!” jawabnya sambil menggigit tanganku.
“Kamu masih aja bilangin aku sem… eh, tunggu dulu…” tiba-tiba aku terhenti dan sorak-sorai penonton pun terhenti.
“Kamu semprul?!!” tanyaku dengan mata terbelalak. Dia memukul kepalaku dan mengangguk.
“Hehe, maaf ya teman-teman… ajang gulatnya udah tamat!” kataku melambai pada penonton acara gulat kami. Teriakan kecewa pun menemani langkah kami yang menjauh dari tempat kejadian perkara. Huuuuuu!!!
“Kok kamu bisa ngenalin aku sih?” tanyaku datar.
“Kamu belum berubah, rambut kepang dua, pake kacamata tebal, gigi dipagarin, dan pakaianmu itu lho, kelewat rapih..!” jawabnya. Aku hanya nyengir.
“Dan lagi, kamu pikir aku nggak rasa apa kamu pelototin terus?” tanyanya jengkel.
“Eh? Pelototin? Perasaanku selama ini proses mata-mataku tersembunyi deh…!” kataku sambil menempelkan celah ibu jari dan telunjuk ke daguku memutar kembali ingatan series pertama (hehe).
“Mana ada?? Mutar kursi kafe ke arah tempatku berbaring di samping sungai, dengan mata yang melotot ke arahku, belum lagi sok sembunyi di balik semak yang jelas-jelas kecil banget dan kepala-kakimu kelihatan!” jawabnya kesal. Aku hanya nyengir lagi.
“Kirain kamu ‘totally whatever’ sih..” kataku pelan.
“Totally whatever?” tanyanya bingung.
“Jadi, gini…” Kuceritakan kembali pengalamanku waktu di series 1 padanya.

“Ohhh… fufufu” tawanya penuh kelicikan.
“Jadi, aku seperti pahlawanmu begitu?” katanya sambil mengibaskan rambutnya. Keren sih keren, namanya aja, Semprul.
“Kalau kamu begitu lagi, aku beneran muntah lho di mukamu.” Kataku datar.
“Tapi, Cat, kamu nggak sepenuhnya salah sih…” katanya.

Tiba-tiba latar belakang berganti menjadi panggung hitam putih.
“Baiklah pemirsa, aku akan menceritakan kisah pahit masa kecil dari seorang keren sepertiku ini…” kata Semprul sambil memegang mic.
“Aku ini seorang anak yang dilahirkan di sebuah desa di Sulawesi yang sangat jauh dari kota. Bahasa kami pun bahasa Bugis yang tidak mengenal kata “semprul”. Saat itu, ada orang Jawa yang singgah di desa kami dan entah bagaimana mengeluarkan kata Semprul. Bapak dan ibuku yang mendengar merasa takjub dengan kata tersebut dan menjadikannya nama anak mereka, aku. Saat kecil hingga SD, aku merasa baik-baik saja bahkan aku selalu menjadi anak yang dihormati dan ditakuti karena namaku yang unik. Tapi, masa-masa bahagiaku berakhir ketika bapak dan ibu menyekolahkanku di kota saat SMP. Pertama kali mendaftar, guru-guru menertawaiku, saat di kelas memperkenalkan diri, anak-anak mengejekku dan menjadikanku bahan tertawaan. Pamor dan harga diriku hancur berkeping-keping…” saat semprul menceritakan masa kecilnya, Cathy menonton dengan pop corn. Eh, pop cornnya dapat dari mana?
“Balikin!” seorang ibu penjual pop corn merampas pop corn di tangan Cathy…
“Tidaaakkkkk!!!” Cathy berteriak histeris. Plak! Semprul memukul kepala Cathy.
“Dengerin serius nape? Katanya mau tau?!” kata Semprul ketus.
“Hehe.. oke oke.. lanjut!”
“Jadi, selama masa-masa SMP kita, selama 3 tahun itu… hidupku seperti di neraka…” Semprul meremas-remas bajunya.
“Nah, akhirnya aku udah terbiasa dan nggak peduli lagi orang mau bilang apa kek, mau nanggep apa kek, hidupku yah bawa enjoy aja…” katanya langsung datar. Cathy manggut-manggut.
“Tapi, kamu sekarang kaya, ‘ya?” Tanya Cathy.
“Kaya jigung lo! Rumah juga masih ngontrak kali di gang sebelah…” katanya.
“Eh, tapi kemarin-kemarin aku lihat pakaian kamu mewah-mewah…”
“Yaelah, tadinya aku mau dijadiin model. Malah aku udah mau dicariin nama baru, ‘Thomas’..” katanya sambil mengusapkan tangannya ke udara.
“Tapi, mereka lihat aku suka ngupil sembarangan, ngorek-ngorek telinga dan pantat sembarangan, merekanya jijay jadi batalin kontrak. Ya, pakaian mereka disuruh balikin.” Katanya datar.
“hm.. hm.. hm…” gumamku sambil menepuk pundaknya.
“Gimana kalau kita buat geng?” kataku mengusulkan.
“Kayak geng motor gitu?” Semprul membayangkan dirinya bersamaku naik motor gede dan membegal. “Kyaaaa!!!” teriak Semprul kayak perempuan nista. Aku memukul kepalanya.
“Yah, enggak lah! Kita buat geng ‘Grasah-grusuh’! Gimana?” tanyaku penuh antusias.
“Namanya katrok banget?” jawabnya. Helloooo… namamu lebih katro’ kaleee.
“Ada ide lain?” tanyaku dengan alis terangkat ke angkasa. Eh, maksudnya, terangkat saja.
“Bagaimana kalauuu…”
“Yaa…?”
“Bagaimana kalau ‘grusuh-grasah’??” tanyanya. Mendengar jawabannya, wajahku menjadi tak beraturan, mata ke mulut, mulut ke hidung, hidung ke mata…
“baiklah! Grusuh-grasah! Geng kita ini untuk buat bisnis di sosmed… tentang kehidupan totally whatever kita gimana?” tanyaku.
“Hm…” Matanya memicing kepadaku.
“Yang jelas kalo urusan matematika aku yang urus” katanya. Gubrak!!!
“Kenapa harus kamu cobaa? Lagipula apa coba hubungannya matematika dengan ini??” teriakku.
“Em… em… emmm…” gumamnya sambil menggoyangkan telunjuknya.
“Karena aku lebih pintar dalam matematika…” jawabnya yang membuatku menganga, mataku merah, iler dimana-mana.
“Pintar apanya? Nilai matematikamu cuman 10 waktu SMP” kataku.
“Daripada kamu nol?” jawabnya. Arrrggghhh!!! Hilang sudah integritas (eh?) yang selama ini kubangun.
“Sudahlah! Lagipula kita nggak butuh matematika di sini!” jawabku.
“Oke deh… besok aja ya kita lanjut. Tidak terasa kita sudah berjalan sampe ke tengah gurun sahara nih!” katanya. Eeeehhhh?

To be continued

Cerpen Karangan: Cerita Za
Blog: za-story.blogspot.com

Cerita Totally Whatever (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Impian Sang Bintang

Oleh:
Namaku Bintang Nesya Permata Putri, aku biasa dipanggil Bintang oleh kedua orangtuaku. Saat ini aku berusia 15 tahun, aku duduk di kelas 1 Sekolah Menengah Atas. Aku bersyukur dan

Gadis Berkursi Roda (Part 1)

Oleh:
Gadis itu tengah duduk di kursi rodanya, ia berada di pinggir lapangan basket. Rupanya ia tengah melihat teman-temannya yang sedang basket kebetulan saat itu adalah jam olahraga. Sesekali gadis

Will You Be My Friend?

Oleh:
Aku Vidia. Aku membenci semua orang. Di sekolah ini tidak ada yang menyukaiku. Tapi aku nggak peduli, Karena aku juga nggak suka sama mereka. Kenapa bisa begitu aku juga

Dua Bintang yang Berpendar

Oleh:
Aku sudah cukup lama menunggu sahabatku, ia berjanji akan datang menemuiku di bawah pohon yang kami tanam beberapa tahun yang lalu, disebuah taman kota dekat dengan rumahku. Sesekali kutengok

If This Isn’t Love

Oleh:
Agus, itulah namaku. Nama yang tidak biasa bagi seorang perempuan. Masa kecilku begitu indah, bahkan bisa dibilang sangat-sangat indah. Aku punya banyak teman dan mereka semua menyayangiku. meskipun aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *