Trixie

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 18 January 2016

Solo, kota kecil yang asri. Banyak sekali kenanganku di sini. Masa kecil juga cinta pertama, cerita masa lalu yang selalu terngiang sampai saat ini. Di Kota inilah awal mula hatiku merasakan cinta. Entah cinta yang sesungguhnya atau hanya cinta-cintaan. Yang pasti, setiap bertemu dengan dia, ku kumpulkan tenaga untuk lari. Namun, jika tidak bertemu dengannya, hariku terasa buruk. Itulah cinta. Menggelisahkan.

“Trixie, jangan bengong lo!” teriak Indi, menegurku.
“Gue gak bengong kok, ngagetin aja sih lo,” jawabku pelan.
“Terus apa namanya kalau gak bengong, masa dari tadi lo gak perhatiin obrolan kita sih. Gue sama Maura mau anjang sana ke UNS nih, setuju gak lo?” tegas Indi seraya menepuk tangan kananku.

“Indiii, Trixiieee…” teriak Maura tiba-tiba.
“Apa!!” jawabku dan Indi serempak.
Aku tahu alasan mengapa Maura terkejut. Seperti biasanya, Maura selalu histeris bila melihat COGAN, cowok ganteng versi dia. Maura, yah Maura. Gadis manis dari Purbalingga. Aku dan Indi mulai terheran-heran melihat tingkahnya acap kali Maura tersipu-sipu sendiri.

“Kebiasaan banget sih lo, malu gue punya sahabat kayak lo. Hiiih,” celetuk Indi seraya menepuk bahu Maura dengan kencang.
“Haha, lo ngelihat cowok ganteng lagi? Di mana sih?” tanyaku seraya melihat sebelah kanan, kiri, depan dan belakang di sekitar halte bus tempat kami beristirahat.
“Gue gak akan tertipu lagi sama lo Maura Bella! ganteng versi lo kemaren kayak Benggel tahu gak sih, tukang ojek gue. Udah yuk Trix pergi aja…” Indi.

Mulut ini ku dekap erat dengan kedua tangan. Aku tidak bisa berhenti tertawa. Ya, kami tertawa bersama. Tingkah laku kedua sahabatku ini memang menggemaskan. Langit sudah mulai gelap. Aku mengajak mereka bergegas ke Universitas Negeri Sebelas Maret di Surakarta. Liburan kami kali ini memang mendadak dan tidak terlalu direncanakan dengan matang. Namun, inilah hobi kami, jalan-jalan. Meskipun perbekalan ala kadarnya, kami tetap berani memutuskan untuk backpakeran. Kami akan menyewa kamar di dekat kampus, pikirku. Tapi rencana yang sudah terpikirkan hilang seketika. Jantungku sepertinya berhenti berdebar. Kakiku berat melangkah. Aku rasa napasku mulai terengah-engah. Aku ingin lari, aku ingin lariii.

“Trixie..”

Suara itu, aku mengenalnya sedari umurku tujuh tahun. Dia yang telah membuat hidupku terasa berwarna. Kadang gelisah, kadang menyenangkan, dan kesedihan pun muncul tiba-tiba. Arnald. “Tuh kan Trixie lo juga gak bisa berkata-kata, masa dia disamain sama Benggel, tukang ojek Indi itu haha,” bisik Maura.
Aku masih terdiam. Arnald pun diam, dia hanya melihatku. Laki-laki dengan mata bulatnya dan hidung bangirnya. Ia mengenakan sweater biru dipadu jeans hitam kecokelatan. Tubuhnya bertambah tinggi, lebih tinggi semampai dibandingkan aku. Berat badannya proporsional. Wanita mana yang berani menolaknya. Gumamku. Jantung ini masih tidak karuan rasanya.

“Oh hahaha, Mauraa. Jadi dia yang bikin lo histeris. Kenalin, dia sahabat abang gue. Yang tadi gue ceritain. Gini Trix, ternyata abang khawatir sama kita. Terus dia nyuruh Kak Arnald jemput kita. Dia anak UNS, calon dokter loh. Makanya lo tadi waktu gue sama Maura cerita dengerin, jangan bengong. Kak Arnald kenal sama Trixie ya?” tanya Indi.
“Tuh kan, kali ini penilaian gue tentang cowok ganteng gak salah. Dia emang ganteng kan ya?” tanya Maura dengan lugunya.
“Mauraa!!” aku dan Indi berteriak serempak.

Kami pun tertawa lagi. Maura memang sesuatu. Setidaknya, candaan ini membuat perasaanku lebih terkendali. Aku akan bersikap sewajarnya.
“Iya aku mengenalnya. Trixie, gadis yang sering membuatku tidak bisa tidur pulas,” jelas Arnald seraya menatapku dengan senyumnya. “Ayo kita pergi, kalian pasti lelah. Mobilku ada di seberang jalan sana. Aku sudah menyewa satu kamar dekat kampus. Kalian aman di sana,” tegas Arnald lagi.

Ada tanda tanya di wajah Maura dan Indi. Mereka melihat bergantian ke arahku dan Arnald. Baiklah setelah sampai di tempat penginapan mungkin kami tidak langsung tidur. Aku akan bercerita tentang hubunganku dengan Arnald. Gumamku. Aku tersentak kaget. Tiba-tiba saja Arnald mengambil tas yang sedang ku pegang. Ia membawa tas itu lalu jalan begitu saja. Aku mengikuti dari belakang. Dia sudah menjelma menjadi pria dewasa. Laki-laki yang pengertian. Terima kasih Arnald. Gumamku. Setelah satu jam perjalanan akhirnya kita sampai di tempat penginapan.

“Oke, lo harus tahu, di mobil tadi, gue tahan buat gak tanya-tanya sama lo. Sekarang lo harus jelasin Trix, apa maksud si Arnald tadi bilang lo sering buat dia gak bisa tidur pules! Gue diem, nyimpen tuh pertanyaan sampe satu jam, bikin gue kebelet buang air besar coba,” Indi menggebu-gebu. Dia mulai menghakimiku.
“Ah, Indi, lo kayak gak tahu Trixie aja, ya biasalah. Trixie kan suka ngigau di tempat tidur. Teriak-teriak sendiri. Ya jelas bikin Arnald gak bisa tidur laah,” sahut Maura.
“Maura!” teriak kami serempak.
“Lo kira gue cewek apaan haa, emangnya gue pernah tidur sama Arnald. Ngaco ya lo. Oke tenang gue ceritain haha. Terus lo Ndi apa hubungannya gak tanya-tanya sama kebelet gitu. Ampun dah, berlebihan sekalee,” jawabku meledek.

“iya ih, kebelet buang air besar tinggal bilang tadi. Pantes aja gue nyium bau-bau gak enak di mobil. Tapi gue gak mau nyeplos. Abis takut lo malu,” seru Maura seraya tertawa.
“Gue gak kentuut yaaa.. Maura sini lo gue timpuk sama bantal,” teriak Indi.
“Ssst, kenapa ramai sekali di sini. Yang kentut Kakak, maaf yaaa,” Arnald, dia menatapku lagi. Namun dengan wajah meledek. Sungguh menyebalkan. Aku tersipu malu, buru-buru ku palingkan muka. Ku tundukkan pandanganku.

“Aaah kalian sih, gue yang kentut, dia yang ngaku. Arnald mah gitu orangnyaaa,” bisikku pada Maura dan Indi.
“Jadi Elooo!!” Teriak Maura dan Indi seraya menimpukku dengan bantal guling. Kami tertawa lagi. Kami langsung masuk kamar dan merebahkan tubuh di kasur.
“Oke udah-udaah. Gue ceritain ya sekaraaang!! Lo pada diem dengerin, enggak ada pengulangan kata,” tegasku mulai serius.

Aku telah berteman baik dengan Arnald dari dulu. Saat usiaku tujuh tahun. Ku akui, aku memendam perasaan untuknya. Tapi aku memilih diam. Karena aku sadar, aku seorang perempuan. Tidaklah baik jika perempuan terlalu mengekspos perasaannya bukan? Perempuan ialah berlian, layaknya putri yang akan menunggu pangeran berkuda menghampirinya. Layaknya bunga tempat kumbang menghisap madu segar.

Aku ingin seperti itu. Ku tekan dalam-dalam perasaan yang kadang menyiksa ini. Aku tahu, Tuhan kita punya rencana yang lebih baik. Aku hanya menjadikan Arnald sebagai pemacu semangatku untuk menggapai impian, menjadi bidadari dunia maupun akhirat. Namun, semenjak aku pindah ke Jakarta, Arnald mulai intens menghubungiku. Dia menyatakan cintanya padaku. Aku senang sekaligus bersedih. Mengapa tidak dari dulu cinta kita bersatu? Sekali lagi, Tuhan membantu untuk meluruskan jalanku, pilihanku.

Aku tersadar bahwa ada laki-laki yang sedang berusaha mencariku di suatu tempat. Lalu aku putuskan, ku kenakan jilbab ini untuk berhijrah dan menegaskan identitasku sebagai seorang muslimah. Jilbab ini membantuku untuk menguatkan hati. Ya, aku mulai menolak Arnald secara perlahan. Aku pikir, bukankah jodoh tidak ada yang tahu? Belum tentu Arnald menjadi suamiku. Aku tidak ingin melukai hati Arnald maupun dia.

“Dia siapa lagi Trixiie?” tanya Indi dengan tampangnya yang serius.
“Ya jodohnya Trixiee laaah, gimana sih Ndii,” bisik Maura.

Aku tertawa seraya mengiyakan bisikan Maura. Aku rasa mereka sekarang paham dengan pilihanku. Aku ialah Trixie, aku bukanlah Khadijah. Tapi sebagai wanita, aku pun ingin memilki sosok suami yang Saleh. Seperti Muhammad. Aku ingin mulai belajar mengenal islam, agamaku.
“Laki-laki mana yang tidak ingin memiliki istri yang baik akhlaknya, mungkin tidak ada. Sekarang waktunya makan, aku bawakan ini. Silahkan dinikmatii,” Arnald muncul tiba-tiba, dia menoleh ke arahku sebentar, tersenyum dan langsung memalingkan tubuhnya. Dia pergi ke luar sambil menutup pintu dengan hati-hati.

“Haaah, ternyata dari tadi Arnald mendengar percakapan kita, bagaimana iniii..” Indi mulai panik.
“Tenang, sikap Arnald tadi itu menunjukkan kalau dia sudah paham dengan keputusan Trixie! Haah semoga kalian berjodoh yaa, Arnald tampangnya cakep, selain itu baik. Pengetahuan agamanya pun cukup bagus. Calon dokter lagi ooouh,” gumam Maura.

Aku pun tertawa. Yaah, aku dan Arnald memang tidak pernah lagi berkomunikasi intens, namun kami sepakat untuk selalu memperbaiki diri. Aku akan berusaha menepiskan harapan kalau Arnald ialah jodohku, karena jodoh, siapa yang tahu? Hanya Tuhanku, Allah Sang Perencana yang paling baik. Aku percaya Allah akan memberikan yang terbaik bagi semua hambanya. Termasuk aku.

“Ooh Trixieee, co cweeet,” pelukan Maura dan Indi membuatku sulit bernapas. Aku sangat bersyukur memiliki mereka yang mendukung pilihanku. Alhamdulillaah.

Cerpen Karangan: Indiana Shinta
Blog: shintadewi15@blogspot.com

Cerpen Trixie merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sebuah Janji

Oleh:
“Sahabat selalu ada disaat kita membutuhkannya, menemani kita disaat kita kesepian, ikut tersenyum disaat kita bahagia, bahkan rela mengalah padahal hati kecilnya menangis…” Bel istirahat akan berakhir berapa menit

Sandi AZ Dan Ikatan Persahabatan

Oleh:
Kota Samarinda terlihat memukau dengan sungai mahakam-nya. Aku merasakan begitu. Aku kini, duduk di atas dermaga, di sebuah bangku panjang. Menikmati sajian senja berupa sunset. Yang ditemani dengan awan

Kencoran Squad

Oleh:
Suatu hari di sekolah, Praaya, Ridho, Farel, Nada dan aku telah mengambil bekalnya masing-masing. Dan mereka pun pergi ke aula untuk makan bersama. “oi! kalian inget gak, hari ini

Tentang Cinta

Oleh:
Joshua Sanjaya – 9 Mei 2012 Aku terbangun dari tidurku, jam menunjukkan pukul 4 pagi. Entah kenapa aku terus memikirkan hari ulang tahunku, yaitu kemarin tanggal 7 Mei 2012.

Rahasia Gunung Beruang

Oleh:
Nama gue Betty, gue lahir di London. Orangtua gue bercerai, akhirnya gue tinggal bersama nyokap gue. Semenjak mereka (ayah dan ibu) bercerai, gue sama nyokap pindah ke Canada. Di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *