True Friends

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 28 December 2015

“Tok-tok-tok.”
“Sania.. Sania..” teriak Nanda kencang.
“Iya-iya, tunggu sebentar!” jawabku.

Namaku Sania. Aku berumur 13 tahun, dan sekarang aku duduk di kelas 2 SMP. Orang yang teriak pagi-pagi di depan rumahku ini namanya Nanda. Aku dan Nanda bersahabat cukup lama, jadi kita sudah saling mengenal satu sama lain, dan dia selalu menjemputku setiap pagi untuk berangkat ke sekolah bersama-sama. Kita berjalan kaki ke SMP bukan hanya berdua tapi bersama Naila juga. Naila adalah sahabat kami, namun aku dan Nanda mengenalnya saat masuk SMP. Kita selalu bertemu di jembatan untuk berjalan kaki bersama ke sekolah.

“Sania.. Nanda.. Selamat pagi!” teriak Naila dari kejauhan.
“Selamat pagi.” jawabku dan Nanda bersamaan.
“Maaf ya, aku membuat kalian menunggu. Tadi Kakakku Johan baru datang dari Jakarta, dan aku sangat senang.. jadi aku terlalu lama berbincang dengannya.” jawab Naila dengan napas tergesa-gesa. “Oh.. gak apa-apa kok, kami juga baru nyampe.” jawabku dengan senyuman.
“Oiya! Nanti aku gak bisa pulang bareng kalian.” ucap Naila.
“Kenapa?” tanya Nanda.
“Nanti sepulang sekolah aku dijemput Kakakku, hehehe.” jawab Naila.

Di sekolah kita selalu bersama-sama. Makan siang di kantin bertiga, bermain di halaman bertiga, sampe-sampe ke toilet harus bertiga. Namun, kali ini sepulang sekolah hanya aku dan Nanda saja, sebab Naila dijemput oleh kakaknya Johan.
“Naila! Kita duluan ya!” ucapku dan Nanda bersamaan.
“Iya.. hati-hati.” jawab Sania sambil melambai-lambaikan tangannya.

Aku berjalan kaki bersama Nanda saat pulang sekolah, namun di perjalanan pulang tasku terasa ringan.
“Nanda.. tunggu sebentar.” ucapku sambil mencari sesuatu di dalam tas.
“Ada apa?” tanya Nanda.
“Aku ninggalin buku sejarah SMP kita yang tebel di bawah bangkuku, pantesan dari tadi tasku terasa ringan.” jawabku.
“Kalau begitu sebaiknya kita balik ke sekolah lagi.” ucap Nanda.

Kami mengambil buku itu dengan selamat. Tiba-tiba..
“San-san.. tunggu bentar deh.” ucap Nanda sambil menepuk pundakku.
“Ada apa?” tanyaku heran.
“Bukannya itu Sulli sama Naila ya?” jawab Nanda.
“Oh.. i-iya-iya, Sulli kan murid pindahan di kelas kita kemarin, ada urusan apa dia sama Naila?” ucapku.
“Lebih baik kita dengerin aja yuk!” jawab Nanda tegas.

Sulli adalah murid pindahan dari salah satu SMP di Jakarta, dan dia selalu sendirian dari kemarin.
“Naila.. kamu belum dijemput ya?” tanya Sulli sambil tiba-tiba duduk di samping Naila.
“Ah! S-sulli? Ada apa?” jawab Naila kaget.
“Maaf Naila.. aku gak bermaksud mengagetkanmu, aku sering lihat kamu selalu bersama Nanda dan Sania.. apakah kalian berteman?” tanya Sulli.
“Oh kami bukan bertema–”

Aku belum mendengar sepenuhnya tapi aku sudah ditarik Nanda dengan kencang. Dan meninggalkan lingkungan sekolah.
“San! mungkin kita aja yang menganggap Naila itu teman dekat kita, sebaiknya kita jangan dekat-dekat lagi dengannya, mengerti?” ucap Nanda sambil mengeluarkan air mata.
“B-baiklah.” jawabku sambil menganggukkan kepala.

Aku sudah cukup dekat dengan Nanda, dan aku sudah tahu betul sifat dan perilaku Nanda selama kita berteman. Nanda orangnya sangat bertanggung jawab, tegas, dan ramah, tapi dia sangat sensitif terhadap sesuatu yang sangat penting dalam hidupnya, contohnya seperti dia saat ini. Nanda sangat menyayangi teman-teman terdekatnya, dan dia orang pertama yang mengajak Naila ngobrol saat kita masuk SMP pertama kali. Oleh sebab itulah saat ini pasti perasaannya sangat tertekan dan sakit. Keesokan harinya kita memulai hari-hari dengan berjalan kaki ke sekolah seperti biasa, namun Nanda tidak menunggu Naila di jembatan lagi. Kita langsung ke sekolah tanpa ada Naila.

“Nanda, Sania! Selamat pagi.” ucap Naila dengan senyuman di wajahnya.
Kami tidak menghiraukan sapaan dari Naila. Namun di dalam hatiku aku tidak mau berbuat ini kepadanya.
“Oh ya kalian gak nungguin aku tadi di jembatan, ada apa dengan kalian?” tanya Naila.
“Nanda!” ucap Naila dan Nanda meningggalkan kelas.
“Sania! ada apa ini?” tanya Naila kesal.
“Err..” jawabku dan aku pun mengikuti Naila.

Aku mengejar Naila. Saat dia berhenti air matanya ke luar tapi wajahnya masih tegas, aku memeluknya dengan erat dan berkata, “Nanda.. sebaiknya kita tanyakan langsung kepada Naila apa maksud dari semua ini.” Nanda memelukku balik, dan kita setuju untuk menanyakan hal ini kepada Naila.
“Naila!” teriak Nanda dari kejauhan.
“Ah.. Nanda! Sania!” jawab Naila.
“Ada apa?”
“Kami ingin bertanya sesuatu kepadamu Naila.” ucapku.
“Aku hanya ingin mengetahui apakah kita berteman bagimu?” tanya Nanda dengan wajah serius.
“Kita bukan bertema–” jawab Naila.
Sebaiknya dari kemarin kami harus mendengarkan kata-kata Naila sepenuhnya kata yang dia ingin bilang kepada Sulli adalah, ” Kita bukan berteman melainkan sahabat sejati.”

Cerpen Karangan: Hridayani Karuna
Facebook: Hridayani Karuna

Cerpen True Friends merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Apakah Ia Seorang Psikopat? (Part 2)

Oleh:
Aku mengantongi HP di saku celanaku, aku terkejut mendapati ada dompet di sakuku. Ternyata itu dompet Rukov, aku lupa mengembalikannya saat ia mengembalikan HP-ku. Aku merasa orang yang paling

Keep Friends

Oleh:
Disebuah sekolah yang cukup megah, tepatnya Seoul Internasional High School. Terlihat Dua orang dengan senyum yang terpampang di wajahnya memasuki gerbang sekolah tersebut, sesekali keduanya tertawa dengan riangnya ditengah

Biarkan Berlalu, Oke!

Oleh:
“Titik..” sapa ku dengan mengetuk pintu “iya bentar, lagi rapihin buku..” “oke, cepat yah gue tunggu di depan” Assalammualaikum, perkenalkan nama ku Mirna nama lengkap ku Mirna Rosiani aku

Lensa Ungu

Oleh:
Ku lihat dirinya yang berdiri di ujung lapang basket sana, dia yang memakai baju putih biru berkerudung paris. Kusapa namanya “Desi, Desi” ya itulah namanya. Dia menoleh pandangannya kepadaku,

Best Friend Forever

Oleh:
Persahabatan akan saling mengerti, merasakan, dan saling membantu. Persahabatan itu abadi dan tak mengenal waktu. Demikian persahabatanku ini, sebuah persahabatan yang aku jalani ini begitu bahagia. Aku tak bisa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *