Unconditional (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 2 September 2017

Gadis itu menyeruput jus jeruknya tanpa ekspresi nikmat. Lalu dia menyingkirkan anak-anak rambutnya, yang diterbangkan angin dari wajahnya, dengan gerakan yang gusar.
“Dia bakal marah besar kalau tahu tentang kita, Artha,” kata gadis itu.
“Gue tahu.” Pria bermata kecil itu menjawab.
“Kalau udah tahu, kenapa tetap meminta gue?”
“Karena cuma lo yang bisa …”
“Kalau lo udah nggak tahan, kenapa nggak putusin dia aja?”
“Lo tahu alasannya.”
“Gue merasa bersalah sama Dipta, Tha.”
“Ini bukan salah lo, Rahmi,” lelaki itu meraih tangan gadis di hadapannya. “Kalau dia nggak sebegitu dinginnya, gue nggak akan melakukan ini. Lo ngerti kan?”
Rahmi menarik tangannya dan menghela nafas. Gusar. “Kalau dia nggak sebegitu dinginnya … You have no idea what she has been through.”
“You tell me, then.”

Kadang kita bertemu orang yang salah di waktu yang tepat.
Kadang juga, kita bertemu orang yang tepat … di waktu yang salah.

Rahmi sudah mengenal Dipta nyaris seumur hidupnya. Sejak dia mulai bisa mengingat, Rahmi sudah mengenal Dipta. Itu berarti mereka bahkan sudah berteman sejak masa bayi mereka. Memiliki orangtua yang bersahabat sejak SMA, tinggal di perumahan yang sama dan menimba ilmu di sekolah yang selalu sama, membuat Dipta dan Rahmi seperti anak kembar yang tak terpisahkan. Tapi seperti juga semua kisah persahabatan lain, kisah cinta kadang adalah yang membentangkan jarak di antara persahabatan.

Dipta pertama kali jatuh cinta saat kelas tiga SMA. Di sekolah itu, Dipta termasuk 10 besar murid paling pandai seantero sekolah. Sementara pemuda yang ia jatuhi cinta adalah cowok basket. Tapi bukan hal itu yang membuat Rahmi merasa tidak terlalu cocok dengan cowok itu.

“Kita juga beda banget, Mi, tapi akur-akur aja,” kata Dipta ketika menanggapi komentar Rahmi tentang perbedaan mereka.
Iya juga sih. Meski berada di jajaran murid paling pandai seantero sekolah, Dipta sama sekali tidak tampak seperti kutu buku yang kuper. Sebaliknya, dia adalah jenis orang memiliki banyak teman dimana-mana, meski tidak pernah benar-benar bersahabat dengan siapapun kecuali dengan Rahmi. Sebaliknya, Rahmi lebih pendiam. Sifatnya ramah, tapi tidak pandai menjalin hubungan dengan orang baru. Tidak seperti Dipta yang banyak omong, Rahmi lebih sering diam, mendengarkan dan memperhatikan. Mungkin karena itu, mereka tahan bersahabat sejak bayi hingga sebesar itu.

Tapi sejak dekat dengan Aldi, nama si cowok basket itu, Dipta menjadi agak jauh dengan Rahmi. Di sela-sela waktu luangnya yang biasa ia habiskan bersama Rahmi, kini Dipta lebih sering terlihat bersama Aldi.

“Lo pacaran sama Aldi, Ta?” tanya Rahmi suatu kali, mengonfirmasi kedekatan sahabatnya dengan si cowok basket itu.
“Nggak. Kita temenan doang,” jawab Dipta, dengan ekspresi malu-malu dan cengiran salah tingkah.
Tapi ekspresi dan senyuman itu tidak bertahan lama. Sebulan. Dua bulan. Tiga bulan.

“Lo beneran nggak pacaran sama Aldi?” Rahmi bertanya kembali, berbulan-bulan kemudian.
“Nggak. Kita temenan doang.” Tapi kali ini, jawaban Dipta itu tidak disertai senyum malu-malu yang sama.
“Tapi lo setiap hari BBM-an sama dia?”
“Iya.”
“Gue juga temenan sama lo, tapi kita nggak BBM-an setiap hari.”
Dipta tidak menjawab.

Rahmi tidak banyak tanya lagi. Tapi dalam diam, dia terus mengamati hubungan sahabatnya dengan pemuda itu. Selama tiga bulan itu, dia telah melihat banyak hal. Bisa disimpulkan, hubungan Aldi dan Dipta adalah jenis hubungan yang positif. Aldi tidak pernah membuat Dipta berubah menjadi buruk. Yang mereka lakukan selama tiga bulan itu hanya belajar bersama, makan bersama, atau nonton. Bahkan semua hal itu tidak pernah mereka lakukan berdua saja. Aldi selalu mengajak teman-temannya serta, dan kadang Dipta juga mengajak Rahmi.

“Besok temenin gue nonton yuk Mi,” suatu kali Dipta mengajak Rahmi.
“Mau nonton apa?”
“Nggak tahu. Si Aldi nggak bilang mau nonton apa.”
“Oh, bareng Aldi? Males ah,” Jawab Rahmi, ogah-ogahan.
“Kenapa?”
“Nanti gue jadi raket nyamuk.”
“Yaelah. Apaan sih. Nggak kok. Si Aldi juga bareng temen-temennya.”
“Hah? Nonton rame-rame nih?”
“Iya.”
“Kenapa nggak berduaan aja? Besok kan malem Minggu.”
“Besok Sabtu malam,” Dipta menjawab sambil manyun.
Rahmi nyengir mengejek. “Kalian belum pacaran juga?”
“Nggak lah, kita temenan doang,” begitu jawaban Dipta, seperti selalu.
“Serius Ta? Lo nggak naksir sama sekali sama si Aldi?”
“Nggak.”
Tapi Rahmi tidak melihat jawaban yang sama di mata sahabatnya itu.

“Kalian kalau BBM-an sampai malam tuh ngobrolin apa aja sih Ta?” tanya Rahmi, curiga.
“Siapa bilang BBM-an sampai malam?” Dipta langsung salah tingkah ditanya begitu. Seperti maling tertangkap basah.
“Udah deh, jawab aja. Nggak usah ngeles mulu, kayak tukang bajai.”
Dipta tertawa sambil memukul lengan Rahmi. Tawanya lama. Berharap bisa mengalihkan pembicaraan. Tapi Rahmi tidak ikut tertawa. Dia diam, menunggu.
Tawa Dipta pun memudar melihat ekspresi Rahmi.
“Gue mau curhat, Mi,” kata Dipta akhirnya.
Rahmi mengangguk dan pasang tampang kalem. Tapi dalam hati dia tersenyum. Seperti biasa, gadis pendiam ini selalu berhasil mengandalkan kemampuan persuasinya untuk memaksa sahabatnya itu curhat. Pancing dikit, langsung curhat, kata Rahmi dalam hati, tetap mempertahankan wajah dinginnya.

“Udah enam bulan nih Mi, sejak Aldi mulai komen-komen status FB gue dan akhirnya minta pin BB gue,” kata Dipta memulai.
Rahmi mengangguk pelan, tetap cool.
“Tapi kami tetap gini-gini aja,” Dipta melanjutkan, “Kita bisa BBM-an nyaris 12 jam sehari, tapi kebanyakan kita ngomongin pelajaran sekolah. Awalnya gue senang. Gue pikir, itu cuma modus dia untuk deketin gue. Tapi bahkan sampai sekarang kita masih gini-gini aja. Waktu dia pertama kali ajak gue makan, gue udah seneng aja. Nggak tahunya, dia ajak teman-temannya juga. Dia juga beberapa kali ajak gue nonton, dan selalu bareng temen-temennya juga. Gue senang dia mengenalkan gue ke sahabat-sahabatnya, tapi gue nggak merasa bahwa dia pengen gue menjadi bagian dari mereka.”
“Kalau ngumpul-ngumpul makan bareng teman-temannya gitu, biasanya ngobrolin apa Ta?”
“Sekolahan. Pelajaran. Basket.” jawab Dipta lesu. “Gue bahkan jadi banyak search tentang basket lho Mi, demi supaya gue bica terus ngobrol sama dia. Dia paling semangat ngomongin basket.”
Rahmi tersenyum kecil. Menahan diri untuk geleng-geleng kepala.
Kelakuan, gumam Rahmi dalam hati, kalau udah sayang sama seseorang, kita pasti berusaha menyesuaikan diri dengan dunianya.

“Aldi bahkan pernah ngajak gue ke rumahnya. Gue udah senang ya, dikira mau dikenalin ke keluarganya. Eh, nggak tahunya di sana sahabat-sahabatnya udah pada ngumpul. Lalu mereka minta diajarin ulangan Kimia. Gue pernah ajak dia makan berdua, tapi dia selalu ajak temen-temennya juga. Gue nggak ngerti lah sama Aldi.”
“Lo nggak pernah mancing-mancing obrolan gitu?”
“Gue pernah mencoba sekali ngambek ke Aldi, pengen lihat responnya. Dia minta maaf kalau ada salah, meski dia nggak tahu dia salah apa. Dia bilang, dia nggak tahan kalau gue berhenti ngomong sama dia. Yaaahh… kalah deh gue. Begitu dia bilang begitu, gue langsung lupa tujuan utama gue ngambek. Gue tiba-tiba langsung luluh dan mau ngobrol lagi sama dia sebelum berhasil tahu perasaan dia ke gue.”
Rahmi manggut-manggut. Mendengarkan dan menganalisa.

Sejak itu, tanpa diketahui Dipta, Rahmi diam-diam memperhatikan Aldi dengan lebih detil. Memperhatikan kegiatan pemuda itu, sikap dan tingkah lakunya, termasuk sahabat-sahabatnya. Dari hasil pengamatannya selama beberapa minggu, Rahmi jadi bingung sendiri membuat kesimpulan. Rahmi tidak menemukan ada yang salah dengan pemuda itu. Semua kegiatan dan tingkah lakunya baik-baik saja, tidak ada yang mencurigakan. Kalaupun ada yang mencurigakan adalah karena Aldi adalah salah satu anak basket yang diidolakan gadis-gadis. Rahmi sempat melihat beberapa gadis berusaha mendekati Aldi. Tapi sejauh yang berhasil diamati oleh Rahmi, Aldi tidak pernah terlalu dekat dengan gadis manapun kecuali dengan Dipta dan Hani. Hani adalah salah satu dari sahabat-sahabat Aldi. Pemuda itu memiliki semacam geng beranggotakan 6 orang, yang kemana-mana selalu bersama. Hani adalah satu-satunya perempuan di geng itu.

“Aldi tuh pacaran sama Hani atau nggak sih Ta?” Rahmi bertanya kepada Dipta, suatu hari.
“Nggak.”
“Nggak apa? Mereka nggak pacaran, atau lo nggak tahu?”
“Gue nggak tahu,” jawab Dipta, “Tapi Aldi pernah bilang, si Hani itu sahabatnya dari SMP.”
Rahmi menatap mata Dipta. Ada keraguan dan penyangkalan terlihat di sana.
Bahkan setelah beberapa minggu mengamati pemuda itu, Rahmi tidak juga menemukan alasan mengapa Aldi mendekati Dipta. Tapi tidak ada juga yang terlalu mencurigakan dari pemuda itu. Tapi justru itulah yang membuat Rahmi makin curiga.

Hanya ujian nasional dan ujian masuk PTN yang mampu mengalihkan Rahmi dari kegiatan mematai-matai Aldi. Namun, intensitas komunikasi Aldi dan Dipta tidak juga berkurang. Mereka makin sering belajar bersama… bersama geng Aldi, dan terkadang bersama Rahmi juga. Meski demikian, Rahmi tidak merasa ada yang salah dengan kegiatan belajar bersama ini sehingga dia merasa tidak perlu mencurigai apapun.

Pada akhirnya, Rahmi bersyukur bahwa kecurigaannya terhadap Aldi baru terbukti setelah Dipta lulus sebagai lulusan terbaik di sekolahnya dan diterima di universitas negeri di bilangan Depok. Syukurlah demikian, sehingga dia tidak perlu khawatir konsentrasi belajar Dipta akan terganggu.

Saat itulah Dipta akhirnya mengetahui alasan mengapa selama ini Aldi mendekatinya.
“Kalau bukan karena sering belajar bareng Dipta, kita mungkin nggak akan lulus dengan nilai selumayan ini. She’s born to be a teacher.”
Dipta tidak sengaja mendengar Aldi berkata begitu kepada sahabat-sahabatnya yang lain. Gadis itu terdiam, bersembunyi di balik dinding di belakang meja kantin tempat Aldi dan gengnya berkumpul.

Seorang gadis datang membawa dua buah teh botol dan meletakkan salah satunya di hadapan Aldi.
“Untung gue bukan pacar posesif dan cemburuan,” kata gadis itu sambil meminum teh botolnya sendiri. Gadis itu adalah Hani.
“Halah! Padahal dulu kamu sempat cemburu sebelum aku bilang bahwa aku cuma berteman sama Dipta dan cuma minta bantuan Dipta untuk ngajarin kita.”
Aldi tertawa sambil mengacak-acak rambut gadis itu. Hati Dipta teracak-acak.

Cerpen Karangan: Nia Putri
Blog: niechan-no-sensei.blogspot.com
Pelajar. Pecinta aksara. Pecandu kata.

Cerpen Unconditional (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


You (Not) Belong To Me (Part 1)

Oleh:
Cepat atau lambat bulan akan sadar siapa bintang yang disayanginya Untuk malam ini, kafe Infinity cukup ramai oleh pengunjung. Suasana kafe yang sangat mendukung bagi para takener ‘punya pacar’.

Seandainya Kau Mencintai Ku (Part 1)

Oleh:
Suasana belum begitu sepi. Masih terdapat beberapa siswi yang berkeliaran di sekitar sekolah. Dinara mengambil sebuah tempat duduk di bangku panjang yang terletak di depan kelasnya lalu duduk dan

Sahabat

Oleh:
Bel sekolah berbunyi untuk ke terakhir kalinya di siang ini, menandakan pelajaran telah berakhir. Semua siswa-siswi telah berhamburan di luar kelas, ada yang ke parkiran mengambil kendaraan masing-masing dan

Siapa yang Melakukannya?

Oleh:
PLUK!! Sebuah amplop hitam terjatuh saat aku membuka loker. Aku memungut amplop itu, lalu mengambil buku Fisika. Aku melangkah di koridor yang masih sangat lengang. Aku masuk kedalam sebuah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *