Untuk Sahabat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 11 January 2014

Kumulai pagi ini seperti biasa. Bangun selalu telat dan tidak sarapan, karena takut ketinggalan bus yang akan mengantarkanku ke sekolah. Tapi ada yang berbeda hari ini… aku tak tahu apa yang berbeda. Aku tidak kebagian tempat duduk, ya akhirnya aku harus rela berdiri berempet-empetan dengan penumpang yang lain. Tapi bukan itu juga yang membuat hari ini berbeda, seperti ada sesuatu yang lain tapi apa?. Mungkin aku kelupaan membawa buku pelajaran? agh… tapi tidak mungkin, karena aku sudah periksa isi tasku tadi pagi. Pikirku dalam hati.

“Emm.. mau tukeran tempat duduk?” Kata seseorang menawarkan tempat duduknya untukku. Belum aku menjawab iya atau tidak, tapi dia sudah bangkit dari tempat duduknya dan menyuruhku duduk. “Udah.. duduk saja disini, lagian kamu pasti capek kalau harus berdiri terus” cerocosnya sok tahu (padahal sudah biasa aku berdiri), yang buatku hanya mlompong dibuatnya. “Haa…?! um iya, ma… makasih” ucapku seadanya dan duduk.

“Pak! stop!” Ucap aku dan cowok yang menawarkan tempat duduknya padaku, secara bersamaan.
Tiba-tiba dia terkekeh sendiri. “Ternyata kita satu sekolah ya? hehe maaf aku tidak tahu. Aku kelas XI kalau kamu?” kata cowok itu yang lagi-lagi berhasil buatku mlompong, “hehe iya.. aku Zillian, kamu bisa panggil aku Zilli, aku kelas X” jawabku sok lugu. “Aku Riki, salam kenal ya?” balas mas Riki sambil menjabat tanganku.

Dari penglihatanku ini dia cowok yang baik dan ramah, pastilah temannya banyak. Tidak seperti aku yang hanya punya satu teman, dia adalah sahabatku bernama Emma, kira-kira dia sudah berangkat belum ya? pasti dia kaget kalau aku bisa kenalan sama kakak kelas, “hai! kok ngelamun sih?” ucapnya mengaburkan lamunanku tentang Emma.
“Nanti, kita ketemuan di kantin ya?” kata mas Riki, mengakhiri pembicaraan kita, karena kelasnya berada di tingkat dua sedangkan kelasku terpojok dan terpencil di bawah tingkat satu.

Jam pertama yang membosankan, aku bingung pagi-pagi sudah pelajaran biologi saja, kenapa tidak bahasa inggris atau bahasa Indonesia, yang dijamin bikin aku jadi gak bosan di kelas, kenapa semua teman sekelasku bahkan Emma, sepertinya menyukai pelajaran biologi, yang super-duper njlimet. Membahas tentang famili-famili apalah itu aku tak paham.

“Hai!” Panggil mas Riki sambil melambaikan tangan dan senyum yang mengembang di wajahnya.
Kubalas lambaiannya dan tersenyum padanya. “Mas, ini Emma sahabatku, Emma ini mas Riki kelas XI IPS dua” aku memperkenalkan Emma dan mas Riki saat kami sudah duduk. “Jadi, kalian mau pesan apa? aku yang bayarin kok, tenang aja!” Kata mas Riki menawari kami. “Zi, kakak kelas? ya ampun? kamu nyadar nggak kita dipelototin sama cewek-cewek yang dari tadi berbisik-bisik, kayaknya mereka gak seneng deh kita duduk sama mas Riki? yuk pulang!” Emma berbisik sambil merengek minta balik ke kelas dan menarik-narik seragamku.

Ku melihat keadaan sekitar, sepertinya apa yang dikatakan Emma ada benarnya cewek-cewek itu lebih tepatnya kakak kelas tak menyukai kehadiran kami disini yang duduk bareng mas Riki. “Em… gini mas, aku sama Emma mau balik ke kelas aja ya” ucapku mencoba untuk kabur, “iya.. kita sebenernya ada tugas kelompok, pamit dulu kak…” kata-kata Emma tiba-tiba terpotong, jujur badanku sudah gemetar bukan main.
“Riki!” Tiba-tiba terdengar suara yang sangat menggelegar, datang dari arah depan kantin. Aku dan Emma yang ketakutan pun akhirnya kabur dari kantin dan meninggalkan mas Riki sendirian dan kelihatan bingung atas sikap kami yang meninggalkannya sendirian tanpa ba-bi-bu.

‘Huft hampir saja kita bonyok dihajar sama cewek-cewek ganas macam mereka, siapa ya… yang tadi teriak sekeras itu, sudah kayak pakai toa di masjid’, rutukku dalam hati. “Kau sudah gila, Zi!” semprot Emma padaku, kita berdua berjalan menyusuri koridor kelas X lainnya yang menuju ke kelasku yang terpencil dan mojok. “Dia itu kak Riki, aku udah kenal sama dia tapi dia tidak mengenalku. Aku tahu fans dia banyak disini makannya tadi kita dipelototin gitu, banyak sekali yang naksir dia tapi dia kayaknya cuek dan nggak mempedulikan mereka, haduh… gak kebayang deh aku, kalau kita babak belur gara-gara saingan sama kakak kelas, ganteng sih baik emang tapi sayang fansnya itu ganas kayak macan kelaparan!” cerocos Emma seolah dia tahu tentang mas Riki dan buatku merasa bodoh banget sampai gak tahu tentang mas Riki.

O.. jadi dia ditaksir banyak cewek? lantas siapa tadi yang memanggil namanya sampai begitu? terus apa yang membuatnya banyak diidolakan? mungkin karena dia pintar? atau baik, cakep dan ramahnya itu?. Seakan masih banyak pertanyaan yang ada di dalam otaknya yang masih belum terjawab berputar-putar di kepala, yang akhirnya terhenti karena bentakan pak Andro. “Zillian!” Bentak pak Andro guru matematikaku yang membuyarkan semua lamunanku?. Kelas langsung sunyi, semua mata memandang ke arahku bahkan Emma yang duduk di sebelahku ikut-ikutan memandang ke arahku, seakan mereka sedang meminta penjelasan padaku sedang apa aku ini.
“p.. pak… maaf” jawabku seadanya sambil senyum minta pengampunan.
“keluar” balas pak Andro santai.

Huft… sial! panas banget haah pak Andro ngasih hukumannya beneran gara-gara ngelamunin yang gak penting sih.
“Kamu sedang apa disini?” Kata-kata itu mengagetkanku. Apa? dia? mas Riki? kenapa hari ini aku harus ketemu dia lagi sih?. Setiap aku ketemu dia, banyak kejadian yang tidak menyenangkan meski dia sudah baik padaku dan mau berbagi tempat duduknya buat aku tapi kan tetap saja. “Kamu tukang ngelamun ya?” candanya tapi kali ini suaranya agak ditinggikan tapi tetap pake senyuman mautnya. “Gak… kok! aku bingung kenapa mas disini? ngapain? pergi sana” jawabku setengah dongkol dan membelakanginya, “lah… kok kamu marah sama aku, aku salah apa sih, harusnya aku yang marah ke kamu yang tiba-tiba menghilang? gini ya Zil, aku kesini karena mau ke kelasnya Zahra mau ketemu sama bu Anggi. Kalau kamu kenapa? dapat hukuman ya? jadi kamu dijemur disini?” Katanya panjang lebar selebar sekolahan ini mungkin. “Ouw… ya udah hush sana ketemu sama Zahra eh maksudnya bu Anggi! lagian dah tahu kan kenapa aku dijemur disini? itu semua karena kamu mas!” suaraku semakin berat, mungkin suaraku kering karena dijemur jadi berat gitu deh. “Ya udah! sekali lagi aku bukan ketemu Zahra tapi bu Anggi! lagian kenapa gara-gara aku kamu bisa dijemur. jujur aku gak tau kenapa kamu tiba-tiba lari dari aku terus marah-marah gak jelas ke aku tapi jujur aku kecewa sama kami Zil kukira kita bisa berteman” jawab mas Riki setengah marah atas perlakuanku (mungkin). “iya terserah lah mau ngomong gimana yang penting pergi!” ucapku tetap marah.

Panas yang begitu terik seakan-akan matahari tepat di atas kepala, tiba-tiba digantikan awan gelap nan pekat, awan itu seperti mau jatuh dan tepat di atasku. Haah? waduh mau hujan lagi? gimana nih? masa hukumanku belum habis? aku kabur atau gimana nih? Tadi aku dijemur masa sekarang aku mau diguyur hujan gini bisa sakit aku, ucapku sambil celingukan. Aku bingung gurunya care banget ya sama aku? sampai aku dijemur disini?, aku lari aja deh cari tempat yang aman dari hujan biar gak basah, haah.. masa bodoh pak! umpatku dalam hati.

Belum sempat aku berlari seluruh badan entah kenapa tak bisa digerakan kaki ku pun melemas seketika dan aku terjatuh, tiba-tiba hujan sudah menghantamku bertubi-tubi, aku terkulai lemas tak berdaya, di tengah-tengah lapangan sekolah dan sendirian, sialnya kenapa gak ada yang lewat atau lihat aku tersungkur di tanah. Aku tak bisa lagi merasakan tubuhku ini, menggigil kedinginan yang tiba-tiba keadaan sekitar berubah menjadi gelap gulita.

“Zil…”
“Kamu, sudah baikan?” tanya seorang petugas UKS, tapi aku hanya mampu mengangguk lemas. Seakan lidahku ini kelu dan mulut ini seperti dikunci, tak dapat mengatakan sesuatu. “Mas… itu temannya sudah siuman” kata petugas itu pada seseorang diluar. “Zil… kamu udah baikan?” tanya mas Riki dengan raut wajah cemas sambil memegangi jemariku yang masih membeku, “aku baik-baik aja kok” a… ada apa ini? kenapa aku tak dapat mengatakan sesuatu? aku memegang leherku dengan wajah pucat pasi. Melihat wajahku yang seakan kebingungan mencari suaraku mas Riki semakin khawatir wajahnya semakin cemas. “Zil!… kenapa? aku panggilin petugas UKS nya ya?” kali ini raut wajahnya semakin cemas bahkan matanya berkaca-kaca keringat dingin bercucuran membasahi wajahnya. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku dan memegangi tangannya agar dia tidak pergi.

Aku menghela napas yang panjang dan berat, serta mencoba menenangkan pikiranku dan berusaha positif thinking, lama aku terdiam dan berusaha mengatakan sesuatu, hingga akhirnya suaraku itu keluar juga meski rada serak. “Mas… aku sudah bisa berbicara hihi” ucapku membangunkannya dari tidur, “haa… iya! syukur deh… o iya kamu kenapa tadi nggak lari aja sih? udah tau mau hujan malah masih aja bertahan berdiri disana” selidik mas Riki padaku. “Sebenarnya mau lari… tapi kaki ku ini tiba-tiba sakit terus aku terjatuh bersama hujan yang mengguyur tubuhku… aku merasakan kedinginan dan diikuti keadaan sekitar yang berubah menjadi gelap terus… entahlah apa yang terjadi padaku setelah itu sampai akhirnya aku berada disini” terangku dengan suara serak atas kejadian ini. “Zil jangan pernah lagi bikin aku khawatir ya” ucapnya.

Pulang sekolah aku dianterin temen sekelasku Haris, aku mendapat tumpangan karena badanku ini belum pulih total dan masih lemes gitu.
“Aku cinta kamu Zil!”
“Aku cinta kamu Zil!” ungkap mas Riki berkali-kali
“apakah tidak terlalu terburu-buru mas? kita baru kenal dua minggu lho!” jawabku sambil mengerjap-ngerjap mata gak percaya. Aku tahu bahwa aku pun memiliki rasa yang aneh setiap bersama mas Riki, tapi aku tak mau memikirkan ini terlalu berlebihan aku juga cukup tahu diri, aku dan mas Riki memiliki perbedaan yang jauh, ya… bisa diibaratkan kayak langit dan bumi! (berlebihan sedikit).
“Nggak! aku sudah sangat matang memikirkanya, aku sayang kamu Zil, aku ingin melindungimu” kata-katanya begitu meyakinkan sehingga semua perbedaan di antara kita untuk sementara lenyap digantikan rasa cinta dan sayang,
“mas tapi nanti fans kamu pasti mengamuk aku tau kok mas kalau kamu punya banyak fans yang ganas-ganas” timpalku mencoba mengingatkannya.
“hahahah fans? emang aku artis apa punya fans, jangan dipikirkan Zil mereka semua temen-temenku kok!” sambil terkekeh dan mencubit pipiku. Wow apa-apaan ini wajahku merah padam. “gimana?” tanyanya kembali.
“iya” aku pun menerima mas Riki padahal aku seharusnya sudah mau menerima konsekuensinya pacaran sama mas Riki ini yang punya fans gila.

Dua bulan sudah kurajut hubungan ini bersama mas Riki, seakan dia selalu ada untukku, Emma sahabatku pun akhirnya senang dengan hubungan kami ini, meski dia pernah menolak hubunganku dengan mas Riki. Hari ini aku ditinggal pergi keluargaku ke rumah saudaraku, dari pada melompong di rumah mending membuka facebook, sudah lama juga aku tidak membuka facebookku mungkin sekitar seminggu lah.

Saat aku membuka facebookku, aku terkaget melihat status facebookku yang menjadi lajang beberapa jam yang lalu, aneh? kenapa ini bisa terjadi? kok lajang bukannya seminggu yang lalu masih berpacaran sama Riki Eko Putra?. Apa mungkin mas marah, gara-gara kejadian kemarin di perpustakaan? tapi bukanya mas sudah tahu kalau aku sama Ryan itu cuma temen sekelas yang dapet tugas bahasa inggris yang sama dan kita Cuma mengerjakan tugas itu di perpus dari pada di kelas yang ribut, ya… memang sih akhir-akhir ini banyak kuhabiskan waktuku bersama Ryan untuk mengerjakan tugas itu, tapi mas selama ini gak cemburu apalagi marah ya memang sih kemarin kepalaku itu kejedot tembok dan Ryan mengelus kepalaku tapi kan aku sama dia itu gak ada hubungan apa-apa. Akhirnya daripada bingung memikirkannya mending kucari nama facebooknya mas Riki saja.

Aku terkaget mendapati dia sudah berpacaran dengan seorang kakak kelas yang bernama Zahra Kartika Sari, rasanya aku pernah mendengar nama ini dan gak begitu asing di telingaku tapi siapa dia itu. Aku sengaja mengiriminya sebuah pesan dan menanyakan siapa cewek bernama Zahra itu, betapa kagetnya aku mendapati yang bales itu pacarnya dan bukan mas Riki bahkan dia juga pake acara ngebentak-bentak aku, penjelasan si cewek membuatku naik pitam dan bikin aku cemburu dengan seluruh jawaban konyolnya itu yang terkesan memanas-manasi ku. Sungguh dia benar-benar sudah memutuskanku secara sepihak dan diam-diam sudah punya pacar. Awas aja gak aku ampuni kamu mas.

“Haa? apa-apaan ini? dia mengkhianatiku ternyata sial dia sudah punya gebetan lagi ya? oh, ok kita sudah selesai sampai disini pokoknya aku benci kamu mas, hanya sakit yang kau tinggalkan. Semua janji-janjimu dua bulan yang lalu hanyalah kata-kata manis yang tak pernah kau tepati janji kosong dan bualan saja yang kau berikan” ucapku dengan hati yang tersakiti. Aku hanya bisa terisak sendirian di depan laptopku, sungguh aku ini kenapa pakai nangis sih.

“Kamu yang sabar Zil!” kata Emma yang coba tenangkanku, “mas Riki pasti punya penjelasan yang logis kok jangan percaya dulu deh” tambah Emma. Menyakitkan memang kenapa aku dulu mau menerimanya jika yang kudapat hanya sebuah pengkhianatan aduh sakitnya bukan main habis kukira aku bakal bisa bersama dia tapi ternyata hadududuh.

“Zil! aku harap kamu mau mendengarkanku dulu, semua itu hanya rekayasa saja! Zil aku sama kamu cuma dijebak biar kita putus” ungkap mas Riki. “Udahlah mas… gak apa-apa kok kalau kamu maunya begitu, aku sudah ikhlas menerimanya mungkin kamu bisa lebih senang bersamanya daripada sama aku yang hanya bisa bikin kamu cemburu dan marah” ucapku sok tenang padahal dalam hari sih sudah nangis guling-guling gak jelas. Dan mencoba melepaskan genggaman tangannya yang sangat kencang. “Zil, kumohon, mereka hanya menjebak agar kita putus. Jadi kuingin kau mempercayaiku! please” jawabnya yang semakin mengencangkan genggamannya. “Sakit… sudah lepas!” suaraku melengking karena kesakitan, “lepas!” akhirnya Emma ikut berbicara, setelah dari tadi hanya diam dan memandangi kami berdua. Dia mencoba melepaskan genggaman tangan mas Riki yang begitu kuat.

Aku tahu keputusan ini sangat berat, aku tahu dia cowok yang baik dan ramah, tapi teman-temannya tidak begitu kurasa aku takut kalau balikan sama mas Riki hubunganku sama dia bakal dihancurin sama fans dan teman-temannya yang ganas-ganas. Selama kita pacaran seakan banyak sekali ujian dan cobaan yang menerpa hubungan kita yang datangnya memang dari fans dan temannya. Tapi aku harus mengalah pada keadaan, mungkin jika jodoh suatu saat nanti pasti akan dipersatukan kembali tapi tanpa fans dan teman-temannya. Muak banget aku sama mereka semua.

Aku mau lebih bijak dalam mengambil sebuah keputusan, karena aku tak ingin terjebak dalam lubang yang sama. Kabar baiknya adalah sekarang aku sudah bisa move on dari mas Riki yah meski mas Riki tetap baik ke aku. Kuanggap dia hanya teman biasa meskipun perhatiannya padaku lebih dari teman tapi aku tak mempersoalkan hal itu karena aku sadar dia itu baik, tapi aku gak habis pikir kok dia betah sama fans dan teman-temannya itu ya, yang menghalalkan segala cara agar kami berpisah, mungkin makin banyak kakak kelas yang membenciku karena tetap dekat dengan mas Riki tapi biar aja lah meskipun aku dibenci sama kakak kelas dan fans mas Riki, asal ada Emma di sisiku aku tak permasalahkan hal itu. Emma dan aku saling mendukung disaat kami memiliki masalah, dia bahkan tak pernah meninggalkanku selalu sabar menghadapi sikap ku yang kekanak-kanak ini, dia yang sudah mau membuat dan menemani tawa ini, “Emm… thanks ya selama ini kamu sudah mau jadi bagian terpenting dari hidupku” kataku sambil memeluk Emma, “iya… kita kan sahabat sekarang dan selamanya” balas Emma, kita pun saling menggelitiki satu sama lain dan tertawa lagi. “hy! masih lama kah kalian? ayolah katanya mau pulang!” suara itu membuat aku dan Emma menyudahi tawa kami dan pulang bersama mas Riki. Akhirnya kami pun berjalan bersama, menceritakan hal konyol dan menertawakannya.

SELESAI…

Cerpen Karangan: VaVarane

Cerpen Untuk Sahabat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


You Can Run But You Can’t Hide

Oleh:
‘cinta itu ada, tapi kau selalu menghiraukannya’ Di tengah gemerlapnya kota Jakarta, hiduplah seorang gadis cantik berambut panjang bergelombang yang berwarna coklat tua namun sayangnya dia tidak terlalu pintar

Cinta Ku Busway

Oleh:
7 bulan jomblo itu rasanya parah-parah banget, kalau setiap malem kaga ada yang ngucapin “selamat malam sayang, semoga mimpi indah ya” dan kalau pagi pun enggak ada yang ngucapin

Dia Istimewa

Oleh:
“Inara.. kamu tahu nggak? Dia tadi nyapa aku. Aaa…” ucap Aila. “La.. biasa aja ah. Orang baru sekali juga.” sahutku acuh tak acuh. “Memangnya, siapa yang kamu suka itu?”

Bermain Petak Umpet

Oleh:
Kami tiba di depan rumah kayu ulin yang belum jadi. Aku tidak mengatakan ini dapat disebut rumah panggung sebab pondasinya langsung tertanam di tanah. Banyak kayu centang-perenang di sisi

Apa Ini Mimpi?

Oleh:
Alya berjalan di koridor sekolah yang mulai kosong. Seperti biasa, dia berjalan sendirian tanpa ditemani seseorang. Ya, beginilah nasib orang yang tidak bisa mencari seorang teman, dia hanya bisa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Untuk Sahabat”

  1. daniel ronaldi says:

    Arti sahabat: tak pernah di gantikan dan tidak ada namanya mantan sahabat.

    Seorang sahabat sejati memang selalu ada bersama dengannya
    Di saat suka dan duka. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *