Value of Friend

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 18 December 2018

“Apa yang kau ketahui tentang persahabatan?”
Pertanyaan yang membuat para kelima sahabatnya tercengang dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Kiran pada kelima sahabatnya. entah apa yang ia pertanyakan untuk sahabatnya itu. Sebegitu pentingkah jawabannya untuknya? hingga ia, menanyakan hal itu dengan amat serius. Pandangan, wajah dan mata kiran yang ingin sekali kelima sahabatnya menjawab pertanyannya. Ada makna, tertentu dari sebuah pertanyaannya.

“Apa yang membuatmu tiba tiba membuat pertanyaan itu kiran?” Tanya salah seorang sahabatnya.
Gadis itu hanya tersenyum menatap kelima sahabatnya, entah apa kini yang akan ia lontarkan kembali setelah mengatakan itu tadi?

“kau tahu mengapa aku menanyakan hal itu pada kalian? Hingga aku pun sangat menginginkan jawaban itu dari kalian semua?” senyumnya.
Kelima sahabatnya hanya mengangguk dengan seksama dan menunggu jawaban gadis itu.

“aku hanya ingin tahu, apa yang akan kalian pikirkan tentang sebuah persahabatan. aku hanya ingin tahu sejauh mana kalian menghargai sebuah rasa persahabatan. aku hanya ingin tahu sepenting apakah sahabat yang berada di samping kalian saat ini, akankah kalian masih menyisihkan waktu kalian untuk sahabat kalian meski kalian tahu, kalian sangat sibuk dengan dunia kalian saat ini?” Lagi lagi gadis itu melontarkan rasa kecewanya dengan mengajukan beberapa pertanyaan yang mungkin membuat kelima sahabatnya itu berpikir kesekian kalinya.

Sahabatnya tetap dalam rasa kebingungannya, gadis itu hanya menyimpan rasa kecewanya dengan sebuah senyuman dan beberapa pertanyaan yang membuat kelima sahabatnya buta akan pertanyaan itu. entah apa, yang akan dikatakan oleh kelima sahabatnya itu.
Gadis itu kemudian berdiri, beranjak dari tempat duduk dan menghindari kelima sahabatnya dengan perasaan kecewa tertutup senyumnya yang manis, gadis itu hanya mampu terdiam dan hanya meninggalkan senyumnya untuk kelima sahabatnya.

Rasa kecewa yang masih menyelimuti dirinya membuatnya menjadi pemilih saat itu, ia mengalahkan egonya meluangkan segala waktunya berusaha memprioritaskan temannya dibanding dirinya, tapi apa yang dilakukan sahabatnya? Mereka malah tak mengerti. Meluangkan waktu saja sulit, gadis itu bisa saja bersikap tega dengan meninggalkan kelima sahabatnya pergi dengan mengatakan “aku kecewa atas ini semua, kalian tak mengerti jelas bagaimana arti persahabatan di kehidupan kalian”

Kiran bisa saja, mengatakan segala yang menjadi rasa kecewanya saat itu. hanya saja, ia tak ingin menyakiti perasaan kelima sahabatnya dengan melontarkan rasa kecewa dalam dirinya.
Langkah itu terhenti saat ia mengingat sesuatu, mengingat saat kenangan dulu menyelimutinya. kenangan bersama sahabatnya. Jelas kenangan itu bukan membuat dirinya terobati malah semakin terluka. jelas saja, kenangan itu menjelaskan bahwa hanya waktu yang berdekatan saja yang hanya mampu mendekatkan dirinya dengan sahabat sahabatnya..
Tetapi, ketika waktu menjauhkan situasi maka kedekatan dan kebersamaan mereka hilang dan terlupakan. Bahkan, tak sama sekali dari mereka berusaha untuk bertemu dan menyapa. kesibukkan dunia yang dimiliki mereka, membuat mereka tak punya hati akan hal ini. Kiran, menahan segala rasa kecewa dengan senyuman yang ia miliki..

“Kiran?” Panggil salah seorang sahabatnya, membuat ia sadar dari lamunan yang sejak tadi ia lamunkan. Kiran, tersenyum dan menghampiri kelima sahabatnya dan duduk kembali pada bangku yang tadi ia sempat tinggalkan.
“Ada apa? bagimana pertanyaanku, adakah yang ingin menjawabnya” senyumnya hampir saja pudar, tetapi ia berusaha untuk tetap tersenyum meski rasa kecewa terus menyelimutinya.
“Kami, tidak tahu apa yang akan kami katakan padamu kiran. pertanyaanmu pun kami tak mengerti bagaimana menjawabnya kami berfikir, apa yang kamu pertanyakan ini tidak seperti biasanya. entah ada apa denganmu dengan mengajukan beberapa pertanyaan seperti ini kiran. entah ada rasa apa dalam perasaan dan hatimu kami pun tak dapat mengartikannya”
“kiran, aku hanya berfikir bahwa kamu memang sedang diselimuti rasa kecewa yang berlebih saat ini hingga kau mengajukan pertanyaan itu pada kami semua. tapi percayalah kiran, jika saat ini memang kau terluka atau pun kecewa karena kami maka katakan…”
“ingin sekali aku mengatakannya, tapi sayang sekali aku tak bisa melukai hati kalian pun dengan rasa kecewa dan ucapanku nanti. Biarkan aku saja yang mempunyai rasa kecewa ini” ucap batinnya.

Kiran hanya tersenyum menanggapinya, luka itu kini semakin dalam dengan apa yang mereka katakan tadi. sudah disimpulkan bahwa mereka tidak tau apa artinya persahabatan dalam diri mereka. Aku baru mengerti bahwa persahabatan ini hanya persahabatan dalam jarak dekat. ketika jarak memisahkan mereka, maka mereka akan lupa dengan hal ini. kesibukkan mereka membutakkan segalanya, hingga mereka tak bisa menghargai persabahatan yang terjalin 3 tahun lamanya.
Gadis itu semakin mengerti, bahwa hanya orang tertentu yang bisa menghargai arti persahabatan dengan sangat baik.

Kiran kembali beranjak dari tempat duduknya,
Sebelum ia pergi dan meninggalkan mereka berlima. Kiran mengatakan sesuatu, mengatakan sebuah kalimat yang membuat sahabatnya baru mengerti. bahwa rasa sakit dan kecewanya adalah sebuah rasa luka yang mereka buat sendiri hingga mereka tak menyadarinya sejak lama. Hingga akhirnya mereka pun mengerti bahwa pertanyaan yang diajukan oleh kiran, ternyata adalah sebuah ungkapan kalimat kekecewan yang ia ubah menjadi sebuah pertanyaan, hingga mengharuskan kami menjawabnyaa.

“aku hanya ingin katakan, jika ada seseorang yang hadir dalam hidup kalian dan mengutamakan kalian dalam hidupnya maka kalian harus mengerti, bahwa kehadiran seseorang itu adalah seseorang yang akan selalu ada ketika kalian membutuhkan tempat untuk berbagi rasa yang kalian punya. apapun itu, hargai ia yang selalu mengutamakan kalian dibanding hidupnya. karena kalian tak pernah tau bagaimana ia berusaha semampu mungkin untuk meluangkan waktunya untuk kalian, lalu membuat kalian merasa bahagia. Dan jika ia melakukan itu maka kalian adalah bagian dari orang orang yang paling sangat berharga untuknya.”

Senyumnya mengakhiri kehadiran gadis itu, ia beranjak dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya untuk pergi.
Perasaan semakin terluka dan perasaan semakin kecewa ia bawa pergi bersamanya, tak ada lagi pandangan yang ia tunjukan pada sahabat sahabatnya. Meski ia harus pergi membawa rasa kecewa yang amat kecewa ia biarkan rasa itu terus terjadi, padanya.
Gadis itu, semakin mengerti bahwa arti dari sebuah persahabatan hanyalah akan dimengerti oleh mereka yang sama sama akan berjuang meski, ia tau jarak akan memisahkannya sejauh mungkin.

“Tuhan, kini aku mengerti apa arti sebuah persahabatan sebenarnya dan terimakasih telah menunjukan segala hal itu padaku. Terimakasih atas rasa kecewa ini, aku semakin mengerti bagaimana rasa kecewa terjadi pada orang orang yang tulus”

Senyuman itu semakin memudar dan air mata kini menggantikannya,” tenanglah senyuman aku tau kau lelah maka biarkan aku yang menggantikanmu. kini kau bisa tumpahkan segalanya yang kau mau”

– Terkadang orang yang kita anggap dekat dengan kita adalah orang yang paling jauh dengan kita. Dan, orang yang paling jauh dengan kita adalah yang paling dekat dengan kita.

Cerpen Karangan: Mutya Zulmi
Blog / Facebook: MutyaaZulmi
Happy Reading 🙂

Cerpen Value of Friend merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bertahan Hidup

Oleh:
Berpetualang memang menyenangkan, tapi sepertinya petualangan yang berbau kematian, sebaiknya dijauhkan saja, seperti cerita berikut ini. Cerita ini berkisahkan tentang 3 orang anak remaja yang tak sengaja memasuki hutan

Surat Dari Sahabat

Oleh:
Gak terasa kini kami sudah berpisah, tapi bagi kami berpisah bukan untuk selamanya, bahkan perpisahan ini langkah kesuksesan untuk kami dimasa depan nantinya. Haii… nama saya Difa Ramadhani, biasanya

Mata dan Hati

Oleh:
Aku paling benci bila orang lain menatap mataku lama-lama. Padahal tidak ada kesalahan dengan mataku ini. Mataku sama seperti mata yang dimiliki insan lain yang berfungsi sebagai indra penglihatan.

Selembar Ladang Manis (Part 1)

Oleh:
Aku berjalan dalam duniaku, aku berimajinasi dalam mimpiku, aku berbagi dengan diriku, aku, aku ingin memikirkan semua tentang apa yang ingin aku lakukan. Rerumputan ini telah membangunkanku, menyadarkanku dari

Cintaku Kembalilah

Oleh:
Namaku Tara anatasya .aku tinggal bersama orang tuaku dan satu orang adik perempuanku.aku sekolah di SMP Kintan II kelas vIII.Ayahku bekerja sebagai dokter di rumah sakit Kasih Bunda.sedangkan mamaku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *