Verdriet

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 21 November 2014

Sejak dua jam yang lalu aku bersantai di halaman belakang rumaku, angin malam berhembus, mendinginkan otakku, memang enak sih bersantai sambil mendengarkan lagunya Shaggy dog – Bersamamu. Beberapa menit kemudian Hpku berbunyi, sebuah miss call, aku berjalan menuju teras, lalu duduk santai dan membaca sebuah majalah otomotif.
Lima belas menit kemudian aku berdiri, seorang wanita berambut panjang dan berwajah dingin berjalan menuju ke arahku, lalu ia duduk di kursi yang berhadapan denganku, dia adalah Rara seorang temanku yang baru saja kembali dari kampung halaman nya. Kami mengobrol dan bercerita sampai temanku Ito datang dan menawari kami untuk ikut dengan nya, pergi ke sebuah kafe milik kakaknya di pinggir kota, akhirnya kami berangkat menuju kafe itu dengan mobil milik Rara. Kafe itu lumayan bagus, ada WIFI dan sering ada band-band lokal yang manggung, kami memilih meja yang terletak di sebelah panggung lalu memesan beberapa makanan dan minuman. Aku sungguh menikmati suasana malam itu. Jam tanganku menunjukkan jam 00.00 dan kami pun pulang, di perjalanan aku sempat mengundang teman-temanku untuk ‘bersantai’ di rumahku besok siang jam 12.00 dan aku sudah mengundang seorang teman dekatku.

Aku terbangun, keadaan masih sunyi, langit masih gelap dan matahari belum muncul, aku pun segera mandi dan langsung pergi mencari minimarket 24 jam, membeli beberapa makanan untuk sarapan. Sarapanku sudah habis tak tersisa, aku beranjak dari meja makan untuk membersihkan halaman belakang, aku mengambil beberapa kursi pantai dari gudang dan menaruhnya di halaman belakang, pekerjaan ini sungguh melelahkan, aku baru selesai jam 11.00 siang lalu tertidur di salah satu kursi pantai. Aku terbangun karena suara HPku yang sejak tadi bergetar di kantongku, ternyata Riska sudah menunggu di depan rumah, Riska anak kos-kosan depan rumah yang cold banget (tapi orangnya asik juga loh).

30 menit kemudian semua teman-temanku sudah mulai bermain di halaman belakang rumahku, halaman belakang rumahku cukup luas sih, bahkan sedikit lebih luas dari rumah utama. Huff… ‘acara dadakan’ ini ternyata meriah juga ya, dan kami mengakhiri ‘acara dadakan’ ini pada sore harinya sekitar jam 17.00.

Terlalu banyak hal menarik yang terjadi saat ‘acara dadakan’ ini berlangsung mulai dari hal konyol, lucu dan lebih banyak lagi, tapi yang paling penting saat itu ketika Riska ‘ijin’ untuk kembali ke kosan nya sebentar untuk mengambil sesuatu yang katanya ketinggallan, lalu setelah dia pergi Ito memberikan kami selebaran poster promosi sebuah toko alat-alat self defense sambil mengambil sebuah ‘mini katana’ dari tas ranselnya, dia bilang “buat pajangan aja sih kalo aku, tapi kalo ada maling kan bisa dipake”, dan Ito berjanji akan menemaniku memilih alat yang bagus untuk home defense (jangan berlebihan).

Satu minggu sudah berlalu, hari ini hari minggu dan aku ada janji dengan Ito, dia yang akan menemaniku untuk bermain dengan benda yang berbahaya. Di sana kami bertemu dengan Riska yang sedang asik memilih-milih pisau dagger, ternyata toko itu lumayan lengkap untuk sebuah toko baru, mulai dari stun gun, sampai mini katana pun ada disana. Akhirnya sebuah baton stick kubeli, bagaimana dengan Riska dan Ito?, Riska membeli beberapa stun gun dan dua pisau dagger sedangkan Ito menambah koleksinya dengan sebuah pedang katana berlapis tembaga bermotif ukiran huruf-huruf Hiragana dan sebuah koper biola hardcase yang menjadi tempat menyimpan katana itu.

Setelah selesai ‘berbelanja’ kami pun pulang, Riska, karena rumahnya beda arah ia tidak ikut pulang bersama kami (aku dan Ito). Kami tidak langsung pulang begitu saja, aku berjalan di samping Ito, kami melewati sebuah taman kota yang indah dan melewati sebuah gang tak jauh dari rumah Ito. Di situ kami dihadang sekelompok Begundal sadis jahat, pemalak daerah gang ini, tepatnya tiga orang, kami berhenti, aku agak takut tapi Ito tidak takut, malah menanyakan maksud mereka. Tanganku nenyentuh kunci koper biola, mereka menggertak dan mengeluarkan pisau, aku pun dengan reflek membuka koper itu dan menyerahkan katana itu kepada Ito yang langsung ia terima dengan sangat cepat. Aku mengambil baton stickku dari tas punggung hitam milikku, seorang dari mereka maju mencoba menusuk Ito tapi Ito merunduk dan menikam orang itu, melihat temannya terkapar bermandi darah kedua orang pemalak yang lainnya langsung menyerang Ito dan aku.

Lawanku lumayan tangguh tapi dengan kekuatanku, ia terkapar di tanah, mungkin beberapa tulang nya patah karena terkena kerasnya baton stick milikku dan beberapa tendangan dari beladiri Tae Kwon Do yang kupelajari. Sedangkan pertarungan sengit antara Ito dan seorang pemalak masih berlangsung, beberapa menit kemudian orang itu terhembap ke tanah dengan banyak luka di tubuh nya. Ito berhasil selamat tapi ada sebuah luka tikam di punggung, luka sayat di dekat dada dan beberapa memar-memar, aku langsung menghubungi kepolisian terdekat, selama polisi dalam perjalanan aku menekan luka di punggung dan luka di dekat dada (Ups!) tapi apa boleh buat ini keadaan darurat. Sebelum polisi datang seorang pemalak yang belum mati karena hanya kena tendang dan pukulku itu lari dari TKP, taklama kemudian polisi datang, Ito dibawa ke sebuah Rumah sakit terdekat, aku tetap menemani nya sebelum aku harus meninggalkan nya dalam mobil ambulan dan pergi bersama polisi menuju kantor kepolisian untuk dimintai keterangan.

Aku pulang, badan capek, kepala pusing dan dunia serasa jungkir balik, Brukk… aku menjatuhkan diri ke atas kasur ungu tempatku beristirahat setiap hari. Aku mulai merenung lagi, merenungkan tentang seorang gadis yang cantik dan dikenal sebagai orang yang berhati lembut dan selalu ceria, can be very ferocious. Aku berjalan gontai menuju dapur dan membuat secangkir teh, malam ini aku mengerjakan semua tugas yang tertunda, semua tugas habis tak tersisa tapi rasa sedih ini tak pergi-pergi juga dariku. Aku kembali berjalan menuju dapur lalu membuat secangkir kopi dan membawa nya menuju kamarku, kupegang cangkir itu, kopi hitam, pekat dan kental, segera kuminum habis, rasa pahit menyelimuti lidahku, aku pun jatuh tertidur dalam dekapan angin malam yang dingin.

Hari yang cerah aku bangun sedikit kesiangan, aku mengumpulkan semua teman Ito yang kukenal, misal Rara dan Riska. Aku membawa mereka jalan-jalan, 20 menit kemudian aku memarkir mobil di sebuah Rumah sakit, aku mengajak mereka masuk. Awalnya mereka tidak percaya akan apa yang mereka lihat, dan setelah aku menceritakan kejadian itu (versiku, tentu apa yang kualami dan kulihat) mereka malah menyemburku dengan kata-kata “Cowok harusnya melindungi cewek”, tapi akhirnya mereka berhenti menyalahkanku setelah Ito berbicara dan menceritakan semua tentang kejadian itu dan siapa kelompok itu sebenarnya.

Dua hari telah berlalu, hari ini Sabtu. 16 Juni, aku berdiri mengenakan pakaian serba hitam di tengah banyak orang yang sedang bersedih, kesedihan dan kehilangan terpancar dengan jelas dari wajah mereka. Iya, Ito telah pergi, tadi pagi, karena infeksi pada luka di punggungnya. Ranti, adik Ito menangis di sebelahku.

Seusai itu aku pergi menuju sebuah pantai di daerah barat pulau, sekadar untuk off dari kegiatan-kegiatanku yang membosankan setengah mati, aku menginap di pantai selama dua hari, memancing dan bermain pasir sepanjang pantai.

Beberapa saat setelah aku kembali dari liburanku, sebuah kabar hinggap di telingaku, Ranti adik Ito menghilang, ia pergi saat tengah malam sehari setelah Ito pergi.

Tiga hari sudah Ranti tak kunjung pulang, aku pun bernagkat menuju perbukitan di pinggir kota, tempat Ito pergi saat sedang sedih atau ada masalah. Aku menemukan Ranti di sebuah penginapan di lereng sebuah bukit. Ia duduk di sebelahku, ditemani segelas avocado float ia mencurahkan semua kesedihan dan perasaannya padaku. Ia memintaku merahasiakan pertemuan kami dan keberadaan nya sampai ia memberiku kabar.

Aku menyalakan TV dan seorang pembawa acara membawakan berita “Hari ini, minggu 22 juli, pembunuh Aisyah ramnita S telah ditemukan tak bernyawa di sebuah kebun, tak jauh dari situ ditemukan juga mayat seorang gadis yang disinyalir adalah adik kandung Aisyah ramnita S” pettt… aku mematikian TV. Sudah kuduga ia pergi membawa kotak berisi katana milik Ito dan membunuh, menuntut sebuah pembalasan dendam.

Aku segera mengucapkan belasungkawa dan maaf sedalam-dalamnya kepada keluarga besar Ito yang sedang berkabung.

Cerpen Karangan: Amartya Zen
Facebook: Ama.mancengaedab

Cerpen Verdriet merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menunggunya Kembali

Oleh:
Langit sore pada hari itu mendung seperti hatiku yang mendung dan hampir diguyur hujan lebat. Namaku Rika, aku masih duduk di Sekolah Dasar (SD). Aku punya sahabat yang bernama

Pahami Aku!

Oleh:
Semuanya berawal dari suatu yang tak terduga, sesuatu yang dirasa tak mungkin kini sekarang telah menjadi mungkin. Entah apa yang terjadi sesuatu baru saja terjadi dalam hidup. “Kamu apa

Aku, Dia dan Sahabatku

Oleh:
Menurut psikologi, cinta itu harus diungkapkan Menurut agama, cinta itu harus dipendam sampai waktu yang tepat Menurutku, cinta itu ibarat sebuah kayu yang terhanyut dalam aliran sungai Kisah ini

Blizzaphyr dan Masa Lalu

Oleh:
“Jadikan tombak ini sebagai bagian dari hidupmu…” Itulah kata kata terakhir yang aku dengar darinya. Kata kata perpisahan yang tidak pernah kusadari. Mengingat kesempatan yang aku lewatkan dengannya setelah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *