Vitamin C++ (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 29 June 2014

Aku menulis cerpen ini dalam keadaan sangat galau. Akhir-akhir ini aku menjadi seseorang yang sangat pendiam, murung, dan sangat tidak bersemangat. Awalnya, aku juga tak tahu mengapa aku menjadi seperti ini. Mungkin karena tugas yang sangat menumpuk atau ulangan yang seakan tak henti-hentinya menyerbuku. “ah…” aku menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Aku mencoba untuk rileks. tapi tetap saja, aku tidak bisa. Lalu, aku pun berusaha mencari kesibukan untuk menumbuhkan semangat hidup yang seakan hilang dari diriku. tapi tetap, aku tak bisa. “apa mungkin ini namanya galau? Galau yang sering disebutkan oleh teman-teman sekelasku” tanyaku dalam hati. Aku yang sebelumnya sangat membenci lagu-lagu yang sedikit berbau mellow dan galau seakan berbalik senang untuk mendengarnya. Saking cintanya aku pada lagu-lagu galau, semua lagu yang ada di handphone ataupun laptopku adalah 100% lagu galau. “Oh God, apa yang sebenarnya yang terjadi padaku?” teriakku dalam hati. Dan hal yang paling tak kusangka lagi, aku yang sebelumnya jarang online Facebook ataupun BlackBerry Messenger, sekarang seolah tak pernah absen untuk memasang status-status yang galau. Status yang seakan menggambarkan perasaan dan hatiku yang begitu tak beraturan bentuk dan susunannya. Dan saat ku lihat hujan, aku mendapat inspirasi lagi untuk memasang status galau. Bunyinya kurang lebih seperti ini “Hujan yang deras dan tak berujung ini seakan menggambarkan isi hatiku yang sedang galau saat ini”. Begitulah bunyi salah satu status galauku. Dan sekali lagi aku bertanya, “mengapa aku berubah derastis seperti sekarang ini, Tuhan?” tanyaku dalam hati.

Dan dari sekian banyak perubahan yang ada padaku sekarang, ternyata mengundang tanya pada salah satu sahabat karibku. “Dill, kamu kok sekarang berubah? Kenapa? Kamu kenapa sekarang suka menyendiri? Mengapa kamu sekarang seperti orang yang tak punya semangat hidup? Jawab, Dill” tanyanya padaku sambil mendekatiku yang sedang menggalau ria di pojok kelas sambil mencari angin. “ehm, gak apa-apa kok. Aku nggak berubah. Aku sama seperti biasanya, Sobat” jawabku sambil melanjutkan memandang pemandangan yang sangat indah di belakang sekolah. “Ah, kamu bohong. Kamu sekarang udah berubah. Kamu bukan Dila yang kukenal dulu. Dila yang selalu semangat dan ceria” katanya padaku dengan ekspresi yang begitu menyakinkan. “nggak kok. Aku nggak berubah. Aku Cuma pengen waktu untuk menyendiri aja” jawabku to the point padanya. Tanpa berkata-kata lagi, Riska pergi meninggalkanku sendiri. Aku tak tahu mengapa dia langsung pergi dari hadapanku, mungkinkah dia mengerti keadaanku saat ini atau dia malah marah padaku karena secara tak langsung aku mengusirnya dari hadapanku. Aku tak tahu dan tidak mau tahu. karena menurutku, tiada seorang pun yang dapat mengetahui secara pasti apa yang ada di dalam hati orang lain. Bisa saja di mulut orang itu bilang “Iya”. Tapi ternyata hatinya berkata “Tidak”. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya agar aku bisa menyendiri dan merenung, apa sebenarnya yang terjadi padaku. Karena apa? Aku capek dihantui rasa galau yang selalu menemani setiap detikku akhir-akhir ini.

Malam telah tiba. Sekarang, untuk disuruh duduk di meja makan saja rasanya aku tak mau. Padahal malam itu nenekku telah memasakkanku makanan favoritku dan tentunya sangat enak. “Dill, makan dulu nak baru tidur” ajak nenekku yang berdiri tepat depan kamarku. “ehm… malas nek. Besok aja ya makannya, Dila udah ngantuk banget nih mau tidur” kataku yang saat itu sudah berada di atas ranjang. “lho, nggak bisa gitu Dill. Nanti Mamamu marah lagi kalau kamu nggak makan malam. Lagian, nenek udah masakin kamu makanan favorit kamu loh” kata nenek dengan nada sedikit memaksaku untuk makan. Dalam hati aku berkata “aku bukan anak kecil lagi yang harus dipaksa untuk makan. Aku sudah cukup dewasa untuk mengatur diriku sendiri dan tahu mana yang baik dan tidak untukku” omelku dalam hati. Tapi, omelanku mengalahkan rasa sayangku pada nenek yang sudah repot-repot memasakkanku masakan yang lezat. Karena menghargainya, kupaksakan diriku untuk bangkit dari ranjang tercintaku menuju dapur untuk makan malam. “oke deh nek. 5 detik lagi Dila udah sampai di dapur” jawabku pada nenek. “haha… iya, nenek tunggu di dapur ya kita makan bersama” katanya sambil tertawa kecil.

Tak lama kemudian, aku sampai di dapur dan langsung duduk di kursi favoritku. “Nek, ada makanan apa sih?” tanyaku padanya. “itu, lihat aja sendiri. Pokoknya favorit kamu banget deh” jawab nenek padaku. Lalu, aku pun membuka penutup nasi yang ada di depan mataku dan kulihat makanan yang lezat-lezat tapi tetap saja, nafsu makanku hanya sisa 10% dari biasanya. Sungguh perubahan yang signifikan bagiku. “tumben nak, kamu makan sedikit? Biasanya banyak?” Tanya nenek yang juga makan tepat di sampingku. “oh, nggak apa-apa nek. Ntar kalau Dilla belum kenyang Dilla tambah lagi kok nek” jawabku sambil memulai untuk makan. “kamu kenapa Dill, kok akhir-akhir ini jadi malas makan dan kelihatannya kurang bersemangat? Ada masalah apa kamu?” Tanya nenek yang tahu betul disaat aku ada masalah ataupun tidak. “ah, nggak nek. Dilla baik-baik aja tuh. Perasaan nenek aja kali tuh” jawabku yang nyata-nyatanya mengelak apa yang diucapkan nenek padaku. “ah, kamu nggak usah bohong sama nenek. Nenek itu sudah rawat kamu sejak kecil mana mungkin nenek tidak mengerti hati kamu” tegas nenek yang seakan tahu betul hatiku saat ini. “mana mungkin lah nenek tahu hati Dilla. Nggak ada seorang pun yang mengerti hati orang lain, nek” elakku lagi. “ah nggak mungkin, buktinya nenek tahu apa yang ada di hati kamu sekarang. Walaupun nggak 100% benar, pasti nggak juga 100% yang nenek katakan itu salah kan?” kata nenek lagi padaku. “benar juga ya apa yang dikatakan nenek” kataku dalam hati. “nek, nenek dulu pernah lihat Ir. Soekarno nggak nek?” Aku pun mengalihkan pembicaraan dengan membahas masa penjajahan yang dulu dialami nenekku dengan ekspresi cukup bersemangat dari yang tadi. “pernah lah Dill, tapi waktu itu nenek masih sangat kecil. Kira-kira usia 12 tahun lah. Dia orangnya gagah loh” jawabnya sembari tersenyum-senyum sendiri. “wah, nenek dulu pernah sempat naksir dengan dia ya?” godaku padanya. “haha… kamu ini ada-ada saja Dill. Ya nggak mungkin lah, nenek kan waktu itu masih kecil. Sedangkan beliau sudah punya istri dan anak. Nenek hanya kagum pada kepemimpinannya memimpin negeri ini” jawab nenek sambil tertawa padaku.

Tak lama setelah kami berbincang-bincang, nasi yang terus kumakan habis dan kini tiba saatnya aku untuk mencuci piring lalu tidur. “nek, Dilla udah selesai cuci piring, Dilla tidur duluan ya. Selamat malam nek, selamat tidur” kataku sambil beranjak dari tempat cuci piring menuju kamarku. Menurutku, kamar memang tempat yang paling cocok untuk menggalau. Apalagi jika ditemani musik-musik yang mellow, dijamin galau beneran deh. Dan malam ini, aku ditemani oleh bantal, selimut, dan tak lupa juga handphoneku. Akhirnya aku sudah siap untuk tidur. Ku ambil handphone dan headset lalu kucari lagu luluh miliknya samsons. “sumpah, lagu ini emang bener-bener buat aku galau” kataku sambil mendengarnya. Setelah itu, kumatikan handphoneku. Aku berdoa dan terlelapku dalam tidurku malam itu.

Paginya, aku terbangun karena bunyi alarm yang sungguh kencang yang seakan ingin memecahkan gendang telingaku. Aku pun akhirnya beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Tak lupa, ku setel musik di handphone ku lalu kutaruh di depan kamar mandi. “Seandainya kau tahu, ku tak ingin kau pergi… meninggalkan ku sendiri bersama bayanganmu… seandainya kau tahu, aku kan slalu cinta… jangan kau lupakan kenangan kita selama ini…” nyanyiku dalam WC dengan teriak-teriak tak jelas. “Dilaaaaaa… jangan ribut-ribut. Nanti tetangga yang dengar kamu nyanyi malah budeg lagi dengar suaramu” teriak mama dari luar WC. Aku tak mendengar perkataannya karena aku sungguh asyik sekali mandi sambil bernyanyi.

Setelah mandi, aku bergegas memakai baju dan segera sarapan. “ih nggak terasa ya, bentar lagi kakakmu ujian, Dill” kata mama di hadapanku juga kakakku. “What? Emang tanggal berapa mam dia ujian?” tanyaku dengan nada sedikit kaget. “ehm… kurang lebih satu atau nggak dua bulan lagi lah” jawab mama. “yah” jawabku singkat dengan ekspresi yang seketika itu juga berubah menjadi muka yang sedih. “kamu kenapa? Kakakmu yang mau ujian kok kamu yang sedih tuh loh? Aneh” respon mama pada ekspresiku itu. “ehm… nggak apa-apa sih mam” jawabku singkat sambil melanjutkan sarapanku pagi itu. Padahal aku punya alasan lain yang tak kuungkapkan dengan mama. Alasan yang benar-benar logis yang tentunya bisa diterima akal sehat.

Hari semakin bertambah hari, tak terasa sudah hampir seminggu ini aku terserang galau dan ternyata diam-diam Riska, Halim dan Akmal sahabatku mencari tahu apa yang sebenarnya membuatku galau karena setiap mereka bertanya padaku, aku selalu tak menjawab bahkan mengalihkan pembicaraan mereka. Aku memang salah satu orang yang paling jarang menceritakan soal masalahku pada ketiga sehabatku. Bukannya tidak terbuka, tapi hanya saja aku tak mau menambah beban pikiran mereka hanya karena masalahku yang begitu rumit. Mereka melakukan segala hal yang tak kusadari. Dari membuka profil facebook maupun twitterku setiap hari dan setiap saat yang mereka sempat. Bahkan hingga menanyakan langsung pada mamaku disaat aku tak di rumah. Aku tak tahu apakah mereka sudah dapat atau belum apa yang ingin mereka cari. Yang jelas aku masih sibuk sendiri menggalau.
“Dill, boleh pinjem handphone nggak?” Tanya Halim padaku. “ehm… buat apa?” jawabku padanya. “nggak, Cuma mau kirim-kirim foto kemarin. Boleh nggak?” katanya lagi padaku. “ehm… boleh deh, ini” jawabku sambil menyerahkan handphoneku padanya. “aku boleh kirimnya disana nggak? Takutnya kalau disini ganggu kamu menggalau lagi… hahaha” katanya dengan nada sedikit mengolokku. “hahaha… iya. Terserah kamu aja deh mau kirimnya dimana” jawabku sambil tertawa lebar. Akhirnya Halim meninggalkanku sendiri menuju Riska dan Akmal. Ku lihat dari kejauhan mereka sangat sedang asyik sekali mengutak-atik handphoneku. Tapi, tak kupikirkan. Aku percaya kepada mereka. Tak mungkin mereka merusak handphoneku itu.

Tak terasa, 3 hari pasca Halim meminjam handphoneku. Aku dikagetkan oleh ajakan ketiga sahabatku yang tiba-tiba saja mengajakku ke belakang sekolah. “Dill, ke belakang sekolah yuk, sekarang” ajak Riska padaku. “tapi…” jawabku. “tapi kenapa? Ayok lah. Halim sama Akmal udah ada disana eh” jawab Riska padaku. “bentar lagi kan masuk Ris?” jawabku yang menolak ajakannya secara halus. “ah, nggak apa-apa. Palingan Pak Samsuri nggak masuk hari ini” katanya yang dengan yakin guru tersebut takkan masuk di kelas kami. “ah, dari mana kamu tahu? Kalau semisalnya dia ada gimana?” elakku sekali lagi. “kamu kenapa sih? Diajak ngumpul aja susah banget. Nggak biasanya kamu gini Dill” jawab Riska padaku. “loh, pelajaran ini kan lebih penting dari kita ngumpul, Ris. Lagian kita udah ketinggalan banyak materi sama guru itu” jawabku tak mau kalah. “apa kamu bilang, Dill? Oh, jadi selama ini kamu anggap aku, Halim dan Akmal tuh nggak penting? Iya? Itu kan maksud kamu” kata Riska yang mulai salah paham. “bukan gitu Ris maksudku. Tapi kan kalau kita ngumpul bisa sepulang sekolah atau besok-besok” jawabku yang mulai menjelaskan ke Riska agar tidak salah paham. “alah, kamu emang mulai berubah sekarang, Dill. Atau kamu udah nggak mau berteman lagi sama kami? Iya? Bilang aja, Dill” kata Riska yang mulai bertambah salah paham. “bu… bukan gitu maksudku Ris” jawabku yang mulai takut Riska marah padaku. “jadi apa, Dill? Udah, aku tahu kalau kami tuh udah nggak penting lagi bagi kamu dan kamu udah nggak mau berteman dengan kami lagi kan? Oke kalau itu maumu” kata Riska sambil pergi meninggalkanku. Akhirnya, Riska, Halim dan Akmal marah padaku. Mereka tak menegurku saat di sekolah ataupun bertemu di jalan. Dan itu semua membuatku tembah galau. Mungkin menjadi galau yang tak ada habis-habisnya. Dan sekali lagi “Ah…” aku menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Aku sudah tak kuat lagi dengan semua ini.

Hari ini, tepat seminggu aku tak teguran dengan ketiga sahabatku lalu kuputuskan untuk meminta maaf dan berjanji akan mau menceritakan apa yang terjadi padaku saat ini. Tapi aku bingung, apa yang harus aku lakukan agar mereka mau memaafkanku. Seketika itu juga aku berpikir keras dan memeras segala ide yang mungkin nantinya akan muncul di benakku. Tapi ternyata hasilnya nol besar. Aku belum mendapatkan ide bagaimana cara yang tepat untuk meminta maaf kepada mereka. Akhirnya, aku meminta bantuan pada salah seorang teman untuk mencarikan jalan keluar agar mereka mau memaafkanku. “Mail, aku boleh minta bantuan sama kamu nggak?” tanyaku pada Mail, temanku. “bantuan apa Dill? Ngomong aja, kalau aku bisa aku pasti bantu kok” jawabnya padaku. “bantu ide aja, Mail” jawabku singkat. “Ide? Ide untuk apa?” Tanyanya lagi yang sepertinya belum mengerti apa yang kumaksud. “gini, udah seminggu ini aku nggak teguran sama sahabatku di sekolah. Dan aku mau minta maaf ke mereka. Tapi aku nggak tahu gimana caranya. Setiap aku mendekati mereka, mereka langsung pergi menjauhiku. Dan mereka sama sekali nggak mau satu kelompok sama aku kalau ada kerja kelompok. Jadi aku susah ngedeketin mereka Mail… gimana dong?” curhatku padanya. “ehm… gimana ya Dill” jawabnya padaku sambil berpikir keras. “Kamu bisa bantu aku kan? Please…” jawabku sambil memohon padanya. “ehm, aku punya ide Dill. Gimana…” jawabnya. “apa? Apa?” tanyaku yang langsung memotong perkataannya. “aduh, kamu ini nggak pernah berubah-berubah ya. Pasti nggak sabaran” jawabnya seakan tahu pasti siapa aku sebenarnya. “iya, sorry. Sorry ya Mail gagah” maafku sambil menggodanya agar tak marah lagi padaku. “haha… disaat seperti ini kamu masih bisa aja ngegombal. Dasar ratu gombal” katanya padaku sambil tertawa lebar. “haha… habisnya kamu sih terlalu tegang. Udah, kasih tahu nah idemu apa” kataku yang tak sabar mendengar saran darinya. “iya. Iya. Gini, gimana kalau kamu curhat aja ke wali kelas kamu. Kamu bilang kalau misalnya nanti ada tugas kerja kelompok, kamu dan ketiga sahabat kamu itu dikasih satu kelompok aja. Ya, terus kamu kasih tahu aja kalau kamu ini lagi ada masalah sama mereka dan mau minta maaf ke mereka. Aku yakin, pasti wali kelas kamu ngerti kok” sarannya padaku. Sejenak aku terdiam dan tidak sama sekali merespon jawaban Mail. Aku berpikir apakah aku bisa melakukan hal itu. Dan apabila bisa, apakah yang Mail sarankan kepadaku bisa berhasil dan membuat mereka memaafkanku. “Dill… Dill… kok kamu diam? Ada yang salah ya dengan perkataanku?” Tanya Mail padaku. “ehm, nggak kok. Aku Cuma berpikir aja apakah yang kamu saranin itu bisa berhasil nantinya?” jawabku padanya. “kalau kamu yakin dengan apa yang aku katakan tadi bisa berhasil, aku yakin kamu pasti bisa kok” jawab Mail yang memang merupakan salah satu temanku yang bijaksana. “oke, aku akan coba dan aku berharap ini semua bisa berhasil” jawab ku padanya. “nah, gitu dong. Kamu harus optimis” katanya menyemangatiku. “iya, makasih ya Mail atas sarannya. Kamu emang baik deh” jawabku sambil tak hentinya mengucapkan syukur dan terima kasih.

Keesokan harinya, sebelum bel masukan berbunyi tanda pelajaran pertama dimulai, aku masuk ke ruang guru untuk mencari wali kelasku. “Bu, liat pak Ibe nggak?” tanyaku pada salah satu guru yang ada disana. “pak Ibe? Itu beliau disana” jawab guru itu sambil menunjuk dimana letak pak Ibe saat itu”. “oh iya, makasih ya bu. Mari bu” jawabku lalu menuju dimana pak Ibe berada. “ehm, Assalamu’alaikum pak” salamku padanya lalu duduk tepat di depan beliau. “walaikumsalam nak. Oh, Aldila. Ada perlu apa nak kemari?” tanyanya padaku. “gini pak, udah seminggu ini saya nggak teguran sama sahabat saya, Pak. Riska, Halim dan akmal. Saya udah coba untuk meminta maaf ke mereka, tapi mereka nggak mau maafin saya pak” curhatku pada beliau. “trus, apa yang bisa bapak bantu nak?” tanyanya lagi padaku. “gini pak, mereka kan nggak mau kalau satu kelompok sama saya. Nah, itu yang membuat saya tambah sulit meminta maaf. Maksud saya gini loh pak, kalau misalnya dalam waktu dekat ini ada tugas kerja kelompok di pelajaran bapak, saya minta satu kelompok dengan mereka. Bapak mengerti sendiri kan maksud saya apa?” tambahku. “oh begitu. Saya ngerti nak. Nanti bapak akan coba bantu kamu ya” jawabnya dengan tersenyum lebar. “kalau gitu, saya ke kelas dulu ya pak. Udah bell soalnya. Sebelumnya terima kasih banyak ya, pak. Assalamu’alaikum” jawabku sambil pamit lalu bergegas menuju kelas yang tak jauh dari ruang guru. “Walaikumsalam, nak” jawab beliau padaku.

Cerpen Karangan: Fadhilah
Blog: fadhilah-basri.blogspot.com
Nama: Fadhilah Basri
Alamat: Jl. Sebengkok Tiram RT. 15 No. 8 Tarakan
Twitter: @DilaBasri

Cerpen Vitamin C++ (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Buku Resep Sahabat

Oleh:
Pada suatu hari, ada seorang anak yang gemar memasak. Namanya Lilyana syahputri. Biasa dipanggil Lily. Lily gemar sekali memasak, sampai-sampai dia mempunyai resep buatannya sendiri lho… Lily mempunyai 2

Tangisan Hati

Oleh:
Keindahan pada sore hari ini bagai gambaran dari hati dua insan yang sedang jatuh cinta, cinta kasih yang amat sangat indah dalam sejarah hidup mereka berdua. Hamparan pasir yang

Cinta Kamu Bukan Untuk Aku

Oleh:
Ruang Aula sudah sesak dipenuhi oleh banyak siswa-siswi. Ya! Dimulai dari ruangan ini aku mempunyai sekolah baru. Aku sedang masa orientasi siswa, ya.. yang biasanya disingkat dengan MOS. Di

Ketika Harapan Harus Berakhir

Oleh:
Udara pagi yang sejuk adalah udara pertama yang ku hirup di SMA ini. Hatiku senang sekali, karena hal yang ku impikan sejak aku berpacaran dengannya terwujud kami bisa bersekolah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *