Vitamin C++ (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 29 June 2014

Tak terasa, pelajaran pertama pun usai kami lewati, kini pelajaran kedua yang tak lain pelajaran Biologi. Biologi merupakan pelajaran yang sangat aku sukai dan bisa dibilang aku cukup mahir dalam bidang itu. “Assalamu’alaikum anak-anak” salam bapak mengawali kegiatan belajar-mengajar di kelas. “Walaikumsalam, pak” jawab seluruh siswa. “anak-anak, hari ini kita akan mempelajari tentang mengidentifikasi tumbuhan seperti janji kita minggu kemarin ya” kata pak Ibe kepada kami semua. “iya bapak” jawab kami serentak sekelas. “kalian sudah tahu kan tentang bagaimana cara dan langkah-langkah mengidentifikasi tumbuhan itu?” Tanya bapak sebelum memulai kegiatan. “sudah, Pak” jawab kami lagi. “sebelumnya, bapak ingin memberitahukan bahwasannya nilai praktek kita kali ini nantinya sangat dominan dan berpengaruh besar pada nilai rapor dan ulangan semester kalian. Karena dengan kegiatan ini, bapak ingin melihat seberapa paham kalian dari awal bapak masuk sampai sekarang. Jadi bapak harap kalian semua bekerja semaksimal mungkin dan tentunya bapak tahu siapa yang kerja dan tidak kerja walaupun berkelompok. Ngerti anak-anak sampai disini? Ada yang mau ditanyakan?” Tanya beliau kepada kami lagi. “udah jelas pak” jawab kami tak serentak. “bapak akan bagi menjadi 4 orang perkelompok. Dan kelompok pertama adalah Aldila sebagai ketua, Riska, Halim dan Akmal sebagai anggota. Kelompok kedua Kukuh sebagai ketua, Pradipta, Dinda, dan Harry sebagai anggota. kelompok ketiga…, kelompok keempat…” kata bapak sambil membagikan kelompok pada teman-teman yang lain. Dan Alhamdulillah aku dan ketiga sahabatku sekelompok. “baiklah anak-anak, bapak harap kalian tidak protes atas keputusan bapak tadi. karena apabila kalian protes, berarti sama saja kalian tidak menghargai bapak dalam membagi kelompok. Lagipula tak ada alasan kalian menolak apa yang sudah bapak putuskan, kan? Kalau begitu saya persilahkan kepada ketua kelompok untuk mencari tempat atau lokasi yang tepat untuk observasi. Dan sekali lagi bapak ingatkan, yang menentukan nilai dominan kalian sekarang adalah kekompakan dalam mengobservasi suatu tumbuhan. Sekecil apapun yang kalian lakukan pasti ada nilainya.

“teman-teman, kita observasi tumbuhan yang itu aja yuk” ajakku pada ketiga sahabatku sambil menunjuk tumbuhan yang kumaksud. “iya deh Dill. Terserah kamu aja mau tumbuhan yang mana” jawab Akmal padaku sambil tersenyum. Dalam hati aku terus berpikir dan bertanya-tanya apakah mereka sudah tidak marah lagi padaku atau masih. Tapi, ku lihat ekspresi yang begitu hangat dari wajah mereka hingga membuatku yakin untuk segera meminta maaf. Setelah di pertengahan jalan kami mengobservasi, aku pun tak lupa untuk meminta maaf dengan mereka. “Riska, Halim dan juga Akmal, aku minta maaf ya kalau selama ini punya salah dan selalu menyakiti hati kalian. Aku janji deh nggak akan mengulangi kesalahanku lagi, please… maafin aku ya” pintaku pada mereka. “ehm, gimana nih… maafin nggak si Dila nih?” Tanya Halim pada Riska dan Akmal. “ehm… gimana yaa” kata Riska dengan ekspresi berpikirnya. “maafin ya sobat, please” pintaku sekali lagi. “iya deh, kita maafin kamu kok Dill, asal kamu jangan gini lagi ya. Kalau ada masalah cerita dong supaya beban kamu yang berat itu berkurang dan siapa tahu kami bisa membantu menyelesaikan masalahmu itu” kata Akmal sembari tersenyum padaku. “iya, bener tuh Dill. Nggak mungkin kan kita nggak bantu sahabat sendiri. Kita akan berusaha mencari jalan keluar kalau salah satu dari kita tuh punya masalah” tambah Riska berusaha meyakinkanku. “aku juga akan berusaha bantu kalau memang aku bisa. Lagian kita kan udah lama bersahabat, malah udah seperti saudara. Jadi aku harap kalau salah satu dari kita punya masalah, jangan segan dan malu untuk cerita ya” kata Halim dengan ekspresi yang lebih meyakinkan. “iya deh sobat, sekali lagi terima kasih ya udah mau berikan aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku yang sangat fatal. Kalian emang sahabat yang sungguh baik dan mengerti aku” kataku pada mereka sambil memeluk mereka. “ya Allah, terima kasih ya Allah sudah membukakan pintu hati mereka untuk mau memaafkan aku. Alhamdulillah ya Allah” syukurku di depan mereka.

Akhirnya aku sudah baikan dengan mereka dan itu membuatku sedikit lega. “oh iya, gimana nih Dill, aku sama sekali nggak ngerti nih kegiatan” keluh Riska padaku. “kamu aja nggak ngerti Ris, apalagi aku” tambah Akmal. “haha… kalian aja yang faktanya lebih pintar dari aku nggak ngerti, apalagi aku yang di bawah kalian” kata Halim yang membuat kami semua tertawa. “wah, berarti tinggal Dilla nih yang bisa diandalkan” kata Riska sambil melirik padaku. “ehm, 100 buat kamu, Ris” kata Halim yang juga ikut-ikutan melirikku. “aha… jangan bilang kamu juga nggak ngerti ya, Dill. Aku yakin kamu pasti yang paling bisa di antara kami” sambung akmal yang sepertinya sangat yakin. “haha… kalian ini berlebihan. Kalian juga pasti lebih bisa dariku bahkan lebih pintar dari aku, kan? Cuma kalian aja tuh yang malas mengerjakan” tawaku pada mereka. “ya sudah, kita kerjain bareng aja. Oke, sekarang kita bagi tugas supaya adil dan semuanya jadi ngerti” kata akmal yang mulai membagi tugas kepada kami. Tak lama setelah itu, akhirnya kami selesai juga dalam mengerjakan tugas dan langsung mengumpulnya pada Pak Ibe. “ini pak tugas kami, dan terima kasih ya Pak atas bantuan bapak. Akhirnya saya dan ketiga sahabat saya sekarang sudah baikan” kataku pada Pak Ibe sambil mencium tangannya. “iya nak, Sama-sama. Bapak juga ikut bahagia kalian sekarang sudah akur, kompak dan tidak terpecah lagi” jawabnya padaku dengan tersenyum bahagia.

Bel istirahat pun berbunyi. Seperti biasa, jika waktu istirahat tiba kantin adalah tempat tongkrongan andalan kami. Selain untuk mengisi perut yang dari tadi dangdutan, kantin juga bisa dijadikan sebagai tempat cuci mata. Mengapa kami mengatakan tempat cuci mata? Karena, di kantin ini lah kami melihat pujaan hati masing-masing. Walau kedengarannya sedikit lebay dan Alay, tapi itulah kenyataan yang tidak bisa kami pungkiri. “Eh Dill, itu nah si Andika. Ih, dia cakep betul hari ini” kata Riska kepadaku sambil senyum-senyum tak jelas sendiri. “mana? Mana?” tanyaku padanya yang belum melihat cowok yang bernama Andika itu. “itu nah yang di sampingnya si Pajho” jawabnya dengan arah pandangannya yang tak lepas pada cowok pujaannya itu. “oh itu, iya iya lihat sudah aku” jawabku sambil melanjutkan makanku. “Lim, ternyata Sasa lagi disana tuh makan bareng Nadia” kata Akmal sambil menunjukkan dimana letak Sasa dan Nadia berada kepada Halim. “haha… dari tadi bah kulihat tuh” kataku sambil tertawa. “ih, jahat bah si Dila nih. Nggak dikasih tahunya kita dari tadi. Capek sudah ku putar-putar kepalaku cari dia dimana” katanya sedikit kesal padaku. “haha… nggak urus, yang penting lanjut makan” kataku padanya dengan nada yang cuek lalu melanjutkan makanku.

Saat aku sedang asyik-asyiknya makan, sontak aku terpaku sejenak dengan seseorang yang berada di pojok kantin yang juga sedang makan bersama teman-temannya. Awalnya aku hanya saling berbalas senyum dengannya dan itu membuatku sangat senang. Namun, senyum itu seketika merubahku untuk kembali menjadi galau, murung, dan tak bersemangat lagi. Nah, sekarang aku tahu ternyata orang itulah yang membuatku menjadi seperti sekarang. Menjadi seseorang yang terserang penyakit galau yang berkepanjangan. “Dill, kamu kenapa? Kok tiba-tiba murung gini?” Tanya Riska padaku. “iya, Dill. Tumben kamu nggak habisin makanan kamu” tambah Halim padaku. “iya, biasanya kamu tuh yang paling cepat habis kalau makan. Kenapa bah? Makanannya nggak enak kah, Dill?” sambung Akmal yang tak sabar menunggu jawabanku. “ehm… bentar lagi kan masuk, boleh nggak aku ceritanya nanti aja kalau pulang sekolah. Hari ini kan kita pulangnya agak cepat jadi bisa ngumpul dulu sebelum pulang” jawabku kepada mereka. “tapi kamu janji ya Dill beneran udah mau cerita ke kita?” kata Riska kepadaku untuk meyakinkanku agar mau cerita. “iya, lagipula bikin nyesek kalau masalah ini aku pendam sendiri, sobat” kataku meyakinkan mereka. “oke deh. Ayo kita ke kelas. Tuh aku liat Pak Jefry udah masuk kelas” ajak Halim untuk segera ke kelas. “Emangnya udah masu ya?” tanyaku pada Halim. “ya iyalah Dill. Aku aja dengar bel. Masa kamu nggak denger sih?” jawab Akmal padaku. “haha… aku nggak denger eh. Sorry” kataku pada mereka sambil tertawa bersama.

Tak terasa, pelajaran terakhir pun usai. Aku dan ketiga sahabatku langsung menuju tempat favoritku kalau lagi ngumpul, yaitu di belakang sekolah. Kenapa kami pilih disana? Karena menurut kami, tempatnya sejuk, tenang, dan pemandangannya sangat indah. Setelah sampai disana, aku mulai bercurhat ria kepada sahabatku. “aku tahu Dill, kamu galaunya karena Adi kan?” kata Riska yang sontak membuatku kaget. “Adi? Darimana kamu tahu Ris?” Tanyaku padanya. “nah, berarti bener karena cowok itu. Dia tuh siapa sih, Dill? Kok kamu nggak pernah certain soal dia ke kita?” Tanya Halim lagi padaku. “ntar dulu, kalian tahu darimana sih Adi itu?” tanyaku balik kepada mereka. “Gini Dill, Sebelumnya kami minta maaf dulu karena tanpa sepengetahuanmu, kami juga mencari tahu apa sih yang membuatmu galau selama ini. Bukannya kami nggak ngehargain kamu Dill, tapi kami ngelakuin semua ini karena kami sayang banget sama kamu dan kami nggak mau melihatmu galau terus” kata Akmal menjelaskanku dengan panjang lebar. “iya, aku tahu. Jadi kalian tahunya darimana?” Tanyaku sekali lagi kepada mereka. “ehm, kamu ingat nggak waktu Halim pinjam handphone kamu sebelum kita berantem kemarin?” kata Riska padaku. “iya. Ingat, Ris. Terus, apa hubungannya dengan Adi?” kataku pada Riska. “awalnya kami Cuma mau kirim-kirim foto. setelah selesai kirim, kami buka BlackBerry Messenger kamu. Terus, kami nggak sengaja baca statusmu tentang seseorang yang bernama Adi itu. Nah, kami penasaran, yang mana sih orangnya yang dimaksud. Sebenarnya, kami mau Tanya langsung ke kamu dengan jalan ajak kamu ngumpul di tempat biasa. Tapi eh, kamunya nggak mau. Berantem deh kita” kata Riska yang berusaha menjelaskan kepadaku. “iya. Bener tuh yang dibilang Riska, Dill” aku Halim. “kami juga udah berusaha mencari informasi tentang orang yang bernama Adi itu, Dill. Tapi, hingga saat ini kami belum dapat sama sekali” kata Akmal yang ternyata juga sangat penasaran oleh sosok Adi. “sebelumnya, aku minta maaf lagi ya sobat. Seharusnya dari awal aku udah cerita ke kalian soal ini. Cuma, aku nggak mau aja nambah beban pikiran kalian dengan semua ini. Apalagi kan akhir-akhir ini tugas sama ulangan nggak henti-hentinya ada. Jujur, sebenarnya aku suka sama cowok itu” jawabku kepada mereka dengan mengakui semuanya. “terus, dia anak mana sih, Dill?” Tanya akmal padaku. “Dia kakak kelas kita” jawabku singkat kepada mereka semua. “hah? Kakak kelas? Kelas berapa, Dill?” Tanya Halim padaku dengan ekspresinya yang sedikit kaget. “dia kelas XII IPA 1, guys. Nama lengkapnya Adi Aris Munandar” jawabku lagi kepada meraka. “ehm… Adi Aris Munandar? Anak IPA 1, kayaknya aku tahu deh orangnya yang mana. Ehm… tapi mungkin salah orang kali ya” kata Halim yang sok tahu. “Alah, mana lah kalian tahu orangnya yang mana” jawabku kepada mereka dengan seyakin-yakinnya. “Ai, kasih lihat bah Dill mana satu orangnya. Aku penasaran eh” kata Riska padaku yang semakin penasaran. “aku juga, Dill” kata akmal dan Halim serentak. “haha… orangnya itu biasa aja sobat, sederhana dan nggak neko-neko. Mungkin kalian sering aja lihat orangnya tapi nggak tahu namanya” jawabku kepada mereka sambil tertawa. “Ah, nggak mungkin lah” elak Riska padaku. “lho, apanya yang nggak mungkin Ris?” tanyaku lagi padanya. “Kalau menurut aku, nggak mungkin orang yang hanya “biasa saja” bisa membuat kamu galaunya ampun-ampunan. Kamu aja sampe kayak orang gila sendiri kulihat waktu masih galau dulu… haha” ungkapnya seraya menceritakanku waktu itu sambil tertawa. “beh, bener banget yang dibilang Riska tuh, Dill. Kadang, aku juga kasihan sih liat kamu seperti itu. Tapi, aku nggak tahu caranya gimana supaya bisa menghibur kamu waktu itu” kata Akmal melanjutkan cerita Riska. “iya Dill, yang mereka berdua katakan itu fakta” kata Halim singkat. “haha… ya bisa lah Ris dia buat aku seperti ini. Nggak hanya dari penampilannya aja, kan? Tapi, aku juga nggak tahu lah kenapa dia bisa buat aku seperti ini” jawabku pada Riska. “dia kelas 12 ya? Emm, Mungkin kamu tambah galau karena dia udah mau lulus kali Dill. Kan dalam waktu dekat ini kelas 12 udah mau ujian” kata Akmal yang kurasa menangkap apa yang ku maksud selama ini. “iya. Mungkin, karena itu kali ya” jawabku pada Akmal. “Adi itu bagaikan Vitamin C++ bagiku. Karena apa? Dia lah yang memberikanku semangat untuk sekolah, belajar, mengerjakan tugas dan lain-lain lah. Walaupun di sekolah hanya melihat dia sekilas, tapi aku senang. Walaupun nantinya aku tahu dia nggak suka sama aku, aku terima. Aku ikhlas kalau dia nggak suka sama aku. Walau kakakku selalu bilang dia itu jelek, tak pernah sedikitpun rasa sukaku ke dia itu berkurang. Aku juga nggak berharap dia suka sama aku, aku Cuma ingin selalu lihat dia bahagia, itu aja. Tapi, sebentar lagi dia udah pergi” tambahku lagi. “eh Dill, kamu mulai sukanya ke dia sejak kapan sih?” Tanya Halim yang memotong pembicaraanku saat itu. “dari pertengahan semester 1, sih. Cuma waktu itu biasa aja, dulu aku hanya menganggap dia teman senyum saat di sekolah. Entah mengapa disaat detik-detik terakhir keberamaan kita dengan kelas 12, aku berubah. Aku seakan takut nggak bisa lihat dia lagi kalau nanti dia udah lulus. Aku takut, aku nggak bersemangat lagi ke sekolah, apalagi ngerjain tugas” kataku kepada mereka lagi. “ya astaga, Dill. Kalaupun nantinya dia udah lulus. Kan masih ada kami yang mau menghibur dan memberikan semangat ke kamu. Bahkan, kami siap 24 jam untukmu kalau butuh bantuan. Lagian perjuangan kita masih panjang, Dill. Kamu nggak boleh hanya terpaku oleh dia yang jelas-jelas nggak memberikan kepastian ke kamu. Dan cinta nggak harus memiliki kan, Dill?” kata Riska padaku yang seakan membuatku sadar. “Bener kata Riska Dill, jangan pernah mengharapkan yang nggak pasti dan hanya membuat kamu tuh galau” tambah Akmal untuk meyakinkanku agar tidak terlalu mengharap. “dan ingat Dill, apa kata Pak Didin waktu itu. Jika kamu mengharapkan seseorang tapi dia tak memberikan harapan padamu, yakinlah suatu saat dia akan memberikan harapan itu kepadamu. Namun, biarlah waktu yang akan menjawabnya”. Kata Akmal yang membuatku berangsur-angsur menjadi lebih bersemangat. “terima kasih ya sobatku. Kalian memanglah obat yang tepat untuk menghilangkan kegalauan dan menumbuhkan semangat hidupku yang pernah hilang dulu. Aku sayang banget sama kalian, dan terima kasih sekali lagi karena selama ini kalian selalu mengerti, menyemangati, dan selalu ada disaat aku butuh. Aku yakin, suatu saat kalau kita nggak bareng lagi, nggak akan ada sahabat yang seperti kalian. Love you, sobatku” kataku sambil memeluk mereka dengan cucuran air mata bahagia.

Setelah sore kian menggelap, kamipun memutuskan untuk pulang. Dan saat melewati parkiran sekolah, ternyata Adi juga baru saja mau pulang. “guys, itu loh yang namanya Adi” kataku pada mereka. “dia sungguh lelaki yang sangat beruntung ya, Dill” kata Akmal padaku. “lho? Beruntung kenapa Akmal?” jawabku padanya. “dia adalah lelaki yang sangat sederhana namun dapat disukai oleh gadis secantik kamu” jawabnya sambil tersenyum. “hahaha… kamu ada-ada aja deh, ih” tawaku sambil mencubit Akmal yang gemas dengan gombalannya tadi. “aw, bukannya dia yang waktu itu jadi imam di musholla sekolah ya, Akmal? Kamu ingat nggak?” kata Halim pada Akmal. “iya, iya. Bener juga kamu. Hahahaha” jawab Akmal sambil tertawa terbahak-bahak depan kami. “hahahaha” lanjut Halim yang juga tertawa. “emang ada apa dengan dia waktu jadi imam?” kataku penasaran pada Akmal dan Halim. “Hahaha… ada deh, kapan-kapan aja ya kita cerita. Taxi carteran kami udah datang tuh. Bye” kata mereka lalu berlalu menuju taxi.

Kami sepertinya memiliki nasib yang sama. Yaitu, hanya bisa mengagumi orang yang disukai tanpa bisa memilikinya. Dan Halim selalu bilang kepada kami dengan bijak, “guys, cinta itu nggak harus memiliki dan jodoh nggak akan kemana. Tuhan sudah siapkan jodoh kita masing-masing. Jadi, hidup itu dibawa enjoy aja jangan terlalu terburu-buru dan takut nggak dapat jodoh”

Akhirnya, aku mulai ikhlas cowok yang kusukai di sekolah pergi dari sisiku. Karena aku telah menemukan pengganti yang sangat tepat, yaitu sahabatku. Sahabat yang selalu ada disaat apapun aku. Sahabat yang selalu ku cintai dan mencintaiku. Sekarang aku baru mengerti arti seorang sahabat sesungguhnya. Kalau disuruh memilih antara sahabat dibandingkan dengan orang yang kita kagumi, aku akan lebih memilih sahabat. Karena apa? Orang yang kita kagumi belum tentu ada disaat kita membutuhkan dia. Tetapi sahabat, dia akan menerima apa adanya dan senantiasa ada disaat kita dalam kesusahan sekalipun. Galauku akhirnya hilang sudah. Selamat pergi Adi Aris Munandar dan selamat pergi Galau. Mungkin aku akan merindukan dia namun tidak untuk galau. Aku yakin, cinta tulus yang tidak terbalaskan akan menjadi cinta sejati. Tidak seperti cinta yang hanya didasarkan oleh nafsu yang akhirnya bisa menjadi dendam dan menyakitkan.

Cerpen Karangan: Fadhilah
Blog: fadhilah-basri.blogspot.com
Nama: Fadhilah Basri
Alamat: Jl. Sebengkok Tiram RT. 15 No. 8 Tarakan
Twitter: @DilaBasri

Cerpen Vitamin C++ (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Move On

Oleh:
Ketika kamu merasa mencintai seseorang, kamu tentu akan bahagia jika bisa dekat dengannya. Terlebih jika dia seolah-olah memberikan perhatian lebih kepadamu, tentu hatimu akan berbunga-bunga. Tapi bagaimana jika ternyata

Best Friend Forever

Oleh:
Pertama kalinya bagi aku dan sahabat-sahabat ku berpisah setelah menerima surat kelulusan dari sekolah, aku, Lyta, Mely dan Ari kita bersama-sama sejak SD, jalani suka duka bersama. tapi, tidak

Kenangan Sahabat

Oleh:
Aku menangis saat membaca suratnya. Dia baik sekali. Tak pandang bulu. Kenapa harus begini!? Aku sayang dia. Aku sadar, sahabatku yang terbaik. Ya, Myra sahabatku. Dia memberiku kalung perak

Steps to Get Your Heart (Part 1)

Oleh:
Soni POV Cuek Jutek Dingin Apalagi yang harus aku jabarkan tentang dia. Sudah cuek, jutek, dingin pula. Tapi entah kenapa aku menyukainya, yaaa… Menyukainya, antara lelaki dan perempuan? Seperti

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *