Waktu Yang Tepat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 3 June 2017

Gelisah, senang, bingung, perasaan apa yang sebenarnya aku rasakan sekarang. Kepalaku pusing banget, dan rasanya agak mual. Aku memikirkan semua kejadian di mimpiku semalam. Apa maksudnya?.

“Ra, kamu kenapa? Sakit ya?” Aura bertanya khawatir melihatku hanya memainkan makananku.
“Gak apa-apa kok, aku cuman lagi gak nafsu makan” aku menjawab sekenanya.
“Kalo kamu gak nafsu makan, kamu pasti lagi mikirin sesuatu. Kamu mikirin apa sih, sampe gak nafsu makan, ntar kamu sakit loh.”
“Iya, kamu benar. Tapi aku gak bisa jelasinnya di sini. Mungkin nanti.” Aku berusaha meredam kekhawatiran Aura.
“Oke, habis makan kita ke perpustakaan, di sana pasti gak seramai di sini.” Seusai menghabiskan makanan kami beranjak dari kantin menuju perpustakaan yang berjarak sekitar lima belas meter dari kantin.

Saat di perpustakaan, aku menceritakan semua kejadian di mimpiku pada Aura dan dalam waktu tiga detik tidak ada respon darinya. Namun setelahnya dia langsung menahan tawa, agar tidak membuat keributan yang akan melanggar peraturan perpustakaan.

“Segitunya kamu mikirinnya.”
“Tuh kan, aku udah nebak, pasti kamu kayak gini respon..”
Kalimatku terpotong karena tiba-tiba aku melihat Rio sedang berjalan menuju tempat duduk kami, dan benar. Sekarang dia sudah duduk di samping Aura tepatnya di ‘hadapanku’.
“Ada apa kamu tiba-tiba di sini, pasti ada sesuatu iya kan?” Aura langsung membuka pembicaraan dengan bertanya sedikit pada Rio.
“Hmmm..” jawaban singkat Rio menjadi penutup pembicaraan, dan suasana menjadi lengang sesaat sampai ada seseorang yang memanggil Aura untuk segera ke ruang guru.
“Ra, aku pergi dulu ya. Gak apa-apa kan aku tinggal, atau kamu mau ikut aku aja?”
Aku hendak berdiri untuk pergi bersama Aura, namun murid yang memanggil Aura tadi memberitahukan agar jangan mengajak orang lain. Sirna sudah kesempatanku untuk pergi dari hadapan Rio.

Aduh, gimana ni? aku gak punya alasan untuk kabur. Aku berbicara dalam hati.
“Kamu gak jadi pergi Ra?”
Sejenak aku hanya diam mencerna pertanyaan Rio, ini kesempatanku.
“Iya, ini aku udah mau pergi kok, lagian aku juga lagi banyak urusan” aku menjawab asal, yang aku pikirkan hanyalah segera pergi dari ruangan ini. Aku langsung berjalan menuju pintu keluar, namun aku merasa sangat pusing dan brugg tubuhku ambruk.

Pelan-pelan aku membuka mata. Saat mataku terbuka sempurna aku tahu aku sedang di ruang UKS dan kembali teringat saat-saat aku pingsan di perpustakaan tadi. Lalu, siapa yang membawaku ke sini, apakah Rio?. Kemudian aku menoleh ke sebelah kanan, dan ada Rio di sana yang sedang fokus membaca komik. Kemudian dia seperti menyadari bahwa aku sudah sadar, dan mendekat padaku.

“Kamu udah sadar Ra? Gimana perasaan kamu, udah enakan atau masih pusing. Makanya jaga kesehatan dong Ra, kalo udah ada makanan yah dimakan, jangan cuman dimainin. Juga, kalau lagi banyak tugas, tenaga kamu jangan terlalu diporsir. Untung aja tadi aku yang ada di dekat kamu, kalau misalkan tadi gak ada siapa-siapa gimana? Bisa-bisa kamu pingsan di sana sampai sore. Dan lagi..” Rio langsung berceloteh saat aku baru sadar dan dengan wajahnya yang seperti khawatir, tapi aku ragu.
“Kamu kenapa sih? Peduli amat.” Aku memotong kalimat Rio yang panjang lebar itu, dengan nada super kesal. Kenapa pula orang yang baru sadar dari pingsan langsung diceramahin panjang lebar. Nih cowok pasti udah gila. Saking kesalnya aku langsung berangkat dari tempat tidur pasien dan ingin segera pergi, namun Rio menahanku.
“Lepas!” bentakku padanya sambil menyibakkan tanganku berusaha lepas dari genggamannya. “Gak! Kamu kenapa sih, kok jadi marah gini.” Rio balas membentakku, kemudian melepas genggamannya. Aku mencoba untuk pergi lagi namun dia menahan pundakku. “Seharusnya aku yang nanya, kamu kenapa. Aku baru sadar dan tiba-tiba kamu nyeramahin aku panjang lebar, maksud kamu apa?” sekarang emosiku sudah hampir mencapai puncak, namun nada bicaraku tidak setinggi sebelumnya.
“Karena aku khawatir sama kamu. Dokter sekolah tadi bilang kalau kamu terlalu capek makanya sampai pingsan, dan Aura juga bilang kalau kamu tadi gak makan sama sekali. Kamu kenapa?” kali ini Rio bicara dengan sangat lembut dan semuanya benar. Saat mendengar Rio berbicara dengan nada selembut tadi, amarah perlahan meredam.

“Kamu gak perlu khawatir sama aku dan kamu gak perlu tahu ada apa sama aku, karena itu gak penting buat kamu.” Aku balas berbicara dengan lembut.
“Jelas aku perlu tahu, dan itu penting buat aku.” Nada bicara Rio barusan terdengar sangat percaya diri tanpa sedikitpun ragu. Dan dalam sekejap aku langsung menatapnya dengan sedikit melotot tidak percaya.
“Ra, aku tahu kamu gak percaya, tapi aku bener-bener khawatir sama keadaan kamu. Aku serius.” Aku tahu itu, aku melihat ada keseriusan dalam wajah Rio, dan wajahnya juga menunjukkan begitu. Naun, tetap saja aku masih sulit untuk percaya.
“Apa alasan kamu khawatirin aku?” aku bertanya penuh penasaran dan deg-degan. Perlahan, Rio mulai menggenggam kedua tanganku dan mulai berbicara.
“Karena perasaan aku ke kamu.” Sepersekian detik setelah Rio berbicara aku masih bingung dan berusaha untuk mencernanya. Speechles, Itulah yang aku rasakan. Kemudian aku langsung beranjak pergi dari UKS, dan meninggalkan Rio sendiri di sana setelah pernyataan cintanya yang sedikit ambigu padaku, sangat mengejutkan dan tidak pernah kuduga.
Rio berbicara lagi menghentikan langkahku, “Ra, bohong kalau aku gak cinta sama kamu.” Aku sempoyongan, dan langsung berpegangan pada dinding di dekatku, Rio tidak melihatnya karena kami terpisah oleh tirai. Kemudian aku melanjutkan melangkah menuju kelas.

Sesampainya di kelas aku tidak menemukan siapapun, tak ada orang. Aku ingat, mereka pasti sedang di laboratorium komputer. Baguslah aku jadi bisa merenungkan kejadian tadi tanpa ada yang menggangu. Sekitar 30 menit aku merenungkannya dan kurasa perasaanku sedikit lebih tenang.
“Kenapa Ra?”
“Gak apa-apa kok,” aku menjawab seadanya, dan sekarang Aura duduk di hadapanku.
“Gak usah terlalu dipikirinlah Ra, aku tahu Rio serius dengan ucapannya ke kamu. Tapi, ayolah kamu sama Rio akan temenan kayak dulu lagi, everything it’s gonna be okay.” Aura pergi begitu saja.

1 bulan berlalu sejak kejadian di UKS. Aura benar, aku dan Rio kembali berteman seperti sebelumnya, tapi dengan kecanggungan. Aku, Aura maupun Rio tidak pernah lagi membahasnya. Tapi, perasaanku menjadi semakin sesak rasanya, karena aku tidak bisa jujur pada diriku sendiri. Akhir-akhir ini Rio dan Aura sering datang ke rumahku untuk menyiapkan perjalanan kami, tepatnya persiapan untuk lomba yang akan kami hadapi. Sejauh ini persiapan kami sudah 70 %.

Hari ini pertemuan kami ditiadakan dulu karena Aura ada rapat OSIS. Rio juga tidak bisa hari ini, entah apa alasannya. Aku jadi bisa bersantai hari ini. hari ini biasa saja, tidak ada yang spesial, kecuali malam ini. Jam delapan malam lewat empat puluh empat, bel rumahku berbunyi. Saat aku membuka pintu, Rio ada di depanku.

“Kamu mau ngapain di sini?” aku bertanya sambil menggertakkan gigi dan dengan nada yang pelan.
“Ada yang mau aku omongin ke kamu,” Rio menarik lenganku.
“Hey, mau ke mana, malam-malam gini?” aku berusaha melepaskan tanganku dari genggaman Rio, tapi ia hanya jalan lurus saja ke arah taman kompleks tanpa menghiraukan pengelakkan yang ku lakukan. Sesampainya di taman aku terkejut karena tidak ada apa-apa di sana, biasa saja. Jujur, di dalam hatiku, aku berharap tadinya akan ada kejutan yang akan diberikan oleh Rio untukku. Dan tanpa sengaja perasaan itu muncul lagi. Namun, setelah melihat keadaan taman yang biasa saja itu, buru-buru aku buang pikiran itu.

Kami, duduk di salah satu bangku taman yang posisinya membelakangi pintu masuk utama kompleks. Rio melepaskan genggaman tangannya padaku. 2 menit, kami berdua berada dalam keheningan. Kemudian setelah merasa bosan dan bingung, aku memutuskan bertanya.
“Apa tujuan kamu ngajak aku ke sini?” aku menoleh padanya.
“Menunggu waktu” jawabnya sambil memandang lurus ke depan tanpa sedikitpun menoleh padaku.
“Apa? Kamu bercanda kan? Apa maksud kamu nunggu waktu malam-malam begini?” aku hampir kehilangan kesabaran mendengar jawabannya yang tidak masuk akal sama sekali. Tak ada lagi percakapan, kami kembali berada dalam keheningan. Kulihat jam tanganku yang menunjukkan pukul 9 kurang 3 menit. Aku sudah cukup bersabar, dengan kekesalan dan kebingungan ini. Aku hendak beranjak dari posisi dudukku, tapi, lagi. Rio menahan lenganku, kemudian dia menoleh, pandangan kami bertemu. Sekarang, Rio sudah dalam posisi berlutut di depanku.

“Ra, mungkin aku jahat, egois. Dan mungkin aku juga sudah terlambat, namun kupikir daripada tidak sama sekali, lebih baik terlambat. Waktu itu aku serius Ra, saat di UKS. Aku ngerti kok, kamu pasti terkejut saat itu, dan kali ini juga.” Dia tertawa kecil karena ekspresi terkejut ku. “Ra, aku cuman mau memastikan perasaan kita, apa yang sebenarnya kita rasain. Jujur aku pengen kita sama-sama,”
“Kita temen, Rio. Kita bakal sama-sama”
“Bukan itu Ra, tapi dalam arti lain. Aku pengen kita sama-sama, saling berbagi suka suka, dan saling memiliki. Aku mau kita berdua seperti itu.” Aku hanya bisa menghela nafas mendengar pernyataan Rio. Aku pikir semuanya sudah berakhir, walau tadinya aku memang berharap dia menyatakan perasaannya padaku, tapi kali ini aku sangat terkejut.
“Aku bener-bener bingung Rio, apa maksud semua ucapan kamu tadi masih belum sepenuhnya aku mengerti.”
“Aku cinta kamu Ra” sekerjap tubuhku terasa kaku namun ada kehangatan yang mengalir setelah mendengar kata itu. (aku menggeleng).
“Aku tau kok, kamu bakal gini, lagi–lagi aku ditolak” Rio menyimpulkan gelenganku dan sambil tertawa kecil pasrah.
“Aku binging Rio”
“Kamu gak perlu bingung lagi Ra, udahlah. Gak apa-apa kok, aku udah siap banget sama apapun respon kamu, termasuk ini.”
“Apa itu artinya gak ada lagi kesempatan untuk aku masuk ke hati kamu?” kali ini aku yang membuat Rio terkejut dengan pertanyaan ku.
“Aku juga cinta kamu Rio.” Aku tersenyum sumringah dan penuh kebahagiaan. Begitupun Rio memandangku. Kemudian, ia mendekap dan memelukku erat penuh kasih sayang. Hangat kurasakan, aku merasa sangat bahagia.

“9 lewat 9, pas.”
“Apa maksud kamu?”
“9 september, pukul 9 lewat 9. Hari jadi kita.” Dia mengucapkannya sambil tersenyum.
“waw. Thank you Rio, aku bahagia banget.”
“you are welcome, my dear”
Seketika aku teringat oleh mimpiku. Waw! Mimpiku jadi kenyataan.

THE END

Cerpen Karangan: Ferlisa Fanisda
Facebook: Ferlisa Fanisda

Cerpen Waktu Yang Tepat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


I Fall in Love

Oleh:
“Praisya.. Bangun!!” Huh! Lagi-lagi suara bising itu membuat (memaksa)ku untuk bangun. “Iya, Bik!” Kataku setengah sadar. Setelah mengumpulkan raga, aku langsung keluar. Setelah mandi, aku segera sarapan. “Suruh Bapak

Impian Anak Desa

Oleh:
Bermimpilah selagi langit masih sanggup menampung mimpimu. Kata-kata itulah yang selalu membuatku semangat untuk bermimpi. Orang sering mengatakan bahwa ‘Bermimpilah setinggi langit’, aku sempat mempertanyakan hal tersebut pada guruku.

Bisik Hati Kiara

Oleh:
Aku menatap bayangan cantik dalam cermin di hadapanku. Tidak pernah terfikir bahwa hasilnya akan secantik ini. Gaun biru panjang semata kaki ini tampak serasi dengan make up sederhana yang

Nasi Goreng Plus Plus (Part 1)

Oleh:
“Woyyy, ngapain loe ngelamun di pinggir danau siang bolong kaya gini, kesambet baru tau rasa loe, hahaha”, teriak seseorang tepat di lubang kuping gue. “Ehh Kampret, bikin kaget orang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *