Warna Baru Di Putih Abu Abu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 30 May 2016

Ujian Nasional telah berlalu, liburan telah tiba. Malam semakin larut, suara semakin hening, aku mencoba memejamkan mataku yang sedari tadi tidak mau terpejam. “Huh udah jam segini kenapa aku belum mengantuk?” gerutuku kesal. Ku lihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 01.00. Aku memutuskan untuk membaca novel, saat aku sedang asyik membaca novel tiba-tiba handphoneku berbunyi, rupanya dia teman se-SMP denganku juga belum tidur. Dia mengajakku pergi ke SMA bersama besok. Tanpa ku pikir panjang, seperti ada gaya dorong yang memaksaku untuk menerima tawarannya, akhirnya aku menerima tawarannya. Padahal aku belum mengenal dia, ya meskipun kita se-SMP tetapi aku belum begitu mengenalnya.

Malam berganti pagi, saat aku masih memejamkan mata ku dengar ibuku berteriak membangunkanku. “Anti cepat bangun, sudah siang ini nanti kamu terlambat,” tanpa menjawab ucapan dari ibu aku segera bangun dan membuka jendela, ku lihat hari masih petang dan matahari masih baru terbit. “Ahh Ibu membohongiku lagi.” ucapku kesal karena aku hanya tidur beberapa jam saja.

Hari ini adalah hari yang aku tunggu-tunggu yaitu hari pendaftaran Penerimaan Peseta Didik Baru (PPDB), aku mendaftar di SMA favoritku. Sambil memandangi langit yang cerah ku genggam handphoneku menunggu seseorang yang akan menjemputku pagi ini. Ya, dia adalah Adip laki-laki yang menghubungiku semalam. Tak lama kemudian, dia datang dan kami pun langsung berangkat. Sesampai di sana kami langsung mengisi formulir pendaftaran, setelah itu mengantre konfirmasi pendaftaran cukup lama. Setelah itu Adip mengantarku pulang. Keesokan harinya.

“Anti sudah siap?” Ku dengar suara Ayahku dari luar rumah yang sudah siap mengantarku ke SMA pagi ini.
“Tunggu sebentar Yah, ini masih pasang sepatu,” jawabku sambil terburu-buru.
“Cepat sedikit ini sudah siang.” lanjut ayah.

Ayah tidak ingin aku terlambat karena hari ini adalah hari pelaksanaan tes tulis PPDB. Setelah 3 jam mengikuti tes tulis aku langsung pulang. Saat aku berjalan menuju gerbang sekolah, tiba-tiba Adip mengajakku pulang bersama. Setelah beberapa bulan dibuat resah dan gelisah oleh hasil tes beberapa hari yang lalu, akhirnya aku dan Adip diterima di sekolah favorit kita. Seragam putih abu-abu telah menjadi sandanganku, aku sudah menjadi siswa SMA. Beberapa minggu berlalu rasanya seperti ada yang aneh, karena akhir-akhir ini Adip tidak pernah menghubungiku bahkan tidak menyapaku saat bertemu di sekolah. Aku memandangi halaman sekolah yang ramai oleh siswa-siswi lain yang sedang beristirahat, tiba-tiba aku dikagetkan oleh 3 orang temanku, namanya Indah, Mirza, dan Antika.

“Anti melamun aja, mikirin apa?” Tanya Indah. Aku pun menceritakan semuanya pada mereka.
“Kenapa kamu tidak mencoba menyapa duluan?” Lanjut Mirza.
“Aku takut dia tidak membalas atau bahkan mengabaikan niat baikku,” jawabku
“Jika dia memang menganggapmu sebagai temannya, dia tidak akan terus seperti ini. Bersabarlah, mungkin Adip ada masalah dan butuh waktu,” lanjut Maria yang mencoba menenangkanku. “Mungkin kalian benar, terima kasih.” jawabku sambil memeluk mereka.

Bagaimana aku tidak bersedih, aku seperti kehilangan bahagia. Orang yang selama beberapa bulan ini memberi banyak warna yang indah dalam hari-hariku, orang yang sangat baik padaku, orang yang sudah ku anggap sebagai sahabatku tiba-tiba menjadi orang asing. Ketika aku sedang duduk di depan kelas tiba-tiba Adip datang menghampiriku. Dia meminta tolong untuk membantu mengerjakan PR miliknya.

“Anti bisa membantuku mengerjakan PR nanti malam?” tanya Adip.
“Bisa saja,” jawabku singkat.
“Nanti aku ke rumahmu, tunggu ya.” sambil berlari meninggalkanku.

Antara kesal dan senang rasanya. Kesal karena dia datang di saat dia butuh bantuanku, senang karena dia masih menganggap aku temannya. Aku pun bersedia membantunya. Malam harinya kami mengerjakan PR bersama. Adip juga menjelaskan kenapa belakangan ini dia bersikap aneh, ternyata dia ada masalah pribadi dan dia tidak ingin aku mengetahuinya. “Hmm sepertinya ini masalah cinta.” ucapku dalam hati. Hari-hari begitu cepat berlalu, tak terasa sudah hampir dua tahun aku dan Adip bersahabat. Sudah tidak pernah lagi Adip menyembunyikan masalah dariku. Aku berharap apa pun masalahnya, aku dan Adip tetap menjadi sahabat bukan hanya sekarang dan masa SMA tetapi sahabat untuk selamanya. Amiin.

Cerpen Karangan: Deasy Dwi Cristianti
Facebook: Deasy Dwi Cristianti

Cerpen Warna Baru Di Putih Abu Abu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Spikes Before Flowers, Rainbow After Storm

Oleh:
Embun menutupi jendela kamar. Varielle terbangun dari peraduannya. “Udah pagi?” katanya sambil menguap. “Kak Emily, bangun. Opening Ceremony loh hari ini kak,” Varielle membangunkan Emily. “Eh…,” Emily menggeliat dan

Kado Terakhir Untuk Yang Tersayang

Oleh:
Hari itu aku berada pada posisi yang ku fikir berbeda. Tubuhku dengan semangatnya beranjak mengawali hari sebelum hari itu. Mataku yang sayu karena terlalu lelah tak membuat semangatku padam

Cahayamu

Oleh:
Kicauan burung yang merdu di pagi hari membuat aku tersentak untuk bangun dalam tidurku, kubuka jendela kamarku dan kulihat burung-burung di taman seolah tersenyum membuat hati terasa tenang. Tentramnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *