Warna Baru Untuk D’Rainbow (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 29 April 2013

“Maafkan ibu ya nak, gara-gara keadaan ekonomi kita kamu terpaksa putus sekolah, padahal kamu itu anak yang pintar” kalimat itulah yang sering Ibu Ruminah ucapkan pada anaknya Kasih. Tetap seperti biasa Kasih selalu menjawabnya dengan santai, seakan mengerti benar keadaan ibunya. Padahal dalam lubuk hatinya, dia berharap sekali bisa melanjutkan sekolahnya lagi.

Kasih adalah anak sulung Ibu Ruminah, seorang janda penjual bakso di kantin SMAN 45 BLITAR. Saat ini Kasih berusia 16 tahun. Di usianya saat ini, merupakan masa yang sangat indah bagi kebanyakan para remaja, mereka bisa mengenyam pendidikan dengan mudah, namun tidak bagi Kasih. Sudah seminggu sejak tahun ajaran baru tahun ini dimulai, Kasih tidak bersekolah dan hanya membatu Ibu Rukminah berjualan di kantin. Seharusnya ia masih duduk di kelas X, tapi karena keadaan ekonomi keluarganya, harus memaksa Kasih berhenti sekolah. Ibunya harus membiayai dua adiknya yang masih sekolah di SD. Karena itu ia harus merelekan sekolahnya dan membantu ibunya mencari nafkah untuk membiayai dua adiknya. Padahal dia gadis yang berprestasi di bidang akademik sewaktu dia duduk di SMP, dia selalu mendapat peringkat paralel.

Bukan Kasih namanya kalau dia tidak bersemangat untuk mendapatkan ilmu. Di tengah himpitan ekonomi keluarganya, semangatnya untuk belajar tak pernah layu. Di saat para siswa lain dengan nyaman duduk di kelas menerima pelajaran, bahkan tak jarang mereka malah meremehkan pelajaran, Kasih dengan khusyuk memperhatikan penjelasan guru, melalui bingkai jendela di sudut kelas. Ironis memang mereka yang berduit dan punya banyak kesempatan belajar malah tidak begitu menghargai setiap ilmu yang diberikan guru.

Diam-diam selama sepekan ini Kasih mencuri ilmu dari kelas XA yang letaknya tak jauh dari gerai ibunya berjualan. Hal itu dilakukannya ketika semua siswa masuk kelas, dan gerai ibunya sedang kosong. Melihat anaknya, ibu ruminah hanya bisa menahan tangis. Karena kematian suaminya 1 tahun lalu, harus menjadikan anaknya tersiksa seperti ini, dia tidak bisa melakukan apapun untuk mewujudkan cita-cita anaknya melanjutkan sekolah, yang bisa dilakukannya hanya berdo’a ada keajaiban yang bisa mewujudkan impian Kasih anaknya.

Dan bel istirahat berbunyi, itu tandanya Kasih harus segera mengakhiri aksinya, dan mulai membantu ibunya melayani para siswa yang sudah kelaparan setelah otaknya di peras selama 4 jam dikelas. Tiba-tiba datang D’Rainbow, geng yang terdiri dari sekelompok anak konglomerat, yang namanya sudah dikenal seantero SMAN 45 BLITAR, mereka selalu ditakuti meskipun mereka baru saja menjadi siswa di sana. Mereka di takuti karena sikap mereka yang sombong dan semena-mena kepada siapapun. Tak ada yang berani menentang mereka karena kedudukan orang tua mereka sebagai pemilik yayasan di SMAN 45 BLITAR. Mereka sudah bersahabat sejak duduk di SD. Mereka adalah Alex, Ferdy, Tristan, Monic, Devi dan Cherly. Hari ini mereka mengacau di kantin. “Bu, bakso enam” bentak Alex di depan gerai Ibu Ruminah. “oya tambah es sodanya enam dan gak pakek lama.” ucapnya lagi. “iya mas Alex segera diantar”. Balas Ibu Ruminah sabar.

Alex segera berbalik menuju tempat ke lima temannya menunggu. “loe nraktir kita kan lex?” ucap Ferdy sambil nyengir. Berharap mendapat gratisan hari ini. “loe itu bisanya gratisan mulu.” ejek Tristan. Ferdy membuang muka dari Tristan. “udah-udah, kayak anak kecil aja kalian ini”. Bentak Alex pada kedua temannya yang saling bertolak punggung. “tenang aja gue lagi banyak duit”. Ucapnya lagi. Raut muka Ferdy berubah girang, dia menjulurkan lidahnya sambil menatap Tristan dengan tatapan mengejek. Tristan memalingkan muka menahan amarah. Sementara ketiga cowok itu berbincang.

Monic si cewek centil sedang asyik mengagumi cat kuku barunya yang baru saja seharian kemarin dicat tak menghiraukan keributan di sampingnya. Devi sibuk memainkan game di ponselnya, dan Cherly yang sibuk membaca. Di antara keenam D’Rainbow, hanya Cherly yang lumayan pintar dan tidak terlalu sombong seperti D’Rainbow yang lain. “permisi” tiba-tiba Kasih datang dan mencuri perhatian mereka, “ini pesanan kalian”. Sambil meletakkan di meja. “loe siapa? anak Ibu Ruminah ya?”. Tanya Ferdy dengan nada genit tak lupa kerlipan matanya menghiasi raut mukanya. Kasih mengangguk dan menampilkan seulas senyum di bibirnya. “cantik juga, nama loe siapa?”. Ferdy mulai merayu. “gak gue sangka selera loe rendah Fer”. Ucap Tristan dengan senyum mengejek. Ferdy cemberut bersiap melempar Tristan dengan vas bunga yang ada di hadapannya. Alex, Devi, Cherly, dan Monic terkekeh melihat tingkah kedua temannya ini.

Tiba-tiba saja “gubrak,” Entah ada apa dengan Kasih hari ini, dia tak sengaja menumpahkan es soda di seragam Alex. “aduh,” semua mata tertuju pada Kasih dan D’Rainbow. “gimana sih loe, bisa kerja gak sih?”. Bentak Alex pada Kasih. “maaf saya tidak sengaja”. Sambil berusaha membersihkan noda soda di seragam Alex. “kalau gak bisa kerja gak usah kerja disini”. Tristan ikut-ikutan menghina Kasih. “iiiuhhhh, Alex sayang, kamu gak apa-apa kan?” ucap Monic centil. “udah, gak usah pegang-pegang, kalau maaf ada artinya mungkin penjara gak akan berpenghuni”. Umpat Alex. “emang loe bisa ganti baju mahal Alex? Gaji lho sebulan aja belum bisa ganti baju Alex yang kotor ini”. Ucap Monic tambah menghina Kasih. “udah guys, kita pergi aja, empet gue di sini”. Alex melangkah pergi dan menghamburkan uangnya untuk membayar pesanannya tadi. “ambil tu uang”. Kelima teman Alex mengikuti langkahnya dari belakang. “yah gak jadi makan gratis deh”. Ucap Ferdy dengan nada penyesalan. “Udah diam aja loe Fer,.” Kali ini Devi angkat bicara setelah tadi dia sibuk dengan gamenya. Ferdy cemberut dan memutuskan untuk menuruti perintah Devi.

Setelah kejadian di kantin tadi D’Rainbow menuju tempat favorit mereka nongkrong. Sejenak di antara mereka tak ada yang berbicara, mereka sibuk dengan pikiran mereka sendiri. “Lex, loe gak kenapa-napa kan?” ucap Cherly memecah keheningan. “emang dasar tu anak, bikin mood kita ilang aja hari ini.” Tristan menyela. “iya,awas aja lain kali kalau kita ketemu dia lagi, enak aja udah bikin baju my prince Alex kotor”. Ucap Monic, sambil mengusap baju Alex. Sejak dulu memang Monic menyukai Alex, tapi tak mendapatkan respon positif dari Alex. “udah lah nic gak usah berlebihan”. Balas Alex dingin. “siapa? my prince, geli gue denger nya nic, dasar cewek genit”. Ejek Devi tetap menatap layar ponselnya, tak menghiraukan wajah garang Monic. Cherly, Ferdy dan Tristan tertawa melihat ekspresi Monic yang terlihat seperti singa kebakaran jenggot. Bel masuk berbunyi, membuyarkan rapat rutin D’rainbow. Mereka dengan langkah malas-malasan beranjak menuju kelas mereka.

Pelajaran matematika setelah jam istirahat membuat Alex Cs bosan. Terlintas di benak Alex, Ferdy dan Tristan untuk bolos pelajaran. Mereka berencana meninggalkan kelas. Sementara itu Devi asyik dengan mimpinya, Monic berusaha bertahan dengan mata hanya tersisa dua watt. sedangkan Cherly, dia tak bergeming, serius memerhatikan penjelasan Bu Anis. Sementara itu di luar kelas, seperti biasa Kasih diam-diam berusaha mengikuti pelajaran Bu Anis. Tanpa Kasih sadari, ternyata Bu Anis sepekan terakhir ini mengetahui keberadaan Kasih setiap kali dia berada di sudut jendela kelas, tempat favoritnya mencari ilmu. Beliau merasa iba melihat keadaan Kasih, sekaligus kagum. Kekurangan biaya tidak menghalangi untuk belajar.

Kemudian Bu Anis berinisiatif membantu Kasih, dia berencana mengusulkan kepada kepala sekolah untuk memberikan beasiswa pada Kasih. Tiba-tiba Bu Anis meninggalkan kelas dan mendekati Kasih, “nak, apa yang sedang kamu lakukan disini?”. ucapnya dengan lembut. “maaf Bu, saya hanya ingin mendengar penjelasan Ibu, saya tidak bermaksud mengganggu pelajaran Ibu”. Ucap Kasih tersentak kaget dan sedikit ketakutan. “kamu anak Bu Ruminah kan?” ucap Bu Anis. Kasih mengangguk tak berani memandang wajah cantik di depannya. “tidak usah takut nak, ikut Ibu ke ruang Ibu ya”. ajak Bu Anis dengan sopan. Bu Anis di ikuti Kasih melangkah menuju ruangannya. Seketika kelas menjadi gaduh, semua keheranan melihat Bu Anis dan Kasih. “anak itu? kenapa dia?”. Gumam Alex penasaran dan tak menyangka Kasih bersama dengan Bu Anis.

Sementara itu di ruangan Bu Anis Kasih dan Bu Anis bicara banyak mengenai pendidikan Kasih. Bu Anis menjadi semakin kagum pada Kasih, beliau pun yakin akan memberikan beasiswa pada Kasih. Kemudian Bu Anis mengajak Kasih menuju ruang kepala sekolah, beliau menceritakan semua tentang Kasih, dan menyampaikan usulannya untuk memberikan beasiswa pada Kasih. Akhirnya berkat perjuangan Bu Anis memohon beasiswa untuk Kasih, berbuah manis. Kepala sekolah setuju memberikan beasiswa pada Kasih. Dan mulai besok Kasih dapat memakai baju seragam SMAN 45 BLITAR.

Hari ini hari pertama Kasih menginjakkan kakinya di SMAN 45 BLITAR bukan sebagai anak ibu kantin, tapi menjadi seorang siswi. Hal ini layaknya mimpi bagi Kasih, kemarin sekolah ini hanya menjadi impiannya belaka, kini dia berseragam dan dapat mengikuti pelajaran di dalam kelas. Meskipun kini Kasih bersekolah di SMAN 45 BLITAR, dia tetap membantu ibunya berjualan. Saat ini pun dia membantu ibunya untuk menyiapkan dagangannya.

Dan bel masuk berbunyi, saatnya Kasih menikmati kelas barunya. Ada rasa takut dalam benaknya, tapi dia berusaha melawan semua rasa takutnya memberanikan diri melangkah memasuki kelas barunya dengan didampingi oleh Bu Anis. “perhatian anak-anak, kelas kita kedatangan murid baru,” ucap Bu Anis dengan bangga. “Kasih, silahkan masuk nak,” ucapnya lembut. Dengan pelan tapi pasti Kasih melangkah. Seisi kelas mendadak menjadi gaduh, semua heran dan kaget, tak terkecuali D’Rainbow. Alex, Tristan, Ferdy, Monic, Cherly dan Devi tak menyangka gadis kantin yang kemarin mereka hina di kantin, sekarang berseragam seperti mereka dan parahnya satu kelas dengan mereka di kelas XA yang merupakan kelas unggulan di SMAN 45 BLITAR.

Dengan yakin Kasih memperkenalkan diri di depan teman-teman barunya. Namun di hari pertamanya sekolah D’Rainbow sudah memperlihatkan kesan tidak sukanya pada Kasih. Tiba-tiba saja “loe pinjam seragam dari mana, bisa-bisanya lho memakai seragam sekolah di sekolah ini, boleh nyolong ya?” ucap Alex menghina Kasih. seketika membuat seisi kelas tertawa. “anak penjual kantin aja belagu,” Monic menambah pedas hinaan yang di lontarkan untuk Kasih. Sontak ucapan Alex dan Monic mengejutkan Kasih, namun dia hanya tersenyum mendengar hinaan dari mereka, seakan sudah terbiasa meneguk segelas kopi pahit, tanpa melihat siapa yang berbicara dia sudah mengenali suara itu.

Tiba-tiba bentakan keras di tujukan untuk Alex dan Monic “diam, apa-apaan kalian Alex dan Monic, Kasih sekolah disini karena dia memang pantas disini, dia mendapatkan beasiswa karena dia pandai”. Bu Anis berusaha membela Kasih. Sementara itu Kasih hanya tertunduk diam. Bu Anis mempersilakan Kasih duduk dan menunjuk kursi di sebelah Alex yang kosong. Tiba-tiba muncul niat buruk Devi dan Monic. “Gubraakkk,” tiba-tiba Kasih terjatuh karena dijegal Devi dan Monic. Sontak semua siswa tertawa. Raut muka Devi dan Monic pun girang melihat Kasih yang tersungkur di lantai. “makanya kalau jalan itu pakai mata gak pakai dengkul” kata Monic. “sudaaahhh, diaammmm,” teriak Bu Anis seketika membuat kelas terdiam layaknya kuburan. Kasih bangkit dan merapikan seragam kesayangannya itu.

Dia hanya tertunduk diam, menahan amarahnya. Tak berani dia marah, meski amarahnya sudah sampai ke ubun-ubun. Dia tidak mau momen pertama dia masuk sekolah menjadi kurang baik lantaran amarahnya yang tidak terkontrol. Tak pernah Kasih bermimpi satu kelas dengan D’Rainbow, dan ini memang mimpi buruknya disini. Belum sempat mereda amarahnya Kasih yang duduk di sebelah Alex harus menambahkan cadangan kesabarannya lagi. “heh, loe itu gak pantas memakai seragam ini, awas aja loe lihat aja nanti, seberapa kuatnya loe mampu bertahan menghadapi kami”. Bisik Alex pada Kasih diikuti senyum kecut dari bibirnya. Dan bak dikomando oleh seorang komposer, Tristan, Ferdy, Devi, dan Monic ikut tersenyum, senyum yang penuh rasa tidak suka. Kali ini Chely tidak begitu memperdulikan teman-temannya, dia memang satu-satunya dari D’Rainbow yang tidak belagu, dia memang sedikit lemah, tubuhnya memang sudah rapuh. Dan lagi semuanya ditanggapi Kasih dengan diam meski di hatinya dia ingin sekali marah, dia tahu ini pasti akan menjadi resiko yang dia tanggung jika mau bersekolah di SMAN 45 BLITAR.

Tak terasa bel istirahat berbunyi, Kasih harus kembali ke kantin untuk membantu Ibunya. Sementara itu D’Rainbow berkumpul di bawah pohon beringin tempat favorit mereka. Kali ini mereka berencana untuk membuat Kasih tidak nyaman bersekolah di SMAN 45. Semuanya terdiam memikirkan apa yang akan dilakukan untuk menyambut kedatangan Kasih di SMAN 45. “guys, gue punya ide cemerlang” tiba-tiba dengan semangan 45 -nya Ferdy membuyarkan pikiran teman-temannya. “Biasa aja kali Fer, gak usah hiperbola kayak gitu, bikin kaget aja”. Kata Alex sambil menjitak kepala Ferdy. Ferdy hanya nyengir dengan wajah tak berdosa. “emang apa ide loe,” tantang Tristan. Ferdy menjelaskan apa yang ada di pikiranya. Alex, Tristan, Devi, dan Monic serius mendengarkan Ferdy, sementara Cherly tidak tertarik, dia lebih tertarik membaca buku yang dibawanya. “tumben loe pinter Fer,” ejek Monic. “ternyata si playboy genit ini punya otak juga”. Ucap Devi. Ferdy menatap Monic dan Devi dengan tatapan ganas, seperti singa hendak menerkam mangsanya. Monic dan Devi nyengir dan menunjukkan isyarat damai pada Ferdy.
“oke, gue setuju ama usulan Ferdy,” ucap Alex. “berarti nanti kita bagi tugas masing-masing. Semua mengangguk. Dan rapat resmi ditutup.

Tiba-tiba ponsel Ferdy berdering. “siapa Fer?” tanya Tristan penasaran. “biasa itu si Bunga minta gue temui”. jawab Ferdy santai. “cewek baru lagi?”. Kini giliran Alex yang bertanya. “iya,”jawab Ferdy sambil nyengir. “guys, gue cabut dulu ya, emergency”. Ucapnya buru-buru pergi. “dasar playboy. Jangan lupa rencana kita nanti ya,” teriak Alex berharap masih didengar Ferdy. Ferdy menoleh sambil mengacungkan jempolnya. “anak itu memang gak berubah-berubah” gumam Tristan. Alex mengangguk. “loe ngapain sih Dev, dari tadi sibuk aja sendiri”. Tanya Tristan pada Devi yang sibuk memainkan ponselnya. “biasa gamenya lagi seru-serunya nih”. Jawab Devi dengan mata yang tak beralih dari layar.

Semua berjalan seperti biasanya. Dan bel pulang berbunyi, semua murid SMAN 45 bergegas pulang, tak terkecuali Kasih dan para D’Rainbow. Seperti biasa Kasih selalu pulang dan pergi ke sekolah dengan sepedanya, dan selalu membantu ibunya berbenah, namun hari ini dia tidak membantu ibunya karena ibunya sudah pulang lebih dulu. Kasih dengan santainya mengendarai sepeda bututnya yang sudah belasan tahun menemani hidupnya. Sementara itu D’Rainbow berkumpul di markasnya. “teman, saatnya beraksi,” ucap Alex berapi-api. Semua tersenyum penuh semangat. “kalian mau ngapain sih sebenernya? gue gak ikutan, gue pulang dulu.” ucap Cherly sambil melangkah pergi. “mau kemana Cher? gak kompak loe.” ucap Monic. “terserah apa kata loe gue gak suka cara kalian, gue gak mau ikut-ikutan”. Ucap Cherly acuh. “udah biarin aja, toh kita juga masih berlima.” ucap Alex menenangkan Monic yang sudah hampir mendidih. Dan mereka pun beraksi. Semua stan by di lokasi yang sudah mereka perhitungkan, yang selalu dilalui Kasih ketika pergi ke sekolah. Mereka juga siap melakukan eksekusi.

Ketika Kasih sudah mulai mendekat. Alex mengacungkan jempolnya mengisyaratkan pada teman-temannya yang lain untuk melakukan tugas mereka. Tiba-tiba Alex menghadang sepeda yang di kendarai Kasih, sehingga membuat Kasih kaget, dan terpaksa berhenti. “hay Kasih, mau pulang ya?” kata Alex pura-pura lembut sambil menghalangi langkah sepeda Kasih. Kasih hanya mengangguk, timbul perasangka buruk dalam benaknya. Dalam hati dia menggumam, “mimpi apa aku semalam? pulang sekolah harus berhadapan dengan brandalan ini”. “jangan buru-buru pulang dong, ada hadiah spesial untuk menyambut kedatanganmu di sekolah ini”. Ucapnya dengan nada sedikit mencurigakan. Tiba-tiba Ferdy datang membawa sebuah ember berisi air, dan langsung mengguyur Kasih. Kemudian disusul Tristan langsung menghujani Kasih dengan telur yang dibawanya. Kasih kaget dan seketika itu sepeda yang dibawanya roboh. Belum cukup itu, Devi datang kemudian mengguyurnya dengan tepung terigu, dan Monic dengan Kecap “selamat datang di SMAN 45 ya? itu sambutan dari kita, orang miskin pantesnya disambut dengan ini” ucapnya tanpa punya perasaan.

Lengkap sudah penderitaan Kasih hari ini. Tak ada yang dapat Kasih lakukan kecuali hanya pasrah, karena dia tahu siapa yang dihadapinya kali ini, jika dia melawan pasti orang tua berandalan-berandalan ini tentu saja akan sangat mudah mengeluarkannya. Dan itu hal yang paling tidak diinginkannya. Padahal emosinya sudah sampai ubun-ubun, Kasih hanya bisa mengendalikan dirinya untuk tidak meledak saat ini. “Kamu terlihat lebih cantik Kasih dengan seperti ini” Ejek Alex. Dengan wajah penuh kepuasan. Tak terkecuali D’Rainbow yang lain semua tersenyum dengan puas di atas penderitaan Kasih. “udah guys kita pergi saja, acara penyambutan kali ini sangat menyenangkan” ucap Alex santai sambil meninggalkan tempatnya. Semuanya mengangguk dan mengikuti langkah Alex pergi. Sementara itu di tengah kerumunan orang-orang tak ada satupun dari mereka yang membantu, Kasih pun berusaha bangkit dengan sisa tenaga yang dimilikinya.

Seminggu berlalu semenjak kejadian itu, setiap hari ada saja yang di lakukan D’Rainbow untuk menjatuhkan Kasih, namun tak mendapatkan respon berarti. Kasih tetap bertahan sekolah disini, sehingga membuat D’Rainbow harus memutar otak kembali. Namun mereka kehilangan salah seorang sahabatnya, Cherly yang waktu itu pulang dahulu, ternyata dia sedang menahan sara sakitnya. Sudah seminggu dia tidak masuk sekolah, tak ada satupun dari D’Rainbow yang tahu apa sebenarnya yang diderita Cherly. Cherly sendiri bukan tipe orang yang suka curhat sana curhat sini, dia lebih tertutup, semenjak tahu penyakit yang dideritanya, dia juga selalu menyembunyikan hal buruk yang menimpanya di depan teman-temannya. Dia selalu ceria dan terlihat baik-baik saja. Ternyata dia menderita kanker jaringan lunak stadium tiga. Kini di tempat rapat D’Rainbow seperti biasa, mereka berkumpul, tapi pikiran mereka sibuk dengan kegiatan mereka sendiri. Sampai mereka di kejutkan dengan kedatangan Cherly. “hay teman-teman? masih ingatkah kalian dengan ku? bagaimana keadaan kalian?” cerocos Cherly dengan ceria dan wajah berseri-seri, seperti baru mendapatkan lotre.

Alex, Ferdy, Tristan, Monic, dan Devi pura-pura tidak menghiraukan Cherly. Raut wajah Cherly berubah murung, merasa tidak diperhatikan. Tapi tiba-tiba kelima teman-temannya langsung memeluk mereka. “Cherly, loe kemana aja sih, aku bingung harus tanya pada siapa saat ulangan matematika kemarin” ucap Monic dengan suara serak karena menangis. “iya lama banget semedinya, udah dapat kan wangsitnya” tambah Devi. “loe, kemana aja sih Cher, aku kangen,” ucap Ferdy dengan nada merayu. “iya, lagian sakit lama banget sih, lihat itu, PR ku udah menunggu untuk kamu kerjakan” ucap Tristan santai. “dasar loe Tan, kamu sakit apa Cher, kami semua khawatir padamu Cher,” ucap Alex. Cherly bingung menjawab hujan pertanyaan dari sahabatnya satu-satu, dia hanya membalasnya dengan senyum, dan membiarkan semua larut memeluknya dalam rasa rindu, setidaknya itu yang dia miliki, dan itu yang membuatnya kuat. “udah dong teman-teman, sesak nafas,” ucap Cherly membubarkan suasana haru teman-temannya. Semua segera melepaskan pelukannya pada Cherly. “ich, loe nangis Nic? cengeng banget sih,” ucap Devi setelah tahu air mata Monic. “biarin, ini itu air mata bahagia, weekkk” sambil menjulurkan lidah. Semua Tertawa lepas melihat tingkah Monic dan Devi. Persahabat mereka memang sangat erat, meskipun mereka terkenal sombong dan semena-mena, mereka tetap menjunjung tinggi arti persahabatan yang sudah mereka bangun semenjak SD.

Mereka semua larut dalam perbincangan. “guys, katanya tadi kita akan menjahili Kasih lagi, terus apa yang harus kita lakukan, agar si miskin itu gak nyaman di sini.” Monic membuka topik pembicaraan mengenai Kasih. “o, iya ya, sampai lupa, oke sekarang kita mikir langkah apa lagi yang harus dilakukan” ucap Alex menambah ucapan Monic. “kalian mau apakan lagi itu si Kasih? belum puas kalian?” tanya Cherly dengan nada sedikit tidak suka. “puas gimana Cher, udah seminggu kita usilin dia terus, tetap aja bertahan, emang dia itu punya apa sih?” jawab Ferdy berapi-api. “iya, baru kali ini anak baru yang berurusan dengan kita bisa bertahan seminggu, biasanya tiga hari paling banter” ucap Tristan mendukung Ferdy. “itu berarti tandanya, kalian harus udahan, berarti memang Kasih itu kuat” kata Cherly berusaha menyadarkan teman-temannya. “loe kok bela dia sih Cher?” ucap Devi sedikit memojokkan Cherly. “bukan membela, tapi cara kalian itu sudah keterlalukan guys,” ucap Cherly membela diri. “iicchhh Cherly gak asik, gak sejalan ma kita lagi” ucap Cherly dengan nada khasnya. “Apa-apaan loe Cher, loe bela Kasih sekarang, gak dukung kita lagi, loe itu gak tahu apa-apa, gue masih sakit hati sama anak itu, saat kejadian di kantin dulu” ucap Alex dengan nada sedikit tinggi. “ya ampun Alex, itu udah seminggu yang lalu Lex, lagian masalah sepele juga” ucap Cherly santai.

Semua melotot pada Cherly, membuat Cherly menyerah. “Oke oke, terserah kalian aja, apa yang kalian suka, tapi gue gak ikut-ikut” Cherly menyerah. “siapa juga yang mau ngajak loe” Ucap Tristan cuek. Cherly mengankat bahu. Semua kembali diam berpikir apa lagi yang akan mereka lakukan. “gue tahu apa yang akan kita lakukan kali ini, pasti ini akan membuat dia gak betah” ucap Alex mengagetkan semua. “apa Lex?” tanya Monic penasaran. “udah liat aja nanti pulang sekolah” ucap Alex dengan senyum penuh arti. “kalian punya tambang kan? Gue pinjem ya!!!” tambahnya lagi. Semua mengangguk. Cherly hanya geleng-geleng mendengar teman-temannya sedang merencanakan hal buruk. Bel masuk membubarkan rapat mereka secara otomatis, tanpa harus di buka ataupun ditutup, tidak seperti rapat di kantor DPR sana.

Mereka menjalani pelajaran seperti biasa. Dan bel pulang berdering. Alex dan yang lainnya segera mengambil tambang, dan langsung menuju tempat sepeda dan mengambil sepeda Kasih. Tristan dan Alex bagian melepas semua bagian sepeda, dan Devi, Monic mengikat dengan tambang, sementara Ferdy yang memanjat pohon dan menalikan tambang pada pohon. Sejenak sepeda Kasih hanya tinggal kerangkanya. “Fer, loe persis kayak nyemot lo,” ejek Cherly yang memperhatikan mereka dari jauh. Ferdy hanya menjulurkan lidahnya, dan bergegas turun dari pohon. “oke, sekarang kita sembunyi, kita tunggu bagaimana ekspresi gadis itu” ucap Alex sambil pergi mencari tempat aman untuk sembunyi.

Tak selang beberapa lama Kasih datang, dia terkejut melihat sepeda kesayangannya hanya tersisa kerangkanya saja. Kali ini dia tak kuasa menahan emosinya, dia menangis. D’Rainbow keluar dari tempat persembunyiannya. “bagaimana Kasih kali ini usaha ku pasti akan berhasil membuatmu tidak krasan di sini” ucap Alex dengan senyum puas. Yang lainnya tertawa puas juga. “o, ini semua kamu yang melakukannya, kenapa sih? harus aku yang jadi sasarannya? apa salahku pada kalian?” ucap Kasih dengan suara tinggi dan emosi yang membara. “salah loe? loe tanya itu? pertama masalah di kantin waktu itu, kedua loe gak pantes di sini, di sini hanya untuk orang berduit, sedangkan loe hanya anak penjual bakso” ucap Alex dengan nada tinggi. “oh, cuma gara-gara itu? kalian itu gak adil, kalian itu mau menang sendiri, mentang-mentang orang tua kalian berduit, terus seenak jidat kalian melarang anak-anak seperti aku mencari ilmu. Seharusnya kalian itu bisa lebih bersyukur pada Tuhan, kalian yang diberi nikmat harta berlimpah malah semena-mena pada kami orang yang miskin. Kalian itu tak ubahnya seorang pengecut, yang cuma bisa bersembunyi dibalik nama orang tua kalian masing-masing, hanya bisa membangga-banggakan milik orang tua kalian, sedangkan kalian sendiri belum bisa menghasilkan apapun yang bisa dibanggakan. Sungguh nasib kalian malang! memang aku anak penjual bakso, tapi aku punya sesuatu yang bisa aku banggakan, setidaknya aku masih punya semangat belajar, gak seperti kalian” ucap Kasih panjang kali lebar. Seketika membuat Alex terdiam.

Cherly yang tadi hanya menonton, dia bergegas menghampiri teman-temannya. “heh beraninya loe ceramahin kita?” ucap Monic. “masalah? setidaknya mulutku masih berguna untuk mengingatkan orang-orang kayak kalian”. Bantah Kasih seraya memunguti serpihan sepedahnya. “ihhh loe itu,” ucap Monic mulai geram. “udah diam,” bentak Alex. Membuat Monic terdiam seketika. Alex melangkah meninggalkan Kasih dengan puing-puing sepedahnya. Serentak Ferdy, Tristan, Devi, Monic, Cherly mengikuti Alex tanpa berkata-kata, seakan mereka tahu Alex sedang dalam emosi. Mereka menuju markas besar mereka, semua terdiam tanpa ada yang bicara, berkelana dengan pikiran mereka masing-masing. Alex terdiam dan kata-kata Kasih terus terngiang-ngiang dalam benak Alex. Sampai ponsel Monic memecah keheningan di bawah beringin itu. Layar ponselnya menunjukkan panggilan masuk dari ibunya, setelah menerima panggilan itu, Monic mengisyaratkan pada teman-temannya untuk pergi dulu. Semua mengangguk. Alex tak menghiraukan Monic, dia masih asyik memikirkan kata-kata Kasih. Semua kembali diam. Tiba-tiba Alex bangkit membuat semua terkejut. Tanpa berkata-kata Alex meninggalkan teman-temannya menuju sepeda motornya. Semua kompak membiarkan Alex lenyap, tak ada yang berani bertanya pada Alex. “kenapa sih Alex kok dia jadi pendiam gitu?” tanya Cherly memecah keheningan. Devi dan Ferdy kompak mengangkat bahu. “itu tadi kena ceramah dari cewek miskin itu.” jawab Trintan santai. Dia pun bangkit dan beranjak pergi, tanpa komando semua segera bangkit dan pulang ke rumah masing-masing.

Sementara itu dengan susah payah Kasih memperbaiki sepedanya agar kembali utuh, karena tak ada kendaraan lain yang bisa ditumpanginya untuk pulang kecuali sepeda itu. Dengan penuh perjuangan akhirnya sepedahnya kembali seperti semula. Dan dia pun pulang.

Alex memacu sepeda motornya dengan kencang. Tanpa memperdulikan sekitarnya. Sampai di rumah, belum sampai di kamarnya langkahnya harus terhenti. “papa kenapa sih? ngasih 10 juta aja pelit banget, mama butuh uang itu, mama mau shopping.” ucap mama dengan nada tinggi. “bukanya pelit ma, mama itu sudah banyak pengeluarannya sebulan ini, belajar hemat sedikit lah ma!!” jawab papa tak mau kalah. “alah, pokoknya papa pelit, atau jangan-jangan uangnya buat wanita lain ya pa?” kata mama dengan nada menuduh. Tanpa sadar, papa naik pitam dan hendak menampar mama. Sebelum melihat pertengkarang itu lebih parah lagi, Alex pun kembali tancap gas meninggalkan kekacauan di rumahnya.

Alex jenuh, setiap hari selalu saja melihat kejadian seperti tadi di rumahnya. Tak pernah dia merasakan kebahagian dan Kasih sayang di keluarganya. Papanya selalu sibuk bekerja, dan mamanya selalu sibuk dengan kegiatannya shopping, arisan dan lain sebagainya dengan para sosialita lain, yang bisanya hanya menghamburkan uang. Alex tak pernah lagi merasakan Kasih sayang orang tuanya. Pikiran Alex semakin penuh dengan semua kejadian yang dialaminya hari ini. Tanpa sadar dia memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Dan tiba-tiba Alex kehilangan konsentrasi, semua serasa gelap, dan setelah itu dia tidak mengingat apa-apa lagi. Sementara itu keadaan jalan sedang sepi tidak ada yang melewati ruas jalan itu.

Bersambung

Cerpen Karangan: Fitria Choirunnisa
Facebook: vithree choirunniesa

Nama : Fitria Choirunnisa’
E_mail : firniez_angel14@yahoo.com
Follow : @vithree_niessa14
Alamat : Kec. Sutojayan, Kab. Blitar jatim-indonesia
TTL : Juli 1995
mohon kritik dan sarannya ya, masih belajar ^_^

Cerpen Warna Baru Untuk D’Rainbow (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Blue and Black

Oleh:
“tap… tap… tap” Seorang siswa smp nusa bangsa yang cool gayanya tapi pemalas. Yap panggil saja namanya Black. Black melangkahkan kakinya menuju kelasnya, kelas IX B. Ia menuju ke

Hujan (Part 2)

Oleh:
Sesampainya di kamar Kost, Hanni pun memikirkan apa yang dibicarakan Sherly saat bertemu dengannya tadi. Apa benar karena sebuah rasa benci yang terpendam dihatinya yang menyebabkan Hanni menjadi pendiam

Selalu Ada Maaf

Oleh:
Malam ini begitu menyedihkan bagiku, aku menatap sekeliling kamarku kenapa harus begini, ku kira semua akan sesuai rencanaku tapi ternyata tidak, padahal seharusnya hari ini jadi hari yang membahagiakan

Good Bye Kawan

Oleh:
Hari ini adalah awal dari tahun ajaran baru. Banyak hal baru yang ku temui hari ini. Suasana baru, adik kelas baru, kelas baru, teman baru, dan yang lebih penting

Ketika Sahabat Menjadi Pengkhianat

Oleh:
Namaku Verenia fafabila. Dipanggil Veren. Aku mempunyai sahabat yang bernama Celina Olivia atau Celin. Ia adalah sahabat yang baik dan pengertian. Esoknya, kubangun dengan semangat. Kubuka gorden jendelaku. Saat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *