Warna Seroja

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 12 March 2016

Senja hangat nan elok, bersinar kerlap-kerlip di air laut. Berderai indah seroja-seroja putihku yang ku pegang di tanganku. Warnanya putih, karena semua warna dari serojaku sedang berada bersamanya, bersama seseorang yang berada di seberang pulau. Berdiri ku di tepi pantai. Pasir putih seakan menggeliat di kakiku yang telanjang tanpa alas kaki. Lalu aku duduk untuk mengambangkan seroja-serojaku. Berharap terbawa ombak dan sampai ke tempatnya, di pulau sebelah.

Setiap aku merindukannya, aku selalu ke pantai untuk mengambangkan beberapa tangkai seroja di laut. 5 tahun lalu, pertemuan singkat yang terjadi di pantai ini, dan menumbuhkan persahabatan. Dialah Rayhan, anak dari saudagar di pulau sebelah yang ingin membangun istananya di pulau ini. Kami hanya berhubungan melalui surat karena di kampungku tidak ada signal yang memadai jika berteleponan.

“Seroja!! Tangkap!” hendak melempar buah mangga yang dipetiknya.
“Aku gak bisa Ray..”
“Udah deh.. pasti kamu bisa..” melemparkan.
PLUKK! Buah mangga jatuh di kepalaku.
“Seroja…!! Seroja bangun Ja. Seroja.. maafin aku Ja..” menggoyang-goyangkan badanku.
“Baaaaa!! Hahahaha…” tiba-tiba bangun.

Lalu kita berkejar-kejaran dan saling menyipratkan air laut. Setelah kita lelah, kita pun duduk di dekat sungai payau, tiba-tiba Rayhan berenang ke tengah dan mengambil bunga seroja putih. Lalu kita melukisnya dengan warna-warna yang didapat dari tanaman, dan Rayhan menyelipkan bunga itu ke sela-sela rambutku. Tiba-tiba ayah Rayhan memanggil Rayhan dan menyuruhnya pulang. Aku pun mengantarnya ke kapalnya.

“Seroja, 5 tahun lagi aku ke sini kok.. entar kalau istanaku udah jadi, kita mainnya di sana,” katanya sambil memegang pundakku.
“Iya, oh iya, ini, bawa lagi saat kamu ke sini.” memberikan bunga seroja berwarna-warni yang tadi ku lukis bersama Rayhan yang terselip di antara rambutku. Dia menganggukkan kepala. Kemudian dia melambaikan tangannya sebelum ia naik ke kapalnya. Dan aku pun membalasnya dengan senyuman.

“RAYHAAAAN… KU TUNGGU SEROJAKU.”

Itu adalah pertemuan singkat yang paling indah. Aku tidak sabar menunggu esok. Esok hari saat serojaku kembali. “Allahuakbar allahuakbar.” adzan magrib berkumandang. Aku pun bergegas pulang karena aku harus tidur cepat agar aku tidak kesiangan menyambut Rayhan, karena Rayhan besok pagi sudah sampai.

Kring!! Alaramku berbunyi dengan keras dan nyaring. Aku pun akhirnya terbangun setelah beberapa kali mematikannya. Tetapi saat aku melihatnya ternyata jam sudah menunjukkan angka 10.17 oh tidak, aku terlambat. Pasti Rayhan akan kecewa. Aku langsung lari menuju pantai yang jaraknya tidak jauh dari rumahku. Saat aku sampai di sana, aku sudah melihat kapal besar yang bersandar di tepi pantai. Aku tahu itu kapalnya Rayhan, dia pasti kecewa karena aku tidak menyambutnya. Aku berlari ke air laut yang ombaknya cukup kuat. Akhirnya derai air mata pun menetes.

“Rayhan.. warna serojaku… hiks hiks.”

Tiba-tiba ada suara memanggil namaku dari arah samping. Aku seperti tidak asing dengan suara itu, tetapi agak sedikit aneh. Kemudian aku berbalik badan. Ternyata suara itu adalah dia, Rayhan. Warna Serojaku. Aku langsung berlari dan memeluknya. “Rayhan.” ia menyelipkan bunga serojaku di rambutku dan dia menyipratkan air laut ke wajahku. “RAyhaaann..” Lalu kami berkejar-kejaran dan saling menyipratkan air pantai. Sama seperti 5 tahun silam. Kini, serojaku telah kembali, kembali mewarnai seroja putihku yang telah lama pucat tanpa warna.

Cerpen Karangan: Khoirunnisa Aulia
Facebook: Khoirunnisa Aulia

Cerpen Warna Seroja merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dilema

Oleh:
Kukuruyuk… Suara ayam berkokok mulai terdengar, matahari pun sudah mulai terbit, aku mulai bergegas menuju ke kamar mandi. Hari ini adalah hari pertamaku sekolah setelah libur kenaikan kelas dua

Semu

Oleh:
Bersama hela desah angin. — “Lagi apa?” “Mau gak jadi sahabatku?” “Bintang yang indah,” “Aku suka hujan.” “Aku nggak bisa,” “Ya. Aku pun tahu jawabannya,” — “RIO!” Akhirnya dia

72 jam (Kisah Akhir Tahun) Part 1

Oleh:
6 Januari 2015 Sudah seminggu semenjak kejadian itu, rasanya sepi dan sunyi. Sesekali dilihatnya kembali foto itu, terukir segaris senyuman di bibirnya. “Dasar bodoh, tch kenapa aku menangis” isaknya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *