Wasiat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Misteri, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 20 April 2016

Dimana aku, berlalu. Membawa semua.. semua? semua? “Oh my God. Lusiiii?” aku terpaksa berteriak karena tak tahan lagi mendengar ocehan Lusi. Aku yang berusaha menghafal puisi yang ku buat tadi malam untuk aku bacakan di depan kelas hari ini, sangat terusik dengan radio berjalan itu. “Lusiiii?” Bahkan untuk kali keduanya aku berteriak dia juga tak kunjung menghentikan siarannya. Ya sudah terpaksa aku saja yang mengalah. Aku juga tak tega jika siarannya tak laku alias tak ada yang mendengarnya. Mungkin jika aku sudah meresponnya dia akan berhenti.

“Tadi kamu bilang apa? aku lupa.” Aku hanya pura-pura, bukan lupa tapi memang aku sama sekali tak mendengarnya.
“Nanti ikut aku ke salon. Aku tunggu di depan kelasmu, Dir. Awas jangan lupa lagi. Tidak ada siaran ulang. Bye.. bye.” Ujarnya dengan logat sok alay dan sikap manjanya yang sangat menyebalkan. Bahkan di akhir kalimat ia sembari melambaikan tangan yang menurutku agak mirip dengan lambaian Betran alias benc*ng perempatan yang ku jumpai di jalan seberang sekolah.

“Eh.. tunggu-tunggu. Memangnya akan ada event apa Lus?” Ku tarik tangannya agar dia tidak buru-buru pergi. Aku ingin konfirmasinya dulu. “Besok kan aku mau masuk TV. Secara sang juara gitu loh. Pemenang olimpiade Fisika akan diliput secara live di acara Prestasi Anak Bangsa. So, aku harus tampil seeeecantik mungkin.”
“Beruntung dia cantik, pandai, kaya, dan banyak prestasinya. Kekurangannya hanya pada kecerewetannya. Hhh.. memang tak ada manusia yang sempurna.” Ucapku dalam hati, memandang terpesona heran pada Lusi. Belum sampai kami berpisah menuju kelas masing-masing, terdengar suara bu Ismi memanggil Lusi dari arah tak jauh dari kami.

“Ya.. what happen, Bu?” Jawab Lusi.
“Maaf Lusi, besok kamu tidak jadi diikutkan wawancara di TV. Crew acara menelepon Ibu bahwa yang akan diliput hanya peserta inti saja atau yang juara pertama. Jadi hanya Diko yang akan diwawancarai.” Sedihnya. Itu yang ku lihat di wajah mereka berdua. Kasihan Lusi pasti kecewa mendengar ini.
“Jadi bagaimana ke salonnya?”
“Tentu aja jadi. Aku akan tetap masuk TV. Ini penting buatku sedangkan buat Mas Diko pasti akan lebih penting ikut pertandingan basket daripada diwawancarai.”
“Maksa banget sih? pertandingan basket yang mana? Mas Diko bilang pertandingannya dilaksanakan minggu depan.”
“Nggak penting. Pokoknya aku berharap pertandingannya harus jadi besok biar Mas Diko bisa aku gantikan.” Keluarlah sikap antagonisnya. Emang dia gadis multitalenta, jadi apa pun dia bisa.

“Sekarang mendadak berubah jadi sok paranormal. Sudah aku pergi dulu. Puisi yang menurutku lumayan tidak ancur menunggu untuk dicela banyak orang di kelas nanti.” Ucapku menyindir buruk diri sendiri. “Hahaha… dasar sok jujur, sok merendah. Padahal akan dapat banyak tepuk tangan loh.” Kalimat terakhir yang ku dengar dari Lusi dan kemudian kami menuju kelas masing-masing.

Di mana aku
Di mana aku, melihat
Negara tanpa pengkhianat
Di mana aku, mencium
Tanah airku yang harum
Di mana aku, mendengar
Burung berkicau di masa fajar
Di mana aku, mencari
Harapan yang tak hanya mimpi
Di mana aku, berpijak
Pada tempat yang layak
Di mana aku, berlalu
Membawa semua asaku

“Plok…plok…plok..plok…” Wow tak menyangka mereka semua bertepuk tangan. Termasuk bu Ni’is. Apakah puisiku bagus?
“Baik Dira. Apa tema dari puisi kamu?”
“Tentang perjuangan, Bu. Melihat kondisi negara kita yang sekarang sedang mengalami banyak kasus KKN termasuk tindakan korupsi berat yang dilakukan oleh para pejabat yang tentu sangat meresahkan masyarakat sebab akan menurunkan dan membuat semakin buruk kesejahteraan rakyat terutama di bidang perekonomian. Puisi ini mewakili bagaimana kita sebagai rakyat negara ini sulit untuk merasakan lagi kenyamanan hidup di negara sendiri dan ingin mencari tempat yang lebih layak untuk ditinggali.”

Bu Ni’is tersenyum. Senyum itu merekah bukan lagi senyumnya yang sinis yang lebih sering beliau hadiahkan kepadaku. “Sempurna. A+ buat kamu.” dan semua orang bertepuk tangan lagi. Terima kasih untuk kalian semua. Bu Ni’is dan teman-teman. Jam istirahat aku kabur naik ke lantai 2. “Maaf ya Lus, kamu pasti bingung nyari aku. Hihihihi.”
Aku ingin ke perpustakaan lantai 2 yang baru diresmikan tiga hari yang lalu. Kata teman-teman novel di sana lebih menarik dan baru daripada perpustakaan yang lama.

“Mampir toilet dulu ah.” Yaaahhh.. toilet penuh dengan kakak kelas 3.
“Nunggu di sini aja deh.” Ampuun dah.. yang di sini kebelet malah di dalam asyik dandan.
“Pindah aja deh.” Itu.. unik.

Aku tak sengaja melihat pintu kecil yang menempel di dinding samping tangga. Pintu itu dihias dengan ukiran hampir penuh diseluruh tubuh pintu. Ukirannya timbul dengan gambar relief yang mirip pada candi-candi. Aku tak pernah tahu ada benda seindah itu di sini. “Kapan dipasangnya?” Aku lancang buka pintu itu dan mengintip ruang gelap di dalamnya. “Aduh.” Aku sontak terdorong masuk ke ruang itu. Seperti tadi ada yang mendorongku. “Di sini terang sekali. Tadi gelap hitam tapi sekarang putih. Sangat putih dan aku tak bisa melihat apa pun di sini.” Aku merasa sangat pusing. Cahaya ini….

Pukul 08.00? aku sekilas melihat jam yang terpasang di depan kelas 2 Ipa 3. “Bukankah ini seharusnya pukul 10.30? seharusnya sudah masuk dari tadi.” Aku bingung mencocokkan jam itu dengan arlojiku. Aku takut terlambat masuk kelas. Secepat mungkin aku berlari menuju kelasku sendiri. Ssstt…. mendadak aku mengerem kakiku di depan auala yang juga lapangan basket sekolah. Ada Hafiz di sana. “Kenapa aku ke sini? ngapain juga aku nemui si Hafiz?” Aku heran sendiri dengan tingkahku.

Aku berdiri tepat di depan Hafiz. “Maaf Mas Diko. Mungkin aku memang licik dan jahat. Semua orang harus tahu bahwa aku lebih pantas jadi kapten daripada kamu.” Hhhaaaa.. aku kaget mendengarnya. Lebih lagi dia mengeluarkan sesuatu yang kemudian ia masukkan ke dalam sebuah botol minuman. Apa dia ingin meracuni mas Diko? “Hafiz.. Hafiz.. apa yang kamu lakukan Fiz? Dasar Edan. Apa kamu sudah gila?” Aku berteriak-teriak dan mendorong tangannya berusaha untuk menghentikan itu semua.

“Kenapa ini?” Aneh sekali. Kenapa bisa terjadi? dia tak sama sekali mendengarku. Dan aku tak bisa menyentuh tangannya. Dia tak bisa melihatku. Ya ampun apa yang terjadi? aku terus berusaha tapi aku tak berhasil juga. Kemudian datang mas Diko. “Jangan… jangan… Mas Diko jangan diminum.” Mas Diko tak mendengarku. Aku tak bisa menyentuh botol yang akan aku jauhkan dari mas Diko. Kenapa ini. Apa yang terjadi? Aku hanya diam. Terpaku. Selang beberapa lama aku mengikuti mereka hingga berjalannya pertandingan basket. Aku duduk di bangku penonton.

“Tolong katakan pada orang-orang Hafiz meracuni Mas Diko. Tolong..” Tak satu pun mendengarku. Priiiittt… wasit meniup peluit. Tiba-tiba mas Diko terjatuh. Dia pingsan. Semua orang panik termasuk aku. Astaga.. ke luar busa dari mulutnya. “Hafiz. Pasti karena Hafiz. Ini semua ulah Hafiz.”
“Dira cepat bangun!!! Mas Diko sudah menunggu kamu di depan.” Teriak mamaku. Aku masih sempoyongan berusaha berjalan ke kamar mandi. Tiba aku sadar dan langsung membuka lebar mataku, “Aneh.. bukankah aku tadi berada di lapangan basket? Mas Diko?”
“Ma, Mas Diko?”
“Iya, Mas Diko sudah menunggu kamu dari tadi.”

“Menunggu?”
“Iya nungguin kamu. Gara-gara kamu terlalu lama jadi dia pergi duluan. Sudah cepat berangkat! nanti kamu terlambat. Naik bus saja ya?”
“Jangan-jangan mimpi. Iya pasti cuma mimpi.” Aku terus memikirkan kejadian di lapangan itu. Tapi kenapa begitu nyata? sudah cukup aku mengkhayal.
“Mungkin lebih baik aku mencari Mas Diko untuk memastikan semua baik-baik saja. Aku menemukannya. Benarkah itu mas Diko? dia tampak sehat dan baik-baik saja. “Mas, nanti pulang jam berapa? apa acara di TV itu jadi dilaksanakan?” tanyaku dengan hati masih cemas.

“Aku pulang sore. Nanti kamu pulang sendiri saja ya. Mendadak ada pertandingan basket untuk pemilihan kapten dan pengumuman yang lolos ikut turnamen lusa. Basket lebih penting daripada wawancara itu. Lagian ada Lusi yang semangat menggantikanku.”
“Basket? kenapa mendadak? Mas kenapa tidak bilang dari tadi? gitu aku milih bawa motor sendiri daripada berangkat pulang naik bus.”
“Salah sendiri bangun kesiangan. Kamu pingsan atau latihan mati?” Mas Diko sedikit marah. Rambutku kusut diacak-acak. “Ayo Mas cepetan nanti terlambat.” Ucap Hafiz mendekati kami.
“Apa aku mimpi ya? Hafiz kan selalu baik dengan Mas Diko dan aku.” Ucapku dalam hati. Aku bergeleng-geleng ingat kejadian itu.

“Mas, bawa ini!” Aku memberikan sebotol air mineral untuk mas Diko.
“Nanti minum ini saja. Jangan minum air dari siapa-siapa. Pokoknya ini saja.” mungkin mas Diko heran tapi ini demi kebaikannya.
“Kenapa?” Tanya mas Diko.
“Sebagai keberuntungan saja. Mas tidak akan pernah jadi kapten kalau tak minum ini.” Aku tersenyum lebar memandangnya. Meskipun sejujurnya perasaanku cemas. Aku sendiri tak tahu kenapa. “Iya sayang.” Hanya dua kata itu lalu ia pergi dengan Hafiz.

Di kelas aku tak bisa konsentrasi. Aku beberapa kali memandang ke arah jam. Ingin rasanya cepat tiba jam istirahat. Hhhhh… masih lama. Pukul 08.00. “Itu?” Tiba-tiba terlintas bayangan mas Diko. Blek… blek.. blek.. blek… keras sekali Lusi berlari melewati kelasku. Bahkan mencuri perhatian teman sekelas dan bu Ismi. “Bisa juga si putri solo itu berlari kencang. Sudah jangan melihat ke sana lagi! mungkin dia lagi kebelet.” Seru bu Ismi yang yang pandai sekali membuat banyolan.
“Bicara masalah kebelet, saya juga lagi kebelet Bu. Sakit perut. Pelurunya sudah di penghujung lubang.”
“Dasar jorok. Cepat pergi sana! jangan sampai kelas ini bearoma jamban.” Semua penghuni kelas sontak tertawa. Bu Ismi marah, tapi masih saja sempat bercanda. Aku terpana.

“Lusi? apa yang dia lakukan?” Peristiwa yang ku lihat ini mirip dengan mimpi itu. Tapi yang ada dalam mimpi adalah Hafiz, di sini Lusi.
“Apa yang dikeluarkan Lusi? Bukankah itu botol minuman Mas Diko?”
Hafiz masuk ruang ganti. “Hafiz, bisa aku minta tolong sama kamu?” Ucapku dengan nada serius. “Apa, Dir?”
“Botol yang tadi aku kasih ke Mas Diko, jangan biarkan dia meminumnya. Aku melihat Lusi menaruh sesuatu pada minuman itu.”
“Ha..apa?” Hafiz terkejut. “Iiii ya. Baik.”

Lusi jadi diliput di acara itu. Aku melihat prosesnya di bangku penonton. Dia adalah sahabat terbaikku sejak SMP hingga sekarang kami SMA. Dia sangat menyukai mas Diko hanya mas Diko tak pernah menanggapinya. Tapi kenapa? Lusi melakukan hal itu. Bukankah aneh, apa yang dia ucapkan hampir semuanya benar. Dia tahu jika dia yang akan diwawancarai, dia tahu jika ada pertandingan basket meskipun hanya sekedar tebakannya saja, bahkan dia juga tahu puisiku akan banyak yang menyukainya.

“Drrrr….” Hp-ku berdering. “Ya, Ma ada apa?” No…no.. ini lebih sakit dari tersengat listrik. Kabar yang sangat mengejutkan. “Mas Diko masuk rumah sakit. Over dosis.” Tuduhanku hanya mengarah pada LUSI.
“Aku tahu karena aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Kamu kan yang melakukannya. Apa yang kamu taruh di minuman Mas Diko?” Lusi, Hafiz, mama, ayah, dan beberapa teman mas Diko berkumpul di Rumah Sakit. “Puas kamu udah masuk TV?” Bukan sekedar khilaf, aku benar-benar marah pada Lusi.
“Maaf Dir, aku lupa mengingatkan Diko.” Hafiz meminta maaf padaku. Sementara Lusi hanya terisak menangis.

“Ma, dia yang sudah meracuni Mas Diko? Dira melihat sendiri Ma. Teman baik Dira sendiri.”
“Begitukah sikapmu, Dir? bahkan kamu tak memberi kesempatan aku menjelaskannya. Hafiz?” Tutur katanya sangat berubah drastis. Lembut, bukan Lusi yang biasanya. Ia mengatakan itu dengan memandang Hafiz. “Kenapa kamu tidak cerita yang sesungguhnya Kapten? Ya.. aku tahu karena tidak ada penjahat yang mau mengaku.”
“Kapten? Hafiz yang jadi kapten? apa kamu tahu sesuatu Fiz?”
“Tahu apa? maksud kalian apa? Lusi, jangan buat fitnah.”

Beberapa hari. Meskipun kasus itu masih diselidiki, sudah beberapa hari Lusi masih dimintai keterangan dengan aku dan Hafiz sebagai saksi. Keadaan mas Diko juga sudah mulai membaik. Tapi ini kasus serius, ini tindakan kriminal percobaan pembunuhan terhadap nyawa seseorang. Sejak kejadian itu aku masih belum siap kembali ke sekolah. Aku tak pernah menyangkanya. Lusi teman baikku.

“Jadi sekolah atau tidak?” Ayah menyadarkanku dari lamunan. Aku asyik memandangi foto keluargaku. Aku kangen dengan mas Diko. Meskipun setiap hari kami bertengkar, tapi dia adalah kakak terhebatku. Dia sebenarnya menyayangiku begitu pun aku. Meskipun aku cuek tapi aku sebenarnya peduli.
“Cepat pulang ya Mas. Aku berangkat sekolah dulu tanpamu.”

Lusi tak akan berani muncul ke Sekolah ini lagi. Namanya sudah tercemar. Beda dengan Hafiz. Meskipun banyak yang beranggapan mungkin Hafiz juga ada hubungannya dengan tindakan Lusi. Beberapa orang juga ikut membencinya. Kalau aku tak pernah peduli dengan Hafiz, hanya tentang Lusi. Lagi-lagi kakiku melangkah ke tempat ini. Pintu itu lagi. Kali ini pintunya sedikit terbuka. Tidak lagi hitam. Aku melihat sinar putih sangat terang dari dalamnya.

“Ngapain kamu ke sini lagi, Dir? masih belum kapok kamu pingsan terkurung di dalam gudang?” suara bu Ismi mengejutkanku. “Gudang? jadi tempat itu gudang?” Tanyaku heran.
“Iya. Entah kenapa di sekolah ini setiap lantai ada gudangnya. Orang-orang seharusnya membuang atau membakar saja benda-benda yang tak berguna lagi. Kenapa disimpan? Cuma buat memperburuk keindahan… bla..bla..bla..” Tetap seperti biasanya. Ditanya satu kalimat jawabnya selalu satu paragraf, itulah guru Geografiku, bu Ismi.

“Maaf Bu. Bu..Bu Ismi?” Aku putus saja bicaranya.
“Oh iya, ada apa Dira?”
“Tadi Ibu bilang kalau saya pernah pingsan di tempat ini. Kapan? perasaan saya tidak pernah merasa pingsan di sini?”
“Loh.. kamu tidak ingat? kan beberapa hari yang lalu anak kelas 3 menemukan kamu pingsan di depan pintu itu. Terus Diko membawa kamu pulang deh.”
Pingsan? Aku jadi semakin bingung. Lalu… lalu aku mencari jawabannya dengan mendekati pintu itu. “Aduh.” Tiba-tiba saja seperti ada yang mendorongku. Aku tersandung masuk ke ruangan itu. “Tolong…tolong..” Hanya cahaya putih. Sama seperti waktu itu, aku tak bisa melihat apa pun di sini. Tidak ada benda apa-apa. Seperti sebuah jalan yang lebar tak berujung. “Awwww….” Aku berhasil.. berhasil ke luar. “Bagaimana bisa? pintunya saja tidak ada?”

Jam dinding itu lagi. Sekarang pukul 09.10. Hafiz? aku mencoba mengikutinya. Aku berjalan di sebelahnya. Dia tak melihatku. Ini terjadi pasti dalam mimpi. Aku pasti pingsan lagi. “Fiz.. aku dengar Lusi yang jadi kambing hitamnya. Dasar licik.” Ucap salah seorang kakak kelas. Dia teman mas Diko.
“Maksud kakak?”
“Kau pikir tidak ada orang melihatmu? kau tak melihat ada aku di sana? aku tahu semua yang kau lakukan. Sayangnya setelah kejadian itu aku harus langsung ke luar kota ikut lomba. Sekarang aku kembali akan menjadi saksi dan membantu Lusi.”

Apa? Aku sangat.. sangat terkejut mendengarnya. Mendadak wajah Hafiz juga berubah pucat. Aku tidak bisa diam saja. Aku ingin bertemu Lusi. Aku menyesal tidak pernah mau mendengarkan penjelasannya. Aku berlari.. lari sekencang-kencangnya. “Awww…”
“Dira.. Dira?” Suara seorang wanita memanggilku. Aku berusaha keras membuka mata. Kepalaku masih pusing. Mataku masih berkunang-kunang. Terlihat wajah bu Ni’is belum jelas. “Hehh… heh.. kamu mau ke mana? kamu baru sadar.” Aku tak peduli lagi. Aku harus bertemu Lusi. Aku terpaksa mendadak meninggalkan sekolah dan kabur menemui Lusi di rumahnya. Harus ku temukan jawabannya.

“Lalu, apakah kamu sempat melihat jam pada kejadian itu?”
“Jam? pada kejadian pertama, aku sempat melihat jam menunjukkan pukul 08.00 lalu kejadian kedua menunjukkan pukul 09.10.” Aku menceritakan pada Lusi semua kejadian ajaib yang aku alami. Kami bicara banyak.
“Lalu pukul berapa kamu melihatku di ruang ganti team basket?”
“Kalau tidak salah pertengahan jam pelajaran bu Ismi berarti sekitar pukul 8 lebih.”

“Coba kamu datang ke ruang ganti sebelum atau tepat pukul 08.00. Kamu pasti melihat apa yang dilakukan Hafiz di sana. Aku juga terlambat datang ke sana. Jadi aku hanya menukar botol minuman mas Diko dengan botol yang baru. Yang aku keluarkan cuma tisu pembersih saja yang waktu itu kamu sangka racun. Padahal aku sudah mengganti dengan minuman yang baru. Aku tidak tahu kenapa mas Diko masih saja bisa celaka.”
“Jadi, kamu sudah tahu jika Hafiz akan melakukan hal itu? setelah kamu pergi, aku yang cerita pada Hafiz dan memintanya agar Mas Diko tidak minum air dari kamu. Pasti Hafiz menukarnya lagi. Kenapa setiap aku pingsan selalu mimpi kejadian yang akan terjadi?”

“Aku tahu jadwal pertandingan itu akan dimajukan, aku tahu jika aku yang pasti menggantikan Mas Diko untuk diwawancarai, aku tahu bagaimana kamu maju membacakan puisimu dan aku tahu Hafiz akan mencelakai Mas Diko. Aku juga mengalami hal seperti yang kamu alami yang justru kamu anggap sebuah mimpi. Pintu itu nyata, Dira. Awalnya aku juga tak percaya, tapi kamu juga mengalaminya jadi aku percaya itu ada. Itu seperti sebuah wasiat di mana jika akan disampaikan pada kita tentang apa yang akan terjadi. Apa kamu tahu? saat itu kaki kita sendiri yang membawa kita menuju pintu itu.”

Sulit dipercaya. “Lalu apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku?”
“Kalau kamu masih belum percaya. Buktikan sendiri! sekarang pukul 08.50. Masih ada waktu, Dir. Lalu kamu bisa menolongku.”

3 menit lagi pukul 09.10. Hafiz? ya itu Hafiz. Aku takut dia melihatku. Aku bersembunyi saja. Di balik tembok kelas aku menguping pembicaraan mereka. Yang di depan Hafiz itu memang benar teman mas Diko, anak kelas 3. Perkalimat aku dengarkan dengan baik. Kalimatnya tak sedikit pun hilang atau bertambah. Sama dengan yang aku dengar sebelumnya. “Kak.. maukah kakak menjelaskan semua ini pada polisi? Aku sudah muak dengan Hafiz.” Mereka berdua terkejut melihat kemunculanku dari balik dinding. Apalagi Hafiz. Ia bertambah pucat melihatku. “Aku sudah mendengar semuanya.” Tambahku.
“Ya, kasihan Lusi yang jadi korban.” Kakak itu memihakku.

Sedikit demi sedikit nama Lusi mulai baik. Bahkan, sekarang ia dipercaya lagi oleh orang-orang di sekolah. Kami menunjuk Lusi jadi pemeran utama sebuah teater yang naskahnya aku tulis. Aku juga yang menyutradarainya. Mas Diko sekarang juga sudah aktif sekolah dan memimpin team basket impiannya. Sementara Hafiz menjalani proses hukuman yang harus ia terima. “Kenapa di sini gelap, Lus? padahal biasanya terang bercahaya putih?” Aku dan Lusi iseng main ke dalam ruangan itu. Ruangan misterius.
“Apa karena tidak akan ada kejadian khusus yang akan terjadi?”

“Mungkin karena kita ke sini dengan keadaan sadar dan disengaja, Dir. Kalau akan ada wasiat yang disampaikan pasti akan ada yang menarik kita ke sini.”
“May be. Any way.. kenapa Hafiz melakukan itu ya? Aku masih tidak tahu kenapa?”
“Jadi, kamu belum bisa membaca juga? Dia itu suka sama kamu. Tapi, karena Mas Diko selalu menghalanginya dekat-dekat sama kamu, jadinya dia benci sama Mas Diko. Apalagi dia selalu dikalahkan oleh Mas Diko dalam berbagai hal.”
“Oh… begitu? Eh, kenapa gaya bicaramu berubah begitu? Lusi aku rindu cerewetmu. Hehehehe….”
“Sialan… sudah ayo keluar dari sini. Aku merasa kita seperti anak kecil main petak umpet saja. Di sini pengap.”

Selesai

Cerpen Karangan: Khusnul Imamah
Blog: chusnulimamah.blogspot.co.id
Facebook: Khusnul Imamah

Cerpen Wasiat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Stupid R

Oleh:
Tap… tap… tap… Sreekk… Seseorang mengibaskan kain yang menutupi pandangan dan jalannya. “Hehh…!!”, seseorang tersebut menghela nafas melihat keadaan di sekitarnya. Di sebuah rumah kecil yang terletak di ujung

Dari Mata Yang Berbeda

Oleh:
Malam yang indah dengan ditemani siraman cahaya rembulan. Angin malam berhembus pelan menembus tubuhku. Tanpa berpikir dua kali, aku keluar dari persembunyian. Sejenak kuedarkan pandangan untuk menentukan jalan mana

Tak Bisakah Kita Hanya Bersahabat?

Oleh:
Kenalkan namaku Bintang, saat ini tengah menempuh kuliah semester 4 di salah satu Universitas Swasta. Aku tidak sendirian, ada sahabat baik yang selalu setia menemaniku. Namanya Dion, pria bertubuh

Rasa Itu Ada

Oleh:
Aku adalah wanita yang terlahir dengan nama Dini. Aku, Ardi dan Nadya dipertemukan dalam acara MOS SMP kami waktu itu. Tak ada hari yang kami lalui sedikitpun tanpa kebersamaan.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *