Weirdest Couple

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 5 April 2016

Hari itu hari minggu, Sandy masih terduduk di depan monitor dengan mata merahnya yang berkantung. Sambil mengenakan headphone dan kedua kakinya naik di atas kursi tempat ia duduk.

“Woi!!!” Sentak suara seorang cewek dari belakang mengagetkannya.
“Woi! Denger gak sih, eh kampret.” Sentak Riana sambil melepas paksa headphone Sandy.
“Haduh.. Apaan sih lo! Main masuk kamar orang, gangguin orang nge-game aja lo! Ada apa malem-malem begini?” Tanya Sandy sambil lanjut memainkan game fps online.
“Malam?! Malam dari zimbabwe? Lihat nih!” ‘srekkk..’ suara gorden di kamar tersebut dibuka lebar.
“Aahh!!” Sandy terlompat dari tempat duduknya sambil kedua lengannya menutupi wajahnya karena matanya tak kuat menahan silau matahari pagi.
“Ya ampun.. Lagian Ibumu sendiri yang nyuruh aku ke sini, ‘Si Sandy di atas. Naik aja, sekalian tolong bangunin dia, Sandy pasti masih molor..’ gitu kata Mamamu.. ” Riana duduk di kasur yang berada di belakang Sandy.

“Hah? Sejak kapan pagi begini?”
“Sejak negara api menyerang!”
Sandy mengucek matanya yang lelah, lalu kembali ke tempat duduknya.
“Kampret malah dilanjutin nih anak!”
“Nanggung bro.. Game online gak bisa di-pause.”
“B..Bro?” Riana pagi itu mengenakan celana olah raga dan baju fans tim basket NBA ‘golden state warrior’. Sejak kecil Riana selalu bermain bersama Sandy dan kakaknya, itu salah satu alasan mereka begitu dekat.

Beberapa menit kemudian.
“Nah, sekarang ada apa?” Sandy memutar kursinya menghadap Riana.
“Pura-pura lupa nih bocah, kemarin lo janji mau bantuin gue ngerjain pr matematika gue. Tolongin dong buntu pikiran gue ngelihat simbol menengkung kayak ‘s’ gitu.” Ujar Riana sambil menyodorkan buku tebalnya bersampul lambang integral dan variabel eksponen kelas 12. “Tapi kalau lo cape ya gak apa-apa nanti sore aja gue kemari lagi, lo tidur aja. Kasihan komputer lu nyala mulu dari semalem.” Ujar Riana mengungkapkan empatinya yang khas.
“Haha simbol melengkung? Maksud lo integral? Iya deh, sini gue kerjain sekarang aja, entar sore gue udah ada rencana.”

“Rencana apa?”
“Tidur.”
“Duh gusti.” Riana menepuk jidat.
“Btw baju siapa lagi tuh? Bokap lo apa Kakak lo?” Ujar Sandy sambil mengambil buku catatan Riana bersampul linkin park tersebut.
“Enak aja, gue beli tahu.”
“Iya iya, oke deh gue kerjain, tapi ada syaratnya.” lanjut Sandy.
“Apa?”
“Lanjutin game gue, lagi war, sayang kalau ditinggal.”

“Game? Eh.. Gue cewek! Mana paham begituan.”
“Halah lo apanya yang cewek.” Sahut Sandy dengan nada humor.
“Ngeselin nih anak.”
“Tolong dong.. Kan lo sendiri yang pernah bilang ke gue buat mendukung prinsip lo tentang kesetaraan gender.”
“Iya iya.. Bawel. Gimana nih maininnya.” Riana duduk di tempat duduk yang berjam jam lalu diduduki Sandy.

Pukul 7.30. Sandy masih membolak-balik buku tebal penuh angka tersebut. Tangannya yang lincah mencengkeram pulpen sambil menuliskan deretan huruf dan angka rumit dengan kecepatan luar biasa. Seorang remaja penyendiri dengan kecerdasan tinggi yang suka menyia-nyiakan hidupnya di dalam kamarnya, Sandy Ardhiansyah. Sementara itu di pojok kamar tepatnya depan monitor, seorang gadis tomboi berambut pendek sedang heboh dengan mainan barunya, Riana Andreany. “Whoo! Seru gila nih game! Apa tadi namanya San?” jari-jarinya yang kecil lincah bergerak begantian di atas tombol keyboar a,s,w,d dan spasi. Sementara tangan kananya bergerak kasar dengan suara mouse komputer yang terbanting-banting. Riana dan Sandy adalah dua remaja yang telah dekat sejak kecil, hubungan unik mereka tak bisa ditafsirkan begitu saja oleh orang awam, mereka adalah satu paket yang saling melengkapi.

“Woi woi! Heboh banget lo. Santai dong Mbak, mouse gue bisa ancur kalau gitu. Hm.. Point blank nama gamenya.” Selagi bicara tangannya tetap lincah menggambar grafik ‘integral tentu’ di atas kertas. Tak lama kemudian Sandy menutup buku tebal dan buku catatan Riana. ‘Whoah..’ Sandy menguap untuk kesekian kalinya, rasa kantuknya tak tertahankan. “Ri! Udah selesai mainnya?” sentak Sandy sambil menarik headphone Riana yang sedang asyik main.
“Bentar tinggal dua menit kelar.”
“Tadi aja ogah-ogahan, sekarang ketagihan.. Dasar cewek labil.”

“Hah? Lo barusan ngomong sesuatu?” sahut Riana sambil mengangkat headphonenya, sembari tangan kanannya masih aktif dengan mouse. “Ah.. Oh.. Enggak, anu itu loh tegangan listriknya kurang stabil.” Ujar Sandy nge-les.
Beberapa menit kemudian, “Wih makasih ya San.. Lo emang ganteng, akhirnya selesai juga pr sialan ini.” Ujar Riana ngawur. “Gila! Posisi gue paling atas, padahal yang main level bintang tiga-an. Ri lo jenius!” Sandy mengecek game yang habis dimainkan Riana.
“Sesuatu yang membutuhkan reflek tinggi gue bakat dari lahir.” Setelah mengecek garapan Sandy, Riana mengemasi barangnya. “Ya ampun San.. Kamarlu kayak dalemnya kapal titanik begini.” Ujar Riana sambil memandangi kamar Sandy yang penuh buku, pakaian, dan alat-alat elektronik yang tersebar di penjuru ruangan.

“Baru komen sekarang, ke mana aja lo tadi? Lagian kamar lo juga gak jauh beda pasti.”
“Sok tahu lo. Kamar cewek tuh rapi gak kayak kandang ayam habis dimasukkin maling begini.”
“Hahaha.. Kamar cewek macam apa yang di dalemnya ada sepeda, sepatu, bola basket, sama poster linkin park di mana-mana.”
“Eh lo pernah ngintip kamar gue ya? Naj*s lo!”
“Mbak ngaca dong, daripada main trobos kamar orang, emang situ polisi 86 yang lagi razia?” Sandy menutup kembali gorden yang sebelumnya dibuka Riana.
“Eeh! Jangan dipindahin!” Sentak Sandy melihat Riana berusaha membereskan buku-buku yang berceceran di lantai.

“Emang kenapa?”
“Mungkin menurut lo kamar gue berantakan, amburadul gak karuan. Tapi semua yang ada di dalam sini itu sistematis dan udah gue tata. ‘Keberantakan’ yang lo maksud itu hanya sekedar subjektifitas terhadap kompleksnya struktur penataan dalam kamar gue ini. Contohnya tumpukan pakaian di pojok belakang pintu, itu emang sengaja gue taruh situ biar gampang milahinya kalau mau nyuci, buku yang lo anggap berceceran di atas kasur dan lantai, itu emang gue tata gitu berdasarkan kategorinya, saking banyaknya, lemari buku gue gak muat.”

“Iya.. Iya bawel lo, di kelas aja pendiem, di sini kayak emak-emak beli sayur aja. Setidaknya kamar lo tata yang bener biar lo bisa tidur tanpa menendang-nendang barang, dan nanti jendela kamar lo buka biar sirkulasi udara bisa berganti, gak sehat buat paru-parumu tahu.” Sahut Riana sambil bersiap pulang ke rumahnya yang hanya berjarak satu blok di perumahan mereka tinggal.

“Iya Mama.”
“Hah.. Ma..Mama?” kulit wajah Riana yang putih seolah berganti pigmen.
“Lo bawel kayak Mama gue.”
“O.. Oh.., terserah lo deh! Inget rapiin! Gue pulang dulu. Makasih kerja samanya.” Riana ke luar kamar sambil menutup pintu keras-keras.

Selang dua menit kemudian, ‘Jglek..’ suara pintu dibuka. “San.. Sorry pulpen gue ketinggalan.. Eh?” Saat Riana kembali masuk Sandy telah tertidur pulas di atas kasur yang bercampur dengan tumpukan buku tersebut, sementara komputernya masih menyala. “Ampun deh.” setelah mengambil pulpenya, Riana mematikan komputer Sandy dan memakaikan selimut ke tubuh remaja yang tergeletak di kasur tersebut. Seminggu kemudian.

“San!” panggil Reza, kakak Riana.
“Eh.. Za, ada apa? Riana mana?”
“Nah itu dia, lo harus tanggung jawab.”
“Hah?!!”
“Dari beberapa hari yang lalu sampai tadi pagi Riana jarang ke luar kamar. Dia kecanduan game online. Pasti gara-gara lo nih.”
“Eh.. He-eh.”
“Ikut gue.” Reza menyeret Sandy.
“Ahh.. Sory zaa!! Gue nggak salah, dia sendiri yang bilang suka sama game itu… Aah.” Ujar Sandy.

Cerpen Karangan: Aliffiandika
Blog: Aliffiandika.blogspot.com
Facebook: Aliffiandika Nuzul
Siswa kelas 12 SMA di kota Malang.

Cerpen Weirdest Couple merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cuma Dia

Oleh:
“SELURUH ANGGOTA PADUAN SUARA DIHARAP BERKUMPUL DI LAPANGAN SEKARANG” begitu kata suara speaker yang terdengar nyaring di setiap pojok tiang penampang gedung sekolahan yang tak terlalu besar ini. Dengan

Keheningan Putih

Oleh:
Pagi itu, semuanya putih berbalut keheningan pagi. Aku seakan tak berdaya dibuatnya. Hembusan angin pagi tak bisa kurasakan karena tak tertembus oleh jendela yang tertutup. Tepat di sebelah tempat

Tunggu Aku di Batas Senja

Oleh:
Pagi itu Ara berlari menuju kolam ikan di samping rumahnya. Seperti yang biasa ia lakukan ketika pagi bertemunya, ia menemui ikan mas yang ada di kolam ikan samping rumahnya.

My Best Friend 4ever

Oleh:
Hai namaku Flowy, umurku 11 tahun. Aku tinggal bersama ayah dan ibuku, aku bersekolah di sd muhamadiyah 9 malang. Di sekolah aku memiliki sahabat yang bernama Auli, dan Sheryl.

Partner

Oleh:
“Kamu dengan siapa?” “Entahlah, mungkin aku menulis dengan dinding.” “Apa yang akan kau tulis?” “Entahlah, tidak ada yang patut kutulis dalam situasi yang entah seperti ini.” “Selanjutnya, kalau kamu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *