Wening Memang Bukan Suci

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Patah Hati, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 8 February 2016

Biarlah malam ini Aku menyendiri, nampaknya Dewi Malam tak lagi mau menemaniku seperti hari-hari kemarin. Atau mungkin Sang Rembulan itu juga sedang dirundung kegalauan seperti yang ku rasakan saat ini, hingga dia bersembunyi di peraduannya. Angin malam yang biasanya menyapa, kini senyap, apakah angin ini juga malu melihat kesedihanku. Hanya suara jangkrik mengerik bersahut-sahutan, karena memang dari kemarin mereka tak memedulikanku. Sedangkan aku, aku hanya tengkurap memeluk guling di tempat tidurku dan beberapa kali melihat hp, ragu-ragu apakah jadi menelepon Wening atau tidak. Atau mungkin BBM atau SMS saja, tapi khawatir juga tak dibacanya.

Wening Wulandari, sahabatku sejak kecil. Kami sekolah selalu bersama. Ketika SD, SMP, SMA kami selalu satu sekolah. Saat itu kami selalu berjalan bersama, bercanda bersama melewati pematang persawahan, ketika berangkat ke SD di kampung kami. Ketika SMP kami naik bus umum ke sekolah juga selalu bersama, bahkan kami tetap di kelas yang sama. Ketika SMA kami juga satu sekolah. Kami berangkat bersama, Wening selalu ku bonceng naik motor ke sekolah. Ibarat susah, senang, gembira, bahagia, kami selalu bersama.

Ketika SMA kami bersahabat dengan Suci, dia berasal dari Kampung Padri, sebuah kampung kecil di seberang kampung kami. Sebagai laki-laki sendiri kadang aku nggak begitu konek. Sehingga mereka sama-sama cewek ya obrolan mereka kadang hingga membuatku BT sendiri. Sehingga aku dan Wening lebih banyak ngobrol kalau di rumah saja, karena kebetulan rumah kami boleh dikata bersebelahan, hanya terpisah oleh sepetak persawahan. Tapi kalau di sekolah Wening sudah terlalu asyik dengan Suci, entah apa yang mereka obrolin, aku mending bermain dengan teman-teman yang lain.

Suci memang sangat cantik, aku saja terkagum ketika melihatnya pertama kali. Apalagi dia itu anaknya sederhana, pendiam, dan pintar. Wening pintar juga sih, tapi dia itu tomboi, bawel, dan suka marah-marah terus. Terkadang kalau ngobrol di rumah kami juga sering membahas Suci, di sela-sela membahas bapak-ibu guru atau teman-teman lainnya. Karena alasan biaya, Wening nggak kuliah. Sedangkan aku dan Suci kuliah di kampus yang sama. Hari berganti hari, minggu berganti bulan, kini aku dan Suci lebih dekat, ketimbang dengan Wening. Bertemu Wening paling dua minggu sekali, kalau libur kuliah, itu pun kalau Wening tak masuk kerja. Karena dia kerja di sebuah pabrik mie instan, yang kerjanya kadang sore hingga malam.

Lama-kelamaan hatiku mulai terpikat dengan keanggunan Suci, keramahan, dan baik hatinya itu susah ku lupakan. Dia sering membantu menyelesaikan tugas kuliahku. Tetapi ketika kami ngobrol, dia itu aneh, yang dia bahas Wening terus. Pada suatu ketika ingin ku beranikan diri untuk mengutarakan isi hatiku, bahwa aku sangat mencintai Suci. Tapi aku bingung dan bagaimana cara menyampaikannya? Bagaimana cara ngomongnya? Dimana? Karena bingung akhirnya aku dapat ide untuk bertanya pada Wening, bagaimana mengutarakan ini semua. Dia kan cewek juga, jadi dia tahu bagaimana perasaan cewek itu. Apalagi dia kan sahabatan juga dengan Suci sudah lama. Kebetulan malam minggu ini aku pulang ke kampung dan Wening juga sedang ada di rumah. Seperti hari-hari biasanya aku main ke rumah Wening.

“Wening.. Wening.. Assalamualikum?”
“Waalaikum salam..” Wening membukakan pintu.
“Tumben ke sini, di dalam apa di sini aja? Sebentar ya tak ambilin minum..”

Aku diam saja.. saat itu aku membawa sekuntum mawar yang ku sembunyikan di belakang badanku, dengan maksud sebelum aku mengutarakan cintaku pada Suci, aku latihan dulu dengan Wening, dia kan sahabatku mungkin dia dapat menilai apakah kata-kataku sudah tepat apa belum. Ketika Wening ke luar membawa senampan minum dan beberapa kue, yang kemudian diletakkannya di meja teras depan rumahnya, dia langsung menatapku, seakan ada yang aneh tatapannya, mengisyaratkan ada yang aneh pula dalam diriku.

“Aku ingin menyampaikan, bahwa aku.. aku.. sangat mencintaimu, bolehkah aku menjadi pacarmu?” ku katakan itu agak gugup, karena terus terang kata-kata semacam itu baru pertama kali ku ucapkan pada seseorang. Semua kata-kata itu sudah ku rangkai lama, seraya ku tunjukkan sekuntum mawar yang berada di belakang badanku. Wening hanya menatapku, aku tetap juga menatapnya, melihat tatapan Wening rasa dalam hati ini ingin tertawa, tapi ku tahan, sambil sekali lagi ku dekatkan mawar ke tangannya. Mawar di tanganku nggak juga segera diambilnya, maka ku pegang tangannya, setengah ku paksa menerima bunga itu. Saat bunga itu kita pegang bersama, aku tak tahan lagi menahan tawaku, dan akhirnya aku pun pecah dalam tertawa terbahak-bahak.

“Wening.. kira-kira ketika ku sampaikan kata-kata ini ke Suci, apakah tatapannya juga seperti tatapanmu tadi?” kataku sambil masih terus tertawa.
“Wening.. kira-kira Suci menerima cintaku nggak ya?” berkali-kali aku terus bertanya kepadanya tentang perasaanku kepada Suci. Sungguh aneh.. Wening sedikit pun tak tertawa, senyum pun tidak, tak lama malah dia meneteskan air mata. Seumur hidupku bergaul dengannya baru pertama kali itu aku melihatnya menangis. Maka dulu ketika kecil, aku yang sering dibuatnya menangis dikerjainya.

“Loh.. Wening.. kok malah menangis? ada yang salah kata-kataku? Wening.. Wening?” sambil ku pegang pundaknya, barulah dia tersenyum. “Ya.. kata-katamu itu sudah pas.. sudah tepat.. aku yakin Suci pasti mau menerimanya..”
“Lalu kenapa kamu menangis?”
“Nggak apa-apa.. aku begitu bahagia, melihat kamu sebahagia ini..”
“Bahagia kok nangis?”
“Cewek itu memang kadang begitu.. dia menangis dalam bahagianya, terkadang juga tersenyum dalam dukanya..”

Sejak Wening menangis, dia tak lagi seperti biasa. Dulu ketika kami ngobrol bareng, dia yang paling cerewet, tanya sana, tanya sini, cerita ini itu, kini dia hanya diam. Bahkan sering sekali menyuruhku segera pulang, padahal malam itu baru jam setengah delapan. Padahal biasanya kami ngobrol hingga malam larut, main Play Stasion bareng, atau bakar jagung, atau cari belut di sawah. Khawatir membuat Wening tambah lama menangis, ku putuskan untuk pulang, ada tanda tanya besar dalam diri ini, ada apa sebenarnya Wening? Meskipun masih kepikiran pada Wening, malam itu juga tak ku urungkan niatku.

Sebenarnya aku ingin mengungkapkan perasaanku kepada Suci di taman kampus, tempat biasa kami diskusi masalah kuliah, tapi ku beranikan untuk mengutarakannya malam ini juga. Motor ku-starter, ku tancap gasnya menuju kampung tempat di mana Suci tinggal. Kebetulan Suci lagi berada di depan laptopnya di teras depan rumahnya. Mendengar suara motorku, dia tersenyum melihatku. Aku pun tersenyum menyapanya, meski hati ini berdetak begitu kencang, ragu-ragu apakah berani atau tidak mengutarakan ini semua.

Belum juga aku turun dari motorku, selepas ku matikan mesinnya, Suci bertanya, “Mana Wening, tumben kok sendirian?”
“Mengapa sih kamu kalau melihatku, selalu Wening terus yang kita bahas, coba sekali saja kita membahas tentang kita..”
“Maksudmu apa?” dia bertanya sambil menarik sebuah kursi dari sela-sela meja, mengisyaratkan untuk menyuruhku duduk di kursi itu.

“Jujur saja Suci, aku tak bisa membohongi diriku sendiri, kalau malam ini aku datang ke sini tak lain untuk mengatakan bahwa, aku.. aku.. mencintaimu Suci.. Maukah kamu menjadi pacarku, Suci?” Suci terbelalak matanya, kaget, bibirnya sedikit bergetar, seakan dia ingin mengucapkan sesuatu, ada rasa takut, gugup, bingung, kemudian dia menutupkan kedua tangannya di mulutnya, mengisyaratkan dia tak percaya dengan semua yang aku katakan.. berbeda jauh dengan tatapan Wening ketika aku mengutarakan kepadanya saat latihan tadi sore.

“Kamu nggak lagi stres kan? atau lagi gila? Astagfirullahaladzim..”
Lalu dia memegang kepalanya. “maksudnya.?” heranku.
“Gila memang kamu.. baru tadi siang aku ketemu Wening di pasar, sempat kami makan di warung mie ayam, Wening cerita kalau dia itu mau bilang ke kamu kalau dia itu mau mengungkapkan cintanya ke kamu. Sejak SMA dia itu mau ngomong ke kamu tapi dia malu.. maka dia curhatkan ke aku..”

“Serius kamu?” petir seakan menyambar di dadaku. Aku tak lagi membayangkan apakah cintaku diterima Suci atau tidak. Yang ada di benakku kini bagaimana caraku minta maaf kepada Wening atas kelakuanku sore tadi. Tanpa berpikir panjang, tanpa berpamitan kepada Suci, aku pun segera tancap gas pulang. Saat berada di depan rumah Wening aku ingin mampir menjelaskan semua, tapi malam sudah mulai menghantuiku.

Cerpen Karangan: Marsono Reso Diono
Facebook: Marsono Aja

Cerpen Wening Memang Bukan Suci merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Andai Waktu Bisa Kuputar

Oleh:
Dan jika waktu dapat kuputar kembali mungkin aku akan kembali ke masa lalu. Masa lalu dimana aku dan dia masih bersatu, bersama menjalin sebuah persahabatan yang kini telah terhalang

Saksi Kepergian

Oleh:
Aku dan Eka sudah berteman hampir 5 tahun. Kami bersekolah di SMP yang sama. Ini adalah hari pertama kami masuk SMP. Hari-hari di SMP kami lalui dengan kebahagiaan. Hingga

Mata Yang Sama

Oleh:
Pagi itu, aku datang dengan terburu-buru. Sampai di kelas, aku buka pintu yang tertutup rapat itu. Dan… BOOOM. Kelas masih kosong. Ah sial, ku pikir sudah terlambat, begitu kiranya

Selamat Tinggal Sahabatku

Oleh:
Tersinar sebuah cahaya yang masuk di dalam kamarku terkejut kubangun. Dengan malas aku meninggalkan kamar. Seperti biasanya ada yang harus kukerjakan. Apalagi kalau bukan ke sekolah. Suhu udara sangat

Persahabatan Di Ujung Senja

Oleh:
Kini ku habiskan waktuku tanpamu di kala senja, aku merindukanmu sahabat yang jauh di sana, aku merindukanmu, aku sungguh merindukanmu. Ku hanya bisa mencurahkan isi hatiku lewat coretan-coretan kecilku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Wening Memang Bukan Suci”

  1. arifin ashter says:

    Sangat mengharukan
    Cerpennya juga luar biasa sangat keren

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *