Who is My Friend?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 22 August 2017

Kakiku tak berhenti. Aku terus berlari di tengah hujan yang menggila. Sekelebat, aku kembali melihatmu. Iya, kamu di sana.
Aku terus mengikuti seseorang dengan tas coklat di punggungnya. Ingin rasanya, memanggilnya. Tapi benarkah itu kamu?
“Maaf, apa kau mengenalku?” Kau bertanya sambil menatapku heran. Sedangkan aku masih terpaku di depanmu. Sekali lagi kamu bertanya padaku. Tapi aku tak bisa menjawab apa-apa. Bibir biruku terlalu kelu.
“Ternyata benar. Itu kamu.” Berkali-kali hatiku bersorak gembira. Tapi, tak ada senyum gambaran kebahagiaan di bibirku. Aku masih sedikit tak percaya. Akhirnya kita bertemu kembali.
“Hei, kenapa kau memandangku seperti itu?” Kau coba menyadarkanku dengan melambai-lambaikan tanganmu di depan mata kosongku. “Apa ada yang salah padaku?” Tidak-tidak, kau tidak salah. Jalanmu sudah sangat benar. Memang betul kau harus menemuiku.
Mungkin saat itu kau lelah meladeniku yang hanya terus memandangimu. Saat bus akhirnya datang. Kau berlalu begitu saja. Meninggalkanku yang masih melihat ke arahmu. Kuikuti punggungmu. Hingga pintu bus itu tertutup. Menghilangkan bayangmu dari mataku. Tapi aku? Kini aku hanya bisa melihat punggung bus yang telah membawamu. Begitu terus, hingga ia hilang dari pelupuk mataku.

Sore itu, akhirnya aku melihatnya. Seorang anak laki-laki yang meletakkan sebuah buku di ayunan itu. Buku itu milikku. Aku sengaja meninggalkannya. Aku menjadikan itu sebagai umpan. Dulu bukuku pernah tertinggal. Dia menalinya dengan sulur-sulur tanaman merambat di bawah papan ayunan. Bukuku itu akhirnya aman dari hujan yang turun malam harinya.
Rupanya, umpan itu berhasil. Buru-buru aku masuk ke taman itu. Aku akan menangkap basah si penyelinap taman rahasiaku.

“Hei, kau! Berhenti di sana!” Aku coba mengamankan tawananku. Ia terkejut dan ketakutan saat melihatku berlari ke arahnya. Dengan segera dia berlari. Masuk ke rimbunan pepohonan.
Tak kusangka, ia lari begitu cepat. Aku kehilangan jejaknya. Bahkan setelah mencarinya di antara pohon-pohon itu, aku tetap tak menemukannya. Apa mungkin dia masuk ke dalam hutan? Ah, sudah. Biarlah. Besok aku akan menjebaknya lagi. Aku tak bisa masuk terlalu jauh. Tempat ini baru aku kenal, masih terlalu asing bagiku.

Kehilangan tawanan bukan berarti aku telah kalah. Setidaknya, aku tahu bahwa yang selama ini menggangguku bukan hantu. Dia manusia. Seorang anak laki-laki yang mungkin setahun, dua tahun di atasku. Maka kulangkahkan kakiku keluar dari pinggiran hutan itu. Kemudian segera pulang setelah kuambil bukuku yang tergeletak di tanah. Anak itu sudah melemparkannya saat melarikan diri dariku tadi.

Dua hari setelah itu, akhirnya aku mendapat apa yang aku inginkan. Aku terkekeh-kekeh dalam hati, buruanku sudah membunuh dirinya sendiri. Aku melihat sebuah kaki menyembul di balik pohon di depanku. Dengan hati-hati aku turun dari ayunan. Pelan tapi pasti, aku mendekat ke arahnya. Aku akan menyerangnya dari belakang.
Dia sangat bingung dan berulang kali menengok ke arah ayunan yang tiba-tiba saja kosong. Dia berusaha mencariku dari persembunyiannya itu. Aku hanya mengamati di belakangnya. Dia tak akan bisa lolos hari ini. Aku yakin aku akan menang. Hatiku sudah tak hentinya tertawa sedari tadi.

“Hei, pengintip! Aku melihat kakimu. Kau tak bisa lari sekarang! Kau sudah tertangkap basah.” Kataku saat dia semakin sering mengintip ke arah ayunan. Seketika dia terkejut. Dia mencoba lari lagi. Tapi, saat itu aku terlalu dekat. Begitu dia lari. Hap… Aku mendapatkan tangannya. Dia tertangkap sekarang.

Siang itu matahari sangat bersahabat. Ia bersinar cerah tanpa rasa panas yang menyengat. Angin semilir pun berulang kali menerpa kami. Ia menghasilkan suara gemersak daun-daun pohon angsana yang berjajar rapi.

“Kalau kau tidak takut padaku, lalu kenapa kamu selalu lari dariku? Kenapa kamu selalu bersembunyi?”
“Aku… Malu.” Katanya sambil menyembunyikan wajahnya di antara dua belah kakinya. Aku tertawa tak percaya. Ternyata masih ada laki-laki polos seperti dia. Tapi aku tahu, dia tidak sedang berbohong. Sedari tadi dia memeluk kaki yang ditekuknya itu. Sesekali, wajahnya akan menghilang di sana.

Kami terus berbincang di bawah pohon itu. Duduk berdua, saling tanya, dan begitulah. Aku mulai menggodanya. Sifat pemalunya itu membuatku gemas. Dia sangat pemalu. Bahkan sedari tadi dia tak mengubah posisi duduknya. Ia terus duduk sambil memeluk kakinya itu. Kaku sekali.

“Kau, apa kamu tidak lelah menekuk kakimu seperti itu terus?” Aku sudah tidak betah melihatnya seperti itu. Dia akhirnya tertawa kecil.
“Apa kamu tidak takut padaku?” Lagi-lagi pertanyaan itu keluar. Entah sudah berapa kali dia bertanya seperti itu. “Kamu, tidak takut?”
Hahaha… Tawa yang sedari tadi aku tahan, meledak. Takut pada bocah polos ini? Ya Tuhan… Tolonglah.
“Tidak. Aku tidak takut sama sekali. Kau malah membuatku kesal. Apalagi kalau kau terus duduk seperti itu.”
“Benar, kamu tidak takut?” Ah, sudahlah. Aku bosan benar mendengar pertanyaan itu lagi.
“Iya. Kenapa pula aku takut? Apa kamu itu hantu?”

Akhirnya dia melepaskan kakinya. Ia duduk bersila biasa. Lalu, obrolan kami semakin santai. Dia tak lelah menjawab setiap pertanyaan yang tak hentinya keluar dariku. Dia sudah tidak begitu tegang lagi. Dia bahkan sudah bisa menimpaliku dengan candaan-candaan yang membuat tawa-tawa renyah terdengar di taman itu. Kami mengobrol hingga senja tiba. Sejak sore itu pula, kami berteman.

Sekarang, aku tak lagi sendiri di taman itu. Aku membaca buku bersama dia. Anggar, teman baruku yang kini selalu menemaniku. Dia hanya menemaniku. Ia sama sekali tak suka dengan novel-novel yang kubawa. Setiap kali aku membaca, dia sibuk dengan pensilnya.

“Anggar, kemarikan bukuku. Aku ingin mencatat.” Aku meminta buku yang sedari tadi lengket di tangannya. “Apa sih, yang sebenarnya kamu lakukan?” Aku mengintipnya. Buru-buru dia menutupi buku itu. Tapi aku menariknya dengan cepat. Baru kuketahui dia sedang menggambarku dengan novel di tanganku. Anggar, dia menggambar dengan baik sekali. Gambarannya sangat bagus. Karena itu, ia tak lagi harus berebutan buku denganku lagi. Aku memberinya sebuah buku kosong yang sekarang sudah hampir dipenuhi goresan tangannya.

Aku dan Anggar semakin akrab. Dia benar-benar teman baru yang menyenangkan. Tak terasa, satu bulan sudah kami saling mengenal. Tanpa bosan pula, aku selalu bersemangat menemuinya di taman belakang rumahku itu setiap pulang sekolah. Kami akan menghabiskan waktu bersama hingga sore.
Sampai akhirnya, di suatu hari, aku merasa bosan. Aku ingin mengajak dia pergi ke luar. Ke tempat lain. Ke kota. Tapi dia tidak pernah setuju. Dia selalu menolakku. Begitu pula hari ini, dia menolakku lagi. Itu membuatku kecewa. Aku kesal. Siang itu aku langsung meninggalkan taman itu ketika Anggar mengatakan tidak mau ikut denganku. Aku tak ingin bersamanya hari ini.

Dengan sepeda putih, aku menuruni bukit. Aku akan menuju kota. Mencari suasana baru yang jauh dari hal-hal yang bisa mengingatkanku pada Anggar. Bukit itu terlalu kecil. Setiap sudutnya dipenuhi dengan segala hal yang pernah aku dan Anggar lakukan. Karena itu, kota adalah tempat yang pas.

Udara di taman kota ini tak kalah sejuk dari taman di belakang rumahku. Di sini ramai. Aku bisa bermain dengan burung-burung merpati yang berebut biji-bijian yang kusebar. Ada juga air mancur yang menari-nari indah. Bisa pula menonton aksi beberapa seniman jalan yang mengesankan. Pun bisa menikmati es krim di bawah pohon-pohon perdu sambil melihat anak-anak kecil bermain bola. Ini menyenangkan. Aku tak mengerti kenapa Anggar tak mau kuajak kemari.
Aku benar-benar menikmati hariku di kota. Setelah dari taman aku ke toko buku. Menambah koleksi novelku lalu menonton film di bioskop. Sampai menjelang malam aku baru pulang.

Aku mengayuh sepedaku sendirian. Kota masih saja ramai padahal awan-awan hitam menggumpal di mana-mana. Aku berusaha mempercepat kayuhan sepedaku. Aku tak ingin kehujanan di jalan. Kuharap hujan baru akan turun setelah aku tiba di rumah. Tapi sayang, rintik-rintik hujan telah sampai di bumi. Ia sempat beberapa kali mengenai kulitku. Ah, kenapa sudah gerimis? Aku berusaha semakin keras mengayuh pedal. Tapi, hujan terus mengejarku. Rintiknya semakin kerap. Gerimis itu perlahan menjadi hujan. Maka kuputuskan untuk menepi. Berteduh di sebuah halte yang tampak sepi.

Dingin sekali. Aku lupa lagi tidak membawa jas hujan. Hah, sepertinya aku harus menunggu hujan dulu. Tak apalah, kapan lagi bisa menikmati kota di tengah hujan di malam hari? Biasanya aku hanya bisa melihat air mengucur dari jendela kamarku.

Tapi setelah semua berlalu beberapa saat. Akhirnya aku baru menyadari. Aku kesepian. Kalau saja ada Anggar, mungkin dia bisa membuatku tertawa. Dia selalu punya guyonan segar. Aku semakin menyesal. Tak seharusnya aku marah padanya.
Aku terkejut. Tiba-tiba sebuah jaket menyelimutiku. Aku menengok. Ada seseorang berdiri di sampingku. Aku tak yakin. Apa itu Anggar? Hah, bahkan sekarang aku berhalusinasi? Mana mungkin Anggar di sini? Dia mana tahu tempat ini? Dia hanya tahu taman itu. Mungkin aku benar-benar menyesali perbuatanku padanya tadi.

“Jangan takut! Aku Anggar.” Dia membuatku kaget. Laki-laki itu memang benar Anggar. Ia kemudian duduk di sampingku. “Kau kedinginan?” Tanyanya padaku.
“Iya. Tapi, sekarang tidak.” Aku melihat Anggar tersenyum mendengar jawabanku. “Mungkin kamu yang kedinginan sekarang.” Dia melepas jaketnya dan memakaikannya padaku. Karena itu juga, aku jadi teringat sesuatu. Aku harus meminta maaf pada Anggar.

Malam itu, di tengah rinai hujan, kami pulang bersama. Aku dan Anggar. Dia memayungiku dengan jaket kulit hitamnya. Sedangkan aku menuntun sepeda putihku. Kami ngobrol bersama ditemani rintik hujan dan temaram lampu jalan.
Anggar baru saja mengatakan sesuatu malam itu. Kata-kata yang selamanya akan kuingat. Kami berjanji, malam itu adalah kali terakhir kami meninggalkan satu sama lain. Untuk seterusnya, kami harus selalu bersama.
“Aku tak pernah marah padamu. Jadi kamu, jangan marah lagi sama aku. Aku ingin kamu terus menjadi temanku.” Anggar berbicara serius sekali. Dia tidak terdengar sedang bercanda. “Jangan meninggalkan aku lagi seperti ini.”

Tapi, hanya beberapa hari saja, janji itu hilang. Anggar melanggar ucapannya sendiri. Di hari kesebelas kami bersama, dia menghilang secara tiba-tiba. Aku tak menemukannya di manapun. Di taman, bahkan di seluruh tempat yang pernah kami kunjungi. Aku hanya menemukan pakaian-pakaian yang pernah aku berikan kepadanya.

Tapi kenapa dia pergi? Kemarin kami baru saja bersenang-senang bersama. Dia memakai baju pemberianku kemudian kami pergi ke kota. Dia terlihat senang di sana. Bahkan, semua orang sepertinya sampai iri pada kami. Ah, apa karena dia tak suka melihat tatapan sinis orang-orang kemarin? Apa dia sakit hati? Tak seharusnya aku mengajaknya ke kota lagi kemarin. Aku tahu dia tak suka kota tapi aku tetap memaksanya. Aku tak pernah melihatnya lagi setelah itu.

Dua minggu setelah kepergian Anggar, aku menemukannya. Aku menemukan Anggar.
“Kinan, ayo ikut Mama! Mama lihat kamu murung saja beberapa hari ini.” Mama ingin mengajakku pergi ke taman kota setelah menjenguk saudara temannya di rumah sakit.

Pagi itu tak berapa lama menumpangi taksi, kami sampai di sebuah rumah sakit. Kami menaiki lift, lalu berjalan menyusuri koridor menuju kamar pasien yang kami tuju. Aku berjalan biasa. Hanya tersenyum sesekali saat beberapa orang yang bersimpangan dengan kami menyapa.

Lalu tibalah kami di kamar itu. Seorang wanita paruh baya menyambut kami. Ia memeluk Mama begitu tahu Mama yang datang. Ia kemudian menyilahkan kami duduk di sebuah sofa.
“Bagaimana kondisi Anggar sekarang?” Mama bertanya. Aku sedikit terkejut. Apa Mama bilang Anggar tadi? Aku semakin yakin sebab teman Mama juga menyebut nama Anggar saat menjawab pertanyaan Mama.
Aku bergetar tak karuan. Nama itu sedang aku cari-cari, dan sekarang aku seolah mendapat jawabannya. Nama, aku butuh nama. Ternyata benar, di ranjang pasien di depanku tercantum nama Anggara. Hanya itu saja. Nama Anggar yang sebenarnya adalah Anggara juga. Anggara yang mana yang dimaksud? Anggara ini mengalami kecelakaan sekitar dua bulan lalu. Dia sudah koma dan hanya terbujur di atas ranjangnya selama itu. Jadi, dia tidak mungkin Anggarku.
Tante Mala bercerita panjang. Tentang bagaimana keponakannya itu bisa mengalami kecelakaan. Cerita tragis itu terasa kian menyayat hati dengan suara alat-alat kesehatan yang menopang sementara hidup Anggara.

“Kinan, bisa minta tolong ambilkan ponsel Tante Mala di meja dekat ranjang Anggar.” Mama memintaku sebab Tante Mala lagi-lagi menangis. Tante Mala sangat berduka. Ia merasa bersalah sebab Anggar adalah anak kakaknya yang sudah meninggal. Tante Mala merasa tak merawat keponakannya itu dengan baik.
Aku mendekat ke meja itu. Mengambil hp, lalu kembali. Saat berbalik. Aku menghadap ke arah ranjang. Sekelebat, aku melihat wajah Anggara. Wajah Anggar. Mereka mirip sekali. Ah, mirip?
Aku memilih kembali menengok ke ranjang itu. Pandanganku langsung menuju wajah. Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Dia benar Anggar. Dia Anggarku…

Aku tak paham ini. Apa yang terjadi sebenarnya? Kalau dia selama ini koma. Lalu, siapa yang setiap hari bersamaku? Siapa teman lelakiku itu? Bukankah kami juga bertemu sekitar dua bulan lalu? Tepat dengan waktu kecekaaan Anggar.
Apa yang terjadi saat ini membuatku semakin takut. Aku melihat luka yang sama di tangan Anggar yang sedang koma dengan milik Anggarku. Siapa Anggar yang menjadi temanku itu? Air mataku meleleh. Seluruh badanku rasanya dingin dan kaku. Aku tak percaya. Aku sedih. Aku ketakutan.

Aku duduk ditemani Mama dan Tante Mala. Seorang wanita muda mendatangi kami. Penampilannya sangat trendy. Ia menaruh tasnya di meja, di depanku dan yang lainnya. Dia tersenyum padaku.
“Pagi Kinan…” Dia tahu namaku juga? Aku hanya membalas sapaannya sambil tersenyum singkat.
“Sekarang, silahkan mulai ceritamu.” Pintanya.
Aku sedikit ragu. Tapi Mama meyakinkanku. Dia mengangguk sewaktu aku menatapnya usai perempuan cantik itu bertanya padaku.
Pagi itu, diiringi kepak sayap merpati yang berebutan biji-bjian, gemersak daun, dan gemericik air mancur, kuputar kembali kisah lamaku.
“Aku melihat kecelakaan di perempatan itu.”

Di hari yang terik itu, aku sedang bersepeda. Mengayuh pedalku dengan riang. Di keranjangku sudah ada bunga anggrek yang telah lama kunantikan. Aku ingin segera sampai di rumah. Meletakkan bunga kesukaanku itu di taman rumah baruku.
Tapi keriangan itu tak bertahan lama. Tepat di perempatan jalan menuju rumahku. Orang-orang berkerumun ramai. Membuat jalan macet dan memaksaku berhenti. Pecahan kaca tercecer di mana-mana. Termasuk di bawah kakiku. Tak jauh dari tempatku berdiri, kulihat sebuah motor rusak parah. Aku juga mendapati sebuah tangan berlumuran darah di sela-sela kaki orang-orang yang mengerumuninya. Ya Tuhan, rupanya baru terjadi kecelakaan.

Suara ambulans meraung-raung di depan sana. Orang bilang, korban-korbannya terluka parah. Deru mesin derek pun terdengar sibuk. Sebuah mobil derek saat ini sedang berusaha membebaskan sedan hitam yang ringsek menabrak pagar. Mobil itu telah menabrak pengendara motor yang kulihat tangannya tadi. Sedan yang dari awal sudah melaju kencang itu kemudian tak terkendali dan berakhir di trotoar itu.

Viona, perempuan indigo itu membenarkan bahwa yang selama ini kutemui adalah Anggar. Anggar yang sekarang masih koma. Rohnya mengikutiku pulang saat aku melihat kecelakaannya siang itu. Iya, selama ini aku berteman dengan roh Anggar.
Apa yang telah dikatakan Viona mengingatkanku pada keanehan-keanehan yang pernah kulihat pada Anggar. Selama satu bulan pertama kami bertemu, Anggar tidak pernah ganti baju. Baju yang dipakainya selalu sama hingga akhirnya aku memberinya beberapa baju bekas milik kakakku. Juga ketika kami ke kota waktu itu. Semua orang mungkin menertawaiku sebab mereka hanya melihatku sedang berbicara sendiri. Viona bilang, tidak semua orang bisa melihat roh Anggar. Kurasa, karena itu juga dia berkali-kali menolak ajakanku untuk pergi ke kota. Dia khawatir semua orang akan mengataiku gila. Dia juga selalu bertanya padaku, apa aku tidak takut padanya. Dia mungkin menganggap dirinya seorang hantu. Pun dengan pertemuan tiba-tiba kami di taman itu. Hanya aku yang tahu tempat itu sebelumnya. Aku juga tak pernah tahu di mana rumah Anggar. Di bukit itu, hanya ada lima rumah termasuk rumahku, yang semua penghuninya aku kenali. Dia juga memandangi perempatan tempatnya kecelakaan ketika kami melewatinya sepulang dari kota waktu itu. Satu hal lagi. Sewaktu aku pulang di hari kecelakaan itu terjadi, aku rasa sepedaku juga jadi lebih berat. Seperti sedang membonceng seseorang. Ini semua membuatku yakin dengan apa yang diucapkan Viona.

“Kita harus banyak berdoa agar Anggar bisa benar-benar kembali.” Pesan terakhir Viona sebelum pergi.

Pada akhirnya, Tuhan mengabulkan doa kami. Tiga bulan setelah kecelakaan tragis yang dialaminya, Anggar siuman. Dia sadar. Ia mengenali semuanya. Tak ada yang berubah pada ingatannya. Kecuali, tentangku. Dia tidak mengenaliku sama sekali.

Hari ini hujan kembali turun. Aku segera berlari membawa sepedaku ke bawah sebuah pohon besar. Tak ada tempat berteduh lain di dekat sini. Aku menyesal sekali telah mengabaikan saran Mama tadi. Sejak pagi dia mengingatkanku untuk membawa jas hujan. Tapi aku melupakannya. Rintik-rintik hujan juga masih mampu menerobos daun-daun pohon trembesi ini. Ah, aku tak bisa berlama-lama di sini.

Hujan semakin deras. Beberapa orang juga berlindung di bawah pohon ini. Seseorang berpayung jaket hitam juga terlihat mendekat.
“Kau tidak bawa payung?”
Pertanyaannya mencuri perhatianku. Dia tersenyum ketika aku mengarahkan pandangan padanya. Orang itu? Dia membuatku mematung. Tak begitu lama, ia mendekat. Dia memayungiku juga dengan jaket kulit hitamnya.
“Hujannya deras, ya…” Orang itu berkata ramah. Sekali lagi aku tersenyum. Keramahannya tak berubah. Juga dengan luka di tangannya yang terlihat jelas di depanku saat ini. Orang itu adalah Anggar.
“Kamu?” Dia sepertinya mengenaliku. “Kamu yang kemarin di halte, kan?” Aku mengangguk. Kupikir dia telah mengingatku. “Kemarin, aku lihat kamu juga tidak bawa payung kemarin. Kamu hujan-hujanan juga, kan waktu itu? Kamu suka hujan-hujanan?”
Aku menggeleng.
“Aku lupa membawa payung.” Aku lihat dia mengangguk-angguk mengerti.

Serbuan air dari langit terdengar kian keras. Tempias hujan makin terasa mengenai wajahku.
“Hujannya makin deras, nih. Yakin, mau tetep di sini?” Benar katanya. Sepertinya pohon ini tidak secara total bisa melindungiku. “Aku pegel juga, sih.” Dia tertawa kecil. Anggar tak sepemalu dulu tapi candaannya masih sama. Dia paling jago buat guyonan.

Dia mengajakku pergi. Berjalan berdua melintasi hujan. Mencari tempat berteduh lain yang lebih aman. Di sepanjang jalan itulah aku ngobrol dengan Anggar lagi. Di bawah naungan jaket kulit hitamnya.
“Eh, aku ingat. Kayaknya kita pernah ketemu sebelum di halte.” Aku berharap besar dia teringat saat kami berjalan berdua di malam itu. Kejadian sore ini hampir mirip dengan saat itu.
“Kamu anak teman bibi Mala, kan? Kita pernah bertemu di rumah sakit.” Jawabannya membuatku kecewa. Tapi setidaknya dia masih ingat saat-saat itu.
“Iya, kan?” Dia coba memastikan. Sebab aku masih diam. Sekali lagi aku hanya menjawabnya dengan anggukan dan senyuman.

Anggar kemudian bercerita banyak hal. Tentang tante Mala. Tentang keluarganya. Juga tentang larangan untuknya naik motor lagi. Jadi, begitu alasannya kenapa aku sering melihatnya di halte. Beberapa kali kami sempat berjumpa di sana.
Anggar masih terus bercerita tanpa satu kalipun menyebut nama Kinan dan pertemuan di taman rahasia. Dia berkisah dengan semangat. Cerita dan tawanya tak berhenti. Dia benar-benar tak ingat padaku. Tapi biarlah. Sore ini, di bawah guyuran hujan dan jaket hitamnya, sekali lagi aku bisa melihat senyum itu. Senyuman yang telah lama hilang dari hidupku.

“Anggar, tidak apa kamu tidak ingat pertemanan kita. Aku akan membuat ingatan baru untuk kau ingat selamanya.”

Cerpen Karangan: Indah Hilmiyati
Facebook: Indah Hilmiyati

Cerpen Who is My Friend? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rantai Persahabatan

Oleh:
Waktu berlalu sangat cepat. Tinggal beberapa bulan lagi, aku akan lulus dari sekolahku ini. Oh ya, perkenalkan namaku Shania Junianatha. Teman-temanku memanggilku Shania. Aku duduk di kelas 9C SMP

Kalung Pemberian Resa

Oleh:
Zahra sudah lama bersahabat dengan Resa, tapi sayangnya Resa harus pindah ke Perancis, karena Papa dan saudara kembarnya tinggal disana. Resa memberikan sebuah kalung kepada Zahra sebagai kenang-kenangan. 5

Bagaikan Pelangi

Oleh:
Tulisan ‘Lovely Camp’ seakan menyambut kedatanganku pagi ini. Aku mengikuti ini karena bosan di rumah. Aku akan camping di sini selama 1 minggu. Kau tahu? Ayah dan Ibuku bekerja

Sahabat Baruku

Oleh:
Hai, namaku Mutia. Aku mempunyai 3 orang sahabat, mereka bernama, Alia, Rahma, dan Nafi’ah. Sekarang aku sekelas dengan Rahma. Dia sahabatku yang baik, tetapi kadang juga mengesalkan. Hehehe… Suatu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *