Will Be Revealed (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 17 June 2017

Bayu dan aku akhirnya pergi meninggalkan Silvi dan geng punk tersebut. Sebenarnya aku masih ingin menemani silvi di sana, tapi apa dayaku.. silvi sendiri yang melarangku untuk mengikuti gayanya. Bayu mengantarkanku pulang ke rumah. Kami sama-sama diam di depan rumahku. Aku yakin dia pasti marah soal kebohonganku tadi.

“kamu kenapa lakui ini sih, nit. Untung aja kamu nggak diapa-apai sama geng itu. Aku nggak tahu apa jadinya kamu di sana kalau aku nggak ngikuti kamu tadi. Kamu bukan ke rumah salsa kan? Tapi justru cari silvi di sana?!” bentaknya. Dia jadi seperti papa.
“maafi aku, Bayu. Aku lakui itu supaya silvi tahu aku sayang sama dia, aku nggak mau lihat dia sendirian terjerumus kelubang kehancuran, bay. Maafi aku karena aku bohong sama kamu” ucapku terbatah batah menahan isak tangis. Bayu menghela nafas tampak lega. Mungkin dia tidak tahan melihat ekspresiku saat ini.
“uda.. uda.. jangan nangis” Bayu mengusap-usap rambutku. “sekarang kamu masuk gi. Ganti baju, makan siang, minum air putih, istirahat dan satu lagi..” bayu berhenti sejenak, aku menatapnya menunggu kata selanjutnya “jangan lupa tersenyum untukku, gadis hebat!” ujung telunjuk Bayu mendarat di hidungku. Astaga.. dia melakukan ini untukku. Habis kesambet apa Bayu? Dia jadi romantis seperti ini. Aku langsung tersenyum manis.
“thank you!” Bayu kembali mengacak-acak rambutku dan pergi meninggalkan rumahku. Aku malihatnya sampai Bayu menghilang ditelan kejauhan.

Esok harinya…
Silvi masih belum kelihatan di sekolahan. Kecemasan itu mulai hadir di benakku. aku takut silvi akan mendalami pergaulan yang tidak baik itu. Bisa-bisa ketuanya memberikan sesuatu yang lebih dari itu? Seperti.. ahh tidak! tidak! Silvi pasti akan menolaknya, dia sudah berjanji padaku.
Ketepatan sekolahku pulang lebih awal. Kesempatan ini aku manfaatkan untuk kembali ke markas. tentu dengan Bayu. Aku memohon-mohon pada Bayu untuk terakhir kalinya menginjak markas itu kembali. Hanya sekedar melihat keadaan silvi di sana.
Motor Bayu kali ini dia parkirkan di kejauhan markas agar mudah lari nantinya jika tertangkap. Tiba-tiba suara sirine mobil polisi mendekat ke arah markas tersebut. aku lari nekat masuk ke markas.

“nitaa…!!!” teriak Bayu mencoba mengejarku. Tapi aku tidak menggubrisnya. Sampai di sana, geng punk tersebut sedang menikmati hasil mereka. Apalagi kalau bukan barang haram. “silvi ayo ikut aku. Cepetan sil, polisi datang..” kataku panik.
sontak silvi dan anak lain berhamburan. Aku langsung menarik tangan Silvi dan membawa silvi keluar dari markas. Sedangkan anak geng lainnya ada yang melompat ke sela belakang markas. Sesampai ke luar dari gang markas, “kamu harus terlihat santai, sil!” bisikku. Silvi mengangguk…
“selamat siang pak!” seruku memberanikan diri.
“siang. Ada apa yaa?” sahut polisi itu
“coba bapak masuk ke gang itu. Sewaktu saya dan teman saya melintas, tercium bau menyengat di sana pak” kataku sembari menunjuk gang yang kumaksud.
“yang lain periksa di gang. Segera!” ucap polisi yang bicara denganku tadi. “terimakasih atas infonya, dek” ujarnya lagi.
“sama-sama, pak!” aku tersenyum tanpa beban. aku dan silvi pergi meninggalkan sekumpulan polisi.

Sesampainya di parkiran motor Bayu, aku tersadar akan Bayu. “sil sebaiknya kamu pergi dari sini. Aku takut kalau mereka ketangkep kamu juga ikut-ikutan. Cepetan sil!”
“tapii nit..”
“cepetan silvi!” aku mulai mengeraskan suara. Silvi mengangguk dan pergi meninggalkanku. Oh Tuhan.. ini salahku, kenapa aku tidak menggubris Bayu tadi.

Aku kembali ke area gang tersebut, tampak anak geng punk itu tertangkap oleh polisi. Setelah semua geng dan polisi itu keluar dari gang tersebut, aku mendapati Bayu tertangkap juga oleh polisi.
“pak.. stop pak.. pak ini itu temen saya pak. dia nggak bersalah pak. pak lepasi dia pak!” aku mencoba berontak ke polisi..
“tapi anak ini ada di gang itu, dia kelihatan kebingungan saat polisi datang, dek!”
“astaga pak kami itu..”
“sebaiknya anak ini kami tahan dulu dan akan kami bebaskan setelah proses pemeriksaan selesai”
“bayuu.. bayuu.. kok jadi kayak gini bay??” kataku. Bayu hanya terdiam pasrah. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Ini salahku! Ini salahku!
“pak sebentar pak. sebentar saja pak…” potongku kemudian. Polisi itu berhenti melangkah. “bayu mana kunci motor kamu?”
“di saku jaket aku, nit. Sekalian bawakan hp aku, nit”
Aku mengambil kunci dan ponsel Bayu. Setelah itu polisi langsung melanjutkan perjalan menuju mobil tahanan. “jaga diri kamu baik-baik, nitaaaaa” teriak Bayu keras. aku menangis deras dan terduduk di pinggir jalan. Aku lemas sekarang. Tangkap saja aku! Bayu tidak bersalah!! aku tidak tahu kenapa bisa jadi seperti ini. aku harus berkata apa ke orangtua Bayu? Mau tidak mau orangtuanya juga harus tahu tentang kejadian ini.

Sampai di rumah Bayu..
Aku menekan tombol bel rumah Bayu. Tak berapa lama, mama Bayu yang membukakan pintu untukku.
“nitaa?? Masuk sayang” ucap mama Bayu. aku tersenyum kaku, jantungku mulai berdetak lebih cepat. aku bingung harus memulai kata dari mana. Pasti mama Bayu bahkalan Shock berat mendengar berita ini.
“loh Bayu ke mana ya sayang. Kok nggak bareng kamu, nak?” kata Mama Bayu yang membuat aku benar-benar bingung harus berkata apa.
Aku mencoba menarik napas panjang sebelum mengatakan yang sejujurnya, “Bayu ditangkap polisi, tante…” Wajah mama Bayu berubah menjadi kepanikan. Dia terdiam dan tak berkutik sedikit pun. Aku ikhlas jika dia mau menamparku sekarang!.. bila perlu bunuh saja aku!!
“ini hanya salah paham tante. Bayu bukan orang yang seperti tante bayangkan. Bayu… bayu mungkin tertangkap karena mencari nita, tante. maafi nita tante..”
Mama Bayu mulai menatapku dengan kebencian. Tangannya langsung mendarat di pipiku. Tak apa! Ini wajar dilakukan kebanyakkan orang, jika Bayu berada di posisiku mungkin akan sama jadinya seperti ini.
“pergi kamu dari sini! Jangan pernah ganggu anak saya lagi! jangan pernah ketemu sama anak saya lagi! pergi.. pergii!!” teriaknya sembari menodorongku keluar,
“tante maafi nita, tante…” ucapku berkali-kali
“pergiiiiii…!!!” teriaknya lagi

Malam harinya…
Aku mendengar suara ketukan pintu. Itu pasti papa. Aku tidak menjawab apapun sampai dia membuka pintu kamarku yang tak terkunci. Dia duduk di sampingku. Tangisku semakin deras.. aku tidak bisa menahannya kali ini.
papa dengar bayu ditangkap polisi ya, nak?” ucap papa.
Aku bangun dari posisi tidurku, “pa.. bayu nggak bersalah pa. Kenapa harus bayu yang ditangkap pa…” ucap ku sembari memeluk papa.
“papa tahu, nit. Bayu memang nggak bersalah, tapi kalau urusan nya uda di tangan polisi, kita hanya bisa menunggu hasil pemeriksaannya sampai besok, nak”
“tapi bayu harus sekolah, pa…”
“papa tahu sayang. Ya udah sekarang kamu istirahat dulu jangan terlalu banyak menangis, nak. Itu nggak baik untuk mata dan kesehatan kamu”
Aku mengangguk. aku kembali berbaring kesamping dan menyelimuti diriku sedangkan papa memutuskan untuk keluar dari kamarku. Membiarkan aku untuk menenangkan perasanku. Terimakasih pa..

Keesokkan harinya, keadaan sekolah masih terlihat biasa-biasa saja. Mereka masih tidak mengetahui bayu tertangkap polisi. Aku terpaksa membuat surat izin bayu agar ketidakhadirannya itu tidak dicurigai oleh teman-temannya.
“maafi gue, nit” ucap silvi di hadapanku. aku tersenyum, “nggak papa. Sil.”

Sepulang sekolah aku, silvi dan ryan (teman dekat Bayu) kekantor polisi untuk melihat bayu di sana. Ternyata bayu dinyatakan positif tidak memakai barang haram dan tadi pagi bayu sudah dibebaskan. Luar biasa! Aku senang dia bebas..
“ayo nit kita ke rumah bayu!” ucap ryan
Aku tertunduk diam. “mama bayu uda larang aku untuk deket sama bayu, yan”
“nitaa… lo yang sabar ya nit” silvi mengusap-usap pundakku. Lagi-lagi aku tetap tersenyum di hadapan ryan dan silvi.
“nggak papa nit lo ikut aja ke rumah bayu. Siapa tahu mamanya bayu berubah lagi” ucap ryan menenangkanku. Silvi mengangguk setuju. “kalian yakin” ucapku tak percaya. Ryan dan silvi serentak menganggukkan kepalanya. Aku menghela napas panjang, akhirnya dengan nekat hati aku memberanikan diri untuk pergi ke rumah bayu.

Di depan rumah bayu sudah terlihat bayu dan mamanya. “bay…” ryan melambaikkan tangannya. Bayu dan mamanya spontan berdiri menunggu ryan, silvi dan aku untuk masuk ke gerbang rumah mereka. Awalnya aku takut melangkah menghampiri bayu dan mamanya, sampai akhirnya mama bayu mendekatiku dann langsung memelukku. Aku terkejut melihat respon dari mamanya. Bayu tersenyum kecil padaku. apa yang terjadi? Ulang tahunku masih lama.
“maafi tante ya sayang. Semalam tante langsung nyalai kamu gitu aja. Tante langsung tampar kamu, maafi tante ya sayang yaa.. pipi kamu masih sakit, nak. Sakit??” mama bayu meraba-raba pipiku. “iya tante, maafi nita juga ya tante. Pipi nita nggak sakit kok, tante?” ucapku sembari tersenyum menunjukkan gigi-gigiku.
“sok imut kamu mah!” bayu mencubit lenganku.
“ya udah kalian masuk dong, mau makan siang langsung nih? Kebetulan tante masak banyak loh” ucap mamanya menstabilkan suasana.
“aduh tante jadi ngerepoti nih..” seru silvi
“ahh nggak juga, nak.. ayoo .. ayoo masuk”
ryan silvi dan mama terlebih dahulu masuk kerumahnya. Sedangkan aku dan bayu saling menatap, airmataku pasti akan pecah sebentar lagi..
“jangan nangis dong…” ucap bayu sembari mendekatkan wajahnya ketelingaku, “sayang..” sambungnya pelan. Aku langsung menghapus sedikit airmataku. Aku tidak menyangka Bayu akhirnya mengucapkan kata romantis untukku. Duh! Aku rasa aku orang paling bahagia saat ini. silvi kembali dengan pergaulan yang baik dan Bayu, pacarku.. dia sangat tampan hari ini.

Selesai

Cerpen Karangan: Sanniucha Putri
Facebook: Sanniucha Putri

Cerpen Will Be Revealed (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat Cermin

Oleh:
Aku termenung di balkon sekolah. Termenung sedih dan berkhayal, bahwa akan punya sahabat. Sahabat setia yang tidak akan meninggalkan diriku sendiri. Tapi, tak ada yang ingin berteman denganku. Bahkan

I Still Love You

Oleh:
Gak terasa gue udah SMP. Di SMP gue milih untuk ekskul pencak silat. Saat itu gue baru tahu dia. Ya dia namanya Kevin. Dan gue baru tahu kalau dia

Tak Seharusnya

Oleh:
“Pacaran yuk ” Kata itu selalu terngiang di telinga gue dan bikin gue mematung untuk sepersekian detik dan membuat otak gue berpikir terlalu keras. Matahari terlalu setia untuk menampakkan

Pengorbanan Hati

Oleh:
Sinar mentari pagi menyinari pagiku. Hari ini adalah hari kedua, di tahun pelajaran baru, aku mulai masuk sekolah. Aku melangkahkan kakiku menuju kelasku, namun belum sampai ku ke kelas,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *