Yang Telah Sirna

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 15 April 2016

Di hari yang mulai senja, disertai dengan gumpalan awan yang mulai menghitam, menandakan bahwa bumi akan memuntahkan butiran-butiran air. Dan itu sama seperti diriku, yang sedari tadi duduk diam terpaku memandangi sebuah gelang berwarna cokelat, sebentar lagi akan menitikkan air mata. Ini semua berawal dari kisah 8 bulan yang lalu, saat hariku masih penuh warna, saat setiap menitnya terasa begitu cepat, saat hati ini masih terisi. Namun, semuanya kini telah sirna, telah lenyap termakan oleh waktu. Pikiranku kini langsung menjelajah ke masa lalu, ya menjelajah tentang awal dari semua ini.

“DOR!!” ucapku mengagetkan Ratna.
“Eh kamu Ra, ada apaan sih? kok pake ngagetin aku segala?” ucap Ratna sambil menunjukkan wahah cemberutnya.
“Yee, masa gitu doang cemberut, ayo senyum dong biar tambah cantik,” godaku.
“Ya nih aku senyum. Emang ada apaan sih?” tanya Ratna.
“Enggak ada apa-apa sih, aku cuma mau nemenin kamu aja, biar nggak terus sendirian kayak gini,” balasku.

“Ciyee ada yang care nih? gih duduk,” ucapnya sambil mempersilahkan aku duduk.
“Ehm makasih ya. By the way, kamu kok suka sendirian kayak gini? nggak sama Windy yang temen sebangkumu?” tanyaku yang telah duduk di samping Ratna.
“Windy? oh dia kan sering main sama Putri, jadi ya aku sering dikacangin kayak gini nih,” jawabnya sambil menunjukkan wajah kecewa.
“Ohh kasihan juga yah?” ucapku.
“Lah kamu kok nggak sama Ziya? dia kan temen sebangkumu?” balik dia bertanya.
“Nih yah, kadang-kadang dia galak sih, jadi susah diajak ngobrol santai kayak gini,” ucapku sambil berbisik ke telinga Ratna.

“Ih kamu mah gitu, kalau dia tahu gimana?” tanya Ratna.
“Ya makannya kamu jangan bilangin ke dia,” balasku.
“Siap mbak wakil ketua kelas, hehe,” ledek Ratna.
“Ihh apaan sih? eh udah yuk kita ke kelas, di sini tambah panas nih,” ajakku sambil beranjak dari bangku yang ada di depan kelas. Ratna hanya mengangguk, lalu kami pun masuk ke kelas. Di kelas, aku berpisah dengan Ratna, ya meskipun kami sekelas, tapi Ratna duduk dengan Windy, dan aku duduk dengan Ziya. Hari terus berlalu, aku dengan Ratna semakin akrab, hingga pada suatu hari aku memberanikan diri untuk bertanya apakah dia mau menjadi sahabatku.

“Ehm Na, aku boleh tanya sesuatu nggak?” tanyaku sambil menatap mata Ratna.
“Zahra, Zahra, mau tanya aja minta izin dulu? ya jelas boleh lah,” balasnya.
“Oke deh. Ratna, kamu mau nggak jadi sahabat aku?” tanyaku dengan sedikit gugup.
“Sahabat?” ucap Ratna.
“Iya, semacam hubungan pertemanan gitu lah,” ucapku.
“Iya Ra aku ngerti kok, aku cuma lagi bingung aja. Ehm mau lah,” ucap Ratna.

“Yeee, thanks yo?” jawabku girang.
“Eitts tunggu dulu, ini ada syaratnya,” ucap Ratna.
“Hah syarat? apaan coba? Insya Allah aku bisa ngelakuin kok,” ucapku dengan nada yakin.
“Yakin nih? syaratnya adalah kamu harus bisa bikin aku cerewet. Terus harus setia sama aku,” ucapnya.
“Yee kalau itu sih kamu udah cerewet kali, lah ini buktinya kamu udah sering ngomong kayak ibu-ibu,” ledekku.

Kami berdua pun tertawa lepas, tanpa menghiraukan teman-teman yang melihat kami. Keesokan harinya, aku berniat untuk memberi sebuah surprise kepada Ratna, ya sebuah hadiah untuk peresmian persahabatan kami deh. Aku pun mengajak Ratna ke taman kota, ya letaknya yang tak jauh dari SMP kami, membuatku sering pergi ke sana, sekedar untuk menenangkan pikiranku.

“Ciyee Zahra ngajak aku ke taman, jangan-jangan kamu mau nyuruh aku buat nemenin berduaan yah?” tanya Ratna.
“Berduaan? sama siapa sih?” balasku.
“Sama siapa lagi kalau bukan sama Fadly, itu tuh dari kelas sebelah,” goda Ratna.
“Yee pacaran juga enggak, orang dia cuman temen waktu SD kok,” balasku.
“Temen apa temen? tapi kok kayak deket banget?” ledek Ratna.

“Udahlah jangan ngebahas Fadly, entar malah jadi ada gosip deh,” balasku.
“Ya oke, lah terus kamu ngajak aku ke sini mau ngapain?” tanya dia heran.
“Aku punya sesuatu buat kamu, tapi kamunya tutup mata dulu,” ucapku sambil merogoh kotak kecil yang ada di dalam tasku. “Okelah, tapi aku jangan ditinggalin yaa?” balas Ratna sambil menunjukkan raut muka yang manja.
“Enggak bakalan kok,” ucapku meyakinkannya. Ratna pun memejamkan matanya, dan aku langsung meletakkan kotak kecil berwarna Hijau di telapak tangannya.

“Udah tuh, coba buka matamu!” ucapku. Ratna pun membuka kedua matanya.
“Wah kado, makasih yaa? Eits, ini kan bukan hari ulang tahunku, tapi kamu kok ngasih aku kado?” tanya Ratna heran.
“Buka aja dulu, entar kamu tahu kok,” balasku.
Akhirnya Ratna membuka kotak kecil itu, dan menemukan sebuah gelang berwarna cokelat dan secarik surat, langsung saja dia membacanya.
“To: Ratna. Na, thanks ya? kamu udah mau jadi sahabat aku. Gelang cokelat ini jadi bukti persahabatan kita. And ingat tanggal anniv kita ya? yakni tanggal 10 Agustus. From Your Friends. Zahra.”

“Wah care banget sih? aku jadi baper nih,” ucap Ratna sambil mulai meneteskan air mata bahagia.
“Iya, Insya Allah aku bakalan tetap care terus sampai kapan pun,” balasku sambil memeluk Ratna.

Setelah hari itu, aku dan Ratna semakin dekat. Namun, tak berselang lama, persahabatan kami pudar. Ya disebabkan Putri, teman baik Windy telah pindah ke Pondok Pesantren, jadi sekarang Windy ingin selalu bersama Ratna. Dan di saat tidak ada Windy, aku yang selalu ingin bersama Ratna, ada Rani yang memisahkan. Aku pun berpikir, mungkin ini yang terbaik untuk Ratna. Karena memang Windy bisa lebih membuat Ratna bahagia. Maka kini hariku telah berubah, kini Ratna bisa lebih bahagia bersama Windy. Dan aku kini menjadi dekat dengan Rani. Tapi pertemanan kami tak berlangsung lama, karena Rani langsung meninggalkanku demi Stella, hanya karena alasan sudah tidak ada lagi chemistry.

Jadi tinggallah aku seorang diri. Telah dipisahkan dengan Ratna, dan diPHP-in oleh Rani, membuat sebuah goresan luka mendalam di hatiku. Tapi saat di sekolah, aku terus berusaha tegar, ya karena aku seorang wakil ketua kelas, jadi akan sangat memalukan jika aku menangis di kelas. Setiap harinya, hanya ada kesepian dalam hidupku. Pergi ke kantin sendiri, ke perpustakaan juga sendiri. Makanya aku kini lebih sering diam dan termenung sendiri. Tapi, untungnya masih ada temanku yang terkadang menghiburku, dialah Farah dan Iza. Terkadang aku ikut tertawa bersamanya, namun meskipun aku tertawa sekeras-kerasnya, tapi tetap saja, hati ini terasa kosong, karena sudah tak ada lagi sosok sahabat setia yang menemaniku. Hingga tibalah pada tanggal 10 Maret, iya tanggal 10, tanggal dimana aku dan Ratna resmi menjadi sahabat. Aku pun memberanikan diri untuk sekedar mengucapkan, “Happy Anniv.” walaupun hanya lewat SMS.

“Na, ini tanggal 10 loh, hari Anniv kita,” ucapku via SMS.
“Iya, terus?” balasnya singkat.
“Kamu enggak lupa kan?” tanyaku lagi.
“Enggak lah, eh udah dulu ya, aku lagi asyik main sama Windy. Byee,” balasnya mengakhiri obrolan ini.

Setelah hari itu, kini Ratna mulai lagi ngobrol denganku, namun hanya sebatas ia bertanya tentang pelajaran Pendidikan Agama Islam. Aku pun dengan sabar mengajarinya. Namun, setelah itu, ia pergi meinggalkanku. Jadi sekarang aku merasa Ratna telah berubah, dia datang padaku hanya saat dia butuh, tapi saat aku butuh misalnya untuk mencurahkan isi hatiku, dia pergi meninggalkanku. Hujan deras memecahkan lamunanku, tak terasa kini pipiku telah basah oleh air mata yang mengalir tak kalah derasnya dengan air hujan ini. Oh Allah, jika kau mengizinkan, maka tolong bawalah pergi semua rasa sakit yang ada di hati ini bersama dengan derasnya guyuran air hujan, gumamku dalam hati.

SELESAI

Cerpen Karangan: Nabila Nisrina Agvie
Facebook: Nabila Nisrina Agvie
Namaku Nabila Nisrina Agvie, panggil aja aku Nabila. Aku sekarang duduk di bangku SMP kelas 7. Aku suka nonton anime japan dan dramkor. Karena aku orangnya baperan, jadi aku bikin cerpen yang bisa bikin baper. Semoga kalian pada baper juga yah? 😀

Cerpen Yang Telah Sirna merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ayunda Mengejar Cinta (Part 2)

Oleh:
Kriinggg… Bel tanda masuk berbunyi, kini aku dan teman-teman sekelasku sedang sibuk dengan buku Jepang kami masing-masing, ulangan Jepang yang akan dilaksanakan pada hari ini sudah berhasil membuat murid-murid

Rahman

Oleh:
Rahman, namanya singkat dan tak ada kepanjangannya. Setiap kali dia disuruh untuk menulis nama panjangnya, dia diam saja untuk beberapa saat, lalu kemudian berkata, “Aku tak tahu nama panjangku.”

Aku Bukan Kacung

Oleh:
Dia cantik. Setidaknya, kalau ia tidak berteriak sembari mengucapkan sumpah serapah kepada anak-anak yang datang. Dia manis, kalau saja di tangannya tak menggenggam pisau sampai teracung ke udara. Ia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *