Yudha untuk Sahabatku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Pengorbanan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 2 December 2016

Kring… kring… kringggg…
Bunyi alarmku membangunkanku. Aku pun segera bergegas untuk mandi. Setelah sudah siap aku pun bergegas berangkat ke sekolah.
“ma, aku berangkat dulu yaa.” Pamitku pada mamaku.
“nggak sarapan dulu sayang?” tanya mamaku.
“Nggak deh ma, udah siang nih ma, takut telat. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam. Hati-hati yaa.”

Setiba di sekolah, aku bertemu sahabatku, namanya Luna. Dia teman sebangkuku. Kami menjadi akrab seperti ini sejak kami menjalani Masa Orientasi Siswa di SMA ini. Dan keakraban kami berlanjut ketika kami sekelas di kelas X ini. Iya, aku memang baru duduk di kelas X. Tepatnya SMA Negeri Harapan Bangsa 1. Luna ini parasnya sangat cantik. Tapi dia lumayan cerewet dan suka gosip.

“Eh Nayla, sini Nay aku mau cerita nih.” Panggil Luna sambil melambaikan tangannya ke arahku.
Tuh kan, pasti dia mau nggosip lagi deh. Masih pagi juga. Memang sahabatku yang satu ini suka banget nggosip.
“apa?” Jawabku sambil berjalan ke arahnya.
“Eh Nay, ternyata Lifya teman kita itu suka sama Yudha.”
Hah? Lifya suka sama cowok yang selama ini deket sama aku? Gumamku dalam hati. Yudha adalah cowok sekelasku. Dia cowok yang keren. Banyak cewek yang mengidamkannya. Namun, ia sangat cuek ke mereka. Dan saat ini dia mendekatiku. Teman-temanku tak ada yang tahu kalau aku dekat dengan Yudha. Memang aku tidak mau semua orang mengetahui kedekatanku dengannya. Apalagi saat ini aku masih belum jadian sama dia. Begitu terkejutnya aku ketika aku mendengar kalau Lifya yang merupakan sahabatku menyukai Yudha. Aku harus gimana? Padahal aku juga mulai suka dengan Yudha karena dia sering memberikan perhatian dan sering main ke rumahku.

“Nay, kok kamu malah bengong sih?” gertak Luna.
“Ehmm, iya Lun.” Jawabku
“Gimana Nay menurutmu? Mereka cocok kan ya. Yudha keren, Lifya juga cantik. Mereka berdua juga sama-sama suka bahasa. Inggris, best couple deh.” Celetuk Luna.
“Ehm iya Lun. Mereka sangat cocok.” Jawabku lemas dan berusaha untuk tersenyum. Rasanya hati ini ingin sekali menjerit ketika mendengar perkataan Luna. Ingin sekali aku berkata jujur bahwa aku sangat menyayangi Yudha dan berterus terang kalau saat ini kami sudah sangat dekat. Namun rasanya aku tidak bisa mengatakannya. Aku harus memikirkan perasaan Lifya juga yang merupakan sahabat terbaikku. Aku harus mengatakan tentang perasaan Lifya kepada Yudha.

Tet… Tet… bel masuk pun berbunyi. Aku dan Luna segera masuk ke kelas. Waktu itu pelajaran Ekonomi. Pak Didik, guru ekonomi menjelaskan tentang perekonomian pasar Indonesia. Pelajaran berlangsung dengan khidmat. Semua siswa memperhatikan beliau. Pak Didik ini memang terkenal guru killer.

Tet… bel istirahat berbunyi.
Aku harus bergegas untuk menemui Yudha.
“Eh Lun, aku pergi dulu ya. Ada urusan penting nih.” Pamitku pada Luna.
“Iya deh Nay.” Jawabnya.
Aku pergi meninggalkan Luna yang saat itu masih membereskan bukunya. Pasti saat ini Yudha ada di lapangan basket. Kalau jam segini dia memang sering main basket. Basket merupakan olahraga yang digemarinya.

Sesampai di lapangan basket…
“Nay, ada apa? Tummben kamu ke sini.” Terdengar suara Yudha yang sudah ada di hadapanku.
“aku pengen ngomong sesuatu Yudha.” Jawabku
“Emang kamu mau apa? Kebetulan aku juga mau ngomong sesuatu ke kamu, dan ini penting.”
“Oh, kalau gitu kamu ngomong aja dulu Yud.”
“Ehmm… sebenarnya aku mau ngomong kalau aku… aku… aku suka sama kamu Nay, rasa suka itu bukan hanya suka biasa. Tapi lebih, aku sayang sama kamu dan bukan sebagai teman atau sahabat. Tapi… ehmmmm… Nay, kamu mau nggak jadi pacar aku?”
OMG… Yudha nembak aku? Aku harus gimana? Yudha, sebenarnya aku juga sayang sama kamu. Tapi aku nggak mau nyakitin Lifya. Sahabatku itu juga suka sama kamu.
“Yud, sebenernya…” perkataanku terhenti ketika tiba-tiba ada seseorang memanggilku.
“Nayla, ternyata kamu di sini? Lagi ngomongin apa sih kok serius amat.” Ternyata itu Lifya. Yudha pun ingin menjawab pertanyaan Lifya.
“ehm itu Lif, aku mau…”
“Yudha mau minta ajarin aku buat ngerjain PR matematika kemarin Lif. Iya kan Yudha?” aku menjawab pertanyaan Lifya agar Yudha tidak memberi tahu yang sebenarnya.
“Lif, aku pergi dulu yaa. Perutku sakit nih.” Pamitku untuk meninggalkan meeka berdua. Semoga aja Yudha bisa suka sama Lifya.

“Yud, emang bener kamu mau belajar bareng sama Nayla?” tanya Yudha pada Lifya.
“nggak, sebenernya tadi aku nembak Nayla. Tapi pas dia mau jawab, kamu dateng. Jadi belum dijawab sama dia. Mungkin dia malu ngomongnya ke kamu pas kamu nanya tadi. Mangkanya dia bilang kalau aku minta ajarin dia buat ngerjain matematika.” Jawab Yudha.
“Oh, jadi kamu suka sama Nayla? Ehm, ya udah Yud aku pergi dulu.” Lifya meninggalkan Yudha sambil meneteskan airmata.

Di kantin…
“Nay, kamu kenapa sih nggak terus terang aja?” Tanya Lifya padaku.
“maksud kamu apa Lif? Aku nggak ngerti.” Tanyaku balik
“kamu suka kan sama Yudha? Kamu tadi ditembak kan sama dia?”
Aku kaget sekali mendengar perkataan Lifya. Pasti Yudha sudah menceritakan semuanya pada Lifya.
“nggak Lif, aku nggak suka sama Yudha. Aku tahu kamu suka sama Yudha. Dan aku nggak ditembak kok sama Yudha. Yudha sayang banget sama kamu Lif, dia ngomong kek gitu karena dia Cuma pengen buat kamu cemburu aja. Percaya sama aku. Aku akan panggil Yudha buat kamu.”

Setelah berkata seperti itu, aku segera berlari untuk memanggil Yudha. Aku nggak mau sahabatku nangis terus. Aku memang sayang sama Yudha, tapi persahabatan lebih penting dari segalanya. Apalagi ketika melihat tangisan Lifya, aku yakin kalau dia memang sangat menyayangi Yudha dan pantas mendapatkannya. Luna juga berkata kalau dia emang cocok sama Yudha dan akan menjadi best couple.

“Yud, aku minta kamu jadian ya sama Lifya.” Pintaku pada Yudha yang saat itu sudah berada di depanku.
“maksud kamu apa sih Nay? Aku Cuma sayang ke kamu. Aku nggak suka sama Lifya.” Tolak Yudha.
“Aku tahu Yud, kamu emang sayang sama aku. Begitupun aku. Tapi aku nggak mau nyakitin sahabatku, rasa sayang yang dimilikinya jauh lebih besa daripada aku. Dia baik banget ke aku. Selama ini dia selalu nolong aku pas aku lagi kesusahan. Aku mohon Yud, kamu mau ya bales perasaan dia ke kamu.”
“Tapi Nay…”
“Yud, demi aku. Pliss kamu mau yaa.” Pintaku
“ya udah, tapi ini aku lakuin demi kamu. Dan kamu harus pacaran juga sama cowok lain.” Jawab Yudha dengan terpaksa.
“makasih Yud, sekarang aku mau kamu nembak Lifya. Kita temui dia di kantin yaa.” Ajakku pada Yudha.
“Lif, Yudha mau ngomong nih.” Kataku pada Lifya.
Aku menganggukkan kepalaku sambil tersenyum pada Yudha untuk menjelaskan kalau dia harus memenuhi permintaanku dan memastikan padanya kalau perasaanku tidak sedih.

“eh… iya Lif, aku mau ngomong. Kamu mau jadi pacarku?” tanya Yudha pada Lifya.
“iya yud, aku mau. Aku seneng banget.” Jawab Lifya sambil memeluk Yudha. Melihat mereka berdua, tiba-tiba airmataku menetes. Entah ini perasaan cemburu atau apa. Tapi aku bahagia ketika melihat sahabatku bahagia. Dalam hati aku bergumam “Sayangi Yudha yaa Lif, aku tahu kamu sangat menyayanginya. Itu sebabnya aku merelakan dia. Dan kamu adalah sahabat terbaikku.

Cerpen Karangan: Emy Lia Sari Wdyawati
Facebook: Emylia Sari

Cerpen Yudha untuk Sahabatku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Maaf Membuatmu Menunggu

Oleh:
Suasana begitu segar. Air bertiup dari segala arah. Membuat rambut gufita berterbangan satu persatu, membuatnya menjadi lebih cantik. melukis bagian wajahnya, terlihat sangat indah lukisanku namun lukisan ini rasanya

Cintaku Tak Berlisan

Oleh:
Senja menyapa, Mentari elok segera sirna dari peraduannya. Sore seakan berganti malam yang berhias bintang. Bersama sinar rembulan yang menawan cinta yang menyatukan insan sesuai titah Tuhan. Cinta entah

Maafkan Aku Sahabatku

Oleh:
Hari itu, hari waktu dimana aku, pristi dan Rani (Sahabatku) memulangkan buku perpustakaan di sekolah Kami. Tetapi, Pristi telah memulangkan buka lebih dulu. “pris lo udah balikin buku perpus”

Love

Oleh:
Namaku remy laura, tapi sering dipanggil blossom. Aku bersekolah di smpk sang timur. Hari ini, hujan mengguyur kota ini. Aku memperhatikan bagaimana secercah butiran yang sengaja diturunkan ke muka

Liburan Bersama Sahabat

Oleh:
Senyum mentari pagi datang menyapa, suara burung bertalu-talu bernyanyi menggambarkan kebahagiaan. “Jar sudah siang, mau kuliah gak kamu?” seru ayah membangunkanku di pagi itu. “iya yah bentar,” jawabku. Aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *