Yume Ni Azukete

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Jepang, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 21 May 2017

Langit yang terbiaskan menjadi keunguan. Seorang gadis berdiri di balik tirai jendela kamar atas tanpa beranda. Melihat, tidak, tepatnya mengintip ke luar. Ke sebuah jalan besar yang berada tepat di depan rumahnya. Dalam beberapa menit, ia tetap berada di posisi itu, memandangi jalan kosong itu dengan seksama dan nyaris tanpa berkedip. Seseorang melewati jalan itu, sontak membuatnya melebarkan mata. Bukan, gadis itu membatin, bukan orang itu yang ia tunggu. Seseorang melewati jalan itu lagi. Bukan, ia menyangkal sekali lagi. Itu hanyalah seorang kakek tua dengan gerobak dagangannya. Apa benar dia tidak lewat sana hari ini?

Kini matanya beralih memandang korona matahari di balik bukit itu. Jingganya seakan sedang melawan indigo yang mendominasi langit sekitarnya. Tak, tak, tak, detik terus berdetak hingga matahari benar-benar meninggalkannya. Menyisakan senja yang cukup pekat.
Ressa beranjak, berniat menutup gorden kamarnya yang berwarna keemasan itu. Namun, beberapa orang yang melewati jalan itu kembali menarik perhatiannya. Ia mengamati orang-orang itu, lagi. Orang itu.., gadis itu sontak merapatkan tubuhnya ke kaca jendela. Matanya kini benar-benar menatap dengan seksama, seakan tak rela untuk berkedip. Orang itu, yang kini memakai mantel abu, ransel hitam yang tampak mengkilat, dan sebuah headset putih yang terkalung di lehernya. Sekarang orang itu tertawa bersama teman-temannya. Tanpa sadar, kedua ujung bibir gadis itu ikut tertarik. Tersenyum.

Orang yang diperhatikannya itu tiba-tiba mendongak, balik menatapnya sambil tersenyum lebar. Ia melambaikan tangan. Ressa dari balik jendela membalas lambaiannya. Laki-laki itu tampak pamit berpisah dengan teman-temannya, lalu kembali melihat ke arah Ressa lagi. Aku mampir ya.. ucapnya dari kejauhan. Ressa mengangguk sebagai jawaban.
Setelahnya gadis itu segera merapatkan gorden-gorden di kamarnya. Berlari ke depan cermin dan melihat wajahnya sekarang. Tidak tampak terlalu kacau, hanya rambut sedikit berantakan, dan wajah yang… pucat. Pukk, puk.. gadis itu menepuk wajahnya sendiri dengan kedua telapak tangannya. Lalu membuat senyum selebar mungkin, dan mengerjapkan mata beberapa kali, seakan itu semua bisa membuat wajahnya tampak lebih fresh lagi.

“Kak Ressa, ada kak Denis nih!!” Seseorang berteriak dari lantai bawah. Itu pasti Rikka! Adik semata wayangnya yang suara cemprengnya khas sekali.
“Iya, tunggu sebentar!” Balasnya. Ia sedikit menyisir rambutnya, lalu bergegas ke luar.

“Bu, suapi aku satu!” Denis membuka mulutnya, ibu langsung menyuapinya sesendok penuh kari.
“Wee..” Denis mengernyit kepedasan, “Pedas.,”
“ini pesanan Rikka, makanya ibu buat yang pedas,” jelas ibu.
“oh, kalau gitu saya pesen juga deh, satu ya bu, tidak pedas!” canda Denis.
Pletak! Seseorang tiba-tiba mengelepak kepalanya keras. “Dikira ibuku pelayan apa!” Ressa dari belakang menaruh sebuah nampan –yang tadi dipakainya untuk memukul kepala Denis- ke rak piring.
Denis menggosok-gosok kepalanya, kesakitan. Sebenarnya tadi dia cuma bercanda, tapi pukulan Ressa sepertinya bukan candaan.
“Kamu keluar malam ini, Ressa?” Tanya ibu, tanpa mengalihkan pandangan dari takoyaki yang sedang digorengnya.
“Un,” Ressa mengangguk. “Ada kelas bahasa Inggris malam ini.”
“Tinggal di jepang kok, ngambilnya kelas bahasa inggris.” Cibir Denis.
“Masalah?” Tanya Ressa,
“mondai nai ga, henna deshou..” Ucap Denis dengan bahasa jepang, Ressa merengut karenanya, ia tahu artinya itu, “gak masalah sih, tapi aneh..” kira-kira itu artinya.
Ressa menatap punggung teman masa kecilnya itu setengah jengkel, ingin membalas tapi ia menyadari juga kalau itu aneh.
“Sudah, sudah.. ini, kasih coklat panas ini ke ayah sama Rikka, sisanya buat kalian berdua,” ujar ibu, memberikan sebuah nampan dengan 4 gelas coklat panas di atasnya.
Ressa menerimanya, lalu membawanya dengan hati-hati ke ruang tamu. Memberikannya kepada ayah yang sedang membaca koran dan Rikka yang kini sedang terbahak menonton acara komedi di televisi.

Ressa memutar kepalanya, mencari keberadaan Denis, teman masa kecilnya itu ternyata ada di balkon, sedang menelepon seseorang.
“Sayakacchi,” Ucap Denis, Ressa menahan langkahnya, Denis terdiam cukup lama, hingga akhirnya ia berkata, “Ie, jaa, mata ne..” lalu menutup teleponnya.
Ressa meneruskan langkahnya, “Hoy!” sapanya dari belakang.
Namun, Denis tidak bergeming. Bahkan saat Ressa sudah tepat berada di sampingnya pun, ia masih tampak sibuk memikirkan sesuatu.
Lain dengan Ressa, ia tidak berusaha membangunkan Denis dari lamunannya. Tetapi, diam-diam memerhatikannya dengan seksama. Bahkan saat wajah itu menampakan senyum yang sangat tipis, gadis itu dapat membacanya. Deg., deg., deg., jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Rasa aneh yang mulai ia kenali, menyeruak memenuhi dirinya. Rasa bahagia, -yang baru ia sadari- selalu ada jika bersamanya, Teman masa kecil yang lambat laun menempati posisi “spesial” di hatinya..

PRANG!.. Tiba-tiba saja baki yang dipegangnya terlepas tanpa ia sadari. Membuat keduanya tersadar.
“Ressa!”
“Ada apa?” Rikka menghampiri mereka dengan airmuka khawatir.
Ressa tanpa berkata apapun segera berjongkok memungut pecahan gelas itu, Denis segera membantunya.
“Kak, ada apa?” Tanya Rikka, ia turut membantu mereka membereskan pecahan itu.
“Kamu kenapa, Res? Apa dari tadi kamu di sampingku?” Tanya Denis.
Samar, ekpresi gadis yang ditanya itu menegang, namun ia berusaha menyembunyikannya. “aku cuma gak sengaja menjatuhkannya.., maaf.”
Ressa dengan cepat membereskan pecahan gelas itu, dengan segera membawanya ke dapur.
“Kenapa, Res?” Ibu pun melontarkan pertanyaan yang sama, ayah pun begitu. “tidak apa-apa,” hanya itu yang Ressa katakan.

Gadis itu dengan langkah tergesa berjalan ke arah wastafel. Prak!.., menaruh baki beserta pecahan gelas itu dengan sedikit kasar. Ressa kini menatap kedua tangannya sendiri. Ada yang salah! Ekspresinya menegang tanpa bisa dicegah, panik. Tangannya… gadis itu berusaha menggerakkan jari-jarinya. Tidak bisa! Apa yang terjadi…
Ia ingat betul bahwa ia memegang baki itu dengan kuat, bagaimana bisa baki itu terlepas dari tangannya tanpa ia sadari?. Ia menatap punggung tangannya dan mencoba menggerakannya sekali lagi. Dengan sedikit susah payah, tangan itu akhirnya bisa kembali digerakan. Ressa menghela nafas lega, menggenggam tangannya sendiri di depan dada.
Takut, ia takut. Kejadian seperti ini memang bukan yang pertama kalinya, tapi ia selalu takut ketika mengalaminya. Takut jika tangannya tidak bisa digerakan lagi, takut jika pada akhirnya tubuhnya tak bisa digerakan untuk selamanya.

“Res..” Denis sudah berdiri di ambang pintu dapur, tampak sudah memperhatikan gadis itu sejak tadi.
“Oh, hai..” Ucap Ressa canggung, ia segera menyembunyikan tangannya di belakang punggungnya.
“Nani o kanjiteru ka? (apa yang kamu rasakan?)” Tanya Denis, ia melangkah mendekati Ressa.
Ressa terdiam, perasaan serba-salah kembali melingkupinya. Namun, rasanya kalau di hadapan Denis ia tak bisa merahasiakan apapun, ia pun memperlihatkan tangannya, “ini.., tiba-tiba terasa kaku lagi tadi, tidak bisa digerakan,” Ressa mengakuinya.
“Ima, daijoubu datta ne? (sekarang, sudah tidak apa-apa kan?)” Ucap Denis, mengambil kedua tangan Ressa, dan dengan wajah tenang, memijatnya pelan.
Hanya Denis yang tahu keadaannya. Ressa tahu, penyakit XP yang dideritanya mungkin sudah hampir mencapai batas. Sekarang usianya sudah menginjak 17 tahun, sudah melebihi batas yang diperkirakan dokter tentang umurnya. Keajaiban, mungkin iya. Bahkan ia dan keluarganya pindah ke Jepang untuk pengobatannya.
Ressa menatap wajah Denis yang tenang, fokus memijat tangannya. Wajah itu seakan berkata padanya, “Tidak apa-apa, semuanya baik-baik saja.”, seketika itu juga perasaan cemas kembali memenuhi dirinya.
Ressa menarik tangannya, dan menutup wajahnya sendiri dengan telapak tangannya.
“Res,” Panggil Denis.
Ressa menurunkan tangannya. Menarik nafas, dan menghembuskannya perlahan. Lalu tersenyum lebar. “it’s okay.”
Ressa dengan sigap langsung bergerak mengambil kantong plastik di rak piring, lalu memunguti pecahan kaca itu lalu memasukan ke dalamnya.
“Daijoubu datta yo,” ujar Ressa tegas. “Aku ingin siap-siap,-“
“Aku juga mau pulang,” potong Denis. Ia memegang pucuk kepala Ressa, membuat gadis itu sedikit terkejut, “Hati-hati ya.” ujarnya sambil tersenyum. Setelah itu, ia segera meninggalkan Ressa yang membeku karena tindakannya. Gadis itu perlahan mengangkat tangannya, dan menyentuh pucuk kepalanya itu. Tanpa sadar, ia kembali tersenyum.

Gadis itu melangkah ceria melewati jalan yang dipenuhi sakura yang berguguran itu. Ressa melihat jam tangannya, waktu menunjukan pukul 10. Namun, bukan kota Kyoto namanya jika malam hari sepi. Sebuah jalan yang dipenuhi para pedagang di kedua sisi kanan-kirinya. Ramai, terang, dan begitu berwarna-warni. Keindahan kota Kyoto yang biasa ia nikmati tiap malamnya. Ressa merasa beruntung bisa tinggal di sini..
Sinng… pandangannya tiba-tiba menggelap, membuat ia harus menghentikan langkahnya.
Bruk., Bruk..,
“Sumimasen, sumimasen..” Ressa membungkuk pada orang-orang yang tak sengaja ditabraknya.
Gadis itu berusaha tetap tenang, tangannya memijat pelipisnya perlahan. Ressa mencoba kembali membuka matanya. Syukurlah penglihatannya kembali.

“Sayakacchi,” di tengah keramaian, ia mendengar panggilan seseorang. Ressa mencari sumber suara. Rasanya, suara itu begitu familiar.
Denis. Benar, ia menemukan laki-laki itu sedang berdiri di pinggir perempatan sana. Tidak menghadapnya, namun Ressa dapat mengenalinya hanya dari sisi wajahnya. Ia terlihat sedang menunggu seseorang. Ressa mengangkat tangan, berniat memanggilnya.
“Denis!” panggil Ressa.
Entah karena suara Ressa yang terlalu kecil atau karena suasana sekitar yang terlalu bising. Denis tidak menyadari panggilannya. Mungkin kejauhan, Ressa berniat mendekat. Namun langkahnya terhenti, ketika ia melihat seorang gadis menghampiri Denis dengan 2 popcorn di tangannya.
Gadis itu berwajah oriental, dengan kacamata bertengger di hidung kecilnya. Kulitnya putih susu, cukup kontras dengan suasana gemerlap di sekitarnya. Rambut lurusnya tergerai sampai pertengahan pinggang. Gadis itu memberikan satu popcornnya pada Denis sambil tersenyum lebar. Denis pun menerimanya sambil tersenyum juga. Keduanya tampak bersenang-senang.
Keduanya sangat akrab, batin Ressa berkata. Perasaan aneh mulai menyusup ke dalam hatinya. Bukan perasaan senang, apalagi berbunga-bunga. Sebuah perasaan mengganggu yang membuatnya tidak nyaman berlama-lama di sana. Ressa berbalik, ia memutuskan pergi dari sana.
“Ressa!,” Seseorang memanggilnya tanpa ia duga. Denis.
Sempat terjadi perdebatan di hatinya. Ia harus menoleh atau tidak. Akhirnya, ia memutuskan meneruskan langkahnya dan mengabaikan panggilan itu.

Gadis itu seperti biasa berdiri di ambang jendela, menanti matahari itu tenggelam seutuhnya. Ingatan Ressa kembali melayang ke malam itu, saat ia melihat Denis tertawa dengan gadis itu. Siapa? Gadis itu siapa? Kenapa mereka terlihat akrab? Apa hubungan mereka berdua? Kalut gadis itu dalam hati. Selama ini, ia memang tak pernah sekalipun melihat Denis tertawa atau tersenyum setulus itu kepada gadis lain, selain dirinya.
Sekumpulan anak SMA yang baru pulang sekolah kembali melewati jalan depan rumahnya. Denis salah satu di antara mereka, tampak sedang sibuk dengan HP-nya. Namun, seperti menjadi kebiasaan, laki-laki itu kembali mendongak, melihat ke arah jendela kamar Ressa. Jendela itu tertutup rapat.
Ressa memang segera menutupnya saat ia melihat Denis melewati rumahnya. Entah kenapa, ia sedang tidak mau berbicara atau bertemu dengan teman laki-lakinya itu. Baru ia ingat, bahwa ia pernah tanpa sengaja melihat foto teman kecilnya itu bersama gadis berkacamata itu., dari foto itu bisa terlihat hubungan mereka yang tampak lebih dari seorang ‘teman’. “Sayakacchi” itulah panggilan Denis untuk gadis itu. Dari sana juga terlihat dengan jelas, bahwa mereka bukan teman biasa.
Apa mereka pacaran? –tanya hatinya kalut.
Gadis itu mengintip ke arah jalan itu lagi. Laki-laki itu dan teman-temannya sudah tidak ada di sana.
“Denis..”

Dokter mengecek kulit pada tangan dan wajahnya. Di lengan kanannya, masih tampak bercak-becak kemerahan akibat terkena sengatan matahari saat kecil dulu.
“Kulitnya baik, tapi kita harus melakukan citi-scan untuk mengetahui apa yang terjadi pada otaknya.” Setidaknya itulah yang Ressa dapat pahami dari pembicaraan dr. Haru dengan kedua orangtuanya.
Ressa dalam keadaan terbaring, menatap tangannya sendiri tepat di bawah lampu. Ingatannya kembali saat Denis menggenggam tangannya hangat. “Huft.,” ia menjatuhkan tangan itu tepat di atas kedua matanya. Saat itu malah terbayang wajah Denis yang sedang tersenyum pada gadis berkacamata itu. “Aish,” desisnya kesal.
Ia memutuskan bangun, dan berniat keluar.
“Ibu, aku ke toilet sebentar.” Izinnya.
Gadis itu berjalan di lorong rumah sakit yang cukup sepi. Namun, sebuah suara tertangkap oleh pendengarannya. Suara piano. Dan suara itu berasal dari kamar di ujung lorong sana. Ressa melangkah mendekati sumber suara.
“Tooku hanareta basho ni iru toki mo.,” di hadapan banyak pasien anak-anak, seorang gadis –sambil memainkan piano- bernyanyi dengan begitu ceria. Seceria anak-anak di sekitarnya yang tampak sangat menikmati permainan musiknya.
“kimi ga waraeba, boku mo warau kara..” anak-anak juga ikut bernyanyi bersamanya.
Eh.. Ressa baru menyadari. Gadis itu, gadis berkacamata yang tempo hari lalu bersama Denis. Sayaka.. Tiba-tiba saja gadis itu melihat ke arahnya, tersenyum lalu mengangguk –seakan menyuruhnya masuk. Ressa memasuki kamar itu, “bokura no koe ga todokimasu you ni, mayotta toki mo, oto no naru hou e,..” Sayaka mengakhiri melodinya.
“Yey..” gadis itu juga ikut bertepuk tangan senang bersama pasien anak-anak itu. Mereka semua tertawa senang, tanpa beban, seakan lupa bahwa baju pasien masih melekat pada tubuh kecil mereka. Seorang gadis kecil mendekati Sayaka, tangan kecilnya berusaha meraih leher Sayaka untuk dipeluknya. “Sayaka-neechan.,” akhirnya ia bisa meraihnya., “arigatou..” ucapnya dengan suara serak.
“Hai’,” jawab Sayaka sambil mengelus punggung gadis kecil itu lembut.

Ressa berdiri mematung, memandangi sebuah poster tentang Festival kembang api yang akan diselenggarakan lusa depan. Di Indonesia, paling adanya sakura matsuri atau momiji matsuri.., -ucapnya dalam hati. Membuat gadis itu tersenyum sendiri. Apakah ia akan datang ke sana? Gadis itu memandang poster itu seksama untuk terakhir kalinya, sebelum akhirnya ia kembali meneruskan langkahnya.
Drrt, handphonenya tiba-tiba bergetar. Ada panggilan masuk, dari Denis. Ia dengan segera mengangkatnya.
“Halo.,”
“Halo, ini Ressa, kan?” pertanyaan konyol yang selalu sama dilontarkan Denis ketika meneleponnya.
“Bukan,” bohong Ressa.
“Hei, jangan bercanda,” ucap Denis tiba-tiba.
“Bukan Ressa, tapi Claressa Adityana.” Gadis itu menyebutkan nama panjangnya.
“Ck,” Denis berdecak. “hey, aku ada tiket ke Hanabi Matsuri nih, kamu mau ke sana kan?”.
“gak ah,” tolak Ressa langsung. “takut ganggu kamu sama Sayaka,”
“Sayaka gak bisa, makanya aku ngajak kamu.” Jelas Denis.
“Oh, jadi aku di nomor dua kan nih?” Tanya Ressa pura-pura marah.
“gak mau? Oh, kalo gitu aku ngajak Rikka aja.” Ucap Denis, mengabaikan pertanyaan Ressa.
“E-eh..” Ressa langsung berseru panik. “ iya, iya, aku yang ikut!”.
“gitu dong,” ucap Denis.
Terdiam. Denis setelahnya terdiam cukup lama, seperti terputus, namun ia tidak mematikan teleponnya.

“Ressa..” ucap Denis lagi dari seberang sana, terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata. “Siapapun itu gak ada yang bisa gantiin posisi kamu, sebagai sahabat atau teman masa kecil, kamu tetap orang yang berharga bagiku, jadi kamu harus sembuh ya! Ganbatte kudasai!”.
Ressa tersenyum mendengarnya. “Hai’, ganbarimasu..”
Ressa mematikan teleponnya, mendongak, melihat langit di atas, langit kota Kyoto yang bersih berbintang tanpa awan.
Semuanya perlahan berubah. Perasaan menggebu-gebu itu sudah tidak ada lagi. Saat Denis mulai terbuka tentang Sayaka padanya, juga pertemuannya dengan gadis berkacamata itu sendiri, telah mengubah pandangannya tentang apa itu cinta. Mungkin kutipan, ‘cinta tak harus memiliki’ itu berlaku padanya. Tidak, ini bukan pasrah, ia hanya ikhlas. Kehadiran Denis sudah cukup baginya, tak perlu laki-laki itu suka atau jatuh cinta padanya –karena nyatanya Denis memang menyayanginya seperti adik kandungnya sendiri-, juga Sayaka, seorang gadis yang terlalu baik untuk disakiti, gadis yang berperawakan lembut itu bahkan mampu membaca perasaannya.
‘Apa aku menyakitimu?’, Ressa mengingat pertanyaan Sayaka pada malam itu, saat mereka pertama kali bertatap muka ketika Sayaka sedang menghibur anak-anak penderita kanker dengan musiknya. ‘Denis sering bercerita tentangmu, aku mengerti perasaanmu.’ Ucap gadis berdarah jepang itu dengan bahasa indonesianya yang masih terbatas. Ketulusan tergambar di setiap tutur katanya. Hal itu membuat Ressa mengerti, kenapa Denis jatuh cinta pada gadis itu. Bukan lagi, cemburu.., justru perasaan lega karena tahu Denis bersama gadis baik-baik. Lagipula, Ressa tak tahu, apakah ia bisa hidup lebih lama lagi atau tidak.

Meski hari esok adalah hari terakhirnya. Ia tidak akan menyesal. Ia sudah membuat keputusan yang terbaik. Ressa tetap mencintai Denis, sampai nafas terakhir pun tidak akan mengubah kenyataan itu. Namun, biarlah rasa itu menjadi miliknya sendiri. Selama Denis ada di sampingnya, itu sudah cukup baginya. Perhatiannya, biarlah menjadi imaji sempurna dalam setiap detik hidupnya. Dan perasaan ini, biarlah ia yang menyimpannya sendiri dalam setiap mimpi-mimpinya..

TAMAT

Cerpen Karangan: Kohana Keisaki
Facebook: Kohana Keisaki

Cerpen Yume Ni Azukete merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Di Bawah Langit Agustus (Part 1)

Oleh:
Entah bagaimana aku harus memulai, sebagai seorang perempuan yang menyebut dirinya sebagai pengagum rahasia, sampai akhirnya saat itu tiba… Jatuh cinta untuk sekian kalinya pada orang yang sama, membuat

Sahabat Sederhana Tuk Selamanya

Oleh:
Persahabatan memang tidak selalu berakhir bahagia. Sama seperti cinta, persahabatan juga membutuhkan pengertian. Persahabatan tidak berbicara tentang ego ataupun rahasia. Namun aku berharap, persahabatanku ini tidak akan ada akhir

Nasi Goreng Plus Plus (Part 1)

Oleh:
“Woyyy, ngapain loe ngelamun di pinggir danau siang bolong kaya gini, kesambet baru tau rasa loe, hahaha”, teriak seseorang tepat di lubang kuping gue. “Ehh Kampret, bikin kaget orang

Tempat Pulang

Oleh:
Chesta telah sampai di cafe yang dahulu menjadi tempat favoritnya dan Abhy. 5 tahun berpisah dengan Abhy, membuat Chesta ingin sekali meluapkan rasa rindunya dengan Abhy. “Greentea Late ya,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *