Another Fighter (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Petualangan
Lolos moderasi pada: 4 November 2017

Disaat aku membuka mata aku selalu kedinginan, embun selalu berterbangan di sekelilingku. Kaca kamarku basah dan tumpukan embun turun dari atas kaca jendela dan berpapasan dengan tumpukan lainnya.
Ya, aku tinggal di lereng gunung Boden. Jauh dari suasana ramai kota membuat aku merasa nyaman dengan semua kesegaran khas daerah pegunungan.

Namaku Licht, lebih tepatnya Licht Finsternis, usiaku sekarang 17 tahun, aku tinggal bersama adikku Feny Fenyes dia baru berusia 15 tahun. Ayahku berkebangsaan Jerman dan ibuku Hungaria, mereka berpisah saat usiaku menginjak 10 tahun, aku tidak tahu apa yang menyebabkan mereka berpisah karena aku memang masih polos dan tidak ingin tahu masalah kedua orangtuaku. Sejak lahir aku tinggal di kota… tentunya sebelum semua ini terjadi 7 tahun yang lalu.

5 Tahun yang lalu
“ibu, aku lapar…” ujar Feny pada ibunya.
“coba lihat di dalam kulkas, ibu rasa ibu masih punya cupcake strawberry” jawab ibunya.
Rumah yang luas dengan cat interior warna kuning dan sofa mewah di ruang tamu… itulah sedikit pandangan tentang rumahku.

“Licht, kamu sudah makan?” tanya ibuku yang sedang memasak.
“belum bu, nanti aku ambil sendiri” jawabku dengan nada lemas bangun tidur.

Saat itu pukul 4 sore, aku memang terbiasa bangun pukul 4 sore sejak tidak bersama Ayah. Dulu, saat Ayahku masih bersama ibuku aku selalu bangun pukul 4 pagi dan pergi berlari santai mengitari komplek. Ayahku selalu membuatku nyaman, begitu juga Ibuku. Tapi, ayahku lebih bisa mengajakku dan membuatku senang tanpa mengesampingkan kebutuhanku.

Ya, aku “sedikit” membutuhkan perhatian khusus dalam hidupku, aku mengidap kelainan dalam daya tahanku aku tidak bisa terlalu capek. Tapi, kenapa Ayahku selalu mengajakku berlari? Ya, Ayahku ingin aku sembuh dengan cara mencoba meningkatkan metabolisme tubuhku yang lemah, saat berlari aku juga tidak jarang jatuh pingsan, tapi ayahku selalu mengawasiku dia selalu mendampingiku dan menyemangatiku, dan secara tidak sadar aku pun sudah tidak terlalu lemah pada saat itu, aku jarang jatuh sakit karena hal sepele.

“kelemahanku” kembali setelah Ayah meninggalkanku. Ya, aku tinggal bersama ibuku setelah mereka berpisah ibuku mengajaku, Ayahku juga menyuruhku untuk pergi bersama ibuku. Aku tidak tahu dimana Ayahku sekarang, itulah terakhir aku melihat Ayahku.

Hari sudah mulai malam
“Ayo semuanya, kita makan!” teriak ibuku

Aku menghampiri kamar Feny.
“Ayo kita makan!” ajak ku sambil membuka pintu kamarnya.
“baik, kak” jawab Feny sambil menutup buku bacaannya.

Kita pun berkumpul di ruang makan, karena tidak ada ayah jadi aku yang memipin do’a.
“sebelum kita makan, kita berdo’a dulu. Semoga Rizki yang ada dihadapan kita ini bermanfaat” ucapku, dan semua berdo’a di dalam hatinya sambil menundukan kepala dan mengangkat kedua tangannya.
“selesai, mari kita makan” lanjutku sambil melihat lauk pauk yang menggiurkan.

“Feny, bantu ibu membereskan piring ke dapur”
“biar aku saja. Feny, kamu lanjutkan saja belajarmu” jawabku selesai ibu berucap.
“baiklah kak. Ibu, aku akan langsung tidur, ibu tidak perlu mengecek kamarku” ucap Feny dengan senyumnya.

Setibanya di dapur.
“Ibu” kataku, sambil mencuci piring dan merasakan dinginnya air keran malam itu.
“iya? Ada apa Licht?” jawab ibuku yang berdiri disampingku sambil membantuku mencuci piring.
“aku akan pergi, aku ingin berusaha hidup untuk diriku sendiri tanpa menyusahkan orang lain” kataku datar.
Ibuku menatapku aneh dengan raut wajah takut.
“kenapa? kamu mau pergi ke mana? kamu tidak punya siapa2 lagi selain ibu, bukan kah ibu memberikan yang terbaik untukmu, kamu sudah senang hidup di rumah ini, Ibu yang akan menanggung semua kebutuhanmu, kenapa kamu harus pergi?” jawab ibuku dengan nada tersedak.
“jika aku terus menggantungkan hidupku kepada Ibu, sedangkan aku tidak berusaha sama sekali, aku hanya diam di kamar tidak punya kegiatan. Aku tidak mau seperti itu, aku harus merasakan susahnya hidup ini”
“Ibu tidak akan mengizinkanmu, Ibu butuh kamu. Ibu tidak punya siapa siapa lagi selain Kamu dan Feny, Ibu sayang kalian” jawab ibuku sambil meneteskan air matanya.
Aku berpikir, aku juga sayang ibuku dan memang, jika aku tidak ada, Ibuku hanya berdua bersama Feny, sedangkan Feny masih kecil. Ibu selalu pulang jam 3 sore, dan Feny pulang jam 2 dari sekolahnya. Mungkin Feny juga akan kesepian jika aku tidak ada. Tapi aku harus melakukan ini, aku sudah merencanakannya 2 tahun yang lalu dan aku berencana apapun yang terjadi aku harus melakukannya.

“baiklah bu, aku akan pergi hanya 3 hari. Ibu tau, aku juga sayang ibu” tawarku sambil memegang pundak ibuku.
“kenapa kamu harus melakukan ini? Apa untungnya? Kamu hanya menyiksa diri kamu!”
“justru itu yang harus aku rasakan” jawabku, dan kita berdua terdiam.
Sebenarnya jika aku tidak bicara pada ibu tentang ini dan aku langsung saja pergi tanpa berkata apapun, itu akan jauh lebih mudah. Tapi ibu pasti akan sangat khawatir, dan dugaanku yang akan mencariku bukan hanya ibu, tapi juga pihak kepolisian karena ibu pasti melaporkannya.

“Ibu pasti tau maksud dan tujuanku, aku tau ibu juga mengerti perasaanku. Aku akan berangkat malam ini” lanjutku sambil tersenyum.
“jika Feny menanyakanmu? Apa yang harus ibu katakan?” tanya ibuku
“bilang saja aku sedang mencari pekerjaan” kembali senyumku pada ibu
Aku bergegas ke kamarku sambil mencium kening ibuku.

Aku melihat ibu sedang duduk di sofa ruang tamu, dia menungguku. Aku melihatnya menangis.
“Ibu, jangan menangis. Semua orang tua juga pernah merasakan keadaan ini, mereka juga ingin melihat anaknya sukses dan sekarang aku juga akan melakukan hal itu” aku memeluknya sambil tersenyum sedih
“ini untuk bekalmu di jalan” ibu memegang tanganku dan menyimpan amplop di tanganku
Aku tidak menggunakan kendaraan apapun dari rumah, aku berjalan kaki menuju terminal bus terdekat.

Sesampainya di tujuanku, aku melihat pemandangan yang sekian lama belum pernah aku lihat. Hamparan sawah yang hijau dengan gunung di belakangnya membuatku tersenyum tanpa sadar.
“Aku cinta planet ini. Terima kasih tuhanku” ucapku sambil memejamkan mata dan merasakan hembusan angin pedesaan.

Aku tiba di rumah tua di lereng gunung Boden. Gunung ini pernah meletus 50 tahun yang lalu, aku membacanya di salah satu artikel nasional. Tidak banyak penduduk yang tinggal di lereng gunung ini dibanding di kaki gunungnya. Hamparan daun yang jatuh dan sudah menguning, dan dikelilingin oleh pohon tinggi yang menahan terik matahari. Aku menghampiri salah satu rumah yang ada di sebelah kiri gubuk yang pertama kali aku lihat.

“permisi” ucapku di depan pintu rumah itu.
Di depan rumahnya aku melihat banyak sekali perabotan tradisional yang terbuat dari kayu. Batang poho yang sudah tinggal se-lutut yang biasa dipakai untuk membelah kayu, dan disampingnya ada tumpukan kayu bakar yang disimpan digubuk dengan atap daun pohon kelapa.

“ada apa nak?”
Aku melihat pria berbadan kekar, mungkin umurnya 30 tahun, keluar dan menghampiriku. Ia memakai topi bilik dan kaos polos ditambah celana jeans pendek bekas guntingan.
“Namaku Licht, pak” jawabku sambil menghampiri dan mengulurkan tangan
“ohh, baik. Ada yang bisa saya bantu, nak Lic” tanyanya sambil menjabat tanganku.
Pengucapannya memang tidak jelas, mungkin lidahnya tidak terbiasa menggucapkan nama “aneh”
“Apa rumah yang di sana ada penghuninya pak?” kembali tanyaku sambil menunjukan jariku ke arah rumah yang aku maksud.
“ohh, itu dulu rumah Orangtua saya. Rumah itu sudah tidak dihuni lagi, aku membuat rumah baru di sini. Apa ada yang salah dengan rumah itu?” jelasnya
“aku bermaksud menghuni rumah itu untuk beberapa hari, mungkin juga lama. Apa boleh saya membeli atau menyewanya?” tanyaku
“jadi, kamu bermaksud untuk tinggal di lereng ini? Kenapa? Apa yang sedang kamu lakukan? Bukankah kamu sudah senang tinggal di kota sana?” jawab pria kekar itu sambil sedikit menyengir
“iya pak. Aku bosan tinggal di rumah dengan kebisingan kendaraan. Jadi, apa boleh?” kembali tanyaku dengan senyum
“begini saja nak, jika kamu ingin tinggal di rumah itu tinggal saja, isi rumah itu. Kami tidak begitu membutuhkan uang di sini, tapi jika kamu memang bermaksud memberikan uang, lebih baik kamu membelikannya bahan bahan kayu untuk memperbaiki rumah itu” jelasnya panjang lebar
“kami? apa dia tinggal bersama istrinya di sini?” ucapku dalam hati

“saya bisa membantu untuk perbelanjaanmu itu jika mau” lanjut pria itu
“baik pak, kapan kita akan merenovasinya?” tanyaku
“sekarang masih pagi, jika kita mulai sekarang, itu akan jauh lebih baik untuk tidur pertamamu” tawarnya
“ya sudah pak, ayo kita berangkat” ajakku dengan nada lebih tinggi
“simpan saja dulu barang barangmu di dalam, titipkan saja ke istriku di dalam” jawabnya. Sepertinya dugaanku memang benar.
“Sariiiii…” teriaknya dengan cukup kencang

Aku menghampiri pintu rumah itu dan saat aku hampir sampai pintu itu terbuka dan ada wanita dengan badan tidak terlalu besar dan wajah yang begitu bersih, rambut panjang dan bibir yang tipis di depan pintu itu
“ada apa sayang?” ucapnya dengan suara yang “seksi”
“tolong simpankan barang barang anak itu di kamar. Aku akan pergi ke luar sebentar” jawab pria besar itu
“ohh, ini” ucapnya sambil menatapku dengan penuh senyum
“sini, biar saya bantu” lanjutnya sambil mengangkan ranselku
“i-iya, t-te-terimakasih, Tante” jawabku belepotan sambil terus menatapnya kosong.
“Ayo cepat nak, nanti keburu siang!” teriak pria itu.
Aku menghampirinya dan berjalan menuju kaki gunung.

Kita membeli barang yang dibutuhkan untuk rumahku.
“sekarang, bagaimana cara kita membawa semua ini?” tanyaku kebingungan
“di sini ada jasa penyewaan antar barang. Lebih baik kamu yang memilihnya dan menentukan harganya” jelasnya sambil mendorongku menuju tempatnya
“mungkin kita gunakan mobil bak ini saja, ini akan memuat lebih banyak barang dan akan lebih cepat pastinya” tawarku
“ya, itu terserah kamu saja… Kamu tidak perlu menanyakan berapa harganya?” tanya pria itu
“tidak usah, nanti saja” kembali jawabku
“dasar orang kaya” ucap pria itu dengan nada rendah

Semua barang sudah dinaikan ke atas mobil, dan kita duduk di belakang bersama papan papan kayu itu
“aku belum tau nama bapak siapa!?” tanyaku sambil berpegangan erat karena goncangan mobil yang berjalan melawan jalanan batu dan lumpur
“namaku Felik” jawabnya sambil mengulurkan satu tanganya
Aku membalasnya dan hampir terjatuh karena satu tanganku tidak seimbang
“ha ha ha ha” tawa Felik dengan tersedak sedak guncangan mobil

Setelah sampai, Felik menurunkan barang barang yang telah kita beli
“ongkosnya berapa pak?” tanyaku sambil mengambil dompet disaku belakang celana
“500 ribu nak” jawab supir itu
Aku tidak kaget karena aku memegang banyak uang saat itu.
Setelah supir dan mobilnya kembali turun ke kaki gunung, kami langsung bekerja.

Sudah cukup lama kita bekerja, dan keringat bercucuran menjelajahi tubuhku. Aku melihat jam tanganku, dan waktu menunjukan jam 1 siang. Aku segera beristirahat dan meminta izin untuk solat.
Ya, aku seorang muslim, agamaku Islam. Aku membersihkan tubuhku dan bergegas wudhu lalu mengerjakan solat di ruang tamu rumah kecil milik Felik. Aku tidak melihat Sari istri Felik saat aku masuk kerumahnya, mungkin dia sedang memasak.

Jam 1.30 siang aku selesai mengerjakan solatku, dan kembali memakai baju kotor bekas bekerja tadi untuk kembali membantu Felik.
“sudah sembahyang?” tanya Felik sambil memaku papan untuk dinding rumahku.
“sudah” jawabku dengan senyum
“apa yang harus aku bantu?” sambungku
“ini sudah hampir selesai, lebih baik kamu membereskan dalamnya” jawab Felik

Jam 4.30 aku sudah beres membersihkan semua ruangan rumahku dan mengisinya dengan kasur dari rumah Felik dan barang barang bawaanku sudah aku susun sedemikian rapi.
Aku kembali membersihkan diriku dan kembali menjalankan solat.

Hari sudah mulai gelap. Aku dan Felik duduk di depan teras rumah yang aku gunakan
“apa kamu tidak menggunakan listrik?” tanyaku pada Felik. Sepertinya aku sudah mulai akrab dengannya
“tidak, susah untuk menyambung listrik ke sini, dan biayanya juga cukup mahal. Aku punya lampu bensin yang tidak terpakai jika kamu mau” jawabnya
Rumah yang aku tinggali dengan rumah Felik tidak terlalu jauh, mungkin sekitar 200 meter.
“oh, ya… aku akan menggunakannya, tentu” jawabku dengan nada senang

Felik kembali ke rumahnya membawa lampu bensinya
“ini, sekarang sudah malam. Lebih baik kamu segera tidur” ucap Felik sambil memberikan lampunya kepadaku.
Aku segera bersiap untuk tidur, sesekali aku memegang telepon genggamku dan berniat menelepon ibuku dan juga Feny, tapi aku mengulurkan niatku itu dan segera tidur.

Suasana pegunungan yang begitu dingin membuatku kesulitan untuk tertidur. Aku memakai jaket tebalku untuk menghangatkan tubuh, tapi tetap saja terasa dingin di seluruh badanku…
Aku membayangkan tubuhku hangat dan mengalirkan panas tubuhku pada bagian yang terasa begitu dingin dengan “berkhayal”. Tak lama aku pun tidak sadar dan tertidur

Aku terbangun, dan melihat sekelilingku. Aku melihat ranselku dan selimut tebal yang menyelimutiku, aku melihat ke luar jendela dan sepertinya ini masih malam, aku berusaha bangun dan mengambil jam tanganku dengan tubuh kedinginan
“jam 4 pagi ya” ucapku sambil mengigil.
Aku bangun dari tempat tidurku. Aku tidak perlu menggantungkan kakiku di atas ranjang karena tempat tidurku hanya kasur kecil dan tanpa ranjang, kasurnya diletakan tepat di pojok kanan pintu keluar. Ya, hanya satu ruangan, memang hanya satu ruang, ruangan untuk tidur, makan, menyimpan baju, dan segalanya aku lakukan di ruangan ini.

Aku meregangkan otot otot badanku dan berjalan keluar, membuka pintu rumahku.
Aku menatap ke arah kanan dan melihat ada cahaya api di rumah Felik. Aku rasa Felik sedang membuat makanan untuk sarapan. Aku berjalan menuju rumahnya, dan benar. Felik sedang memanggang singkong bersama istrinya.

“hei, Licht…” ucap Felik sambil melambaikan tangannya. Aku rasa dia mulai terbiasa mengucapkan namaku.
“hai Felik, hai Sari” sapa ku kembali.
“sini, aku sedang membakar singkong untuk sarapan kita” ujar Felik mengajakku
Aku bergabung bersama mereka. Aku berpikir mereka adalah keluarga yang sangat harmonis, dan sangat kecil kemungkinan mereka untuk berpisah.

“Dengan keadaan seperti ini mereka bisa bahagia, kenapa harus bermewah-mewahan” ucap hatiku
“aku belum solat subuh, aku mau solat dulu. Boleh aku ikut di rumahmu lagi?” pintaku pada Felik
“ohh, ya. Silahkan, air kita masih banyak, gunakan saja” jawab Felik dengan ramah

Aku segera bergegas mengambil wudhu dan melaksanakan solat subuh.
Setelahnya aku sarapan bersama mereka berdua, aku seperti merasakan kembali kehangatan keluarga yang sudah 2 tahun terakhir tidak aku rasakan. Kita bercanda kesana kemari hingga tak terasa matahari sudah menampakan dirinya.

“apa kegiatanmu hari ini?” tanyaku pada Felik.
“aku akan berburu ke atas” jawab Felik sambil mengunyah makanan yang masih dalam mulutnya.
“hewan apa saja yang ada di lereng ini?”
“banyak, kadang aku dapat kelinci, kebanyakan aku dapat tupai” jelas Felik kepadaku
“ohh, baiklah. Boleh aku ikut?” tanyaku
“tentu, kamu bisa membawa pancingan. Kita akan memancing di kawah.” jawab Felik sambil tersenyum
“di kawah? Memang ada ikan diKawah gunung ini?” tanyaku kebingungan
“ada, aku juga tidak tau darimana asalnya. Mungkin pemerintah memelihara ikan di Kawah ini untuk dimanfaatkan” jawab Felik

Aku dan Felik bergegas menaiki gunung, sesekali kami terhenti dan Felik mengeluarkan senapannya dan menembakannya kearah tupai yang ada di atas pohon. Tembakannya selalu tepat sasaran sehingga aku pun kerepotan membawa hasil kita hari ini.

“Tante Sari, kamu tinggalkan dia sendirian di rumah?” tanyaku sambil terus berjalan
“ya, dia sudah terbiasa. Dia juga sudah aku ajarkan cara membela diri” jawabnya sambil mengisi pelurunya ke senapan angin miliknya.
“memang, sudah berapa lama kamu tinggal bersama Sari di gunung ini?”
“kita menikah 2 tahun yang lalu, dan kita memang dari pertama menikah memang tinggal di sini”
“kenapa kamu tinggal di sini?”
“aku memang tinggal di sini, dan Sari tinggal di Kaki gunung. Aku sudah lama memperhatikan Sari, dia tinggal bersama kakeknya yang sudah tua. Orangtuanya sudah lama meninggal, dan sebelum kita menikah, sekitar satu bulan sebelum kita menikah kakeknya juga meninggal. Jadi, aku menikahinya dan aku pasti akan selalu melindunginya dari apapun” jelas Felik panjang lebar.
Aku juga tersentuh karena mereka berdua yang bisa bertahan hidup tanpa bantuan orang lain. Setauku, hanya mereka yang tinggal di lereng gunung ini.

“apa ada penduduk lain yang tinggal di lereng gunung ini?” tanyaku penasaran
“tidak, sebenarnya gunung ini area wisata yang ramai. Banyak penduduk lain yang tinggal di lereng gunung ini, hanya saja di sudut yang berbeda. Sisi ini bisa dibilang belakang gunung Boden, dan di sudut yang lain itu adalah depannya. Kamu akan tau setelah kita sampai di kawah” jawabnya, sambil terus memperhatikan pohon.

Setelah sekian lama kita berjalan, akhirnya kita sampai di kawah gunung ini. Pemandangan yang sangat menakjubkan, hembusan angin yang kencang, bebatuan, dan rumput rumput hijau yang terhampar, di bawah aku melihat kawah yang sangat indah dengan warna air yang biru. Gunung ini memang sangat terawat sepertinya. Dan benar, banyak orang yang datang ke kawah gunung ini, mulai dari anak kecil sampai orang dewasa, di dekat kawah aku melihat kolam2 pemandian air panas.

“sangat menakjubkan, aku baru tau kalau ini gunung wisata” ujarku dengan kagum.
“ha ha, kamu hanya salah sudut pandang nak” jawab Felik dengan tawa kecil.

Kita menuruni bukit menuju kawah dan mulai memancing di kawahnya, tidak sedikit juga orang yang memancing di kawah ini.
Setelah 5 jam kita memancing, kita pun bergegas pulang. Walaupun hasil pancingan kita cuma dapat 1 ekor ikan, tapi aku rasa ini cukup.
Kita kembali ke rumah dan mempersiapkan bahan bahan untuk memasak, aku bertugas menyalakan api, Felik membersihkan hewan buruan, dan Sari membuat bumbu bumbu ramuan untuk masakan hari ini.

Tak terasa hari kembali gelap, tapi aku tidak lupa mengerjakan solatku. Aku kembali ke rumahku dan bergegas tidur, begitulah setiap hari ku di suasana baru ini. Ya, aku berbohong kepada ibuku. Aku sudah seminggu di sini dan begitulah setiap hariku, hingga Feny menghubungiku dan dia akan menemuiku.

Cerita masih akan berlanjut 🙂
Ikuti dan jangan sampai ketinggalan ya 😉

Cerpen Karangan: Nauffalaa
Blog: caratouse.blogspot.co.id
Haiii, teman-teman. Aku masih belajar dalam menulis, oleh karena itu, mohon arahan, kritik dan sarannya ya…
Ohh ya, aku asli dari Tasikmalaya, Jawa Barat. Kalau ada yang ‘se-kota’ boleh lah sharing-sharing secara langsung.., Masih haus akan ilmu nih… haha
Usiaku 17, aku sekolah di salah satu sekolah kejuruan di Tasikmalaya, semoga aku bisa membanggakan sekolah, keluarga, teman, guru, dan semua orang yang mengenalku. Amin 😀

Cerpen Another Fighter (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tears Of The Phoenix (Part 2)

Oleh:
Beberapa hari lalu Prilly dan Ali sudah melanjutkan perjalanan mereka karena memang kaki Prilly sudah membaik. “Di sini tidak ada pemukiman yah” Ucap Prilly melirik kesekitarnya. “Sepertinya tidak. Kenapa?

Bertahan Hidup

Oleh:
Berpetualang memang menyenangkan, tapi sepertinya petualangan yang berbau kematian, sebaiknya dijauhkan saja, seperti cerita berikut ini. Cerita ini berkisahkan tentang 3 orang anak remaja yang tak sengaja memasuki hutan

Fate Of Two Sorcerer (Part 3)

Oleh:
Seorang Prajurit kerajaan berjalan sambil membawa nampan yang berisi makanan menuju sel milik Dareen. Ia meletakan nampan itu di hadapan Dareen lalu pergi begitu saja meninggalkannya yang sedang duduk

Sahabat Scouts Selamanya (Part 4)

Oleh:
Aku bangun lalu berjalan dan berhenti di tengah-tengah mereka semua. “Teman-teman semua,” panggilku lemas, mereka semua mengarahkan pandangannya kepadaku, juga teman-teman Ulfa. “Semuanya harap tenang, dalam situasi seperti ini

Evangelistas (Part 1)

Oleh:
Adakah hal yang begitu kau sukai di dunia ini? Beberapa orang menjawab memasak, membaca, atau menyulam wol di musim dingin. Semua orang memiliki hobi masing-masing. Aku mencintai petualangan. Mulai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *