Black Bright (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Petualangan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 4 December 2017

Siang begitu terik membuat Deana, Rei dan juga Daisy merasa kelelahan hingga Mereka semua merasakan teramat sangat lapar. Masih dekat dari terminal pemberhentian bus, Dea tiba tiba saja jongkok. Ia menunjuk sebuah rumah makan “Warung Tegal” kemudian matanya menatap Rei dengan tajam dalam posisi masih berjongkok dan menunjuk rumah makan tersebut. Seketika saja Rei langsung berguman “Tak perlu memberi peringatan aneh. aku juga lapar, kau punya uang tidak?”. Tanpa berkata dea membuka tasnya dan mengambil dompetnya kemudian ia mengeluarkan kartu ATM nya dan menunjukkannya pada Rei. Rei tanpa berkata kata langsung mencari ATM menggunakan pandangannya yang tajam dan akhirnya ia menemukannya. Segera saja mereka pergi ke ATM tersebut. Dea kemudian memasukkan digit pin dan melakukan pengambilan uang yang entah ada berapa banyak uang seratus ribuannya. Rei hanya menatap dari dekat pintu dan ber-ah.

Setelah selesai, Dea keluar dari tempat itu dan bertanya pada Rei “Di mana Daisy? Apakah aku melewatkannya saking lapar?”. Mereka berdua melihat ke dekat dirinya sendiri dan mereka tidak menemukan Daisy. Dea yang tadinya merasa lapar tiba tiba resah dan tidak ingin makan. Sedangkan Rei ia hanya diam dan mengeluh untuk nanti saja mencarinya pasti Daisy kembali kepada majikannya. Namun hal itu tidak dapat menenagkan Dea. Dea yang masih memegang uangnya terus saja mencari keberadaan Daisy. Nampaknya itu menjadi incaran para pencopet.

Ada dua sosok mencurigakan dari rumah makan yang terus memperhatikan Dea. Wajah lusuh Dea tidak menghiraukannya. Beda dengan Rei yang langsung sigap memegang tangan Dea dan menyuruh Dea menyimpan uangnya. Dea malah memberikan uangnya pada Rei tanpa apik. Jadilah beberapa uang nya jatuh bertebaran ada sekitar lima uang kertas yang dihamburkan Dea. Rei berguman kesal.

Saat membereskan uang uang tersebut orang yang mencurigakan itu berada di belakang Rei dan berusaha memalaknya. Rei diam dan hanya memberikan orang orang tersebut tatapan yang tajam. Merasa ditantang akhirnya para penjahat itu berkelahi dengan Rei.

Sesampainya Dea yang sudah menemukan Daisy, Rei langsung menarik mereka dan berlari ke daerah yang lumayan jauh dari terminal hingga mereka masuk ke sebuah pelosok hutan. Orang orang yang mencurigakan tadi tetap mengikuti mereka bahkan saat mereka bersembunyi di belakang pohon besar mereka berhasil menemukannya. Dan terus terusan mengejar.

Energi manusia tidak dapat dipaksakan menjadi maksimal ketika ini sudah hampir habis. Tanpa diisi makanan apa apa akan menjadi penyakit juga. Akhirnya Rei dan Dea malah menyerah tapi untungnya pada penjahat tadi sudah tertinggal sangat jauh. Mereka berdua pun tersungkur jatuh di atas dedaunan di bawah pepohonan yang sejuk sekali. Daisy yang sedari tadi dipanggu hanya diam memperhatikan majikannya ngos ngosan.

Akhirnya Dea pun bersuara
“Mengapa kau dikejar mereka?! Apa yang kau lakukan?”
“Mereka mengincar uangmu. Ini juga salahmu!”
“Kenapa membuatku kehilangan tenaga dan juga kau menyalahkanku? Terdengar sarkastik”

“Hei dengar andai saja kau dengarkan aku untuk menyimpan uangnya dan berhentilah sementara untuk meresahkan keadaan Daisy. Tapi kau malah melemparkan uang di tanganmu itu padaku yang akhirnya dilihat oleh mereka!”
“Kau tidak pernah punya sesuatu yang ingin dilindungi jadi kau tidak tau betapa khawatirnya aku pada Daisy! Dan untuk uang itu terimakasih juga sudah menyimpannya dengan baik. Namun aku masih kesal kenapa aku juga harus dibawa bawa!”
“Aku juga punya sesuatu yang ingin dilindungi! Apa aku harus meminta maaf atas kesalahanmu juga?!”
“Hentikanlah sekarang pikirkan caranya keluar dari tempat ini!”

Rei terdiam seribu bahasa. Tanpa mengotrol muka ia sedang memikirkan hal yang sangat penting baginya sekarang. Namun, tanpa mereka sadari orang jahat tadi masih mengintai mereka yang sedang tiduran. Dan jumlah mereka bertambah banyak. Saat daisy meraung raung terus Dea hanya mengatakan “Diam dulu sebentar sayang kita sedang berfikir jangan ganggu ya”. Tapi Daisy yang menyadari situasi itu melihat sekelilingnya dikepung oleh banyak penjahat ia terus meraung bahkan sangat keras akhirnya mereka terbangun dari tidurnya dan langsung melihat para penjahat yang sedang mengepungnya. Mereka terdiam seribu bahasa. Daisy segera saja lari dan memanjat pohon sambil membawa tali dari tas Dea. Dea masih tidak bergerak ia masih shock. Sedangkan Rei sudah mengambil beberapa peralatan dari tas Dea yang sungguh membuat Rei terkejut. Ia mengambil korek api dan lilin juga gunting dan karung. Mungkin Daisy dan Rei sedang sejalan pikirannya setibanya di ranting besar paling atas Daisy mengaitkan tali itu menggunakan cakaranya dan membukakan tali itu sehingga menjalar ke bawah pohon dekat Rei dan Dea.

Para penjahat itu semakin melancarkan aksinya dari mereka tidak ada yang menyadari dengan tali yang dijalarkan Daisy. Dan tidak menyadari gerak gerik Rei yang diam diam mengambil karung dan lilin juga korek api. Kemudian Rei berbisik “aku melihat kepintaran kucingmu. Naiklah tali sudah dijalarkannya dekat pohon yang di belakang kita cepat” Dea masih membeku ketakukan tapi merasa indah, Karena hari itu mulai gelap.

Beberapa detik kemudian ia menyadari apa yang terjadi dan yang harus dilakukannya. Ia langsung mundur perlahan dan para penjahat itu mendekati mereka. Rei yang sedang berusaha menyiapkan lilin sudah siap dengan korek api. Salah satu penjahat yang berbadan kecil menyadari taktik dari mereka. Mereka sedikit mundur dan mengambil beberapa ranting yang jatuh di bawah. Sedangkan Dea sudah menyentuh tali yang masih dicengkram oleh Daisy dimana Daisy pun mendapat bantuan dari beberapa hewan di atas dengan cakaran mereka yang kuat menahan tali sudah siap menolong Dea. Akhirnya Dea sudah menyentuh talinya kemudian dia langsung berbalik arah dan berusaha menaiki pohon. Merasa tergerakkan semua penjahat langsung saja menyerbu mereka yang ingin melarikan diri.

Rei sudah menyalakn lilinnya. Ternyata lilin yang digunakan adalah lilin sembahyang dan lilin penerangan. Dimana kecepatan mencairnya lebih cepat yang putih tapi yang merah juga hanya saja lebih tahan lama. Rei sambil menaiki pohon dan menjatuhkan cairan lilin sehingga para penjahat merasa kepanasan. Ada yang wajahnya terkena oleh cairan lilin tersebut. Sambil menaiki pohon ia menarik tali juga. Sedangkan situasi di atas Daisy dan Dea sedang mengamankan diri dan Rei mengeluarkan Karung dari sakunya dan membakarnya berhubung para penjahat tersisa satu yang hampir saja mengikuti mereka. Saat hampir setengahnya terbakar, Rei menjatuhkan karung tersebut mengenai penjahat tersebut.

Akhirnya mereka semua pergi dan menyerah. Yang terkena karung terbakar mendapati luka bakar di badannya bagian punggungnya. Rei yang sudah selesai memanjat dan sampai berada di ranting atas merasa bersalah. Tapi Dea mengatakan pada Rei untuk tidak merasa bersalah. Itu dilakukan untuk menyelamatkan diri sendiri. Rei kemudian tersenyum dan melakukan tos bersama Dea.

Akhirnya mereka saling membelakangi di antara langit yang gelap karena mereka duduk di ranting yang terpisah dan saling membelakangi. Mereka berdua saling mengikatkan diri di ranting tersebut menggunakan tali yang tadi digunakan. Daisy berada dipangkuan Dea. Mereka termenung dalam keadaan perut kosong.

Akhirnya Dea terjaga dari bangunnya ia tidak bisa tidur ia hanya memikirkan antara dulu dan sekarang tentang Rei. Dia mengingat mengapa ia benci sekali pada Rei. Dulu, saat kelas 4 SD Dea mendapatkan peringkat 1 sedangkan Rei 10. Dea yang disambut oleh orangtuanya karena hasilnya baik mendapat banyak pujian. Di sisi lain Rei terdiam namun tersenyum pada Dea yang bahagia mendapat banyak pujian. Dea merasa sombong dengan menjulurkan lidah dan mengacuhkan senyiman Rei. Karena demikian orangtua Dea langsung memarahi Dea dan membela Rei. Tatapan negatif dari Dea membuat kesan bahwa Rei sebagai pencuri kasih sayang orangtuanya. Yang memang orangtua Dea sangat senang dengan cara Rei berbicara dengan mereka. Membantu ibu Dea saat memasak dan membantu mencucikan mobil ayah Dea walaupun tak sepenuhnya bersih. Itu menyita kasih sayang orangtua Dea. Sehingga Dea lebih sering di kamar dan menutup diri. Ini semua yang memulai aksinya memang Rei sendiri. Ia yang berinisiatif membantu, berbicara, dan lain sebagainya. Sedangkan Dea hanya akan berbicara ketika orangtuanya yang pertamakali mengajaknya. Akan melakukan sesuatu bila diperintah tidak pernah berinisiatif. Dea akan lebih memilih menutup jendela kamar dan gordyn nya kemudian duduk di kasur dan menulis beberapa kalimat dalam sobekan kertas. Entah apa yang dilakukannya. Itu mungkin pelampiasan dari ketidaksenangan Dea dengan kehidupan keluarganya.

Dea masih saja melamun mengingat betapa bencinya ia pada Rei. Namun, kejadia hari ini dimana Rei melindunginya dan terus bersama dirinya membuat ia tersadar. Rei memang sepenuhnya baik. Sebenarnya ia tahu orangtuanya tidak menitipkan Dea pada Rei. Namun itu semua inisiatif dan memang dulu dari kecil ayah Dea selalu berpesan untuk menjaga Dea selagi mereka tidak ada. Dan mungkin walaupun itu dulu Rei tetap bertanggungjawab atas apa yang ia perbuat dan apa yang dijanjikan.

Dea mendengar suara Rei yang sudah tertidur. Dea pun berguman “ah mungkin dia sangat lelah. Aku merasa kesepian sekarang” Daisy juga tertidur. Hanya ia yang terbangun. Ia akhirnya bisa menyadari hal hal tersebut. Ternyata tidak selalu kegelapan yang ia sukai itu jahat kepada putih. Dan saat menatap langit ia berkata dalam hatinya “Retorika perasaanku. salahnya aku terlalu mencintai kegelapan. Hitam tidak sendiri, dia ditemani warna cerah. Sebagaimana cahaya bulan dan bintang di langit gelap seperti sekarang. Kekontrasan cahaya juga indah dan menarik. Aku akan berusaha menyukai hal itu”. Begitulah malam yang terjadi hingga kesadarannya pun sudah batas maksimal. Dea pun tertidur karena kelelahan.

Sekitar beberapa jam Rei terbangun dari tidurnya. Melihat matahari jam tangannya yang menunjukkan jam 3.00 am. Membuat dia terbelalak. Ia melihat pelan pelan ke bawah dan tidak menemui apa apa. Rei kemudian perlahan membuka talinya dan berusaha mengambil hp-nya di sakunya. Saat ia mendapati hp-nya, ia langsung melihat baterainya sekitar 18% lagi. Ia kemudian berusaha mencari sinyal dan tidak dapat. Ia membangunkan Dea perlahan. Dea terbangun dan mengatakan “Sarapan?”. Rei menyadari Dea sepertinya masih bermimpi merasa tak enak untuk membangunkannya. Kemudian ia akhirnya mencari cara dengan pura pura berteriak “Nasi padang!”. Langsung saja membuat Dea terbangun dan hampir aaja tidak seimbang duduknya di atas ranting. Rei pun mengatakan “Dea ayo cepat kita harus turun dan pulang.”. Tanpa basa basi Dea membuka talinya dan memasukkan tali tersebut ke dalam tasnya kemudian menggendong Daisy. Namun, ia bingung cara turun dari pohon tersebut.

Akhirnya, Rei menawarinya untuk menaiki pundaknya. Awalnya Dea berpikir itu hal yang menjijikan. Namun demi kebaikannya ia pun setuju. Akhirnya mereka turun dengan selamat. Burung burung yang ada dalam sangjar di ranting paling atas langsung berterbangan saat Rei dan Dea turun. Sesampainya di bawah Dea langsung memegang tangan Rei dan satu tangannya lagi menggendong Daisy. Rei yang agak kaget tetap biasa saja dan membalas pegangan tangan dari Dea. Sehingga mereka berjalan bergandengan. Ini membuat Dea terjaga dan merasa terlindungi. Selama berjalan, mereka hanya mengikuti arah jalan yang bagus dan ada jejaknya mungkin bisa menjadi petunjuk mereka keluar. Namun ketika matahari terbitpun mereka malah sampai disebuah sungai. Kalau dilihat dari arah perjalanan sebenarnya mereka bukan menjauhi jalan keluar. Melainkan jalan keluar dari hutan itu sangat dekat hanya saja terkecoh dengan jalan yang tidak bersih dan sangat acak acakan tanpa jejak. Perjalanan mereka ternyata sangat menguras tenaga. Namun, menumbuhkan kesadaran tentang pertemanan.

Sebenarnya perjalanan dari kota asal menuju tempat mereka sekarang memakan tiga hari lamanya. Dan mereka merasa itu hanya satu hari. Kejadian ini semakin membuat mereka tidak enak perasaan. Pertama akibat konflik batin yang dibuat Dea, Daisy yang mensupport Dea. Kemudian juga Rei yang susah peka pada hal yang sebenarnya terjadi.

“Sekarang kita mau bagaimana? Uang untungnya masih utuh. Tapi keberadaan kita yang tidak menemui orang itu lebih berbahaya. Di sini cuman ada kamu aku dan daisy? Apakah kamu merasa baik baik saja?” Tanya Rei yang penuh dengan kalimat pertanyaan juga pernyataan membuat Dea mengernyitkan matanya.
“Hah sudahlah mari kita berdoa saja mungkin saja dapat jalan keluar, tapi sebaiknya kau saja yang dapat jalan keluar aku lebih betah berada di sini” Jawab Dea dengan lancar.
“Dasar bodoh! Mana mungkin aku meninggalkanmu. Sudahlah ayo kita sudahi ini. Aku sayang kamu sebagai sahabatku. Aku sudah anggap kamu adikku sendiri. Aku minta maaf kalo aku berbuat banyak kesalahan.” Kemudian Rei pun memeluk Dea.

Tepat saat berpelukan, datang seorang inspektur kehutanan dan mereka bertanya pada kedua orang yang sedang berpelukan itu “apa kalian tersesat? Darimana kalian masuk?” Tanyanya. Mereka kaget spontan melepas pelukannya. Dea yang masih merasakan seakan dunianya akan indah akan cerah lagi, jantungnya bereaksi gugup tiba tiba. Rei menjawab pertanyaan inspektur tersebut. Dan menceritakannya. Kemudian akhirnya hanya perlu 15 menit berjalan mereka berhasil keluar dari hutan itu dan kembali menuju stasiun. Mereka tenang, akhirnya mereka pun makan.

Keadaan mereka sangat lusuh, tapi mereka akhirnya berteman kembali. Sahabat terbaik takkan meninggalkan temannya dalam kesusahan walaupun sebenarnya mereka dalam keadaan saling membenci namun itu hanya kalimat yang keluar dari benak pikiran yang berbeda dengan hati.

Saat mereka dalam perjalanan pulang mereka saling berpegangan tangan dalam bus yang ditumpanginya. Melempar senyum satu sama lain. Bahagia dibuat oleh mereka sendiri. Akhirnya dunia gelap yang diukir Dea sudah musnah sekarang. Kesendirian Rei pun berakhir. Hanya perlu waktu dan saling kesadaran masing masing semuanya berakhir dengan baik.

Tapi tiba tiba saat mereka sedang bertatapan dan saing melempar senyum Rei teringat akan keberadaan Daisy. “Daisy di mana?” Dea langsung berkata “Ah jangan jangan dia masih di warung nasi tadi, ah sudahlah kita sudah di tengah tengah perjalanan tidak apa apa. Aku tidak membelinya di pet shop. Aku menemukannya di jalan.” Rei langsung menyahut “Ada apa kau ini?! Dia kan sangat kau sayangi, mengapa juga kau tiba tiba seperti itu ayo kembali temukan Daisy” Dea hanya tersenyum “sekarang kau lebih kusayangi daripada Daisy. Sudah tidak apa apa. Daripada menghamburkan banyak uang” Rei hanya ber ah kesal tapi dia baik baik saja karena ia masih menggenggam tangan Dea. Lalu bagaimana dengan Daisy? Dia bersama teman teman barunya di hutan. Mereka semua bahagia dalam pilihan hidupnya yang baru masing masing.

“Terimakasih Warna Yang Berwujud Petualangan Kamu Telah Datang Menghapus Hitam Dan Kegelapan Yang Ada Dalam Diriku Selama Ini” Guman Deana dalam hatinya

Cerpen Karangan: Fitri Nurul Falah
Facebook: facebook.com/profile.php?id=100008233307491
Hai Semuanya perkenalkan mana saya Fitri Nurul Falah, Kelahiran 15 Desember 2000 dan saya sekarang masih bersekolah di SMK yang berada di Bandung. Terimakasih untuk membaca cerpen dari saya semoga kalian semua menyukainya. Untuk kontak lebih lanjut silahkan add fb saya dan mari kita berbicara.Terimakasih sekali lagi dan selamat membaca

Cerpen Black Bright (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sunday Less

Oleh:
“Kringgg… Kringgg… Kringgg…”, jam weker berbunyi. “Hujan… Malasnya ane bangun…”, kata Vania sambil tetap menarik selimutnya. Hari ini hari Kamis. Sebenarnya bukan hujan yang membuat Vania malas move on

I Miss You So Bad

Oleh:
Pagi yang indah ini, kutelusuri setiap jalanan kota untuk menuju ke sekolah. Namaku Daniel, aku adalah tipe laki-laki yang tak suka dengan keramaian dan cenderung tertutup pada orang lain.

Percik Percik Api Di Kamar 13

Oleh:
Kuacak-acak lagi bajuku yang memang sudah berantakan. Mencari sesuatu yang sepertinya kuselipkan di bawah lipatan baju. Namun uangku sudah benar-benar hilang. Kira-kira tiga puluh ribuan yang kuletakkan di sana

Pemberian Kakek

Oleh:
Angin berhembus sangat kencang, menerpa dedaunan. Terlihat beberapa temanku yang asik bersendau gurau dengan teman-teman sebaya mereka. Aku duduk seraya memandang teman-temaku yang tengah memperhatikanku, dari kejauhan terlihat ada

One Special Love For Mom

Oleh:
“Fel.. gue boleh nanya sesuatu nggak sama lo?” tanya Bram di tengah langkah mereka saat mereka telah melakukan rutinitas seperti biasanya. Yaitu, latihan band bersama. “Tanya aja pake izin.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *