Gereja Tua dan Misteri (Perjalanan Melelahkan)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Petualangan
Lolos moderasi pada: 30 March 2021

Suatu ketika di desa kecil yang dinamakan Mahama terdapat gereja besar yang di dalamnya juga menjadi pendidikan bagi para calon biarawati. Gereja ini banyak menyimpan sejarah yang diluar nalar manusia biasa. Selain sejarah yang membuat penasaran, dalam gereja ini juga terdapat buku yang dianggap misteri oleh penduduk desa sekitar. Hal ini dikarenakan buku tersebut menyimpan berbagai macam misteri dan mantra yang bisa membuat orang kehilangan kesadarannya hingga mati.

Di dalam gereja itu terdapat satu tangga yang terbuat dari kayu dengan pegangan dari besi tua yang dicat warna hijau yang. Tangga tersebut termasuk tangga tertinggi di dalam gereja yang langsung megarah pada ruangan tertinggi di dalam gereja tersebut. Ruangan yang diarahkan tangga tersebut tertuju pada ruangan yang berisi buku ajaib yang dianggap warga setempat sebagai buku misteri yang banyak menyimpan rahasia tentang kampung dan gereja tua dengan tangga tinggi tadi. Gereja tua ini dianggap misteri oleh warga setempat karena banyak warga yang masuk ke dalam gereja tidak jarang akan tersesat bahkan kehilangan nyawanya termasuk anak-anak.

Dulunya di tahun 1980 gereja ini termasuk gereja yang paling ramai dikunjungi oleh para kristiani dan penganutnya, bahkan setiap minggu tidak jarang disewakan sebagai tempat untuk melaksanakan resepsi pernikahan dan pesta keagaamaan. Ditahun-tahun ini pula banyak warga yang sebelumnya tidak memiliki agama masuk ke dalam agama Kristen, melihat ramai dan rukunnya kehidupan warga setempat. Bahkan tidak jarang orang dari luar daerah juga mengunjungi gereja yang sekarang dianggap sebagai misteri tersebut. Datangnya orang dari luar daerah bermaksud untuk berkunjung, meneliti, hingga mengokohkan diri masuk ke agama Kristen. Begitu kuat magnet gereja tersebut untuk menarik perhatian dan simpatisan orang-orang untuk berkunjung dan memeluk agama Kristen, tidak hanya itu warga setempat juga menjadi hal yang menjadikan orang-orang dari luar daerah tersebut tertarik, dikarenakan kerukunan dan keramaian serta tolong menolong dan toleransi yang begitu kuat dibangun oleh warga setempat. Sehingga tidak jarang ketika melihat hal tesebut orang lain bisa merasakan kedamaian dan ketenangan, yang menjadikan mereka ingin tinggal di kampung Mahama dan memeluk kepercayaan mayoritas warga kampung Mahama tersebut yaitu Kristen.

Kehidupan warga begitu rukun dan damai sebelum ada seseorang yang datang ke tempat tersebut untuk menuntut ilmu dan mencari beberapa benda dan makhluk hidup yang terdapat di kampung Mahama. Benda dan makhluk hidup yang dicarinya tersebut termasuk benda dan makhluk hidup yang sudah sangat susah dicari bahkan sudah dianggap oleh warga menjadi sesuatu yang sudah tidak ada keberadaanya ataupun dinggap punah oleh warga setempat. Namun lelaki separuh baya yang bernama Ki Angke tersebut masih merasa bahwa sesuatu yang dicarinya tersebut masih ada dan menjadi mitos dan misteri dari desa tersebut. Dalam perjalanannya Ki Angke menghadapi banyak rintangan mulai dari yang biasa sampai dengan yang berbahaya.

Rintangan yang dihadapinya tersebut belum tentu bisa dihadapi oleh orang-orang biasa. Hal ini disebabkan banyak rintangan yang tidak masuk akal, termasuk ketika ia sampai di desa purba. Desa ini termasuk satu desa yang harus dilewati sebelum sampai ke kampung mahama, yang mana banyak warganya yang meninggalkan desa tersebut dan pindah ke kampung mahama, karena daya tarik kampung Mahama yang begitu kuat, sehingga tidak sedikit warga yang tidak ragu meningglakan desanya untuk berpindah ke kampung mahama tersebut.

Ketika di desa Purba Ki Angke belum melihat adanya orang yang lalu-lalang lewat, bahkan terlihat desa tersebut seperti desa mati tanpa penghuni yang tak terawat. Bahkan persawahan sudah menjadi semak belukar yang ditumbuhi rerumputan ilalang yang juga menutupi setengah jalan, sehingga Ki Angke harus merasakan tangannya tersayat-sayat rerumputan ilalang ketika berjalan melewati jalanan yang dipenuhi rerumputan yang menutupi setengah jalan tersebut. Seraya berjalan ki Angke merasa haus dan baru sadar bahwa botol minuman yang dibawanya tinggal satu tegukan saja. Sehingga ia berjalan ke arah mata air yang terletak di sawah tengah-tengah pedesaan dengan pancur yang terbuat dari bambu yang warnanya sudah menjadi kekuningan akibat dimakan oleh usia. Sesampainya di mata air Ki Angke tidak langsung mengisi botol minumannya melainkan meminum dahulu air seteguk yang masih ada di botolnya dengan sangat cepat terlihat dari gerakan jakunnya yang turun naik begitu cepat seakan-akan belum minum dari usia dini.

Tidak lama setelah ia meminum air yang tersisa di botolnya, Ki Angke kemudian mengisi botol kosongnya tersebut dengan air mata air yang sangat bening melewati pancuran bambu. Beningnya air mata air tersebut tidak kelihatan akibat botol plastik yang dipakai Ki Angke sudah mulai kusam, namun masih terasa begitu dingin dan sangat segar. Setelah mengisi botol minumannya Ki Angke pun beristirahat sejenak sembari rebahan melihat kearah langit yang begitu biru dan cerah pada hari itu. Tidak lama setelah ia rebahan ada seorang bapak-bapak tanpa baju dengan celana putih gantung yang dilumuri becek an sawah. Lalu bapak tersebut menyahut kepada Ki Angke;
“heii, siapa engkau wahai orang tua”
“aku hanya orang biasa yang sedang menompang istirarahat sejenak disini dan mengisi botol minumanku.”
“lantas hendak kemana engkau?”
“Aku sedang melakukan perjalanan menuju kampung Mahama”
“Apa keperluanmu kesana orang tua?”
“Ingin menjumpai keluargaku, apakah jarak kampung mahama tersebut masih jauh dari sini?”
“ini desa terakhir sebelum sampainya kampung Mahama, mungkin engkau tinggal berjalan beberapa kilo meter lagi mengikuti arah jalan bebatuan ini.”
“baiklah, terimakasih!!!”
“huhh… mengapa orang selalu ingin kesana” gumam si bapak dengan muka tengil sambil melangkah pergi

Tidak pikir panjang Ki Angke langsung berdiri dan melanjutkan perjalannya kembali kearah yang ditunjukkan oleh si bapak yang ditanyakannya barusan. Langkah demi langkah ia berjalan di tengah teriknya matahari dibawah naungan rumput-rumput ialalang yang tinggi manaungi separuh jalanan. Sambil berjalan pelan dengan keringat yang menetes dari jidatnya, Ki Angke meneguk sedikit demi sedikit air mata air yang diambilnya di pematang sawah di desa Purba.

Hari mulai sore namun Ki Angke masih terus berjalan. Di perjalannya ia merasa lapar dan mencari apa yang ia bisa makan di tengah-tengah perjalannya tersebut. Beberapa meter setelah ia merasa lapar ia melihat pohon belimbing dan berusaha mengambil buah belimbing yang masih mengkal atau belum masak seutuhnya. Namun karena perut sudah berbunyi dan begitu lapar mau tidak mau Ki Angke pun memakan dan menelan belimbing yang masih mengkal tersebut. Melihat hari yang mulai gelap dan ia mulai merasa lelah, Ki Angke menepi dan mencari gubuk atau semacamnya yang bisa dipakai untuk tidur beristirahat satu malam.

Ketika berjalan melewati hutan ia melihat rumah tua yang sepertinya sudah lama tidak ditempati, kemudian ia melangkahkan kakinya dan mandatangi rumah tua tersebut. Sesampainya di depan rumah tua yang berwaarna coklat dibalut sarang laba-laba dengan atap seadanya yang sudah bolong-bolong, ia pun masuk untuk melihat bagian dalam rumah tersebut dan mencari alas yang bisa ia tiduri untuk beristirahat. Di malam yang dibaluti dingin tersebut ia tidur dan beristirahat untuk merlanjutkan perjalannya di esok hari. Sebelum membentangkan alas untuk tidur ia mendengar suara gagak hitam ia pun tersenyum sambil menggelengkan kepala.

Suara ayam berkokok mulai kedengaran, sinar mentari mulai bergerak ke peraduannya. Ki Angke terbangun dan tidak langsung berdiri merlainkan melihat kearah langit-langit atap rumah tua tersebut, dan mendapi laba-laba yang sedang membangun sarangnya. Tidak lama setelah itu ia berdiri dan berjalan ke arah sumur yang berada di rumah tersebut. Di sumur tua itu ia menimba air dan mengunakannya untuk mencuci muka, untuk persiapan berjalan kembali. Tidak lupa ia juga mengisi kembali botol usangnya dengan air dari sumur tersebut, untuk bekal minumnya di perjalanan. Setalah berkemas Ki Angke melangkah ke arah pintu dan menghirup udara pagi di luar rumah yang begitu segar. Tanpa berpikir panjang ia kembali melanjutkan perjalanannya melewati jalan bebatuan yang belum pernah tersentuh aspal pembangunan sama sekali.

Setelah beberapa kilo berjalan dengan menggunakan sandal yang tali dan telapaknya terbuat dari rotan, Ki Angke melihat sebuah rumah dengan pekarangan bersih dan beberapa ekor ayam yang sedang memakan biji jagung. Kemudian ia berjalan dan menghampiri rumah tersebut, disitu ia melihat banyak warga yang sedang duduk-duduk sambal minum kopi dan beberapa warga yang memotong kayu serta beberapa ibu tua yang membawa kayu bakar di dalam keranjang yang disangkutkan di bahunya. Sampai disitu Ki Angke Bertanya kepada seorang warga yang sedang menyeduh kopinya, apakah Kampung Mahama masih jauh dari tempat tersebut, dengan ramah bapak yang sedang menyeduh kopinya menjawab, “Inilah kampung Mahama Bapak”. Terlihat rona wajah yang lega dari Ki Angke, mengetahui bahwa setelah beberapa hari ia berjalan ia pun telah tiba ke tempat yang ditujunya.

Setibanya Ki Angke di kampung Mahama yang ditujunya ia langsung mencari tempat untuk tinggal sementara waktu di kampung tersebut. Tanpa berpikir panjang ia mendatangi setiap rumah untuk menanyakan apakah mereka memberikan tompangan untuk ditinggali sementara. Namun saat itu tidak ada rumah untuk disewakan, ketika sedang berjalan mencari penginapan ia bertemu seorang kakek tua yang sedang memikul kayu bakar di pundaknya. Kakek tua tersebut bernama Sulistio, biasa dipanggil oleh warga kampung dengan sebutan Listo. Ketika berpapasan dengan Ki Angke, kakek Listo tersenyum sambal menundukkan kepalanya dan berjalan terus. Ki Angke datang dan menghampirinya terus bertanya apakah di tempat tersebut terdapat penginapan, dengan senyum khas dari kakek Listo ia menjawab, “Sampean boleh menginap di tempat saya”. Ki Angke pun tidak menolak dan langsung berjalan mengikuti langkah kek Listo.

Sesampainya di depan rumah kakek Listo, ia menyampaikan bahwa tempat tinggalnya seadanya dan masih sangat sederhana. Ki Angke hanya tersenyum dan berkata tak apa Pak Tua, kakek Listo menjawab “panggil saja saya Listo jangan Pak Tua”, sambil tersenyum. Matahari mulai terbenam hari pun mulai gelap, tidak terasa mereka telah mengobrol selama beberapa jam, sampai kopi hitam di gelas mereka hanya tinggal ampas. Sambal berdiri Ki Angke mengatakan “sepertinya perut saya sudah mulai lapar”, kek Listo langsung bergegas menyalakan kayu bakarnya dengan korek api sambal berkata “Ki boleh ambilkan Ubi di Karung yang berada di samping pintu rumah” saking laparnya Ki Angke hampir terjatuh ketika mengambil ubi tersebut. Mereka berdua membakar ubi tersebut di belakang rumah dengan kayu bakar yang dibawa kek Listo siang tadi. Tidak lengkap rasanya makan ubi tanpa minum mereka kembali menyeduh kopi Hitam dengan air yang dipanaskan diatas api bekas membakar ubi yang masih menyala.

Selepas memakan ubi dan menyeruput kopi hitam kedua orang tua ini masuk ke dalam kamar untuk beristirahat, agar bisa beraktifitas dengan baik di esok hari. Sebangunnya dari tidur karena suara ayam yang berkokok kencang, Ki Angke sudah tidak melihat Kakek Listo. Kemudian ia bangkit dari tempat beristirahatnya menuju pintu depan seraya berteriak memanggil “Listo… Listo…”. Ketika membuka pintu ia mendapati kakek Listo sudah berada di depan rumah sambil memotong kayu dengan kapak yang diayunkan kencang oleh dia. Melihat kejadian itu Ki Angke menghampirinya dan membantu menyusun kayu-kayu tersebut.

Seusai membantu kakek Listo, Ki Angke pergi berjalan-jalan dengan niat ingin melihat gereja yang sering diceritakan orang-orang yang sampai ke kupingnya. Kebetulan gereja yang dikatakan gereja terbesar di wilayah itu memang menjadi tujuannya ke Kampung Mahama, agar dapat menyempurnakan ilmu yang sedang ia tuntut, termasuk syarat-syarat yang harus ia ambil dan terletak di sekitar kampung Mahama. Ketika sedang berjalan ia melihat bangunan yang begitu megah, ternayata bangunan tersebut merupakan gereja yang sedang iya tuju, roba bahagia dan muka antagonis terlihat di mukanya seakan-akan ia akan menelan seluruh warga perkampungan.

To Be Continue…

Cerpen Karangan: Ahmadnursaid Nst

Cerpen Gereja Tua dan Misteri (Perjalanan Melelahkan) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hitungan Ke Lima

Oleh:
“Dalam hitungan ke lima, kita lari! Kau ikuti saja aku,” “Tunggu, kita lari kemana?” Tapi, temannya tidak menghiraukan. Dia hanya menghitung sampai lima, lalu mulai berlari. Tepat sebelum sampai

Miracle (Part 1)

Oleh:
Tak kusangka masih saja kudekap kedua lutut dan bertopang dagu selama 2 jam, ini benar-benar membuatku lelah. Aku hanya tak mengerti maksud dari bulir-bulir kata yang kupelajari saat ini.

Lighting and Darkness

Oleh:
Di suatu tempat di alam semesta yang bernama dunia fantasi, ada suatu kegelapan yang sangat kuat menyelimuti dunia fantasi yang berwujud seekor naga. Di dunia tersebut, makhluk hidup digolongkan

The Slainetonia (Part 1)

Oleh:
Di sebuah dunia misterius terdapat kehidupan yang sama dengan dunia nyata. Ada salah satu tempat di dunia misterius itu yang terkenal baik dari perdagangan, militer, ekonomi, sumber daya, pariwisata

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *