Keberanian

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Petualangan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 1 March 2016

Pagi ini terasa dingin. Aku masih berada di dalam selimutku yang tebal. Aku dan sahabatku, Fatika sedang berada di perkemahan. Hari ini merupakan hari kedua kami berkemah. Sekolah kami mengadakan perkemahan di kawasan pegunungan. Yaitu di Senolewah dekat Gunung Merapi, DIY. Aku masih teringat kejadian semalam. Semalam diadakan pentas seni. Akan tetapi karena hari sudah malam aku memilih untuk masuk ke tenda.

Saat hendak pergi ke tenda, aku dan Fatika, melihat ada seseorang yang mencurigakan. Ia tampak membawa tas hitam. Ia berjenggot. Sebelah lahan perkemahan adalah hutan. Ia masuk ke dalam hutan. Tetapi saat aku hendak mengikutinya, Fatika melarangku. Dia berkata bahwa ini berbahaya. Akhirnya aku memutuskan untuk langsung ke tenda. Setelah bangun tidur, aku melihat Fatika masih tertidur. Aku lalu membangunkannya untuk salat subuh bersama.

“Fatika!! Ayo bangun! Sudah pagi ini. Ayo lekas salat subuh!! Fatika!” ucapku.
“Mmm, aku masih sangat mengantuk. Apakah ini sudah pagi? Baiklah ayo kita salat subuh,” ucap Fatika.

Setelah kami menunaikan salat subuh. Kami hendak ke gazebo di tengah lapangan. Kami menikmati sejuknya udara di pagi hari ini. Ada banyak burung berkicau, bunga-bunga yang berwarna-warni, dan pepohonan yang rindang. Selang beberapa menit kemudian aku dan Fatika terkejut. Ternyata di belakang kami ada kak pembina pramuka, namanya Kak Priyanto. Akan tetapi lebih sering dipanggil Kak P. Setelah bercakap-cakap dengan Kak P, kami langsung pergi ke tenda untuk mengambil baju dan segera mandi. Saat kami sampai, ternyata antrean kamar mandi sudah sangat banyak.

“Yah, antreannya sudah banyak sekali,” ucapku sambil mengeluh.
“Bagaimana tidak banyak, kita sih datangnya telat tadi. Tadi kita terlalu asyik lihat pemandangan sih,” sahut Fatika. “Ya sudahlah. Kita antre saja. Yang penting kan kita mandi, biar badan enggak bau.” ucapku.
“Betul, betul, betul,” jawab Fatika.

Akhirnya kami selesai juga mandi. Hanya untuk mandi kami harus mengantre selama satu jam lebih.
“Mari kita ke tenda. Di sana aku membawa banyak makanan. Kamu laper gak Fat?” tanyaku.
“Iya aku laper ni Vi. Mau gak kita lari siapa yang sampai tendamu paling cepat dia yang menang. Mau gak Vi?” tanya Fatika.
“Oke siapa takut,” sahutku tanpa ragu.
Sepuluh menit kemudian.
“Yeeee!! aku yang menang! Wuhuuyy!!” ucapku.
“Aku sengaja ngalah tahu, biar kamu menang Vi.” sahut Fatika dengan nada kesal.

Kami bercanda sambil memakan snack. Beberapa saat kemudian aku mendengar peluit kami segera berbaris. Ternyata Kak P mengumumkan bahwa, akan diadakan jelajah medan. Aku dan Fatika bersiap-siap. Kami memakai baju olahraga. Kami membawa minum. Kami juga membawa buku petunjuk pramuka. Setelah kami siap kami bergegas berangkat. Kami menyusuri hutan yang lebat akan pepohonan. Kami tertawa bersama karena terlalu asyik, kami tidak sadar telah terpisah dari rombongan.

Kami berjalan terus dan sampai di pertigaan. Kami bingung mau ke mana. Akhirnya kami memilih untuk ke selatan. Saat kami berjalan terus. Tiba-tiba hujan datang. Kami hendak mencari tempat untuk berteduh. Kami melihat sebuah rumah kosong. Kami lantas masuk ke rumah kosong tersebut. Bertapa kami terkejutnya saat melihat rumah kosong tersebut penuh dengan drum. Kami mencium bau bensin. Lalu aku dan Fatika membuka sedikit tutup drum tersebut. Benar ternyata bahwa drum tersebut berisi bensin. Setelah itu aku melihat seorang laki-laki berkumis. Ternyata itu adalah laki-laki yang aku lihat semalam. Kami langsung bersembunyi. Kami sangat ketakutan.

“Avi, bagaimana ini aku sangat takut sekali. Lelaki itu sangat menakutkan,” ucap Fatika dengan nada pelan dan bergemetar. “Sama aku juga takut keles.. stt! sudah jangan menangis. Nanti kita ketahuan,” sahutku.

Karena ketakutan, Fatika tidak sadar telah menjatuhkan buku petunjuk pramukanya. Kami ketahuan. Kami lantas ke luar dari rumah tersebut. Kami sangat ketakutan. Di belakang kami, ada laki-laki yang mengikuti kami. Kami lari dengan secepat mungkin. Lalu kami melihat ada semak-semak, kami lalu bersembunyi. Akhirnya laki-laki itu pergi. Aku dan Fatika merasa lega sekali. Setelah laki-laki itu pergi kami kembali berlari menuju perkemahan. Kami terpaksa hujan-hujanan. Sambil berlari aku membuka ponselku. Memang sebenarnya membuka ponsel saat jelajah medan tidak boleh, tapi mau bagaimana lagi. Untung saja di ponselku ada GPS. Kami mengikuti arah dari peta yang ada di GPS. Akhirnya kami sampai juga di perkemahan. Setelah kami sampai di perkemahan. Kami merasa lega, tetapi kami juga sangat takut.

“Avi gimana ini! kita harus bagaimana sekarang?” ucap Fatika.
“Sama aku juga takut banget. Bagaimana kalau kita bilang aja sama Kak P? tentang yang kita lihat tadi itu. Bagaimana setuju gak Fat?” sahutku.
“Jangan Avi, kalau kita dapat masalah gimana coba? Mending kita diem aja. Pura-pura gak tahu apa-apa,” ucap Fatika. “Tapi, aku enggak setuju, aku rasa kita harus bilang ke Kak P, tentang yang kita lihat tadi itu. Inget gak kata Bu Purwanti? kalau kita tahu sesuatu kita harus berani untuk kasih tahu apa yang kita lihat tadi dan kita harus jujur. Kita enggak boleh bohong,”

“Tapi Vi, kalau kita malah dapet masalah gimana? nanti nilaiku dikurangi,”
“Enggak mungkin kita dapet masalah. Aku yakin itu. Karena kita kan jujur. Kita jujur kalau kita tadi melihat banyak drum drum bensin. Mungkin itu ulah orang yang mau untung sendiri. Mereka sengaja menyembunyikan bensin-bensin itu agar harga bensin menjadi mahal. Iya gak Tik? Coba kamu pikir deh?”
“Iya juga sih..”
“Yau dah. Nanti habis magrib kita kasih tahu Kak P ya.Oke?”
“Oke deh,”
“Sekarang kita ke tenda aja yuk. Kita istirahat di tenda Fat,” ucapku.
“Ya,” jawab Fatika. Suara azan magrib berkumandang, aku dan Fatika bersiap-siap untuk ke mesjid. Sesudah menunaikan salat magrib kami bertemu dengan Kak P. Kami menceritakan kejadian yang kami alami tadi dengan Kak P.

“Yang benar itu?” tanya Kak P.
“Benar Kak. Kami sendiri melihatnya,” jawabku dan Fatika serempak.
“Besok jam enam pagi kalian datang ke mesjid. Kakak ingin tahu di mana kalian melihatnya. Bisa kan kalian menunjukkannya?” ucap Kak P.
“Siap kak. Kami siap menunjukkan tempatnya,” jawab kami serempak.
“Baiklah jika begitu kakak ingin pergi dulu. Setelah ini tolong kalian umumkan untuk para peserta berkumpul di lapangan. Kita akan mengadakan api unggun,”
“Baik Kak!” ucap kami.

Setelah kami bercerita kepada Kak P, kami langsung mengumpulkan teman-teman kami di lapangan, seperti perintah Kak P. Aku sangat lega sudah memberitahu Kak P, tentang yang aku dan Fatika lihat tadi. Malam ini diadakan api unggun yang sangat meriah. Aku sangat menikmatinya. Walaupun malam ini sangat dingin, tetapi ini sangat seru. Aku tertawa bersama teman-teman. Kami menari nari bersama hingga larut malam. Keesokan harinya aku dan Fatika bersiap-siap menuju mesjid. Aku dan Fatika akan menemui Kak P. Ternyata saat aku sudah sampai mesjid Kak P sudah menungguku dan Fatika. Kami sangat terkejut, ternyata ada beberapa Pak Polisi yang datang. Kami bertanya ke Kak P. Kenapa ada Pak Polisi di sini.

“Kak P, kenapa di sini ada Pak Polisi?” tanyaku.
“Enggak ada apa-apa. Kemarin kan kata kalian melihat rumah kosong yang berisi banyak drum bensin? Jadi bisa tidak kalian tunjukkan di mana tempatnya?” tanya Kak P.
“Bisa kak!” jawab kami serempak.

Kami pergi ke rumah kosong yang kemarin. Saat sampai di depan rumah kosong itu, Pak Polisi memberitahu bahwa aku dan Fatika harus menunggu di luar dan bersembunyi karena ini berbahaya. Dari depan rumah kosong tersebut sepi. Tiba-tiba ada suara pistol dari dalam rumah. Aku dan Fatika terkejut dan ketakutan. Lalu Pak Polisi ke luar dari rumah kosong tersebut dengan seorang pria yang mengejar kami kemarin.

Setelah itu kami kembali ke perkemahan. Saat sampai di perkemahan teman-teman merasa heran tentang apa yang terjadi mengapa ada pak polisi yang ke sini. Lalu penjahat itu dimasukkan ke dalam mobil polisi. Dan saat Pak Polisi hendak pergi, Pak Polisi memberikan hadiah kepadaku dan Fatika. Saat liburan sekolah nanti, kami akan diajak jalan-jalan ke kantor polisi dan dan belajar menjadi polisi cilik.

Cerpen Karangan: Anisa Putri Aviana
Facebook: Anisa Avi
Nama saya Anisa Putri Aviana,saya tinggal di Yogyakarta, Indonesia. Ayo ikuti saya di instagram: @anisaputri_aviana

Cerpen Keberanian merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kau Hebat Nak

Oleh:
Sinar matahari masuk ke dalam kelopak mataku. Aku pun menyadari, Jika aku… Aku kesiangan!!. Aku pun bergegas bangun dari tempat tidur dan segera masuk ke kamar mandi. “Aduh, Aku

Si Hanako Chan

Oleh:
Urban jepang Hanako-san. Menceritakan tentang hantu anak anak yang bernama Hanako-san yang menghantui toilet di sekolah. Kau bisa memanggilnya jika kau mengetuk pintu toilet sebanyak 3 kali lalu memanggil

Masa Remaja

Oleh:
Di masa remaja, mereka masih bisa meluangkan waktu mereka untuk bermain, tertawa bahagia besrsama teman seusianya. Mereka bisa pergi ke Mall kapan saja dengan teman-temannya. Tetapi tidak dengan Aku,

Akhir Pekan Nuri

Oleh:
Ceritanya tuh sekarang gue lagi nonton bioskop bareng temen-temen gue yang bernama Amel, Nadia, dan Liza judulnya ‘Akhir Pekan Miko’ sumpeh… menurut gue tuh film bagus banget bermoral banget.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *