Ada Apa Dengan Impian?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 26 July 2016

“Kamu punya mimpi apa Ka?” pertanyaan dari guru itu masih mengiar-ngiar di telingaku. Kini aku disini, di persimpangan jalan kota kretek yang penuh lalu lalang kendaraan beroda. Masih dengan seragam putih abu-abu kebangganku. Senja mulai pudar dari persinggahannya. Mengenai mimpiku, mengapa aku baru befikir sekarang? Sedangkan sejak Sekolah Dasar sudah sering guru menanyakan akan mimpiku. Ah, tepatnya cita-citaku. Namun dulu aku selalu asal dalam menjawab, pernah aku bilang ingin menjadi dokter, profesor, guru, dan juga orang hebat. Tetapi sekarang, aku sudah berusia hampir tujuh belas tahun. Usia yang sudah tidak bisa lagi aku jawab asal-asalan untuk impianku.

Aku berhenti sejenak, berdiri di tengah-tengah hamparan jalan kota yang banyak dilalui kendaraan ini. Mungkin seperti inilah hatiku saat ini. Terusik dan juga tak tahu harus bagaimana. Bahkan aku bingung mau melalui jalan yang mana, mengenaskan!
Tiba-tiba saja aku tersadar, sejak tadi aku mematikan handphoneku. Bunda pasti akan sangat khawatir dengan keadaanku saat ini. Dengan segera aku membuka handphone, dan benar saja, ada dua puluh tiga panggilan tak terjawab dari bunda. Maka segera mungkin aku melangkah pulang.

Sampainya aku di ambang pintu rumah, bunda sudah berjaga disana. Begitu melihatku ia segera berlari dan memelukku.
“Kamu darimana Le? Kamu buat Bunda kepikiran, biasanya gak sampai semalam ini Kamu pulang. Apa ada masalah? Ceritalah sama Bunda!” aku sudah menebak bahwa itu akan menjadi pertanyaan bunda setibanya aku di rumah. Aku tahu bunda akan sangat khawatir kepadaku. Jelaslah, aku adalah harta batin satu-satunya. Dan begitu pula bunda, ia adalah orangtuaku satu-satunya setelah meninggalnya ayah.
“Gak Bun, Raka gak apa-apa. tadi Raka Cuma cari angin di luar.” Jawabku bohong
“Kamu jangan bohong sama Bunda, kalau cari angin saja kenapa sampai semalam ini? Bahkan Kamu belum pulang sekolah sejak tadi kan? Kamu sudah makan?”
“Iya, Bun. Maafin Raka ya”
“Ya sudah, sekarang Kamu mandi ya, terus nanti makan sama Bunda.”
“iya Bun, Raka kekamar dulu”.

“Kamu kenapa to Le? Apa ada masalaah? Sudah malam kok masih di luar.” Aku tersadar dari lamunanku. Ternyata bunda sudah ada di dekatku. Wajahnya menyiratkan hal yang sama seperti aku rasakan. Aku tahu ia khawatir.
“Bunda punya mimpi apa?” tanyaku ragu. Bunda menatapku heran, lalu tersenyum.
“Mimpi Bunda sudah Kamu wujudkan Le. Dengan Kamu menjadi anak baik dan juga selalu taat pada Allah. Itu mimpi terakhir Bunda.” Aku tertegun, jawaban bunda tentu tidak sama dengan jawabanku saat kecil.
“Maksud Raka bukan itu Bun, mimpi Bunda untuk diri Bunda sendiri. Seperti jadi guru atau apa.”
“Mimpi itu to, kalau mimpi itu juga sudah Bunda wujudkan. Bunda punya mimpi pengen punya anak baik dalam segala hal Ka. Itu juga termasuk mimpi kan?”
“Tapi bukan mimpi yang seperti itu yang Raka tanyakan Bun, mimpi Bunda untuk pekerjaan. Untuk dapat uang.”
“Raka, mimpi itu bukan untuk pekerjaan, bukan untuk uang. Tapi untuk pengabdian, kalau Kamu punya mimpi berusahalah untuk meraihnya, tapi jangan pernah berfikir bahwa Kamu akan memperoleh uang dari mimpi Kamu itu. Kalau Kamu mampu, pasti uang yang akan mencari Kamu. Jangan Kamu yang mencari uang.” Aku diam, bungkam. Bingung mau menjawab bagaimana. Pernyataan bunda itu membuatku berfikir. Aku terus menatap bunda.
“Kamu bingung ya dengan mimpi Kamu? Kamu bingung ingin jadi apa?” tepat sasaran, bunda memang yang paling tahu akan diriku.
“Iya Bun. Tadi di sekolah guru BK Raka tanya, dan hanya Raka yang belum bisa jawab. Raka bingung Bun, dulu waktu SD Raka gak pernah fikir tentang impian Raka. Jawaban Raka itu katanya penting untuk mengisi data siswa. Tapi kalau Raka jawab asal-asalan sama saja Raka masih anak SD Bun. Raka bingung.” jawabanku itu kembali membuat bunda tersenyum.
“Sekarang gini, coba Kamu fikir akan apa yang ingin Kamu inginkan di dunia ini. Tapi cobalah yang Kamu pikirkan itu Kamu kaitkan dengan akhirat. Ada manfaatnya gak? Bisa kamu pertanggung jawabkan tidak. Bunda hanya berpesan itu, karena Kamu yang lebih tahu impian Kamu. Sekarang masuk ya, ini sudah malam, besok Kamu sekolah.” Setelah penjelasan panjang bunda itu, ia memutuskan untuk masuk ke dalam rumah terlebih dahulu. Aku masih di luar. Duduk menatap para bintang, merasakan hawa angin yang membuatku iri. Setidaknya angin itu tahu kemana ia akan pergi. Namun aku?

Bahkan masuk sekolah saja mebuatku takut. Memikirkan bahwa guru BK itu akan kembali menanyakan tentang impianku. Mengapa harus ada mimpi segala? Percuma saja bermimpi jika kita tidak bisa meraihnya. Itu hanya akan membuat kita terluka bukan?.
“Hai Raka”. seseorang menyapaku. Seorang anak laki-laki yang tak tahu aku siapa dia.
“Hai” balasku acuh.
“Kamu ketua kelas XII A IPA kan?”
“Iya. Kenapa?”
“Kenalin, Aku Doni. Pimpinan Redaksi majalah sekolah. Aku mau namawarin sesuatu sama Kamu. Aku denger-denger Kamu pinter dalam hal nulis. Dan berhubung majalah Kita mau terbit bulan ini tapi kekurangan bahan tulisan dari siswa. Kamu mau gak kalau tak mintai tulisan?”
“Tentang apa ya?”
“Cara meraih impian?” aku ternganga seketika. Impian lagi
“Aku pikir-pikir dulu ya, soalnya juga bingung ini. Aku lagi banyak tugas.”
“Iya, Aku tahu kok Kamu anak cerdas. Jadi duluin aja tugas utama kamu, belajar, tapi Aku tetep berharap kamu bisa. Kalau emang Kamu sanggup, langsung aja kirim tulisan Kamu ke redaki. Makasih ya”.
“Oke”. Lalu laki-laki bernama Doni itu pergi. Aku berjalan perlahan menyusuri koridor-koridor sekolah. Mungkin memang benar, kadang apa yang kita inginkan tak baik untuk diri kita sendiri. Dan begitu juga sebaliknya. Bahkan hal yang mungkin kecil saja membuatku kalut saat ini. Impian!

“Raka”. Seseorang memanggilku. Aku tahu itu siapa.
“Iya Pak,” dia guru BK yang aku takuti saat ini karena pertanyaannya. Ah, yang membuatku harus berfikir sekeras ini.
“Bagaimana data pribadi Kamu? Itu hanya tingga impian kan? Kapan Kamu kasih ke Saya? Lusa terakhir ya.”
“Iya Pak,” jawabku tak yakin
“Ya sudah, Saya duluan.”
Aku menatap kepergian guru BK itu ragu. Bagaimana mungkin lusa menjadi hari terakhir pengumpulan data pribadi? Benar-benar.

Aku di jalan yang sama. Persimpangan jalan kota yang menjadi tempat bergelut nestapaku. Bahkan langit yang mulai mengkuning tak membuatku ingin pulang. Aku menatap ke arah tengah jalan. Kenadaraan-kenadaraan itu melaju karena mereka tahu kemana mereka harus pergi. Sedangkan aku?
Tanpa sengaja tatapanku beralih kepada seseorang di sebrang jalan. Dia seperti memperhatikaku sedari tadi. Aku menatapnya ragu, heran. Laki-laki separuh baya itu melambaikan tangan ke arahku seperti mengisyaratkan agar aku pergi kepadanya. Dengan ragu aku melangkah pelan ke arahnya, mungkin orang itu ingin menanyakan sesuatu.
“Kamu Raka kan?”
“Anda kok tahu?”
“Saya Pak Sahal. Juri waktu Kamu ikut lomba cerdas cermat di kabupaten. Ingat gak?”
“Ahh, iya, Saya ingat. Bagaimana keadaan Anda pak?”
“Baik, baik. Kamu bagaimana? Saya lihat dari tadi Kamu seperti orang bingung. Ada apa?”
“Saya baik Pak, hanya saja Saya sedang bingung. Ada pertanyaan yang tidak bisa Saya jawab, Saya bingung mencarinya dimana.”
“Kamu ini kan cedas. Pertanyaan semacam apa itu kok buat Kamu tidak bisa menjawab? Apa sulit? Mungkin Saya bisa bantu!”
“Semoga Anda memang bisa bantu Pak. Pertanyaannya itu tentang mimpi. Impian Saya pak. Saya gak tahu apa impian Saya. Kalau Saya saja gak tahu impian Saya bagaimana Saya akan berusaha meraihnya.”
“Wahh ternyata seperi itu to pertanyaannya. Oh Kita duduk di sana saja yang teduh.” Pak Sahal melangkah menuju taman dan duduk di bangku panjang. Aku mengikutinya di belakang dan ikut duduk di dekatnya.

“Dulu Saya juga seperti Kamu. Waktu ditanya bapak Saya tentang apa yang Saya impikan, Saya tidak bisa menjawab. Tapi bapak Saya berpesan agar Saya mencarinya terlebih dulu. Biar Saya gak asal jawab. Bapak juga Saya berpesan, perkataan adalah do’a. Dan beliau khawatir kalau Saya asal ceplos tentang impian Saya, nanti kalau ternyata terwujud. Saya malah menyesal karena memimpikan itu. Kamu begitu juga?”
“Hampir sama Pak. Saya juga berfikir seperti bapak Anda. Hanya saja ini yang bertanya guru BK. Saya bingung mau menjawab bagaimana. Padahal tinggal lusa data pribadi itu harus Saya kumpulan.”
“Hahahaha, Bapak dulu juga gitu. Bingungnya minta ampun. Tapi entah karena apa bapak bisa menemukan jawabannya sendiri, dan Kamu tahu? Ternyata jawaban itu ada pada diri Bapak! Apa Kamu sudah bertanya pada diri Kamu tentang apa yang Kamu impikan? Dulu Bapak pernah, bahkan sampai Bapak sholati segala. Dan ketemunya ini, jadi guru. Tapi niatan Bapak gak untuk dapat uang dengan jadi guru. Bapak berharapnya agar Bapak bisa bermanfaat untuk orang lain.”
“Kalau Kamu bingung, berdo’alah sama Allah, minta petunjuk. Karena jawaban terbaik itu selalu pada-Nya. Kalau memang sudah ketemu, Kamu harus buat niat yang baik, biar Kamu lebih mudah menggapainya dan barokah. Paham?”

Malam ini, seusai sholat isya’ Aku segera melakukan apa yang dipesankan oleh pak Sahal sore tadi. Aku berdo’a dengan sesegukan. Meminta petunjuk dari-Nya. Hingga tanpa sadar aku tertidur di lantai sampai bunda membangunkanku saat subuh.
“Le, Kamu kok tidur isini?”
“Iya Bunda, Raka pusing.” Rengekku pelan
“Kamu kenapa?” lalu bunda memegang keningku lembut.
“Kamu demam. Ayo ke dokter Ka, biar Bunda suruh pak lek Mu siapin montor. Paling Kamu ini kecapekan.” Bunda lalu berlari ke luar rumah. memanggil pamanku yaang rumahnya berhadapan denganku. Dengan tergopoh-gopoh bunda membawaku ke puskemas. Bunda menemaniku masuk ke ruang pemeriksaan pasien. Seorang dokter laki-laki paruh baya yang mengurusiku. Setelah meberi suntikan, dokter itu lalu memanggil salah seorang suster dan memberikan sampel darah untuk diperiksa.
“Mungkin ini gejala tipes Bu.” Kata doter itu pada bunda.
“Gusti, lalu bagaimana Dok? Apa dia harus menginap disini?”
“Mungkin tidak harus Bu, asal kalau di rumah dijaga betul. Jangan makan-makanan yang berminyak, pedas, dan juga pahit atau kecut. Harus banyak makan sayur. Obatnya juga diminum terus.”
“Iya Dok terima kasih.”

Setelah satu minggu aku terbaring di kasur, pagi ini aku putuskan untuk pergi ke sekolah. Begitu siap aku segera menghampiri bunda di dapur.
“Bunda, Raka sekolah dulu ya.”
“Kamu gak sarapan dulu Le? Kamu beneran udah sehat? Jangan dipaksa kalau masih sakit!”
“Gak Bun, Raka udah sehat kok. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam hati-hati ya”
Aku berjalan dengan santai menyusuri lorong-lorong sekolah. Hingga sebuah suara membuatku berhenti. Suara itu adalah dari guru BK ku.
“Raka, Kamu kemarin katanya sakit ya? Oh ya bagaimna dengan data diri Kamu?” tanyanya bertubi-tubi. Aku tersenyum lalu meyerahkan sebuah lempiran kertas padanya.
“Ini Pak”
“Dokter? Kamu ingn jadi dokter?”
“Iya Pak, Saya ingin jadi manusia yang berguna untuk orang lain.”
“Baguslah kalau Kamu berfikir demikian. Semoga Kamu bisa menggapainya ya. Semangat!”
“iya Pak, terima kasih.”

Cerpen Karangan: Alfiriz Nadhira
Blog: alfiriz.blogspot.com
Alfiriz Nadhira adalah nama pena dari Alfi Rizka Nadhira, kelahiran Pati Jawa Tengah pada tanggal 12 Juni 1999. Sekarang bersekolah di MA Manahijul Huda Ngagel Dukuhseti Pati.
Oleh : Alfiriz Nadhira (16,05,2016)

Cerpen Ada Apa Dengan Impian? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ini Kisahku

Oleh:
Semua orang pasti punya sahabat. Begitu juga denganku. Ini kisahku dengan sahabatku. Kisahku yang penuh dengan canda tawa juga kesedihan. Semua kulalui dengan mereka. Ya mereka, sahabat-sahabatku. “Sasa! Buruan

Cermin

Oleh:
Mirror Scream Band. Itulah nama band kami. Band kami cukup terkenal, dengan mengusung genre alternative rock dibumbui sedikit tekhnik scream. Aku dan keempat temanku lainnya telah banyak mendapat sertifikat

Dika, Zaki Dan Wahyu (Part 2)

Oleh:
Sudah hampir 15 menit aku menunggu Wahyu tapi tidak keluar-keluar. Aku jadi penasaran dan ingin masuk ke rumahnya, tapi kan kita tidak boleh masuk rumah orang tanpa seizin dari

Gara Gara Never Diet

Oleh:
Kutatap seorang pria yang baru kemarin bangkunya bersebelahan dengan bangkuku. Namun ia sama sekali tidak merespon dengan menatapku balik. “Rey… kamu tuh ya.. kapan dietnya? Makan nasi aja bisa

Cinta Dalam Hati

Oleh:
“Alika Maharani” itu namaku. Aku baru duduk di kelas XII SMA. Aku mengagumi seseorang, dia adalah teman sekelasku di kelas X dulu, namanya “Faiz”. Orangnya keren, ganteng, tapi sedikit

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *