Ada Cinta Di Ruang Osis (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 3 August 2016

Ferdi, sang ketua osis. Yah, namanya Ferdi. Tetapi ia lebih akrab dengan panggilannya, si maskot. Panggilan itu berawal saat ia telah memegang jabatan ketua osis SMAN Satu. Dia partnerku di organisasi siswa intra sekolah. Kalau dia ketua, aku sekretarisnya. Sekretaris osis, hahaha. Betapa bangganya aku menjadi seorang sekretaris osis. Menjabat sebagai sekretaris, ada madu dan asemnya loh. Biasanya saat sedang rapat, aku bagian catat mencatat hasil rapat dari awal si maskot memulai sampai menutup rapat osis. Capek guys, serasa gimana gitu nih tangan. Pegel-pegel, pingin dipijit nih. Readers mau pijit tangan aku, nggak? Ntar, aku kenalin sama si maskot deh. Dijamin langsung muntah. Haha, enggak kali guys. Bercanda kali, hehe.

Wah, tak terasa nih sudah mau mopdb. Bakal seru nih.. Ye, aku jadi kakak osis. Bakal banyak fans nih, uhuy.. Nggak kebayang bakal jadi seramai apa nantinya. Heeem…. Eh eh, tapi bakal ada rapat osis nih. It’s ok no problem, that’s my job.

“Diva! Diva!” terdengar suara mama memanggil dari lantai bawah. “Iya ma” jawabku lantang. “Ayo makan dulu!” pinta mama. “Iya ma” jawabku hendak turun tangga ke lantai bawah.
“Wah, nasi goreng!” betapa senangnya aku saat mengetahui bahwa mama memasakkanku makanan kesukaanku. “Heem, enak” dengan ekspresi yang tak dapat ditebak lagi aku memakan sesuap nasi goreng buatan tangan ajaib mama. “Papa mana, ma?” aku bertanya kepada beliau mengenai papa. “Sudah berangkat kerja sejak jam 5 pagi tadi” jawabnya tanpa ragu. Suap demi suap ku nikmati dan akhirnya habis. Aku mengambil segelas susu yang terletak di depanku. Aku meminumnya hingga tetes terakhir. “Heem, Diva berangkat dulu ya ma” sambil meletakkan gelas kosong bekas susu. Aku mencium tangannya dengan penuh cinta. “Hati-hati Diva!” ucapnya. “Iya ma. Assalamu’alaikum” aku menutup pintu rumah dan perlahan ku mantapkan melangkah pergi meninggalkan rumah yang penuh dengan memori. “Wa’alaikum salam” jawabnya.

Di sekolah. Tepat saat istirahat pertama, aku dan Aisyah bersiap menuju ruang osis. “Ayo Div!” Aisyah menghampiriku yang sedang membereskan buku. “Ayo” aku dan Aisyah menuju ruang osis yang letaknya tak jauh dari kelas kita berdua.
Sesampainya di ruang osis, kami bersiap untuk membersihkan ruangan tersebut. Yah, setiap hari Rabu, aku, Aisyah, si usil Yuda, Rama dan si centil Thea melaksanakan tugas piket harian yang telah dirancang dan disetujui oleh semua pihak pengurus osis SMAN Satu. Nampak dari luar pintu ruangan itu tertutup rapat. Di antara petugas piket hari Rabu, hanya Rama yang memegang kunci ruang osis ini.
“Kok masih sepi ya?” tanya Aisyah kepadaku. Aku mengangkat bahuku seraya tak tau. “Mungkin kita terlalu pagi untuk memulai piket di sini” jawabku sedikit ragu. “Kayaknya nggak mungkin deh, kita nunggu di sini sampai lumutan” aku mencoba mengajak Aisyah berbicara. “Gimana kalau kita ke kelasnya Rama?” Tanyaku pada Aisyah. Ia mengangguk, kami pun menuju kelas dimana Rama menimba ilmu.

Sesampainya disana. Gissel menuju pintu kelasnya. Ia hendak membuang bungkus plastik yang masih ia genggam. “Eh, ada si cantik nih” Sapa Gissel kepada kami. “Sebentar ya, aku mau buang ini dulu” sambil menunjukkan bungkus plastik bekas jajan itu kepada kami. “Ada apa ya?” tanya Gissel penasaran. “Tolong panggilkan Rama ya!” pinta Aisyah. “Bentar ya” Gissel membalikkan badannya mencari dimanakan si Rama berada. “Rin, Rama mana?” Karena tidak ketemu, ia pun bertanya pada seorang temannya. “Dia kan sedang sakit” jawab seorang teman itu. Kami terkejut mendengarnya. “Ramanya sakit” kata Gissel kepada kami. “Ya udah, makasih ya” kataku lalu meninggalkan ruang kelas itu. “Gimana terus? Kan nggak mungkin juga kita masuk lewat jendela. Nanti dikira maling” Aisyah mulai berbicara yang tidak-tidak. Sambil berjalan kembali menuju ruang osis, aku berpikir bagaimana cara mengatasi hal ini. “Ferdi!” kataku sambil memetik jari. “Ayo kita lari sebelum bel!” Aisyah memulai berlari terlebih dahulu dengan penuh semangat. “Ai tunggu!” aku pun berlari mengejarnya. Tepat aku menghentikan langkahku di hadapan ketua osis SMAN Satu yang berada tepat di depan kelasnya. “Pinjam kuncinya dong!” aku meletakkan tanganku sejajar dengan bahuku. “Kunci apa’an?” tanyanya sambil mengerenyitkan dahi. “Ruang osis” jawabku tegas. Ia pun mengeluarkan kunci itu dari saku celana abu-abu miliknya. “Ini” sambil memberikannya padaku. “Makasih” aku menerimanya lalu membalikkan badanku meninggalkannya. Belum sempat aku melangkah, ia menarik tangan kananku seolah tak ingin aku pergi meninggalkannya. “Diva!” panggilan itu membuatku membalikkan badanku dan melepas genggamannya. Aku tersenyum seraya bertanya kenapa. “Sekalian nanti kamu turunin bendera pulang sekolah nanti” pintanya. “Loh, tapi kan aku…” belum selesai aku berkata ia sudah memutus perkataanku lebih dulu. “Udah deh, nggak usah nolak!” ucapnya. Aku hanya menganggukkan kepalaku. Dan bergegas menuju ruang osis sebelum bel masuk.

Di ruang osis. “Akhirnya selesai juga” ucap Thea sambil menyandarkan badannya di tembok. “Haaah…” Yuda menghembuskan napas lega. “Oh iya, aku dan Aisyah kembali ke kelas dulu ya. Setelah ini pelajaran Bu Anggi nih. Bisa gawat kalau telat masuk kelas” ucapku penuh semangat. “Aku titip kunci osis ini ya. Kamu yang kembalikan ke Ferdi, ok?” ucapku kepada Yuda sambil menyerahkan kunci mungil itu.

Keesokan harinya.
“Anak-anak, tugasnya diselesaikan di rumah ya. Besok dikumpulkan” kata Bu Han yang beranjak dari tempat duduk guru pergi meninggalkan kelas. “Aduh, habis istirahat pelajarannya Pak Jik lagi, gimana nih? Aku kurang 10 nomor lagi nih prnya” aku bingung harus bagaimana. Sungguh bingung. Aku mencari contekan kesana kemari. “Kurang 5 nomor lagi” aku sedikit lega.
“Kepada seluruh pengurus osis harap segera berkumpul di ruang sekretariat osis sekarang juga. Sekali lagi kepada seluruh pengurus osis harap segera berkumpul di ruang sekretariat osis sekarang juga. Terima kasih” tiba-tiba terdengar pengumuman yang tertuju padaku. Si maskot mengumumkan bahwa rapat osis berlangsung detik itu juga. “Aduh, aku belum selesai” rasa hatiku semakin tak tenang. Aku menyalin jawaban Caca dengan cepat. “Biarin deh, tulisanku jelek. Yang penting nggak telat” aku semakin mempercepat ukiranku ini. “Div, kamu nggak ke ruang osis” tanya Aisyah. “Kamu duluan aja deh, nanti aku menyusul” jawabaku.

“Haah, akhirnya. Maksih ya Ca” aku berlari kencang menuju ruang osis. Sangking kencangnya aku berlari aku terjatuh. “Aduuh, pakai jatuh lagi. Aaah..” kesalku. Seketika itu, sebuah uluran tangan berada tepat di hadapanku. Aku pun beranjak dari dudukku. Untung saja aku tidak terluka. “Makasih kak” ucapku pada sosok pria tampan yang membantuku berdiri. Ia membalas ucapan terima kasihku dengan senyum. Aku melanjutkan berjalan menuju ruang osis.

Sesampainya disana…
“Mampus, udah dimulai. Gimana nih?” gumamku. Aku memberanikan diri untuk masuk. Tepat sekali, seperti apa yang ku duga. Ketua osis itu pasti akan meamarahiku. “Maaf.., aku..” belum selesai aku menjelaskan kenapa aku telat, ketua osis itu menyuruhku duduk. “Huuh.. untung nggak kena marah si macan kelaparan itu”. Setelah sekian lama, usailah sudah pembicaraan mengenai mopdb yang dipanitiai oleh ocis. Eh salah, osis maksudnya.

“Aku ke kelas dulu ya guys, daah” ucapku sambil melambaikan tangan ke arah beberapa pengurus osis yang tersisa. Yang tersisa adalah si centil, si usil, dan si maskot. Saat aku melangkahkan kaki dan kini posisiku tepat di samping ring basket yang menghadap ke barat tiba-tiba “Diva!” terdengar seseorang memanggilku, aku pun memalingkan badan dan menoleh ke arah suara itu berasal “Yah, dia lagi” gumamku saat aku mengetahui yang memanggilku ternyata si Ferdi. “Nanti jangan lupa laporannya kamu ketik ya, lalu kamu kirim lewat email!” pintanya. “Siap bos” jawabku lantang menghormatinya seraya hormat kepada sang merah putih. Dia hanya tersenyum dan perlahan melangkah maju meninggalkanku yang tengah berdiri tepat di tengah-tengah lapangan basket.

Sepulang sekolah, aku membuka laptop kesayanganku. Aku mengerjakan tugas dari si maskot. Tak lama kemudian tugasku pun kelar. Lantas aku mengirimkan laporanku ke email maskot. “Akhirnya beres. Haaah…, lega rasanya” aku melentangkan tubuhku di kasur empuk sambil merentangkan kedua tanganku. Tiba-tiba ponselku berbunyi, rupaya ada pesan masuk dari si maskot. Tertera “Laporan diterima, tugas anda terselesaikan” waktu aku membaca pesan itu aku sempat berkata “Iya dong udah selesai. Diva gituloh, haha”.

Detik berganti menit. Menit berganti jam. Jam berganti waktu. Waktunya berganti hari guys. Pagi itu di sekolah masih sepi. Tak seorang pun tiba pukul 5 pagi, melainkan si kutu buku. Farhan namanya. Dia rajin banget dateng jam segitu. Tau nggak apa alasannya? Karena dia ingin duduk di bagian paling depan. Kan aneh, bukannya di depan itu nggak enak ya. Udah nggak bisa nyontek, selalu diberi pertanyaan lagi sama para guru. Bukannya lebih enak duduk di belakang, ya? Udah bisa nyontek, bisa rumpi pula. Ya, nggak? Pagi itu, aku datang kedua setelah Farhan. Langsung saja aku menaruh tas punggungku di bangku paling akhir. Lalu aku keluar menuju taman yang letaknya tak jauh dari kelasku berada. Seperti biasa, aku suka sekali jalan-jalan mengengelilingi taman sekolah. Melihat pak kebun menyiram bunga-bunga yang semakin hari menampakkan putiknya. Dan yang paling aku sukai adalah merasakan udara segar di taman. Hal itu selalu aku lakukan untuk mengisi waktuku menunggu teman-teman super duper hebohku.

“Diva” panggil Caca. “Hai” kataku sambil melambaikan tangan padanya yang sedang berjalan menuju ruang kelas. Aku menghampiri Caca, dan bersama-sama menuju kelas. “Ca, pr mtk ku belum selesai nih. Boleh lihat punya kamu, nggak?” tanyaku “Boleh, ini” jawabnya sambil menyerahkan buku mtk miliknya. Caca sebangku denganku. Dia pintar, baik, dan nggak sombong. Nggak kayak si kutu buku tuh yang pelit. Satu per satu teman sekelasku datang, bel pun berbunyi. Tandanya masuk kelas, pelajaran pun dimulai. Sebelum guru mtk memasuki ruang kelasku, aku mengembalikan buku milik Caca. “Ini Ca, makasih ya” dengan senyum manis aku menyerahkan buku bersampul merah muda itu.

Saat istirahat, aku pergi ke kantin bersama 5 orang teman yang aku sebut super duper rumpi itu. Bersama Caca, Hana, Silvi, Angel, dan Mala. Sambil menikmati semangkuk bakso hangat, rumpi berjalan tanpa hambatan. Mulus sampai bel istirahat pertama berakhir. Saat kami hendak masuk ke kelas, dua orang menghentikan langkah kami. Saat kami tengok ke belakang. Nampaknya si centil dan Lila yang melakukannya. “Ada apa, bi?” (Thea maksudnya. Si centil itu loh) “Gini Div, untuk mempersiapkan mopdb, osis akan mempersiapkan acara membukaan dan penutupan nih. Untuk itu, hari Minggu besok jam 7 pagi di sini tepatnya, jangan lupa untuk hadir ya. Makasih Div, bye” kata si centil itu. “Oh ok ok, bye” jawab Diva. Kami pun melanjutkan setengah perjalan kami menuju kelas tercinteh XI IPA 2.

Saat istirahat kedua, waktunya sholat dhuhur di masjid sekolah, guys. “Guys, sholat yuk!” kataku mengajak semua teman di kelas. “Sorry, aku mau ke kantin” kata beberapa anak. “Aku juga” kata beberapa anak. “Kita mau ke kamar mandi” kata beberapa anak. “Kamu duluan aja Div” kata beberapa anak lagi. “Kalau aku mau ke pepus” kata Farhan. “heem….” aku menghembuskan nafas. Aku melihat Aisyah dan Hana yang yang sedang mengerjakan tugas. Aku menghampiri mereka. “Ai, ke masjid yuk! Aku udah bawa mukena nih!” ajak aku. “Kamu duluan aja Div, nanti aku nyusul kok” katanya sambil mengangkat kedua alisnya seraya meyakinkanku. “Han, yuk!” kataku “Maaf Div, aku…” kata Hana terputus oleh si Rafa yang seketika itu juga memanggilku “Diva!” aku menoleh ke arahnya “Bareng aku aja yuk!” tawarnya. Aku melihat ke arah Hana dan Aisyah seraya bertanya lalu mereka menjawab “Udah sana” kata Hana sambil mendorongku untuk menghampiri si Rafa. Aku mengangguk, kami pun menuju masjid sekolah. Eh, jangan salah sangka dulu ya. Aku nggak jalan bareng Rafa kok, dia berjalan agak jauh di depanku. Biar nggak jadi gosip, yang ada fans aku malah kabur nanti.

Selesai adzan berkumandang, Aisyah datang ke masjid. Imam pun memulai sholat dhuhur berjamaah. Setelah sholat, aku melipat mukena yang baru saja kukenakan. “Eh, lihat tuh! Ferdi ikut sholat berjamaah juga.” Tanpa sengaja aku menguping pembicaraan dua orang yang letaknya tak jauh dari aku. “Ih, iya. Aduh, gantengnya kalau pakai peci” kata satu temannya. “Kelihatan alim banget, ya?” katanya. “Iya, udah jadi ketua osis, ganteng, tinggi, pinter, baik, sopan. Aduh, alim lagi.” Kagumnya. “Tapi, sayangnya dia belum punya pacar, ya?” “Iya nih. Wah, bakal beruntung banget yang bisa jadi pacarnya ya?” “Iya ya”. “Ganteng? Dari mananya? Apa baiknya cobak? Yang ada ngerepotin mulu.” Gumamku. “Yuk Div” kata Aisyah. “Eh, ayok!” kataku. Kami meninggalkan area masjid dan menuju ke kelas.

Saat tengah asyik berjalan, tiba-tiba “Divaaa” Akbar memanggilku memberikan senyuman. Aku melihat ke arahnya sambil tersenyum. “Aduh cantik banget deh, kalau gitu. Maniiis….” katanya sambil mengangkat satu alisnya seraya menggoda. “Makasih” kataku. Lalu kami meninggalkan Akbar yang sedang duduk di kantin bersama teman-temannya itu. “Ciye, sekarang sama Akbar nih ye…” Goda Aisyah. “Ih, enggak” kataku sambil mengerenyitkan dahi lalu menggeleng-gelengkan kepala. Mungkin kalau kalian melihat ekspresi wajahku saat itu bakalan ngakak. Karena kata Aisyah wajahku seperti patung nggak terima jadi patung. Bisa bayanginnya? Heh, aku aja enggak apalagi situ.

Minggu, 02 September 2013. Aku masih terlelap dengan mimpi indahku. Mama tak membangunkanku dari tidur karena mama tau, hari ini adalah hari Minggu. Jam 6, jam 7, jam 8 pun berlalu. Suara telepon membangunkanku. “Aaah…, siapa sih? ngganggu aja” aku mengambil handphoneku yang berada di atas meja belajar. Saat aku hendak mengangkat telepon, eh ternyata mati duluan. Aku menghidupkan hpku, tertera 20 pesan 90 miscall dari si maskot. Dan waktu aku membaca 1 pesan panjang lebar darinya, tertera “Kamu dimana sih? Kamu nggak mau bantuin anak osis mempersiapkan mopdb? Kita menunggu kamu. Kamu beneran nggak bantuin kita Div? Nggak biasanya kamu gini Div.” Aku langsung melompat menuju kamar mandi. Wih, hebat yah aku melompat haha.

Usai mandi dan ganti baju, aku menuju ke lantai bawah untuk sarapan segelas susu hangat dan roti isi selai nanas. Belum sempat aku habiskan semua, aku langsung ke luar menuju sepeda motorku berada. “Diva, rotinya habisin dulu nak!” perintah mama padaku yang beranjak meninggalkan setengah roti itu. “Udah ma, Diva udah kenyang. Diva pergi dulu” teriakkanku terdengar di telinga mama. Dengan sigap aku menyalakan sepeda motorku, “Hati-hati Div, jangan ngebut!” teriakan mama itu terdengar jelas. “Iya” aku menjawab teriakan mama. Aku melaju dengan kencang. Aku melihat jam tangan yang sedari tadi berputar. Tepat pukul 09.00 aku tiba di sekolah. Tak kubayangkan wajah seorang ketua osis yang akan memarahiku lagi.

Aku berjalan perlahan menuju lapangan. Semua mata tertuju ke arahku, aku menundukkan kepalaku malu. Ferdi berlari ke arahku. Ia langsung menarik tangan kananku. Ia membawaku ke ruang osis yang sepi. Tak seorang pun ada di dalamnya. “Maaf Fer aku telat lagi” permohonan maaf yang langsung terucap olehku. “Ia aku memaafkanmu. Tapi ini semua nggak boleh terjadi lagi sama kamu, Div! Aku nggak mau lihat kamu telat lagi. Ini adalah kali terahir kamu telat. Aku nggak mau marahin kamu lagi, Div! Kamu itu harus disiplin! Tepat waktu dong! Kemarin telat. Sekarang telat. Mau sampai kapan telat?” Kata-kata yang lantang terucap olehnya membuatku semakin menundukkan kepalaku. Tiba-tiba ia mengangkat daguku yang sedari tadi aku berdiri merunduk tak kuasa menatap matanya. “Di-sip-lin is num-ber one” dengan pelan dan lembut ia ucapkan kalimat itu. Lalu tersenyum sejenak dan ia pergi meninggalkanku. “Disiplin is number one?” aku mengerenyitkan dahi seraya bertanya pada diriku sendiri. Sejenak aku merenungi ucapannya itu. “Iya, displin is number one. Kamu memang benar Fer” aku rasa ucapannya benar.

Kebiasaan buruk memang tak secepat kilat berubah menjadi baik. Dibutuhkan proses untuk mencapainya. Tak hanya itu, tetapi juga semangat yang hadir dari dalam diri untuk berubah menjadi faktor utamanya.
“Diva.. Diva..” Hana telah menjemputku. Ia menunggu di depan pintu. “Hai” aku membuka pintu rumahku lalu menyapanya. “Aku sudah siap” aku tersenyum pada Hana. “Tumben, biasanya juga kamu bukain pintu masih pakai baju tidur.” Hana terheran oleh sikapku yang tak seperti biasanya. “Yuk, kita berangkat” kita berangkat ke sekolah bersama mengenakan sepeda motor milik Hana.

Hari ini adalah hari Senin. Hari dimana mopdb dibuka. Aku tak sabar berjumpa dengan adik-adik kelasku.
“Diva” seseorang memanggilku. Aku yang baru saja turun dari sepeda hendak menuju ke lapangan upacara mendadak berhenti. Aku memalingkan wajahku ke arah suara itu berasal. “Iya, Fer?” Ya, yang memanggilku adalah Ferdi, si maskot ketua osis itu. “Ada technical meeting mengenai hiv/aids.” “terus?” “Acara itu wajib dihadiri oleh 2 pengurus osis setiap SMA di kabupaten Banyuwangi” “terus?” “Dinas Kesehatan yang menyelenggarakan. Pukul 08.00 nanti kamu ikut aku ke Puskesmas Banyuwangi.” “Apa? Aku?” aku terkejut. “Iya, kamu tenang aja aku sudah serahkan pembukaan mopdb ini ke Dinar.” Ia meyakinkan ucapannya. “Kenapa harus aku? Kenapa nggak kamu sama Dinar aja yang mengikuti technical meeting itu?” aku semakin heran. “Kalau sama Dinar, ntar yang jadi gantinya aku siapa? Kamu? Dinar sebagai wakil aku, ya jadi pengganti aku dong, Div.” Ia menjelaskan pernyataannya. “Udahlah Div, kamu ikut aja acara itu. Kan kasihan si Ferdi sendirian” Hana mulai mengeluarkan suaranya yang sedari tadi dirinya berdiri di sampingku. “Tapi, kenapa harus aku? Kan masih ada yang lain. Nggak harus cewek juga nggak papa kan?” perkataanku ini semakin membuat Ferdi kesal. “Diva, kamu itu sekretaris aku. Dimana-mana kalau ketua itu lagi ngomong, siapa yang nyatet? Kamu kan? Jadi nggak ada salahnya aku mengajak kamu” kali ini ucapannya meyakinkanku. “Heem…., ya udah aku mau lihat kelas dulu” aku pergi bersama Hana meninggalkan si maskot di tempat parkir. “Tau nggak Han, aku nggak sabar banget aku masuk kelas XII IPA berapa?” aku mempercepat langkahku menuju ruang kelas XII IPA. “Iya nih Div, aku juga. Semoga kita sekelas ya” “Iya”.

Aku mencari-cari namaku di kertas yang tertempel di pintu-pintu ruang kelas XII. Pencarianku berakhir di sebuah kertas yang menunjukkan ruang kelas XII IPA 1. “N.. n.. n.. n.. n… Nadiva Almira! Yes, aku masuk XII IPA 1” Ah.. seneng banget. Aku menemukan namaku di urutan ke-15. Nggak nyangka aku masuk kelas unggulan. “Waah.., Hana Hanum Huriyah! Aku satu kelas sama kamu, yeeee..” Kita berpelukan. “Eh, tunggu dulu deh. Teman-teman kita siapa aja ya?” Aku melihat siapa saja yang akan menjadi teman sekelasku. Aku membaca satu per satu dari atas dengan teliti. “Apa? Ferdi?” tepat di urutan ke-6 nama Ferdi tertulis. “Kenapa memangnya kalau kita satu kelas dengannya?” tanya Hana. “Ya enggak papa sih Han. Udahlah masuk yuk” aku dan Hana memasuki kelas baruku XII IPA 1. “Hai guys, pagi semuanya” aku menyapa semua teman yang berada di dalam kelas. “Diva, Hana” nampaknya Gissel memanggil kita berdua. Aku menuju ke arahnya. Masih tersisa 2 bangku kosong. Yang satu sebangku dengan Gissel, sedangkan yang satunya berada tepat di belakang bangku Gissel. Namun, di samping bangku kosong itu ada sebuah tas hitam yang menduduki bangku di sampingnya. “Loh, sel. Ini punya siapa?” Aku meletakkan tas punggungku di bangku nomor 1 dari belakang.

Cerpen Karangan: Aulya Anharini
Facebook: Aulya Anharini/Uly
Hai!
Nama aku Aulya Anharini. Bisa dipanggil Uly. Aku suka nulis cerita. Salam kenal buat kalian semua ya. Oh iya, follow IG aku ya “AulyaAnharini” dan tweeter aku juga “Aulya Anharini”. Oh iya satu lagi, lihat video youtube aku ya di akun “Aulya Anharini”. Terima kasih. Semoga kalian suka dengan karyaku.

Cerpen Ada Cinta Di Ruang Osis (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ilmu Bukan Cinta

Oleh:
Saat itu jam pulang, sekolah telah mulai sunyi. Aku memberanikan diri untuk melompat dari lantai tiga gedung sekolahku. Hal itu ku lakukan karena masalah percintaanku yang harus berakhir dengan

Sedikit Masalah Dengan Karma

Oleh:
Semua dimulai saat itu ketika sebuah balon udara yang besar jatuh tepat di depan sekolah kami. Semua isi sekolah kami, bahkan sekolah tetangga bergerombol di sekitarnya. Tapi aku, aku

I Hope You’re Happy (Part 1)

Oleh:
‘Willing to do all this just for you’. Ya, mungkin itu ungkapan hati ku untuk saat ini. mengapa aku bilang seperti itu? karena aku berharap pengorbananku untukmu tidak sia-sia.

Mampu Diam

Oleh:
Hiks.. hiks.. suara isak tangis terdengar untuk kesekian kalinya selama hampir satu minggu ini. Cila, begitu orang memanggilnya, gadis kecil dengan rambut panjang tengah terisak menangisi ulah kekasihnya yang

Scratch Teens (Part 3)

Oleh:
Tuhan.. apakah aku tak pantas untuk disayangi? Satu-persatu berpaling dari sisi ku Perih hati ini saat harus menerima takdir dari mu Kemana janji mu Rangga? Kau telah mengingkarinya Kini..

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Ada Cinta Di Ruang Osis (Part 1)”

  1. Selv Rexiana Arroyo says:

    Yang part 2 doong, jadi penasaran nih

  2. Fadillah khairani says:

    Cerpennya bagus banget!!next part 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *