Add Me, Please

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 7 January 2016

“Ini hari yang cukup cerah untuk aku berjalan-jalan,” pikirku sambil melihat ke langit-langit. “tunggu dulu, aku seharusnya ke luar untuk melihat cuacanya,” kataku yang baru sadar dari khayalan ternyata cuaca di luar tak secerah yang ku bayangkan. “aku berbaring lagi ahh,” aku kembali merebahkan badanku di atas sofa di tengah rumah.

“Adit! Adit!” tiba-tiba aku terperanjat saat ada orang yang memanggil namaku.
“itu pasti Ibu,” pikirku, aku pun datang menghampiri ibu yang sedang di dapur.
“iya Bu ada apa?” tanyaku.
“apanya yang ada apa?” kata ibuku balik bertanya, aku kaget dan heran.
“bukannya tadi Ibu manggil aku?”
“kapan?”
“ayolah Bu jangan bercanda,”

“untuk apa Ibu bercanda,”
“sudahlah Bu aku jadi bingung,” aku pergi meninggalkan dapur, ibu tampak keheranan melihat tingkahku, sejujurnya aku juga heran bukannya itu tadi yang panggil aku?
“ah.. sudahlah aku kembali ke sofa tadi,”
“Adit!” suara itu kembali terdengar.
“kalau itu bukan Ibu berarti Kakak yang panggil aku,” pikirku dan segera beranjak ke kamar Kakakku.
“iya Kak ada a…pa?” aku lihat kakak sedang menonton film dan aku dengar-dengar ada tokoh yang bernama sama dengan namaku.
“ada apa?” tanya kakakku yang melihat ke arah pintu di mana aku berada tapi aku segera menutup pintu dan pergi.

Pagi hari yang indah aku berangkat ke sekolah, selama di sekolah pada waktu istirahat aku diajari oleh teman cara membuat facebook, maklum SMP dulu aku tidak pernah main internet dan internet adalah benda aneh bagiku sedangkan aku sekarang sekolah di SMA kelas X.
“dit? Adit?”
“iya?”
“kenapa kamu bengong? Ayo lanjutin buat FB-nya!”
“iya iya,”

Aku baru beberapa bulan di sekolah ini dan dapat dihitung dengan jari tangan kananku, tapi semua telah akrab padaku dan aku punya banyak teman.
“Alhamdulillah sudah selesai,” kataku sambil mengusap keringat yang menetes di dahiku, buat FB saja sudah cape ya aku pusing lihat letak huruf di atas Keyboard seperti tidak pernah dirapikan, “sekarang aku add FB kamu, apa nama FB kamu?” lalu ia menuliskan nama FB-nya Ricardo Thethekan.

“itu nama kamu do?”
“bukan itu hanya nama FB aku,”
“lah kenapa namanya begitu?”
“ya terserah aku lah itu kan FB aku,”
“oh,” lalu aku mengetikkan nama FB yang aku tahu.

Tett… Bel berbunyi begitu keras menandakan waktu istirahat sudah usai, internetan pun segera disudahi dan Ricardo kembali membawa Laptopnya ke kelasnya. Kami memang berbeda kelas tapi menjadi teman dekat saat MOPD. Saat itu aku sedang duduk sendiri begitu pun dengannya lalu dia menghampiriku dan kami menjadi teman akrab sampai saat ini. Saat di kelas aku mulai promosi FB baruku.

“Dik, Add FB aku ya, namanya Muhamad Adit Rangga,” kataku ke teman sebangkuku.,
“iya nanti aku add,” kata Diki, saat istirahat kedua aku kembali menemui Ricardo.
“hei do, boleh aku pinjam Laptopmu lagi?” kataku memelas.
“iya iya boleh,” katanya sambil menyerahkan laptopnya padaku. Facebookku ternyata ada sekitar 7 orang meng-add.

“lumayan banyak yang add aku,” pikirku senang, tengah asyik-asyik main FB aku mendengar suara Adzan Dzuhur.
“Do ini, aku mau salat dulu,” kataku sambil menyerahkan Laptop ke Ricardo.
“iya.. sana nanti terlambat,” kata Ricardo sambil memegang laptopnya, aku bergegas pergi meninggalkan Ricardo yang sedang duduk di bangku taman.
Salat dzuhurku sudah selesai, saat aku kembali aku melihat Ricardo sedang berbincang-bincang dengan seorang wanita, saat aku bergegas ke sana wanita itu beranjak pergi.

“do, tadi itu siapa?” tanyaku.
“oh.. itu temanku namanya Putri Ayu Salma,”
“kamu tahu nama FB-nya?”
“entahlah aku tidak tahu dan tidak pernah diberi tahu, memangnya kenapa?”
“aku melihat kecantikan yang terpancar darinya,” kataku dalam hati.
“jangan-jangan kamu suka sama dia?”
“ti.. tidak, sudahlah aku ke kelas dulu,”
“eh… bagaimana dengan Facebookmu?”
“ya tolong dikeluarkan saja,” kataku yang mulai menjauh dari hadapannya.

Aku memberanikan diri ke kelasnya Ricardo unruk menemui wanita itu tapi saat beranjak terjadi keraguan dalam diriku, “tunggu dulu… jika aku ke sana apa tidak malu, tapi kan aku hanya ingin tahu nama FB-nya saja, lebih baik aku ke sana atau tidak ya? Beruntung jika aku berhasil tapi jika tidak malulah aku aduh…”
“hei, kenapa kamu bengong?”
“eh.. tidak, aku tidak bengong, kamu temannya Ricardo kan?”
“iya,”

“perkenalkan namaku Muhamad Adit Rangga,”
“iya aku tahu, namaku Putri Ayu Salma,” katanya dengan senyuman manis, mataku terpaku sesaat ketika melihat senyum manisnya itu.
“eh.. aku boleh tahu nama FB kamu apa?” kataku tanpa basa-basi. “aduh… aku keceplosan, aku seharusnya basa-basi dulu atau apa kek,” gumamku.
“iya boleh, nama FBku Putri Ayu Salma,”
“hehehe… terima kasih nanti aku add,”
“sudahlah aku ke kelas dulu, bye,”
“bye,” balasku sambil tersenyum bahagia aku bergegas menemui Ricardo dan Ricardo masih ada di sana.

“do, pinjam Laptopmu lagi ya?”
“iya ini,”
“FB-ku dikeluarkan ya?”
“iya itu kan kamu suruh,”
“kapan aku suruh keluarin?”
“lah tadi kan sebelum kamu pergi lalu kembali lagi ke sini,” katanya.
Aku hanya tersenyum tanda malu ternyata memang aku yang suruh. Aku melanjutkan ke FB-ku dan mengetikkan namanya di pencarian dan muncul, aku klik add.

“loh.. kenapa ini? Kenapa setiap aku klik muncul tanda peringatan,”
“do, kenapa ini? Kok muncul tanda peringatan terus?” tanyaku.
“oh.. ini artinya orang yang kamu add sudah penuh temannya, jadi kamu tidak bisa add lagi kecuali orangnya yang add kamu,”
“tunggu dulu ini kan punya Salma, kamu dapat dari mana?” lanjutnya keheranan.
“aku dapat dari orangnya lah, terus aku harus suruh dia add aku?”
“iya itu satu-satunya cara, tapi jika kamu tidak berani aku saja yang ngomong,”
“yang bener do?”
“iya,”
“terima kasih ya do,”
“ya sudah kita ke kelas dulu hampir masuk nih,” aku hanya mengangguk dan segera lekas pergi.

Saat pulang aku bertemu Ricardo.
“do, tunggu!”
“hei kamu dit,”
“do apa kamu berhasil membujuk Salma untuk add FB-ku?”
“maaf do aku tidak berhasil,”
“lah aku tak punya kesempatan lagi,”
“sebenarnya dia mau saja add kamu tapi dengan 1 syarat,”
“apa syaratnya?”
“kamu harus punya minimal pertemanan 100 orang,”

“haa? Apa? Seratus? Kamu serius?” Ricardo hanya mengangguk.
“dari mana aku dapat menambahkan 100 orang, teman Fb-ku saja baru 21, masih jauh apalagi itu maksimalku,”
“tenanglah kamu tinggal add orang lain saja,”
“oh, oke mudah itu,”
“tapi tunggu dulu, dia menginginkannya sampai akhir tahun ini,”
“ha? berarti tinggal 1 bulan lagi,”
“iya seharusnya kamu bergegas, sudahlah aku pulang dulu,” aku pun berjalan sendiri sambil memikirkan bagaimana cara mendapat 100 pertemanan FB.

3 minggu kemudian aku membuka Fb di warnet.
“besok sudah libur dan aku baru dapat 85 pertemanan, aku butuh 15 lagi,” gumamku.
“ha… aku ke rumah Riyanto, mungkin dia mau add aku,” pikirku, aku segera ke luar dari warnet.
“hei.. hei.. dik, bayar dulu,”
“oh.. iya kak lupa, ini,”
“iya tak apa,” aku bergegas pergi ke rumah Riyanto tetapi aku bertemu dengannya di jalan.

“to? Mau ke mana?”
“mau jalan ke taman,”
“kamu punya FB kan?”
“aku,”
“please add aku ya, aku sedang butuh,”
“tidak bisa,”
“kenapa?”
“aku tidak punya FB,”

Aku sempat kesal dengan perkataannya, tetapi tiba-tiba aku punya ide, aku langsung menggenggam tangan Riyanto dan menyeretnya.
“mau ke mana ini? Lepaskan aku,” aku hanya diam seribu bahasa.
“nah ayo duduk sekarang kamu buat FB di sini,”
“ta…”
“cepat nanti aku ajari,”

“akhirnya selesai juga, sekarang kamu add aku,”
“iya terima kasih ya dit,”
“iya maaf aku memaksamu hehehe… Aku juga terima kasih kamu sudah add FB-ku,”
“iya tak apa,”
Lalu mumpung aku sedang di warnet aku buka Fb-ku lagi dan ternyata ada 12 orang menerima permintaan pertemananku dan 1 orang meminta pertemanan yaitu punya Riyanto.
“sekarang aku butuh 2 lagi,” gumamku dalam hati Riyanto hanya terbengong melihatku.

Besoknya aku pergi ke rumah Ricardo.
“do, habis dari mana kamu?”
“dari gereja, sekarang kan hari natal,”
“oh iya aku lupa, boleh aku main ke rumahmu?”
“boleh,”

Aku dan Ricardo pun pergi ke rumahnya dan aku lihat lampu berkedip-kedip di depan rumahnya dan 2 buah pohon cemara khas natal mengapit pintu. Ketika aku masuk ke dalam rumahnya ornamen natal tampak menghiasi setiap sudut bagian dalam rumahnya.
“ayo ke kamarku!” ajaknya, aku hanya mengangguk tanda setuju, lalu dia mengambil laptopnya dan bermain internet.
“oya dit sudah berapa pertemananmu?” tanyanya mengejutkanku yang sedang menikmati hiasan di kamarnya.
“oh.. apa?”
“pertemanan Fb-mu sudah berapa?”
“emm…baru 98,”
“wah cepat juga ya, tapi hanya tinggal beberapa hari lagi menuju tahun baru,”
“iya aku tahu,”

“oya teman FB kamu berapa do?” lanjutku/
“nah ini,” katanya sambil menunjukannya padaku. *wowww.
“sudah seribu lebih, tapi mana punyaku?” tanyaku heran.
“nanti aku lihat dulu di pertemanan, punyamu masih di sini ya aku konfirm,” dan kami melanjutkan berselancar di dunia maya.

Beberapa hari berlalu.
“dit nanti kita lihat kembang api di taman,” kata Ricardo. “kenapa murung begitu?”
“tak apa do aku hanya masih memikirkan,”
“oh.. itu,”
“baiklah aku beranikan diri pergi ke rumah Salma saja untuk meng-Add FB-ku,” seketika Ricardo tampak cemas.
“tunggu dulu kita buka dulu FB-mu,”
“baru saja buka FB masa mau buka lagi? aku harus pergi ke rumahnya,”
“tunggu… tunggu… aku,”

“Salma assalamualaikum,”
“waalaikumussalam, eh Adit dan Ricardo, ada apa?”
“begini Salma, aku tahu aku memang tidak tampan dan aku juga bukan siap-siapa untukmu dan aku tidak bisa menepati janjiku, tapi please add me!” Salma terlihat kebingungan.
“ada apa denganmu dit?”

“please Salma, add me please, aku memang tidak bisa mengumpulkan pertemanan sampai 100 yang kau inginkan itu,”
“tunggu, seratus? pertemanan? Kenapa sih kamu? Aku tidak pernah menyuruhmu seperti itu,”
“ha? Ricardo?!”
“emm… maaf itu memang akal-akalanku, tapi kamu dapat dia dan pertemanan 100 tahun ini,”
Aku pun tersenyum dan memeluk Ricardo atas hadiahnya itu walaupun agak sedikit kesal dan marah.

Cerpen Karangan: Nur Hidayat
Blog: jawabancari.blogspot.com
Facebook: Nur Hidayayat

Cerpen Add Me, Please merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Dalam Tanda Kutip

Oleh:
Dia datang. Cowok itu datang lagi ke perpustakaan kota. Karina hanya bisa melihatnya dari balik buku yang berbaris rapi di rak. Berharap cowok itu melirik ke arahnya. “Hoi!” sapa

Jones

Oleh:
Namaku Deon, tubuhku tinggi, memiliki gigi gingsul yang membuat saya lebih menarik dari siapapun. (yaelah PD amat). Aku ganteng, yaap setidaknya aku lebih ganteng dari pemain sepak bola asal

Kesedihan, Rasa Sakit, Persahabatan

Oleh:
Mentari pagi bersinar cerah hari ini menyilaukan mataku seakan memaksaku untuk bangun dan melakukan aktivitas yang paling kubenci, apalagi kalau bukan sekolah. Aku menarik selimut dengan malas dan segera

Satria, Gara Gara Face Book

Oleh:
Tulisan permintaan pertemanan dipijit, klik!! Beres, kata Satria di dalam hatinya. Dia masih asyik mengutak-atik dan memandangi fesbuk di ponselnya. Satria mencoba meraih gelas teh di meja, haus… Tapi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *